Marx tentang Alat Produksi dan Bentuk Kepemilikan

Marx tentang Alat Produksi dan Bentuk Kepemilikan

Karl Marx. Gambar/jacobinmag.com

Oleh MHD Zakiul Fikri


Di Indonesia, salah satu fenomena yang seringkali muncul ketika orang membicarakan Karl Marx atau mendiskusikan Marxisme ialah anggapan bahwa subjek pembicara/pendiskusi itu sedang mengajak orang lain untuk menjadi ateis atau komunis. Ataupun orang sedang mengkritik secara buta keberadaan agama.

Contoh nyata dari ini dapat terlihat lewat razia literatur-literatur seputar Marxisme-Sosialisme yang dinakhodai oleh aparat keamanan juga kelompok masyarakat sipil tertentu.

Fobia tentang Marxisme ataupun Komunisme yang digelontorkan baik secara halus maupun kasar oleh pemerintah Orde Baru tampaknya masih kuat hingga saat ini. Bahkan lebih parah lagi itu dijadikan bahan politisasi.

Padahal, jika kita mau melihat konteks kritik Marx terhadap agama, akan ditemukan bahwa Marx sebetulnya sedang mengulik determinasi ekonomi atau sistem kapitalisme sebagai bagian dari gerak sejarah produksi-ekonomi yang memang sangat rentan nan berbahaya. Karena sistem ini melanggengkan dan mengukuhkan eksploitasi terhadap alat-alat produksi, terutama tenaga kerja.

Bagi Marx, eksploitasi ini mengakibatkan kaum buruh teralienasi alias menjadi tidak sadar bahwa tenaga mereka sedang diperas hanya untuk memberikan nilai lebih kepada para pemilik alat produksi.

Alienasi ini salah satunya terjadi karena kaum buruh percaya pada tafsir atas nas agama yang terdengungkan oleh para pemimpinnya. Bahwasanya akan ada surga di balik penderitaan sehingga menderita saja dulu, hidup yang baik akan datang kemudian.

Di sini, Marx bukan serta merta muncul dari liang berpikirnya dan kemudian menghakimi bahwa agama itu buruk.

Marx ingin surga itu dibumikan, bukan surga yang hanya dipercayai terus-menerus tanpa membawa kesejahteraan.

Toh pada dasawarsa-dasawarsa selanjutnya, kita bisa melihat, beberapa agamawan ataupun teolog justru mengembangkan model Teologi Pembebasan yang setidaknya secara kritis-kontekstual berusaha menggabungkan Marxisme, lebih tepatnya Sosialisme, dan ajaran agama; agama harus membebaskan orang dari jurang ketertindasan.

Di Indonesia sendiri, pada masa-masa awal pergerakan, Marxisme bahkan sempat tersandingkan dengan ajaran Islam – tentu tidak lepas dari perdebatan-perdebatannya – untuk melawan penjajahan.

Lagipula, kita bisa mengajukan pertanyaan kritis, apakah dengan menjadi ateis lantas membuat orang tidak punya kemungkinan untuk menindas sesamanya?

Dapat terkatakan bahwa yang mau Marx sasar dalam kritiknya ialah soal tindas-menindas ini dan meletakkannya dalam dinamika kelas, bukan tentang beragama atau tidak beragama.

MHD Zakiul Fikri

Kemudian, salah satu usaha Marx sebelum masuk pada kritik atas sistem kapitalisme ini ialah risalah soal alat produksi dan bentuk kepemilikan. Poin ini tertuangkan dalam karya dia bersama Engels, “Critique of The German Ideology” (1845).

Marx membedakan adanya alat produksi alami dan alat produksi yang terciptakan oleh gerak kultur manusia.

Air, tanah, dan benda-benda alam lainnya dapat terkategorikan sebagai alat produksi alami.

Ciri khas alat produksi ini, demikian Marx, adalah individu-individu “tunduk” terhadap alam. Dengan demikian, berarti kepemilikan (khususnya kepemilikan terhadap tanah) timbul sebagai dominasi alami langsung.

Adapun ciri khas lain dari alat produksi alami ialah individu tersatukan oleh ikatan, seperti keluarga, suku, tanah, dan sumber daya bumi lainnya.

Tampak bahwa kerja yang terlibat dalam alat produksi alami merupakan hubungan pertukaran antara manusia dan alam.

Sementara, alat produksi kedua lahir dari kultur ataupun kebudayaan-peradaban manusia.

Alat produksi ini merupakan produk pekerjaan, atau lebih tepatnya manusia memanfaatkan tenaga kerjanya sendiri supaya bisa bertahan hidup.

Makanya, kepemilikan atas alat produksi ini timbul sebagai dominasi dari kerja alias kerja yang terakumulasi; Marx sebut itu sebagai kapital.

Relasi kerja yang terjadi dalam alat produksi non-alami ini bukanlah relasi yang tersatukan oleh ikatan tertentu. Namun, setiap orang independen satu sama lainnya dan hanya tersatukan oleh hubungan pertukaran; pertukaran manusia di antara diri mereka sendiri.

Meskipun begitu, dalam menerangkan munculnya industri sebagai suatu kenyataan sejarah – termaksud industri ekstraktif – Marx tidak memungkiri bahwa di dalamnya terdapat pemakaian dua alat produksi tadi karena berkaitan dengan sumber daya alam dan tenaga kerja.

Di sini, kepemilikan perseorangan tidak hanya berlaku terhadap tanah tetapi juga berkaitan dengan kepentingan akumulasi tenaga kerja.

Lantas, alienasi antara alat produksi dengan kepemilikan perorangan itu semakin kukuh dalam industri skala besar. Keberadaan industri skala besar ini telah menghapus adanya kepemilikan pribadi, terutama atas alat produksi seperti tanah.

Elaborasi soal itu juga Marx terangkan lagi dalam perkembangan struktur sosial masyarakat desa ke masyarakat kota.

Perkembangan ini berdampak pada perubahan kelas. Marx lalu membagi kelas sosial dengan meneropong pada konsepsi pembagian kerja dan kepemilikan alat produksi.

Di sini perkembangan yang terjadi di perkotaan mendorong budak-budak dari pedesaan untuk melakukan perpindahan.

Selain berusaha kabur dari tekanan penganiayaan tuannya, para budak itu menemukan komunitas kerja baru yang mengorganisasi tenaga mereka.

Namun, para budak ini, menurut Marx, tetap saja tak berdaya dan tertundukkan oleh tuan barunya sendiri.

Berkenaan dengan ini, apabila kerja mereka tidak sesuai dengan harapan produksi dari tuannya atau para saudagar yang berserikat (kaum gilda), budak-budak tersebut hanya akan menjadi pekerja atau buruh harian.

Dengan demikian, mereka tetap menjadi rakyat jelata yang tidak terorganisasi. Marx bahkan sampai pada kesimpulan bahwa kebutuhan akan pekerja harian di kota-kota menciptakan rakyat jelata.

Akan tetapi, pada titik tertentu, para pekerja harian yang terikat pada tatanan yang ada itu mempunyai minat untuk menjadi tuan sendiri. Oleh karenanya, rakyat jelata ini akan melakukan pemberontakan terhadap seluruh tatanan kota.

Hanya saja, Marx menilai bahwa pemberontakan tersebut akan sama sekali tetap tidak efektif karena ketidakberdayaan para aktornya.

Sebabnya, perkembangan alat produksi di perkotaan menuntut orang untuk memiliki kemampuan di bidang pekerjaan tertentu.

Setiap orang yang ingin menjadi tuan harus mahir dalam seluruh kepengrajinannya.

Tentang ini, munculnya kota menyebabkan pemisahan juga percabangan mode produksi. Di dalamnya terjadi pembentukan kelas khusus tertentu, semisal kelas pedagang dan kelas penenun.

Mode produksi dalam perkembangan ini kemudian semakin luas jangkauannya. Persaingan semakin ketat dan alat-alat produksi yang timbul pun semakin kompleks dan beragam. Termasuk pada masa-masa awal penggunaan mesin di Inggris (Revolusi Industri).

Pada masa itu, sektor perekonomian telah mengalami pergeseran atau perkembangan; yang semula terpusat pada pertanian menuju sektor manufaktur dan kemudian industri tadi.

Munculnya pabrik dalam mode industri membuat hubungan antara pekerja dan majikan semakin berubah secara tajam.

Ini belum lagi dengan persinggungan kepentingan dagang antara apa yang Marx sebut sebagai borjuis-borjuis kecil dan borjuis besar.

Tentu saja kelompok buruh menjadi kelas yang paling kena cekik oleh kepentingan-kepentingan dagang para borjuis tersebut.

Maka dari itu, kemudian menurut Marx, akan timbul gerakan kelas proletar yang bukan hanya dari satu individu tertentu saja. Namun, itu dilakukan secara komunal untuk membentuk suatu tatanan masyarakat tanpa kelas.

Memang apa yang Marx cita-citakan itu tidaklah terwujud yang kemudian tersematkan sebagai gagasan utopis.

Namun, itu bukan berarti karya-karya Marx tidak lagi relevan.

Sumbangan Karl Marx adalah dia meletakkan dasar bagi para pemikir ataupun aktivis selanjutnya untuk melihat gejala ekonomi masyarakat dan menempatkannya dalam relasi penguasaan-pengontrolan alat atau faktor-faktor produksi.

Hari-hari ini, di tengah dunia yang apa-apa serba kapitalistik, pengaruh kapitalisme bukan lagi hanya pada pemerasan tenaga kerja atau di Negara-negara “Selatan” seperti Indonesia berupa kebutuhan atas tanah, melainkan juga pada pembentukan pola pikir manusia.

MHD Zakiul Fikri

Alienasi berpikir ini tentu sangat membahayakan karena orang akan menormalisasi segala bentuk penindasan terhadap sesama manusia dan melihat itu sebagai perkara wajar. Tidak jarang mereka mengutarakan pandangan latah, “Mengkritik kapitalisme tapi kok memakai produk kapitalis?”

Kalau mau sedikit mengikuti logika berpikir Marx terutama tentang alat produksi dan bentuk kepemilikan, maka sebetulnya kita bisa menemukan kesimpulan, Marx ini sedang mengkritik sistem-nya dan bukan produk atau komoditas yang terhasilkan.

Komunisme dalam pandangan Marx ialah produk-produk tersebut merupakan kerja dari seluruh kelas pekerja yang menguasai alat-alat produksi, bukan alat produksi ataupun modal yang hanya terkuasai oleh segelintir orang.

Justru Marx malah “tahu diri”, sebab sebelum alat-alat produksi itu termiliki oleh kaum proletar, Negara-lah yang akan mengambil alih terlebih dahulu, baru kemudian membaginya. Itulah namanya Sosialisme.



Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »