Ayam_geprek

Revolusi Ayam Geprek dalam Dua Babak

Gambar/id.wikipedia.org

Oleh Elvan De Porres


Bu Sumi merupakan seorang pedagang warung makan kecil di kompleks Padukuhan Blimbingsari, Sleman, Yogyakarta. Hampir setiap hari, saya – setidaknya semenjak mulai berkuliah dan menetap di Yogya – sering bertandang ke tempatnya guna mengisi kebutuhan perut..


Salah satu menu makanan yang selalu tersedia dan menarik perhatian saya ialah ayam geprek.

Jika menu lainnya seperti ikan, tempe ataupun telur tidak tersedia, ayam geprek selalu ada di rak warung makan Bu Sumi.

Itu bukan berarti ayam geprek tidak laku. Toh ebanyakan konsumen yang datang ke situ memang lebih sering memesan ayam.

“Orang sini memang suka ayam goreng, Mas, yang geprek maupun penyet,” begitu kata Bu Sumi, “di sini nasi ayam saya jualnya murah,” lanjutnya.

Percakapan kami pada awal September tahun lalu itu kemudian memantik niat saya untuk mengetahui lebih jauh ihwal ayam grepek termaksud.

Hal ini juga karena saya sendiri baru tahu istilah ayam grepek – yang digoreng dengan tepung dan diberi sambal – ketika berada di Yogya.

Di kampung halaman saya, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang ada di warung atau rumah makan ataupun restoran hanyalah nasi ayam.

Sejauh pengalaman saya, belum ada tempat makan yang menjual pun memamerkan menu ayamnya sebagai ayam geprek.

Mungkin bentuk ataupun cara olahnya sama. Namun, penamaan ayam grepek itu sendiri baru saya temukan di Yogya. Meskipun begitu, baru-baru ini saya sempat membaca sebuah informasi tentang usaha warung ayam geprek di Kota Ruteng, Manggarai, Flores.

Saya lantas mencari tahu di internet soal nama “ayam grepek” ini.

Saya menemukan sejarah penamaan ayam geprek di warung makan ternyata memang bermula dari Yogyakarta. Ini tepatnya pada usaha seorang pemilik warung kecil bernama Bu Ruminah (kompas.com, 27/4/2018; tribunnews.com, 4/4/2019).

Kreativitas Bu Rum, sapaan akrab Ruminah, dalam meracik makanan tersebut dimulai sejak tahun 2003. Setelah itu usahanya berkembang menjadi salah satu menu khas di warung-warung makan lainnya.

Adapun kajian-kajian ilmiah yang membahas ayam geprek lebih banyak berbicara tentang sistem informasi penjualan ataupun kualitas pelayanan dan harga (Budi, Mahendra, Nugroho, 2016; Hanifudin, Syaifuddin, Hasiholan, 2017).

Hampir tidak ada tulisan yang melihat itu sebagai bagian dari budaya menu makan populer. Walakin demikian, telaah-telaaah tentang ayam sebagai menu makanan Indonesia sendiri telah bejibun jumlahnya.

Dalam artikel ini, saya coba merefleksikan ayam geprek sebagai suatu bentuk kebudayaan menu populer yang telah menjadi bagian dari warung-warung makan di Indonesia umumnya dan mengaitkannya dengan menu serupa dari bisnis ataupun usaha yang lebih besar dan jangkauannya luas, bahkan mendunia, yakni Kentucky Fried Chicken (KFC) dari Amerika.

Saya berargumentasi, modifikasi ayam geprek (dikatakan modifikasi karena secara historis sudah ada sejak zaman kolonial) yang tersedia di tempat-tempat makan di Indonesia merupakan bagian dari budaya populer tandingan dari warung makan kecil terhadap hegemoni popularitas KFC yang menggurita dan restorannya telah ada di Indonesia sejak tahun 1979.


Baca Juga Tumbal Ganda Konsumerisme


Stacy Takacs dalam Interrogating Popular Culture: Key Questions (2015) mengatakan, tidak setiap ekspresi budaya populer itu dirayakan besar-besaran. Ekspresinya bekerja atau berjalan dalam logikanya masing-masing.

Selain itu, setiap aktor yang terlibat di dalamnya pun memiliki agendanya tersendiri.

Lebih lanjut, dalam budaya populer setiap produk yang dihasilkan bisa memberikan pengaruh kuat untuk praktik konsumsi. Sebaliknya itu bisa sebagai bentuk resistensi atas sesuatu yang telah menjadi mainstream.

Melanjuti paparan soal sejarah warung ayam geprek di atas, Bu Rum awalnya hanya membuka warung ayam biasa di Jalan Wung Lor, Papringan, dekat salah satu kampus di Kota Yogyakarta.

Pada suatu kesempatan, seorang mahasiswa, anak kosan, mampir ke tempat itu dan meminta ayamnya digeprek.

Yanti, menantu Bu Rum, jelaskan bahwa lama-kelamaan banyak yang minat dengan ayam geprek itu sehingga disajikan/diolah terus (kumparan.com, 29/4/2019).

Adapun geprek sendiri dalam Bahasa Jawa berarti ditekan, diremas, dipukul, dilumatkan.

Perbedaanya dengan ayam penyet – selain kesamaannya sebagai gorengan – ialah geprek dilapisi tepung dan ditambahi sambal ataupun mentega, bahkan keju, sementara penyetan umumnya dibaluri bumbu kuning.

Seiring berjalannya waktu, menu ayam geprek ini tersedia juga di tempat-tempat makan lain, terutama warung makan kelas menengah ke bawah.

Rasanya yang gurih dan legit dengan porsi sambal tertentu ditambah harga yang murah, dalam arti bisa dijangkaui semua lapisan sosial, menyebabkan ayam geprek cepat terkenal ke seluruh Indonesia. Bahkan usaha ini berkembang atau dikembangkan pula hingga ke luar negeri.

Tak jarang ayam geprek ini pun disama-samakan dengan ayam KFC.

Di sosial media sebuah akun instagram bernama eatandtreats, misalnya, memberikan reviu sebagai berikut.

Jogja’s must visit: Ayam Grepek Bu Rum! KFC style fried chicken geprek-ed with chosen condiments like fried tofu, mendoan and fried egg along with red hot chilli (the spicier the better for me).

Ataupun, akun twitter @javafoodie yang sempat sampaikan rekomendasi.

“Ayam Geprek wajib dicobain kalau ke Jogja. Pelopornya Bu Rum. Intinya ini ayam goreng tepung ala kfc yg digrepek dengan cabe ruwit.”


Tangkapan layar akun instagram “eatandtreats”

Tangkapan layar akun twitter @javafoodie

Bentuk ayam geprek yang kurang lebih mirip dengan ayam KFC barangkali menjadi salah satu faktor adanya komparasi semacam itu.

Faktor lainnya, ayam geprek memang lebih murah dan bisa “diakses” di mana saja ketimbang KFC yang lebih mahal dan elitis.

Dalam wawancara dengan salah seorang mahasiswa perantauan di Yogyakarta yang pernah menikmati ayam geprek dan KFC, saya juga mendapatkan cerita bahwa cita rasa geprek dan KFC sebetulnya tidak jauh berbeda. Hal yang membuatnya berbeda ialah kemasan pun kandungan bumbu-bumbunya.

“Kalau mahasiswa makan di KFC itu pasti hanya untuk nikmati suasana yang berbeda,” katanya yang juga baru mengonsumsi langsung ayam geprek ketika menetap di Jogja. Sebelumnya dia hanya tahu itu lewat informasi dari sejumlah kanal media.

Di Indonesia sendiri, setidaknya hingga akhir tahun 2019 lalu, KFC membuka 700 cabang.

Sebagai perusahaan waralaba dengan kemampuan memengaruhi pasar lewat media teknologi tentu hal itu bisa dilihat sebagai kewajaran.

Sejarah keberadaannya di Indonesia pun tidak terlepas dari mazhab “Amerikanisasi” seiring dengan liberalisasi ekonomi (pasar bebas). Ini juga tidak lepas dari imperialisme kebudayaan ke Negara-negara belahan dunia ketiga.

Inilah yang menurut Takacs sebagai bentuk globalisasi. Di dalamnya teknologi baru, transportasi dan komunikasi tidak hanya memungkinkan arus lintas batas tentang uang, barang, orang, ide, dan gambar, tetapi juga memungkinkan pertukaran tersebut dengan kecepatan yang jauh lebih pesat dan rutin.

Publik kemudian menjadi teralienasi oleh tawaran-tawaran macam itu; menikmatinya sebagai bagian dari gaya hidup.

Pertanyaan-pertanyaan lanjutan dari gejala ini tampak dalam kasus, misalnya, kenapa orang harus minum kopi di Starbucks walau bisa menikmatinya di kedai atau rumah?

Atau, kenapa orang rela melakukan aksi swafoto ekstrem semacam berpose di jurang atau dengan satwa buas hanya supaya bisa dipamer di akun sosial medianya?


Baca Juga Corona dan Tiga Lagu “Oleh-oleh” dari Maumere


Merujuk pada studi kasus Takacs soal “McDonalnization” di Afrika, di Indonesia sendiri KFC tidak hanya ada dalam wujud makanan saja, tetapi juga pada sponsor-sponsor acara baik yang dipublikasikan media maupun melibatnya banyak orang.

KFC kemudian menjadi populer di mana-mana.

Saya pertama kali mengetahui KFC ini waktu duduk di bangku SMA karena menonton televisi yang baru saja dibeli oleh keluarga.

Apalah daya, di tempat tinggal saya tidak ada KFC (sekarang ini sudah ada 2 di ibukota provinsi, Kupang) sehingga tawaran lewat visualitas yang menggiurkan di televisi waktu itu tidak sempat saya rasakan dan hanya menjadi iming-iming belaka.

Penguasaan pasar yang luas dengan modal besar itu sudah barang tentu menghalangi usaha-usaha makanan kecil dan menengah lainnya untuk bertumbuh kembang.

Usaha-usaha kecil-menengah tersebut tidak punya modal besar untuk menjangkau pasar selain mengharapkan liputan kecil-kecilan dari para jurnalis yang berbaik hati.

Makanya, keberadaan ayam geprek yang kemudian berkembang ke mana-mana menjadi semacam antidot (penawar racun) atas komodifikasi yang telah dilakukan oleh industri makanan besar seperti KFC.

Entah disadari atau tidak oleh orang-orang yang membuatnya, ayam geprek ini merupakan bentuk resistensi ataupun budaya tanding dengan menggamit popularitas yang telah ditimbulkan oleh KFC.

Elvan De Porres

Budaya tanding di sini bukanlah bentuk perlawanan langsung seperti Daud melawan Goliat melainkan semacam popularitas baru yang diakibatkan oleh permintaan konsumen yang memang sukar ditebak.

Ketika KFC, dalam asumsi hanya diakses oleh kalangan kelas menengah ke atas, ayam grepek justru menerabas batasan kelas itu.

Dosen dan mahasiswa makan di ayam geprek, manajer dan karyawan makan di ayam geprek, sepasang kekasih makan di ayam geprek, karena ayam geprek memang kadung ada di mana-mana.

Meskipun begitu, ayam grepek yang bermula dari warung kecil itu rupanya diadopsi pula oleh sebagian selebriti dan beberapa pengusaha untuk membuka warung makan serupa.

Salah satu selebriti yang membuka bisnis ayam geprek ialah Roben Onsu dengan jargon Geprek Bensu.

Ada peralihan dari sesuatu yang sederhana menjadi suatu jejaring bisnis yang lebih luas tentu dengan modal yang lebih besar dan jaringan sosial yang tersebar.

Tentu saja nama besar Roben Onsu sebagai selebriti menjadi panglima dalam bisnis tersebut terlepas dari racikan yang kurang lebih sama dengan ayam geprek di warung kecil ataupun KFC itu sendiri.

Ini menunjukkan bahwa budaya populer -sebagaimana penjelasan Stacy Takacs soal globalisasi – memang tidak mengenal batas ruang dan waktu, termasuk lapisan sosial itu sendiri.

Media, entah media massa ataupun media sosial, memainkan peranan besar dalam hal tersebut.

Sesuatu yang awal mulanya biasa saja dapat menjadi terkenal, tetapi kemudian lenyap karena tak lagi menarik minat penikmat; sesuatu yang besar dengan pengaruh modal yang kuat bisa menjadi semakin bercabang bentuk pengaruh pun komodifikasinya, termasuk dipakai untuk kepentingan sosial dan politik.

Akhirnya, tulisan ini tidak hendak memberikan suatu kesimpulan mutlak tentang perkembangan ayam geprek tersebut.

Tulisan ini hanya coba membuka ruang berpikir tentang bagaimana sengkarut budaya populer bekerja dalam kehidupan manusia dengan berbagai macam aktor yang terlibat di dalamnya.

Ayam geprek hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak produk budaya populer yang dikonsumsi manusia dalam lintasan hegemoni kapital dan framing-framing yang terbentuk oleh media itu sendiri.


“Berapa saya harus membayar, Mbah?” tanya saya kepada Bu Sumi. “Sepuluh ribu, Mas,” jawab dia.


Referensi

Budi, Ragil Setia dan Mahendra Adhi Nugroho. 2016. “Perancangan Sistem Informasi Akuntansi Penjualan Berbasis Web Pada Rumah Makan Ayam Grepek Mantap” dalam Jurnal Kajian Ilmu Akuntansi Vol.4 No. 3.

Hanifudin, Faiz, Tsalis Syaifuddin dan Leonardo Budi Hasiholan. 2017. “Analisis Kualitas Pelayanan, Harga Dan Lokasi Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Rumah Makan Ayam Geprek Djogjakarto” dalam Jurnal Of Management Vol.3, No.3.

Takacs, Stacy. 2015. “Interrogating Popular Culture : Key Questions”. New York: Routledge.

https://travel.kompas.com/read/2018/04/27/070600727/ini-warung-ayam-geprek-yang-diklaim-pertama-di-indonesia?page=all.

https://www.suara.com/lifestyle/2017/11/03/192200/menu-ayam-geprek-yang-melegenda-ternyata-bermula-dari-sini.

https://kaltim.tribunnews.com/2019/04/04/asal-usul-ayam-geprek-ternyata-dari-keisengan-buat-ayam-crispy-plus-sambal.

tabeite.com/di-surabaya-belajar-statistik-di-ruteng-jualan-ayam-geprek-ah-sanly



Baca juga tulisan lain di Rubrik BUDAYA atau tulisan menarik lainnya dari Elvan de Porres.


Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »