Kita Semua Berada dalam Perahu yang Sama Sekarang [Terjemahan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”] (2)

Foto/forestdigest.com

Oleh Silvano Keo Bhaghi


BAB I

KITA SEMUA BERADA DALAM PERAHU YANG SAMA SEKARANG


Baca bagian Pendahuluan di sini.


Li Wenliang, dokter yang pertama kali menemukan epidemik coronavirus yang sedang berlangsung sekarang dan yang telah disadap sejumlah pihak yang berwenang, adalah pahlawan otentik zaman kita, yang serupa dengan orang China itu adalah Chelesea Manning atau Edward Snowden. Sehingga, tidaklah mengherankan kalau kematiannya memicu kemarahan yang luas.

Reaksi yang dapat diduga terkait bagaimana China menangani epidemi paling baik dapat dirujuk dalam komentar Verna Yu, Jurnalis yang bekerja di Hongkong, “jika China menghargai kebebasan berbicara, tidak akan ada krisis virus corona. Kecuali jika kebebasan berbicara dan hak-hak dasar lain dari warga China dihargai, krisis seperti itu hanya akan terjadi lagi… Hak-hak asasi manusia di China tampaknya mungkin tidak ada hubungannya dengan Negara-negara lain di dunia, tetapi seperti yang telah kita lihat dalam krisis ini, krisis akan terjadi apabila China menghalangi kebebasan warga Negaranya. Tentu saja sudah saatnya komunitas internasional menangani masalah ini dengan lebih serius. [1]

Benar, dapat dikatakan bahwa seluruh fungsi aparatur Negara China bertentangan dengan isi sebuah motto lawas Mao yang berbunyi, “percaya rakyat!” Sebaliknya, China berpegang pada premis bahwa pemerintah tidak perlu mempercayai rakyat: rakyat hanya perlu dicintai, dilindungi, dirawat, dikontrol … tetapi tidak dipercayai.

Ketidakpercayaan ini hanyalah puncak dari sikap yang sama yang diperlihatkan Otoritas China saat mereka menangani reaksi sejumlah protes ekologis atau masalah-masalah kesehatan para pekerja. Otoritas China semakin sering menggunakan  prosedur khusus: seorang (entahkah seorang aktivis lingkungan, mahasiswa Marxist, kepala Interpol, pengkhotbah religius, sebuah kantor penerbit di Hong Kong, bahkan seorang aktris film populer) menghilang begitu saja selama beberapa minggu sebelum mereka muncul kembali di hadapan publik dengan tuduhan khusus yang diajukan terhadap mereka, dan masa tenang yang berlarut-larut ini mengirimkan pesan utamanya: kekuasaan digunakan dalam sebuah cara yang tak dapat ditembus dimana tak ada sesuatupun yang perlu dibuktikan. Pertimbangan hukum baru diajukan saat pesan dasar ini telah tersampaikan.

Namun, kasus menghilangnya sejumlah Penstudi Marxist bagaimana pun juga bersifat khusus: ketika semua kasus terkait menghilangnya sejumlah individu, yang aktivitas-aktivitasnya dapat dikategorikan sebagai ancaman terhadap Negara, para penstudi Marxist yang hilang justru melegitimasi aktivitas kritis mereka dengan rujukan pada ideologi resmi pemerintah itu sendiri.

Apa yang memancing reaksi panik seperti itu dalam kepemimpinan Partai, tentu saja, adalah momok jaringan organisasi mandiri yang muncul melalui hubungan horizontal langsung antara kelompok-kelompok mahasiswa dan para pekerja, dan berdasarkan pada Marxisme, dengan simpati pada beberapa kader partai lama dan bahkan bagian dari angkatan bersenjata. Jaringan organisasi seperti itu secara langsung merongrong legitimasi kekuasaan Partai dan mencelanya sebagai pengecut.

Tidak mengerankan jika dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah menutup banyak situs Web “Maoist” dan melarang kelompok-kelompok debat Marxist di universitas-universitas. Hal paling berbahaya yang dapat dilakukan dewasa ini di China adalah percaya secara serius pada ideologi resmi Negara. China sekarang sedang membayar harga untuk sikap seperti itu:         

"Epidemi virus corona dapat menyebar ke sekitar dua pertiga populasi dunia jika ia tak dapat dikendalikan," kata ahli epidemologi kesehatan publik Hongkong terkemuka Gabriel Leung. "Orang harus mengimani dan percaya pada pemerintah mereka sambil ketidakpastian terkait ancaman baru (sedang) dikembangkan oleh komunitas ilmiah," katanya, "dan tentu saja ketika kalian punya media sosial dan semua berita palsu dan berita benar bercampur baur di sana dan tanpa kepercayaan, bagaimana kalian dapat melawan epidemi itu? Kalian membutuhkan kepercayaan ekstra, sebuah perasaan solidaritas ekstra, dan kehendak baik ekstra, dan semuanya telah sepenuhnya sirna." [2]

Mesti terdapat lebih dari satu suara dalam sebuah masyarakat yang sehat, kata Dokter Li dari ranjang rumah sakit sesaat sebelum kematiannya, tetapi kebutuhan yang mendesak agar suara-suara lain didengarkan ini tidak secara mendasar berarti memakai demokrasi multi-partai gaya Barat, dia hanya menuntut sebuah ruang terbuka agar reaksi kritis warga Negara dapat beredar.

Argumen utama yang menentang ide bahwa Negara harus mengontrol segala macam rumor atau desas-desus untuk mencegah kepanikan adalah bahwa kontrol ini justru menyebarkan ketidakpercayaan dan karena itu menghasilkan lebih banyak teori-teori konspirasi. Hanya rasa saling percaya antara khalayak umum dan Negara yang dapat mencegah hal ini terjadi.

Negara yang kuat dibutuhkan pada masa epidemi karena tindakan berskala besar seperti karantina harus dilakukan dengan disiplin militer. China mampu mengkarantina puluhan juta orang. Dihadapkan dengan tingkat epidemik yang sama, US tampaknya takkan mungkin mampu melakukan tindakan yang sama. Tidak sulit membayangkan sekelompok besar libertarian membawa senjata dan mencurigai bahwa karantina merupakan sebuah konspirasi Negara, dan mencoba untuk berjuang dengan cara mereka sendiri.

Jadi, apakah mungkin mencegah wabah dengan lebih banyak kebebasan berbicara, atau apakah China terpaksa mengorbankan kebebasan sipil di Provinsi Hubei untuk menyelamatkan dunia? Dalam beberapa hal, dua alternatif itu benar.

Dan yang membuat segalanya menjadi lebih buruk adalah tidak ada cara mudah untuk memisahkan kebebasan berbicara “yang baik” dari “rumor atau desas-desus yang buruk.” Ketika suara-suara kritis mengeluhkan bahwa “kebenaran selalu diperlakukan sebagai sebuah rumor” oleh otoritas China, orang mesti tambahkan bahwa media resmi dan situs berita digital yang luas sudah penuh dengan rumor atau desas-desus.  

Contoh yang terang tentang hal ini bisa dilihat di salah satu jaringan televisi nasional utama Rusia, Channel One, yang meluncurkan sebuah acara tetap, yang dikhususkan untuk teori-teori konspirasi virus corona dalam program berita malam utamanya, Vremya (“Waktu”). Gaya pelaporannya ambigu, seolah-olah hendak menyanggah teori-teori itu tetapi sambil meninggalkan kesan kepada penonton bahwa laporan mereka benar. Pesan utama bahwa dalam bayang-bayang elite-elite Barat, khususnya AS, entah bagaimana dipersalahkan atas epidemik virus corona dan kemudian disebarluaskan sebagai sebagai desas-desus atau rumor yang meragukan: pesan itu sangat gila untuk menjadi kenyataan, tetapi siapa tahu? [3]

Anehnya, penangguhan kebenaran aktual itu tidak menghilangkan efisiensi simboliknya. Selain itu, kita harus sadar bahwa, kadang-kadang, tidak menyampaikan seluruh kebenaran kepada publik dapat mencegah gelombang kepanikan yang dapat menimbulkan lebih banyak korban. Pada tingkat ini, masalahnya tak teratasi, – jalan keluar satu-satunya adalah rasa saling percaya antara rakyat dan aparatus Negara, dan inilah yang sirna di China hari-hari ini.

Ketika epidemik di seluruh dunia berkembang, kita harus sadar bahwa mekanisme pasar tidak akan cukup mencegah kekacauan dan kelaparan. Langkah-langkah yang sebagian besar dari kita hari-hari ini tampak sebagai “Communist” akan harus dipertimbangkan pada tingkat global: koordinasi produksi dan distribusi mesti berlangsung di luar koordinat-koordinat pasar.

Slavoj Žižek

Orang mestinya perlu mengingat kembali masa paceklik kentang di Irlandia pada tahun 1840-an yang menghancurkan Irlandia, dengan jutaan orang mati atau terpaksa beremigrasi. Inggris tetap percaya pada mekanisme pasar, mengekspor makanan mereka dari Irlandia, bahkan ketika sejumlah besar orang sedang menderita. Kita harus berharap bahwa solusi brutal serupa tidak lagi berterima hari-hari ini.

Orang dapat membaca epidemi virus corona yang sedang berlangsung sebagai versi terbalik dari “Perang Dunia” (novel fiksi ilmiah, Penerj.) yang ditulis H.G. Wells’s (1987). Karya ini berisikan cerita tentang bagaimana sesudah orang-orang dari planet Mars menaklukkan bumi, narator-pahlawan yang putus asa menemukan bahwa semua mereka telah terbunuh oleh serangan patogen duniawi yang mana mereka tidak memiliki kekebalan terhadapnya: “terbunuh, setelah semua peralatan manusia gagal, oleh hal yang paling sederhana, yang Tuhan dalam kebijaksanaannya, telah meletakkannya di bumi ini.”

Sangat menarik untuk diperhatikan bahwa, menurut Wells, alur cerita berawal dari diskusi dengan saudaranya Frank terkait dampak merusakan yang dibuat orang Inggris terhadap penduduk asli Tasmania. Dia bertanya-tanya, apa yang akan terjadi jika orang-orang Mars melakukan kepada orang-orang Inggris apa yang telah dilakukan Inggris terhadap penduduk Tasmania? Bagaimana pun juga, orang-orang Tasmania tidak punya patogen yang mematikan untuk mengalahkan penjajah mereka. [4]

Mungkin seharusnya sebuah epidemi yang mengancam akan memusnahkan manusia ditafsir seperti cerita Welss dengan versi yang terbalik: “penjajah Mars”, yang secara kejam mengeksploitasi dan menghancurkan kehidupan di atas bumi, adalah kita sendiri, umat manusia, diri kita sendiri, dan sesudah segala peralatan primata kita yang sangat maju untuk mempertahankan diri telah gagal, kita sekarang diancam “oleh hal yang paling sederhana, yang Tuhan dalam kebijaksanaannya, telah meletakkannya di bumi”, virus-virus jahil yang hanya tahu mereproduksi diri mereka sendiri secara membabi buta – dan bermutasi.

Tentu saja kita mesti menganalisis secara mendetail kondisi-kondisi sosial yang memungkinkan terjadinya epidemik virus corona. Cukup pikirkan saja caranya, dalam dunia yang serba terhubung dewasa ini, seorang Inggris bertemu seseorang di Singapura, kembali ke Inggris, dan kemudian bermain ski di Prancis, menginfeksi di sana empat orang lainnya … Para terduga yang biasa dipertanyakan: globalisasi, pasar kapitalis, kefanaan orang kaya.

Namun, kita harus menahan godaan untuk memperlakukan epidemi yang sekarang berlangsung sebagai sesuatu yang punya makna lebih dalam: sebagai hukuman yang kejam tetapi adil atas manusia karena eksploitasinya yang kejam atas bentuk-bentuk kehidupan lain di bumi. Jika kita mencari sebuah arti tersembunyi seperti itu, kita tetap pramodern: kita memperlakukan alam semesta sebagai mitra dalam komunikasi.

Bahkan jika kelangsungan hidup kita terancam, ada sesuatu yang meyakinkan dalam kenyataan bahwa kita dihukum, alam semesta (atau bahkan seseorang di luar sana) sedang terlibat bersama kita. Kita penting dalam beberapa hal yang mendalam.

Hal yang sungguh sulit diterima adalah epidemi yang sedang berlangsung adalah hasil dari kontingensi alamiah paling murni, bahwa ia hanya terjadi dan tidak menyembunyikan makna yang lebih mendalam. Dalam tata semesta yang lebih besar, kita hanyalah spesies tanpa arti yang khusus.

Bereaksi terhadap ancaman yang disebabkan wabah virus corona, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan segera menawarkan bantuan dan kerja sama dengan pemerintah Palestina – keputusan ini tidak keluar berdasarkan pertimbangan pada kebaikan atau kemanusiaan, tetapi karena fakta sederhana bahwa mustahil untuk memisahkan orang Yahudi dan Palestina di sana – apabila satu kelompok terinfeksi, yang lain mau tidak mau  akan menderita juga.

Kenyataan inilah yang harus kita terjemahkan ke dalam politik – sekarang adalah waktunya untuk berhenti memakai motto “Amerika (atau siapapun lainnya) yang pertama”.

Sebagaimana disampaikan Martin Luther King lebih dari setengah abad yang lalu: “kita mungkin datang dengan kapal yang berbeda, tetapi kita berada dalam perahu yang sama sekarang.” [Bersambung…]


  • Artikel, yang terbit sebagai “Bab I” dalam buku Filsuf Slovenia Slavoj Žižek berjudul “Pandemic: COVID – 19 Shakes The World”, diterjemahkan oleh Silvano Keo Bhaghi dan diterbitkan lagi secara berkala di sini untuk tujuan pendidikan.

[1] https://www.theguardian.com/world/2020/feb/08/if-china-valued-free-speech-there-would-be-no-coronavirus-crisis

[2] https://www.theguardian.com/world/2020/feb/11/coronavirusexpert-warns-infection-could-reach-60-of-worlds-population

[3] https://www.bbc.com/news/world-europe-51413870

[4] https://en.wikipedia.org/wiki/TheWaroftheWorlds



Baca juga tulisan lain di Rubrik GAGASAN atau tulisan menarik lainnya dari Silvano Keo Bhaghi.


64 views

3 tanggapan untuk “Kita Semua Berada dalam Perahu yang Sama Sekarang [Terjemahan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”] (2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *