Pendahuluan: Noli Me, Tangere! [Terjemahan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”] (1)

Foto/forestdigest.com

Oleh Silvano Keo Bhaghi


Untuk Michael Sorkin - Saya tahu, dia tidak lagi bersama dengan kita, tetapi saya menolak mempercayainya. [Slavoj Žižek]

PENDAHULUAN

“NOLI ME, TANGERE!”


“Jangan sentuh, Aku!”, menurut John 20:17, adalah apa yang Yesus katakan kepada Maria Magdalena ketika dia mengenali-Nya sesudah kebangkitan-Nya. Bagaimana saya, yang mendaku seorang Kristen ateis, memahami kata-kata ini? Pertama, saya memahaminya melalui jawaban Kristus terhadap pertanyaan para rasul tentang bagaimana kita tahu bahwa Dia akan datang kembali atau bangkit. Kristus mengatakan bahwa Ia ada di mana ada cinta di antara para pengikut-Nya. Dia akan ada di sana bukan sebagai seorang pribadi yang disentuh, tetapi sebagai ikatan cinta dan solidaritas di antara manusia – jadi, “jangan sentuh aku, jamahlah dan bangunlah relasi dengan orang lain dalam semangat cinta.”

Dewasa ini, bagaimana pun juga, di tengah pandemik coronavirus, kita semua diajak untuk tidak menyentuh orang lain, tetapi sebaliknya mengisolasi diri kita sendiri untuk menjaga jarak fisik yang aman. Apa arti perintah “jangan sentuh aku?” Tangan kita tidak dapat lagi menjamah orang lain. Kita hanya dapat mendekati satu sama lain dari dalam – jendela ke “dalam” itu adalah mata kita. Hari-hari ini, ketika Anda bertemu dengan orang yang dekat denganmu (atau bahkan seorang asing) dan menjaga jarak yang aman, sebuah pandangan yang dalam ke mata seseorang dapat mengungkap lebih dari sekadar sebuah sentuhan yang intim.  

Di dalam sebuah fragmen mudanya, Hegel menulis: "Yang dicintai tidak melawan kita, dia satu dengan keberadaan kita, kita melihat diri kita di dalam dirinya, tetapi serentak dia bukan lagi kita - dia adalah teka-teki, sebuah keajaiban [ein wunder], sesuatu yang tidak bisa kita pahami."

Adalah penting untuk tidak melihat dua klaim ini sebagai yang bertentangan, seakan-akan yang dikasihi sebagian dari kita dan sebagian lainnya adalah teka-teki…. Bukankah cinta itu ajaib ketika Anda adalah bagian dari identitas saya sepenuhnya, sebagiannya lagi keajaiban, sebagiannya lagi adalah keajaiban yang tak saya pahami, sebuah teka-teki bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk dirimu sendiri?

Mengutip teks terkenal yang lain dari Hegel muda: "Manusia adalah malam, ketiadaan yang kosong, yang mengandung segala sesuatu dalam kesederhanaannya – kekayaan dari banyak representasi yang tak berakhir, gambar, yang tak seorang pun miliknya – atau yang tidak hadir. Seseorang menangkap penglihatan pengelihatan dalam malam ini, ketika dia melihat manusia di dalam matanya."  

Coronavirus tidak dapat mengambil ini dari kita. Jadi, ada harapan bahwa penjarakan fisik sekalipun dapat memperkuat intensitas hubungan kita dengan orang lain. Hanya di saat sekarang, ketika saya mesti menghindari banyak orang yang dekat dengan saya, saya justru mengalami kehadiran mereka, betapa pentingnya mereka bagi saya.

Saya sudah dapat mendengar tawa sinis terkait poin ini: OK, mungkin kita akan memperoleh semacam momen kedekatan spiritual, tetapi bagaimana hal ini membantu kita untuk mengatasi bencana ini? Apakah kita belajar sesuatu dari padanya?

Hegel menulis bahwa satu-satunya yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak belajar apa pun dari sejarah, jadi saya sangsi epidemik ini akan membuat kita lebih bijaksana. Satu-satunya hal yang jelas adalah bahwa virus ini akan menghancurkan fondasi yang paling mendasar dari kehidupan kita, menyebabkan tidak hanya sejumlah penderitaan yang besar sekali, tetapi juga kerusakan ekonomi yang menurut pikiran rasional lebih buruk dari Resesi Besar.

Tidak ada jalan pulang menjadi normal kembali, “normal” yang baru akan harus dibangun di atas reruntuhan kehidupan lama kita, atau kita akan menemukan diri kita di dalam sebuah barbarisme baru yang tanda-tandanya sudah dapat dilihat dengan jelas.

Slavoj Žižek

Adalah tidak cukup memperlakukan epidemi ini sebagai kecelakaan yang bersifat kebetulan, mengabaikan akibat-akibatnya, kembali kepada fungsi-fungsi bulus/licin dari cara-cara lama, mungkin dengan beberapa penyesuaian terhadap manajemen/aturan kesehatan kita.

Kita mesti mengajukan pertanyaan penting: Apa yang salah dengan sistem kita yang membuat kita kedapatan tidak siap diri menghadapi bencana ini sekalipun para ilmuwan sudah mengingatkan kita tentang hal ini selama bertahun-tahun?


Bersambung


  • Artikel, yang terbit sebagai “Pendahuluan” dalam buku Filsuf Slovenia Slavoj Žižek berjudul “Pandemic: COVID – 19 Shakes The World”, diterjemahkan oleh Silvano Keo Bhaghi dan diterbitkan lagi secara berkala di sini untuk tujuan pendidikan.


Baca juga tulisan lain di Rubrik GAGASAN atau tulisan menarik lainnya dari Silvano Keo Bhaghi.


160 views

Satu tanggapan untuk “Pendahuluan: Noli Me, Tangere! [Terjemahan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”] (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *