EKOPOL

Manggarai Timur
EKOPOL
Astra Tandang

Tanjung Bendera, Kuasa Eksklusi, dan Perburuan Cuan: Membaca Kenyataan Pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur

Membaca kenyataan pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini tidaklah begitu menggembirakan. Hampir setiap hari kita mendapati keluh kesah warga Matim di berbagai platform media social (Medsos). Misalnya, keluhan soal kondisi infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, irigasi, air minum bersih, akses listrik, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang sebagian besar belum terurus dengan baik. Ditambah angka pendapatan per/kapita yang relatif masih lemah, tidaklah mengherankan jika predikat kemiskinan ekstrem itu diterima Kabupaten Matim dengan jumlah penduduk miskin ekstrem sebanyak 44.630 jiwa.

Baca Selengkapnya »
Murka Mural
EKOPOL
Melkisedek Deni

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »

FILSOSTE

Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja
FILSOSTE
Antonius Mbukut

Pandemi, Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja, dan Ajaran Sosial Gereja

Dalam penerapannya, konsep fleksibilitas pasar tenaga kerja sering menimbulkan ketidakadilan bagi kaum buruh. Dengan konsep ini, buruh selalu bekerja dalam kondisi yang sangat rentan karena seringkali mereka bekerja tanpa kontrak yang jelas (tergantung pengusaha), jangka waktu kerja mereka menjadi lebih pendek, upah lebih rendah untuk jenis pekerjaan yang setara, mengalami pemerasan dari agen tenaga kerja, tidak ada tunjangan kerja, dan tidak diperbolehkan membentuk serikat tenaga kerja. Kondisi ini menyebabkan kaum buruh tidak memiliki posisi tawar terhadap perusahaan dan tidak ada pihak yang dapat membela kepentingan mereka.

Baca Selengkapnya »
Filsafat
Melkisedek Deni

Teori Produksi Ruang: Pengantar Singkat Filsafat Ruang Henri Lefebvre

Kehadiran teori produksi ruang didorong oleh pembacaan, pengkajian, dan penganalisisan yang panjang dan rumit di dalam teori Marxian. Salah satu persoalan serius yang begitu mendesak dalam perkembangan objek kajian teori Marxian ialah kebutuhan akan referensi keadilan ruang sosial. Kebutuhan tersebut didasarkan pada prinsip epistemologis dari filsafat, yakni pengetahuan kritis dan progresif yang khas pada konteks sosial manusia.

Baca Selengkapnya »
Filsafat
Peter Tan

Hannah Arendt tentang Banalitas Kejahatan

Hingga hari ini, para pemuja dan penjilat Orde Baru masih hidup di antara kita, bahkan masih berkuasa. Mereka ini tidak melihat kejahatan pembantaian massal 1965-1966 sebagai kesalahan yang butuh tanggung jawab moral dan permintaan maaf secara publik. Bagi mereka, itu bukan kejahatan, itu prestasi. Di situ, kejahatan politis dalam sebuah sistem yang totaliter menyimpan teka-teki yang sulit dipecahkan. Filsuf perempuan berdarah Yahudi, Hannah Arendt, seorang yang menyaksikan jutaan orang Yahudi dibantai Hitler, yang diuber-uber di Jerman lalu cari suaka di AS, berupaya memecahkan teka-teki itu dengan mengajukan konsepnya yang terkenal, yaitu banalitas kejahatan.

Baca Selengkapnya »
Manusia Soliter dan Religius
FILSOSTE
Edy Soge

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Pluralisme Agama
FILSOSTE
Sirilus Yekrianus

Kristus yang Dialogis sebagai Inspirasi Praktik Dialog Antaragama dalam Konteks Pluralisme Agama di Indonesia

Penulis melihat bahwa pluralisme agama pada satu sisi menjadi keunikan dan kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi, pada sisi lain, ia juga membawa “malapetaka” dan pada tataran tertentu maut bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, Penulis berusaha mengajukan sarana yang memungkinkan terjadinya perdamaian dalam hidup beragama.

Baca Selengkapnya »
Kwok Pui Lan
FILSOSTE
Antonius Mbukut

“Agama”, Pluralisme, dan Kemiskinan dalam Teologi Post-Kolonial Inter-kontekstual Kwok Pui Lan

Pui Lan menyadari bahwa kekeristenan hadir di Negaranya karena dibawa serta oleh kaum penjajah dari Barat sehingga di dalamnya juga termuat arogansi dan kolonialisasi Barat. Dalam tulisan ini, penulis akan secara khusus membahas pemikiran Kwok Pui Lan mengenai “agama” dan pluralisme dengan pendekatan teologi post-kolonial feminis Asia.

Baca Selengkapnya »

GAGASAN

GAGASAN
Maria Susi Ria

Aborsi: Suara Seorang Ibu Rumah Tangga

Dari sekian banyaknya diskusi tentang humanitas, ada bagian yang sering disalahtafsirkan, yaitu persoalan tentang aborsi. Menurut Departement of Reproductive Health and Research WHO, 22 kasus aborsi terjadi pada 1.000 perempuan dengan usia rentan 15 – 49 tahun. Oleh sebab itu, di dalam tulisan ini, Penulis tertarik untuk mengungkapkan beberapa buah pikiran perihal aborsi. Latar belakang tulisan ini adalah keresahan Penulis terhadap kurangnya pemahaman masyarakat tentang aborsi.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan
GAGASAN
Arsi Kurniawan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »
GAGASAN
admin

Biografi Max Hoelz, 1883-1933

Max Hoelz merupakan seorang “manusia aksi” ketimbang pemikir mendalam. Kerelaannya untuk terlibat dalam aksi nyata membela kelas pekerja juga keberaniannya mengkritisi rezim Stalin di Rusia patutlah dikagumi.

Baca Selengkapnya »

BUDAYA

Belis Sistem Barter
BUDAYA
Akri Suhardi

Belis Sistem Barter dan Mengapa Selain Perempuan Laki-Laki Juga Perlu Dibelis

Belis sistem barter hemat Penulis lebih kontekstual karena terdapat keseimbangan dalam membayar belis. Belis tidak lagi menjadi tanggung jawab keluarga laki-laki, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga perempuan. Dengan demikian, kedua belah pihak akan mendapatkan barang yang telah disepakati bersama sesuai kebutuhannya masing-masing. Lebih jauh, kehidupan rumah tangga suami-istri dapat lebih harmonis, tidak lagi terjadi konflik karena belis, gagal menikah karena belis, dan mengeluh karena belis mahal.

Baca Selengkapnya »

Kanal NTT Progresif