Jejak Tuhan dalam Pandemi Covid-19

Jejak Tuhan dalam Pandemi Covid-19

Ilustrasi/opinifloreseditorial.com

Oleh Simon O. Lebo


Pengantar

Sejak Desember 2019, Covid-19 telah meneror Kota Wuhan, Cina tempat awal kemunculan virus ini. Secara cepat dan tak terkendali, Covid-19 menyebar ke pelbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. [1]

Semua sektor kehidupan hampir lumpuh. Manusia terus mencari cara, tetapi tetap saja tak berdaya menahan laju persebaran Covid-19. Di sana-sini, orang mulai berspekulasi. Ada yang mengatakan virus ini berasal dari kelelawar di Kota Wuhan. [2]

Namun, ada pula yang mengatakan virus ini berasal dari laboratorium Cina. Oleh karena itu, tak tanggung-tanggung Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Covid-19 sebagai “Virus Cina”. [3]

Hal ini kemudian didukung oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo yang mengatakan bahwa Cina harus cepat menyampaikan kepada dunia mengenai asal-usul virus yang berada di Laboratorium Wuhan itu. [4]

Menanggapi hal di atas, bagaimanakah umat Kristiani melihat kehadiran virus ini? Apakah melulu soal kerja manusia atau benar-benar dari binatang? Ataukah Tuhan memiliki rencana di balik Covid-19?

Tulisan ini mencoba memberikan pemahaman tentang virus corona dan jejak Tuhan, lalu dampaknya bagi umat Kristiani dalam membangun relasi dengan Tuhan sendiri.


Baca Juga Ilmu-ilmu Sosial dan Teologi Kontekstual (Menanggapi Dr. Ignas Kleden)


Virus Corona dan Penderitaan Umat Manusia

Kemunculan virus corona menyebabkan lumpuhnya aktivitas keagamaan apapun di seluruh dunia. Gereja Katolik Roma, salah satu dari agama terbesar di dunia, turut mengalami kewalahan berhadapan dengan virus ini.

Umat Kristiani bahkan tak mampu merasakan suasana perayaan Paskah tahun 2020 secara langsung, juga perayaan ekaristi mingguan. Umat Kristiani hanya mampu merasakan dahsyatnya perayaan Paskah secara online atau lebih dikenal sekarang sebagai Paskah atau Ekaristi online. Semua akses langsung ke gereja dibatasi.

Semua ini tentu saja menuntut respons umat Kristiani. Respons itu tentunya bukan dengan mengeluarkan “jurus” untuk mengalahkan virus secara cepat.

Tenaga medis saja masih berkecimpung melawan virus, apalagi umat Kristiani yang tidak mengetahui apa-apa tentangnya. Akan tetapi, akan lebih menarik apabila umat Kristiani lebih melihat bagaimana sapaan Tuhan ditengah Pandemi Covid-19.

Menarik bahwa virus ini tak mengenal siapa pun dari antara kita. Entah orang suci, rajin ke Gereja, sering membantu sesama dalam kehidupan sehari-hari, memiliki perhatian kepada orang-orang kecil, virus tak membedakannya. Manusia adalah objek utama virus ini.

Berhadapan dengan kenyataan ini, maka sebagai orang beriman Kristiani, aspek pengharapan adalah kunci utama melawan Pandemi Covid-19. Badai pasti berlalu, jalan Tuhan pasti ada, dan Tuhan bersama orang Kristiani adalah sebuah pengharapan yang mesti kita tanamkan saat ini.

Jhon Piper mengambarkan sekaligus merefleksikan sebuah pengharapan ditengah Pandemi Covid-19 demikian:

Pengharapan adalah kekuatan; kekuatan di masa sekarang. Pengharapan mencegah orang-orang untuk bunuh diri sekarang. Pengharapan membantu orang-orang untuk bangun dari tidur dan pergi bekerja sekarang. Bahkan di kala isolasi, bekerja dari rumah sekarang. Pengharapan membebaskan kita dari ketakutan yang egois dan ketamakan sekarang. Itu menguatkan kasih, menimbulkan keberanian mengambil risiko, dan rela untuk berkorban sekarang. [5]

Umat Kristiani di tengah Pandemi Covid-19 masih memiliki harapan. Harapan di tengah gempuran Covid-19 bukanlah sesuatu yang terjadi di masa yang akan datang.

Pengharapan itu terjadi sekarang. Umat beriman Kristiani masih memiliki Tuhan yang diimani sebagai pengharapan di masa sulit.


Baca Juga Menggagas Teologi Web, Menggugat Misa Online (1/2)


Hukuman atau Pembaharuan?

Covid-19 juga menimbulkan pertanyaan penting bagi dasar iman kita. Apakah Covid-19 adalah sebuah hukuman Tuhan ataukah sebuah ajakan untuk memperbaharui cara beriman kita kepada-Nya?

Kalau dipandang sebagai sebuah hukuman, maka ada suatu kekeliruan dalam cara beriman kita. Perlu ditekankan disini bahwa sebagai umat beriman kita akan keliru apabila melihat virus corona sebagai hukuman Tuhan.

Simon Lebo

Virus corona sebetulnya menunjukkan kepada kita betapa dalamnya kerusakan relasi antara ciptaan dan Pencipta. Bumi adalah ciptaan Allah, bukan milik kita. Kita bukan pemiliknya, tetapi kita berusaha memilikinya. [6]

Kita semua adalah orang-orang berdosa, tanpa kecuali. Kita telah menganti nilai, keindahan, dan keagungan Allah yang mulia dengan keagungan yang lebih kita nikmati (Kej. 1:23;3:23).

Dalam kaitan dengan virus corona, Allah bukanlah penyebab utama, melainkan manusia sendiri yang bertindak seolah-olah melampaui Allah sendiri. Oleh karena itu, virus corona tidak menunjukkan sebuah kecemaran, kesalahan, dan kejahatan Allah. [7]

Berdasarkan hal di atas, ada baiknya memberikan perhatian khusus pada relasi kita dengan Tuhan. Terlepas dari Tuhan yang tidak memiliki rencana di balik virus, tetapi perlu dipahami bahwa virus ini adalah sebuah kerangka pembaharuan iman kita kepada Tuhan.

Virus corona tentu saja telah menjadi sebuah masalah yang memiliki banyak spekulasi terkait keberadaannya. Orang-orang beragama pasti tidak akan memahami keberadaan virus ini. Begitu juga umat Katolik.

Namun, ada sebuah kepastian bahwa virus ini membawa sebuah pembaharuan, terutama relasi kita dengan Allah. Gary Stern dalam bukunya tentang “Can God Intervene” mengambarkan demikian tentang Allah yang bekerja dalam diri manusia:

Tuhan mengijinkan kejahatan, kehancuran, kekecewaan, masalah. Semua hal itu untuk mendekatkan kita kepada-Nya dan menciptakan lebih banyak keputus-asaan di dalam diri kita sehingga kita bisa menemukan penyelamat dan kerajaan Allah yang bertahan selamanya dan itu tidak mungkin mengalami gangguan, katanya kepada saya. Hal ini juga memungkinkan kita untuk bisa melihat ada kejahatan di dunia. Ada setan dan iblis di sana sini.Tuhan pada akhirnya menghasilkan yang baik dari situasi yang mengerikan dan jahat ini. [8]

Covid-19 adalah peristiwa luar biasa yang mengoncangkan iman kita. Saya kira, dialog Gary Stern ini menekankan cara beriman kita dewasa ini. Seperti harapan dalam kehidupan iman kristiani, maka Covid-19 pasti akan berakhir dan cara beriman kita mendapat pemahaman yang baru.

Tuhan yang diyakini oleh orang-orang Kristiani adalah Tuhan yang memiliki kodrat manusiawi sekaligus ilahi. Sebagai manusia, Tuhan pasti bersolider dengan penderitaan manusia saat ini. Tuhan pasti merasakan penderitaan manusia, terutama sampai pada wafat-Nya di kayu salib.

Tuhan juga sungguh-sungguh bangkit mengalahkan kegelapan dosa manusia. Oleh karena itu, sebagai orang kristiani, kita juga mempunyai suatu cara pandang berbeda akan sebuah penderitaan dan kematian sebagai akibat Covid-19.

Orang-orang Kristen, yang menerima Kristus sebagai harta yang paling bernilai, percaya bahwa pengalaman kebinasaan tubuh bukanlah kutukan.

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm. 8:1).

Bagi kita, kesakitan itu untuk memurnikan, bukan untuk menghukum.

“Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka” (1 Tes. 5:9).

Kita memang mati karena penyakit dan bencana alam seperti semua manusia yang lain. Namun, bagi mereka yang ada di dalam Kristus, “sengat” maut telah disingkirkan (1 Kor. 15:55).

“Mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21).

Artinya, bila kita mati, kita “bersama dengan Kristus” (Flp. 1:23). [9]


Baca Juga Covid-19 dan Ekaristi Virtual (1/2)


Pencarian Manusia Kala Covid-19

Terlepas dari masalah Covid-19, orang-orang beragama, terutama agama Kristiani, tak pernah merasa berkesudahan untuk menemukan Tuhan. Ketika Gereja dibatasi aksesnya bahkan ditutup, orang-orang Kristiani masih memiliki kerinduan yang besar untuk bertemu dengan Kristus.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa Kristus adalah sumber keselamatan penuh bagi orang-orang Kristiani. Melalui Yesus Kristus, segala badai pasti berlalu, dan di dalam-Nya ada jalan, kebenaran, dan kehidupan (Yoh. 14:6).

Yesus Kristus sebagai Tuhan adalah kerinduan yang tak pernah usai. Yesus Kristus kekal dalam waktu, bahkan dalam Pandemi Covid-19. Ia pasti memperlihatkan kuasa-Nya.

Keyakinan itulah yang telah membuat umat Kristiani untuk “berbondong-bondong” mencari Yesus Kristus. Oleh karena itu, teknologi canggih yang telah mempengaruhi kehidupan manusia dewasa ini turut memudahkan pencarian manusia akan wajah Yesus Kristus.

Manusia pun masih bisa merasakan betapa dahsyatnya kebaikan Tuhan. Meskipun hanya melalui online, keinginan untuk bertemu dengan Yesus tetap mengebu-gebu.

Maka, dalam keadaan seperti ini, pola relasi antara teologi dan teknologi mesti disinkronkan. Di satu sisi, memang terdapat bahaya pemanfaatan teknologi, yakni hilangnya ritus-ritus penting dalam Gereja Katolik.

Akan tetapi, teknologi tetap menjadi wadah yang perlu untuk membicarakan teologi dalam situasi seperti ini. Selain itu, melalui teknologi, kerinduan iman umat pasti terbayar.

Kita memahami bahwa internet (teknologi) telah menjadi ruang untuk berbagi pengalaman yang menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi bahkan telah menjadi hal yang paling mendasar untuk konteks saat ini.

Oleh karena itu, internet sama sekali bukan instrumen sederhana. Antara teologi dan teknologi terjadi komunikasi yang bisa dipilih untuk digunakan dan memungkinkan berkembangnya “lingkungan” budaya (Ellul, 1980) yang mengakhiri gaya berpikir, menciptakan wilayah baru dan jenis pendidikan baru, berkontribusi untuk definisi baru, dan cara untuk merangsang kecerdasan dan mempererat hubungan. [10]

Oleh karena itu, seperti yang diungkapkan oleh Spadaro, sebetulnya teknologi atau “Cyberteology” bukanlah refleksi sosiologis-religius di internet, tetapi buah dari keyakinan kita untuk terus mengolah cara berpikir, berkomunikasi, dan hidup. Rumusan fides querrens intelectum (iman mencari pengertian) masih relevan di tengah kemajuan teknologi, bahkan telah merangsang manusia untuk mengunakan teknologi dalam berteologi. [11]

Dengan demikian, pilihan untuk mengunakan teknologi di tengah Covid-19 amat penting, bahkan mendesak. Teknologi sangat relevan untuk mengkomunikasikan iman umat dalam konteks dunia saat ini.

Spadaro telah memberikan pemahaman pada Gereja bahwa dengan situasi dunia yang semakin canggih, pemanfaatan teknologi dalam berteologi perlu diperhitungkan. Persis, dalam kaitan dengan Covid-19, Spadaro telah lebih dahulu menunjukkan, teknologi membantu umat untuk bertemu dengan Kristus yang sungguh manusia dan sungguh Allah itu.


[1] Majalah Tempo, 23-29 Maret 2020, hlm. 14.

[2] Majalah Tempo, 16 – 22 Maret 2020,  hlm. 44

[3] https://www.bbc.com/news/world-52008453,Coronavirus: US-China battle behind the scenes, diakses pada 27 April 2020.

[4] https://www.aljazeera.com/news/2020/04/trump-steps-pressure-china-coronavirus-deaths-mount-200416011036676.html, diakses pada 27 April 2020.

[5] Philip Manurung (Penerjemah), Kristus dan Virus Korona, (Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2020), 13.

[6] Budianto Lim (Penerjemah), Di manakah Allah dalam Dunia dengan Virus Corona, (Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur, 2020), 60.

[7] Philip Manurung (Penerjemah), Kristus dan Virus Korona, 33.

[8] Gary Stern, Can God Intervene: How Religion Explains Natural Disasters, (Westport: British Library Cataloguing, 2007),76.

[9] Philip Manurung (Penerjemah), Kristus dan Virus Korona, 59-60.

[10] Maria Way (Translater), Cybertheolgoy:Thinking Christianity of the era of the Internet, (New York: Fordham University Press,2014), 3.

[11] Maria Way (Translater), Cybertheolgoy:Thinking Christianity of the era of the Internet, 17.


Daftar Bacaan

Lim, Budianto (Penerjemah). 2020. Di manakah Allah dalam Dunia dengan Virus Corona. Surabaya:  Literatur Perkantas Jawa Timur.

Manurung, Philip (Penerjemah). 2020. Kristus dan Virus Korona. Surabaya: Literatur Perkantas    Jawa Timur.

Stern, Gary. 2007. Can God Intervene: How Religion Explains Natural Disasters. Westport: British Library Cataloguing.

Way, Maria (translater). 2014. Cybertheolgoy:Thingking Christianity of the era of the Internet. New York: Fordham University Press.

Majalah Tempo, 16 – 22 Maret 2020.

Majalah Tempo, 23-29 Maret 2020.

https://www.bbc.com/news/world-52008453,Coronavirus: US-China battle behind the scenes, diakses pada 27 April 2020.

https://www.aljazeera.com/news/2020/04/trump-steps-pressure-china-coronavirus-deaths-mount-200416011036676.html, diakses pada 27 April 2020.



Baca juga tulisan lain di Rubrik FILSOSTE atau tulisan menarik lainnya Simon Lebo.


Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »