“Aib dan Nasib” dan Desa yang Tak Lagi Lugu

Novel “Aib dan Nasib” menampilkan sebuah dekonstruksi atas ruang hidup berkenaan dengan kejahatan; bahwa kejahatan tidak mengenal dikotomi kota dan desa.


Judul: Aib dan Nasib

Penulis: Minanto

Penerbit: Marjin Kiri

Terbit: Juli 2020

Tebal: 263


“Disusun dalam bentuk fragmen-fragmen episodik dengan alur maju-mundur, gairah eksperimentasi bentuk novel "Aib dan Nasib" akan memberi pengalaman naratif yang tak terlupakan.”

Demikian testimoni penutup yang tertera di sampul belakang novel pemenang Sayembara DKJ 2019 ini.

Fragmen-fragmen episodik dengan alur maju-mundur inilah yang awalnya membuat saya cukup kerepotan mengikuti kisah yang berjalin-kelindan dari tiap-tiap karakter di dalamnya. Belum perkara nama masing-masing karakter yang menuntut saya untuk membaca karya Minanto ini dengan perlahan-lahan dan cermat.

Ihwal nama-nama, saya harus membuat bagan silsilah, meskipun tidak serumit silsilah keturunan Jose Arcadio Buendia dan Ursula Iguaran dalam One Hundred Years of Solitude-nya Gabriel`Garcia Marquez yang tersohor itu. Usaha membuat bagan ini bagi saya sangat membantu mengikuti alur cerita pada bagian awal novel.

Novel ini dibuka dengan kematian beberapa karakternya sehingga kita akan dibawa mundur dengan rasa penasaran, mengenai sebab kematian mereka. “Perkawanan aneh” sekaligus permusuhan antara Bagong Badrudin yang waras dan Boled Boleng yang sinting (?) berakhir tragis. Marlin amati dengan hati remuk sembari membawa mimpi yang tak kesampaian: menebas batang leher Eni sang belahan jiwa yang jadi TKI di Singapura.

Mang Sota mendapati Duloh rebah tanpa nyawa beberapa saat setelah bangun pagi akibat ketoledorannya. Dari kematian yang absurd inilah, kisah-kisah di DesaTegalurung (Indramayu-Jawa Barat) dibangun.

Aib dan Nasib menyajikan sensasi yang berbeda ketika dibaca. Menurut saya, justru potongan-potongan episodik inilah yang jadi kekuatan bangunan ceritanya.

Juan Kromen

Dengan teknik pengisahan yang terpotong-potong: dari kisah satu karakter disela oleh karakter lain; kembali ke karakter semula, disela lagi, dan seterusnya – kita seolah-olah sedang menyusun empat tembok rumah secara berganti-gantian dari bata-bata yang  tercecer. Pada akhirnya, keterhubungan tiap bata akan membentuk sebuah ‘rumah’ Aib dan Nasib.

Yang menarik sekaligus membantu kita (sekurang-kurangnya saya) sebagai pembaca untuk mencerna potongan-potongan kisah di dalam penceritaan novel ini adalah gaya bahasa sekaligus fragmen yang ringkas (tidak bertele), lugas, mengalir, dan ia meninggalkan kejutan di tiap ujung episodenya. Saya kira, ini keterampilan mengulik cerita yang tidak biasa. Dan Minanto sang pengarang novel, berhasil mengeksekusinya.

Kalau tak salah ingat, Eka Kurniawan dalam Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas menulis juga dalam bentuk fragmen episodik seperti itu. Namun, saya pikir tidak serapi Aib dan Nasib. Fragmen-fragmen yang ringkas dan terstruktur ini pula sangat membantu kita untuk tidak beranjak terlampau jauh dari alur pengisahan — meski terjadi lompatan dari satu karakter ke karakter lain; dari satu peristiwa ke peristiwa lain.

Boleh jadi, Minanto menimba inspirasi dari Eka Kurniawan ihwal bentuk fragmen episodik ini. Jadi, tak ada jurang menganga yang tercipta akibat lompatan cerita yang pada akhirnya membuyarkan alur cerita. Tentu saja, ini salah satu bentuk pembacaan atau tafsiran lepas saya sebagai pembaca terhadap bacaan.

Bentuk pengisahan yang fragmentaris-episodik ini pulalah yang saya kira memberi kebaruan dalam Aib dan Nasib meski ia berangkat dari tema yang sudah jamak diangkat. Latar tempat dan peristiwa di pedesaan dengan segala kompleksitasnya, mengingatkan saya pada Ahmad Tohari, misalnya, yang memang sangat akrab dengan setting pedesaan. Aib dan Nasib menyuguhkan realitas pedesaan dengan lebih gamblang, jujur, apa adanya, bahkan sangat vulgar sekaligus banal.


Baca Juga Derap-derap Kepentingan


Novel “Aib dan Nasib” dan Desa yang Tak Lagi Lugu

Sampul Novel “Aib dan Nasib” karya Minanto pemenang sayembara novel DKJ 2019. Foto/Juan Kromen

Aib dan Nasib adalah salah satu potret paling telanjang tentang kehidupan masyarakat pedesaan dengan segala kompleksitasnya. Novel ini seperti sedang menggugat dikotomi desa vs kota — bahwa masalah-masalah di perkotaan, terjadi juga di pedesaan meski dengan gambaran dan corak yang berbeda.

Kemiskinan yang menjerat, kesenjangan, sosial, aksi-aksi kriminal, kekerasan (pelecehan) seksual, intrik-intrik politik yang dibalut dengan omong kosong kesalehan, KKN dan masalah-masalah sosial-ekonomi-politik lainnya juga terjadi di pedesaan. Sayangnya, hal-hal ini sering luput dari sorotan ‘kamera’ dan pemberitaan media-media arus utama.

Percakapan ini, bisa jadi salah satu satire yang menggelitik.

“… Malah aku heran, kenapa TV-TV tidak datang ke Tegalurung buat siaran berita. Padahal RTTV ada, STTV ada, Tram TV ada, Tram 7 juga ada. Padahal kukira setiap hari pastilah ada berita kriminal, apalagi di Tegalurung. Tidak pagi tidak siang tidak sore tidak malam.”
“Kalau orang TV datang ke Tegalurung, apa kamu siap jadi narasumber, Mang?”
“Tentu saja mau. Biar masuk TV. Kapan lagi bisa masuk TV?” (hlm. 262-263)

Baca Juga Sastrawan dalam Dunia yang Tidak Hitam Putih


Aib dan Nasib seolah-olah ingin membalikkan gambaran tentang desa yang identik dengan ‘keluguan’; berbanding terbalik dengan kota yang menampakkan wajah ‘bengis’. Kisah-kisah tragis yang kadang ditampilkan dengan nada komedi dalam novel ini seakan-akan ingin mengajak kita untuk “memalingkan wajah dan mengarahkan tatapan mata kita” juga ke pedesaan. Ini penting mengingat banyak ‘aib’ yang mengendap dan tersembunyi di balik wajah desa yang tampak lugu.

Dalam konteks masyarakat NTT, misalnya, aneka soal dan permasalahan di kampung-kampung pun pasti ada. Dengan makin terbukanya akses dan arus informasi, media sosial bisa menjadi salah satu alternatif untuk membuka selubung kejahatan yang selama ini tersembunyi di desa-desa. Korupsi dana desa, kejahatan seksual, pembunuhan, penjarahan, perampasan tanah, dan berbagai soal lainnya dapat ditelusuri dan diembuskan melalui sosial media, tentu ditunjang dengan data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dari novel Aib dan Nasib ini, sebuah dekonstruksi atas ruang hidup berkenaan dengan kejahatan ditampilkan; bahwa kejahatan tidak mengenal dikotomi kota dan desa. Ia bisa terjadi kapan dan di mana saja. Desa yang dulu lugu, barangkali sudah tak lagi lugu oleh ulah orang-orang tertentu.

Selamat membaca Aib dan Nasib!



Baca juga tulisan lain di Rubrik BUDAYA atau tulisan menarik lainnya dari Juan Kromen.


Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »