Mengapa Kita Lelah Sepanjang Waktu? [Terjemahan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”] (3)

Foto/forestdigest.com

Oleh Silvano Keo Bhaghi


BAB II

MENGAPA KITA LELAH SEPANJANG WAKTU?


Bagian Sebelumnya


Epidemi virus corona menghadapkan kita dengan dua macam sosok yang berbeda dalam kehidupan harian kita: mereka, seperti perawat dan staf medis, yang bekerja keras sampai lelah, dan mereka yang tidak melakukan apa-apa karena terpaksa atau suka rela mengurung diri di rumah. Termasuk ke dalam kelompok kedua, saya merasa wajib gunakan keadaan yang sulit ini untuk bikin sebuah refleksi singkat dengan cara yang berbeda tentang bagaimana kita menjadi lelah.

Di sini, saya akan kesampingkan pertentangan yang jelas tentang ketidakaktifan [pasivitas, Penerj.] paksaan yang membuat kita lelah, tetapi saya akan mulai dengan Byung-Chul Han, yang memberikan sebuah penjelasan sistematis tentang bagaimana dan mengapa kita hidup dalam sebuah “masyarakat yang kelelahan.” [1]

Ini adalah catatan singkat dari karya luar biasa Byung-Chul Han, tetap dengan nama yang sama, tanpa malu-malu, tetapi dengan penuh rasa hormat diangkat dari Wikipedia:

"Dikendalikan oleh desakan untuk berhasil dan tidak gagal, seperti oleh ambisi efisiensi, kita menjadi korban dan pelaku kejahatan pada saat yang sama dan masuk ke dalam sebuah ruang pembatasan, eksploitasi diri, dan kehancuran. Ketika produksi bersifat imaterial, setiap orang telah memiliki alat-alat produksi untuk dirinya sendiri. Sistem neoliberal tidak lagi merupakan sebuah sistem kelas dengan arti yang sama. Sistem itu tidak lagi mengandung kelas-kelas yang memperlihatkan anatogonisme yang sama. Ini menjelaskan stabilitas sistem."

Han berpendapat bahwa setiap subjek menjadi pengeksploitasi dirinya sendiri:

"Dewasa ini, setiap orang merupakan pekerja yang mengeksploitasi dirinya sendiri dalam perusahaan miliknya sendiri. Orang-orang sekarang sekaligus menjadi tuan dan budak. Bahkan perjuangan kelas telah bertransformasi ke dalam perjuangan dalam diri melawan dirinya sendiri."

Individu sudah menjadi apa yang disebut Han sebagai “subjek prestasi”, Orang tidak percaya bahwa mereka sudah ditaklukkan sebagai subjek, tetapi hanya sebagai “proyek”: yang selalu mengubah gaya dan menemukan diri kita kembali dengan pelbagai bentuk tekanan dan paksaan yang sama – sesungguhnya, mengarah kepada sejenis subyektivasi dan penaklukan yang lebih efisien. Sebagai sebuah proyek yang menganggap dirinya bebas dari pembatasan-pembatasan eksternal dan asing, Aku (sebagai subjek, penerj.) sekarang menundukkan dirinya terhadap pembatasan-pembatasan internal dan aneka kendala dalam diri, yang mengambil bentuk sebagai prestasi dan optimisasi paksaan. [2]

Walaupun Han tawarkan pengamatan yang jelas tentang mode baru subjektivasi, yang dari padanya kita dapat belajar banyak hal (apa yang dia lihat adalah sosok super-ego hari ini), tetapi  saya pikir bahwa dua catatan kritis berikut mesti diajukan.

Pertama, pembatasan dan kendala tentu tidak hanya bersifat internal: aturan-aturan tingkah laku ketat yang baru sedang ditegakkan, khususnya di kalangan anggota-anggota kelas “intelektual” baru. Cukup pikirkan tentang batasan-batasan yang secara politis benar yang membentuk sebuah wilayah khusus “perjuangan melawan diri sendiri”, melawan ujian-ujian yang “tidak tepat.”

Atau ambil contoh sebuah batasan yang sangat eksternal berikut: beberapa tahun lalu, produser film Udi Alone mengorganisasi kelompok yang terdiri atas orang-orang Palestina, Teater Kebebasan Jenin, untuk mengunjungi New York, dan terdapat sebuah laporan tentang kunjungan itu di The New York Times yang hampir saja tidak dipublikasikan. Saat diminta untuk menyebut publikasi terbarunya untuk cerita itu, Aloni mengutip sebuah konten yang telah dia edit; Masalahnya adalah kata “bi-nasional” ada di dalam sub-judul buku itu. Karena takut mengganggu Pemerintah Israel, Times mendesak agar kata itu dihapus, kalau tidak laporan itu tidak akan terbit.

Atau ambil contoh lain yang lebih mutakhir: Penulis berdarah Pakistan Inggris Kamila Shamsie menulis sebuah novel, Home Fire, sebuah versi modern Antigone [tokoh utama dalam kisah Thebes: sebuah drama yang ditulis Sophokles Penerj.) yang berhasil, dan dianugerahi beberapa penghargaan internasional, di antaranya Hadiah Nelly Sachs yang dipersembahkan Kota Dortmund di Jerman.

Namun, saat diketahui bahwa Shamsie mendukung BDS (Boycott, Divestment, and Sanctions: sebuah kampanye global yang berusaha mendesak Israel secara ekonomi politik agar mengakhiri pendudukan terhadap Palestina Penerj.), dia secara pasang surut dilucuti dari penghargaan tersebut dengan penjelasan bahwa, ketika mereka memutuskan memberikan hadiah itu kepadanya, “anggota dewan juri tidak sadar bahwa penulis sudah sedang terlibat dalam tindakan boikot melawan Pemerintah Israel terkait kebijakan-kebijakannya terhadap Palestina sejak tahun 2014.” [3]

Disinilah kita berdiri sekarang: Peter Handke menerima Hadiah Nobel Sastra 2019 walaupun dia secara terbuka menyetujui operasi militer Serbia di Bosnia, sedangkan mendukung sebuah protes damai melawan politik Bank Barat Israel akan mendepak anda keluar dari daftar calon pemenang.

Kedua, bentuk baru subjektivitas yang digambarkan Han dikondisikan oleh fase baru kapitalisme global yang masih menjadi sebuah sistem kelas dengan ketidaksetaraan yang meningkat – Perjuangan dan antagonisme sama sekali tidak dapat diuraikan lagi menjadi “perjuangan melawan diri sendiri” intra-personal. Masih terdapat jutaan pekerja kasar di Negara-negara Dunia Ketiga, terdapat perbedaan besar antara berbagai tipe pekerja immaterial yang berbeda-beda (cukuplah sebut jumlah meningkat dari mereka yang bekerja di “layanan manusia”, seperti pengasuh para jompo). Sebuah kesenjangan memisahkan manager utama yang memiliki dan menjalankan sebuah perusahaan dari pekerja tidak tetap yang menghabiskan hari-harinya di rumah sendirian dengan komputer pribadinya – Mereka berdua tentu bukanlah seorang tuan dan budak dalam arti yang sama.

Banyak hal sudah ditulis tentang bagaimana pola lawas kerja perakitan bergaya Fordis tergantikan oleh sebuah cara kerja kooperatif baru yang menyediakan lebih banyak ruang bagi kreativitas individual.

Namun, apa yang secara efektif berlangsung bukanlah pergantian, melainkan outsourcing (suatu operasi alih daya atau pemindahan operasi dari suatu tempat ke tempat lain dalam sistem produksi guna menekan biaya produksi – Penerj.): pekerjaan yang berlangung di Microsoft dan Apple mungkin diorganisasi dalam sebuah cara yang lebih kooperatif, tetapi produk akhir mereka pada akhirnya diselesaikan di China atau Indonesia dengan pola yang sangat Fordis – kerja perakitan hanyalah sebuah bentuk alih daya tersebut.

Jadi, kita menemukan sebuah pembagian kerja yang baru: pekerja mandiri dan pekerja pengeksploitasi diri (digambarkan oleh Han) di Negara maju, kerja perakitan yang menguras tenaga di Negara-negara Dunia Ketiga, ditambah dengan meningkatnya para pekerja di bidang perawatan manusia dalam pelbagai bentuknya (pengasuh, pelayan), yang penuh dengan ekspolitasi juga. Hanya kelompok pertama (pekerja mandiri/wiraswasta, sering para pekerja tidak tetap) yang sesuai dengan penjelasan Han.

Masing-masing dari tiga kelompok pembagian kerja di atas menyiratkan cara khusus menjadi lelah dan terlalu banyak bekerja. Pekerjaan perakitan hanya menguras tenaga karena pengulangannya – para pekerja menjadi lelah karena merakit lagi dan lagi iPhone yang sama di belakang meja Pabrik Foxxconn di pinggiran Kota Sanghai.

Berbeda dengan jenis kelelahan ini, apa yang membuat kerja perawatan manusia menjadi begitu melelahkan adalah harapan bahwa mereka mesti bekerja dengan penuh empati, untuk terlihat peduli dengan “objek” pekerjaan mereka: seorang pekerja di Taman Kanak-Kanak (TK) dibayar tidak hanya untuk menjaga anak-anak tetapi juga menunjukkan kasih sayang terhadap mereka, hal yang sama berlaku bagi mereka yang merawat para jompo atau orang sakit.

Kita dapat membayangkan tekanan “menjadi baik” secara tetap. Berbeda dengan dua bidang pertama di mana kita paling kurang dapat mempertahankan semacam jarak terhadap apa yang sedang kita lakukan (bahkan ketika kita diharapkan untuk memperlakukan seorang anak dengan baik, kita dapat berpura-pura melakukannya), bidang ketiga menuntut dari kita sesuatu yang lebih melelahkan.

Bayangkan seorang yang disewa untuk mempublikasikan atau mengemas sebuah produk dalam rangka merayu orang untuk membelinya – bahkan jika secara pribadi orang itu tidak peduli dengan produk itu atau bahkan membenci segala macam gagasan tentangnya.

Orang harus mendayagunakan kreativitasnya dengan sangat intens untuk mencari tahu solusi asli, dan usaha seperti itu dapat menjadi lebih melelahkan dari pada model kerja perakitan yang berulang-ulang. Inilah kelelahan khusus yang dibicarakan Han.

Namun, bukan hanya para pekerja tidak tetap yang bekerja di belakang layar PC di rumah yang habiskan tenaga dengan eksploitasi diri. Kelompok lain harus disebut di sini, biasanya ditunjukkan dengan istilah yang menjebak “pekerjaan tim kreatif.” [4]

Mereka adalah para pekerja yang diharapkan menjalankan fungi-fungsi kewirausahaan atas nama manajemen atau pemilik yang lebih tinggi. Mereka berurusan “secara kreatif” dengan perhimpunan sosial produksi dan distribusinya.

Peran kelompok pekerja semacam ini ambigu: di satu sisi, “dengan mengambil alih fungsi-fungsi kewirausahaan, para pekerja berurusan dengan karakter sosial dan makna pekerjaan mereka melalui keuntungan yang terbatas: “Kemampuan untuk mengorganisasi tenaga kerja dan kerja sama gabungan secara efisien dan ekonomis, dan untuk memikirkan karakter tenaga kerja yang berguna secara sosial, yang berguna bagi umat manusia dan akan selalu demikian.” [5]

Namun, mereka melakukan pekerjaan ini di bawah ketergantungan terhadap kapital secara terus menerus, misalnya, dengan tujuan membangun perusahaan menjadi lebih efisien dan menguntungkan, dan ketegangan seperti inilah yang membuat “pekerjaan tim kreatif” seperti itu begitu melelahkan.

Mereka bertanggungjawab atas kesuksesan perusahaan, sementara kerja tim itu juga melibatkan persaingan di antara mereka sendiri dan dengan kelompok lainnya. Sebagai penyelenggara proses kerja, mereka diupah untuk melakukan peran yang secara tradisional milik para kapitalis.

Maka, dengan semua kecemasan dan tanggung jawab manajemen, sementara para pekerja yang diupah tetap merasa tidak aman dengan masa depan mereka, mereka mendapatkan bagian terburuk dari kedua situasi tersebut [saat bekerja dan masa depan mereka – Penerj.).

Pembagian kelas seperti itu telah memperoleh dimensi baru dalam situasi panik akibat virus corona. Kita dibombardir dengan seruan untuk bekerja dari rumah, dalam isolasi yang aman. Namun, kelompok mana yang sanggup melakukan ini?

Para pekerja intelektual tidak tetap dan manajer, yang mampu bekerja sama melalui email dan telekonferensi, sehingga bahkan ketika mereka dikarantina pekerjaan mereka kurang lebih tetap berjalan lancar. Mereka mungkin bahkan memperoleh banyak waktu untuk “mengeksploitasi diri kita sendiri.”

Namun, bagaimana dengan mereka yang harus bekerja di luar, di pabrik dan sawah, di toko, rumah sakit, dan transportasi publik? Banyak hal harus dilakukan dengan mengambil tempat di luar yang tak aman agar orang-orang itu dapat bertahan hidup di dalam karantina pribadi mereka.

Terakhir, yang tidak kalah pentingnya adalah kita seharusnya menghindari godaan untuk mengutuk disiplin diri dan dedikasi yang keras untuk bekerja dan mempropaganda sikap “santai saja.” – Arbeit macht frei! (kerja membebaskanmu) masih merupakan motto yang tepat, sekalipun secara brutal disalahgunakan oleh Nazi.

Ya, ada kerja keras yang sangat melelahkan untuk banyak orang yang menangani efek epidemic – Namun, itu adalah pekerjaan yang bermakna bagi kemaslahatan masyarakat yang memberi kepuasan tersendiri, bukan upaya dungu untuk berusaha sukses di pasar.

Ketika seorang pekerja medis menderita keletihan yang sangat karena bekerja lembur, ketika seorang pengasuh lelah karena tanggung jawab yang menuntut, mereka lelah dalam sebuah cara yang berbeda dari kelelahan mereka yang digiring oleh dorongan karir yang menggebu-gebu. Kelelahan mereka berfaedah.

Slavoj Žižek

Bersambung


  • Artikel, yang terbit sebagai “Bab II” dalam buku Filsuf Slovenia Slavoj Žižek berjudul “Pandemic: COVID – 19 Shakes The World”, diterjemahkan oleh Silvano Keo Bhaghi dan diterbitkan lagi secara berkala di sini untuk tujuan pendidikan.

[1] Byung-Chul Han, The Burnout Society, Redwood City: Stanford UP 2015

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Byung-Chul_Han

[3] https://www.middleeasteye.net/news/german-city-reverse-prizeuk-author-kamila-shamsie-over-support-bds

[4] See Stephan Siemens and Martina Frenzel, Das unternehmerische Wir, Hamburg: VSA Verlag 2014.

[5] Eva Bockenheimer, “Where Are We Developing the Requirements for a New Society,” in Victoria Fareld and Hannes Kuch, From Marx to Hegel and Back, London: Bloomsbury 2020, p. 209.



Baca juga tulisan lain di Rubrik GAGASAN atau tulisan menarik lainnya dari Silvano Keo Bhaghi.


127 views

2 tanggapan untuk “Mengapa Kita Lelah Sepanjang Waktu? [Terjemahan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”] (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *