Warning: unlink(/home/ntte2897/public_html/wp-content/mmr/02de0da0-1610002731.css): No such file or directory in /home/ntte2897/public_html/wp-content/plugins/merge-minify-refresh/merge-minify-refresh.php on line 707
WALHI NTT dan Sabana Sumba Kecam Kriminalisasi Masyarakat Adat Patawang di Sumba Timur

WALHI NTT dan Sabana Sumba Kecam Kriminalisasi Masyarakat Adat Patawang di Sumba Timur

WALHI NTT dan Sabana Sumba mendampingi tiga anggota Masyarakat Adat Patawang yang dilaporkan ke polisi oleh PT Muria Sumba Manis, Senin (7/9/2020). Foto/WALHINTT

Oleh Admin



Pada Senin, 7 September 2020, tiga orang anggota Masyarakat Adat Patawang, yaitu Hapu Tara Mbiha (56), Baron Kapengan Tana Hmba (31), dan Retang Hadambiwa dari Desa Patawang, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, ditahan pihak kepolisian.


Mereka ditahan atas sangkaan melakukan pengeroyokan dan pengrusakan barang milik PT Muria Sumba Manis dalam suatu kejadian yang terjadi pada 15 Februari 2020 di Nyuara Ahu, Desa Patawang.

Kasus bermula saat Masyarakat Adat Patawang yang berjumlah delapan (8) orang meminta pihak PT Muria Sumba Manis menghentikan aktivitas mereka di lokasi tempat ritual (Katuada Nyuara Ahu) di Desa Patawang. Namun, permintaan itu berakhir dengan pelaporan dari pihak PT Muria Sumba Manis ke polisi dengan tuduhan pengeroyokan dan pengrusakan barang milik perusahaan.

Berdasarkan keterangan tiga orang anggota masyarakat adat di atas, awalnya, masyarakat adat meminta buruh perusahaan yang menjaga di lokasi untuk membongkar rumah pos jaga api. Namun, buruh beralasan masih menunggu pihak Humas.

Tiga orang anggota masyarakat adat tersebut kemudian melakukan pembongkaran tenda. Setelah pembongkaran, tiga orang ini langsung pulang ke rumah.

Beberapa hari kemudian, ketiganya dihubungi polisi untuk melakukan mediasi atas kejadian yang terjadi pada tanggal 15 Februari 2020 itu. Pada akhirnya, status mereka dinaikkan menjadi tersangka.

Tiga anggota masyarakat adat ini menerima surat panggilan pada tanggal 2 September 2020. Pada tanggal 7 September 2020, berkas kasus dinyatakan lengkap dan mereka ditetapkan menjadi tersangka.

Perjuangan Masyarakat Adat Patawang atas lahan sudah berlangsung sejak tahun 2016. Masyarakat adat berjuang karena proses investasi PT Muria Sumba Manis dinilai tidak sesuai dengan prosedur yang baik dan benar, terutama pada lahan-lahan yang dianggap vital, yaitu di tempat ritual (Katuada Padang) di Nyuara Ahu.

WALHI NTT & Sabana Sumba

Baca Juga WALHI NTT Laporkan Dugaan Kasus Perusakan Hutan oleh PT Muria Sumba Manis di DLH Sumba Timur


Namun, penolakan masyarakat adat tersebut tidak pernah dihiraukan pihak Pemerintah Daerah Sumba Timur dan perusahaan. Masyarakat kemudian membongkar rumah jaga milik perusahaan.

Masyarakat Adat Patawang sebenarnya sudah melaporkan kasus perusakan tempat ritual oleh PT Muria Sumba Manis kepada pihak kepolisian. Namun, laporan itu di-SP3-kan oleh polisi karena dinilai kurang memenuhi bukti.

Pihak Masyarakat Adat Patawang menerima putusan tersebut. Namun, mereka terus berjuang mempertahankan tanah mereka dengan melaporkan kasus itu kepada pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Kali ini, laporan mereka mendapatkan respon yang positif. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat rekomendasi untuk mempertimbangkan kembali izin yang diberikan atas lahan masyarakat yang merupakan tempat ritual.

Atas kejadian ini, sebagai organisasi yang mendampingi masyarakat adat, WALHI NTT dan Sabana Sumba mengecam kriminalisasi terhadap Masyarakat Adat Patawang yang sedang memperjuangkan hak mereka atas tanah dan secara khusus hak mereka atas kebebasan beribadah.

WALHI NTT dan Sabana Sumba meminta:


  1. Menghentikan segala upaya kriminalisasi masyarakat adat yang memperjuangkan hak-hak mereka atas tanah dan kebebasan beribadah.
  2. Meminta pemerintah menjamin kebebasan beribadah sesuai amanah Undang-Undang.
  3. Melakukan penyelesaian persoalan/sengketa lahan di Desa Patawang dan wilayah-wilayah lain yang menjadi konsesi PT Muria Sumba Manis.

Narahubung:

Petrus Ndamung (Divisi WKR WALHI NTT) = 082237616594

Rambu Dai Mamy (Sabana Sumba) = 082146322285

Umbu Deha Matolang (Sabana Sumba)

Paulus Ana Manang (Sabana Sumba)



Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa