Menangkap Gelisah Anak-anak Papua Gody Usna’at. Foto/Gody Usnaat

Menangkap Gelisah Anak-anak Papua Gody Usna’at

Menangkap Gelisah Anak-anak Papua Gody Usna’at. Foto/Gody Usnaat
Menangkap Gelisah Anak-anak Papua Gody Usna’at. Foto/Gody Usnaat

Menangkap gelisah anak-anak Papua Gody Usna’at adalah upaya melihat dan merasakan hati anak-anak Papua yang selama ini luput dari pandangan banyak orang.


Oleh Ancis Mura


Mungkin belum banyak orang mengenal Gody Usnaat. Dia adalah guru, katekis, dan penyair asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat ini mengabdi di Ubrub. Ubrub itu sendiri adalah sebuah wilayah di pedalaman Papua.

Sosok Gody sesungguhnya tidak asing lagi dalam khazanah sastra nasional, bahkan internasional. Hal ini dibuktikan dengan puisi-puisinya yang beberapa kali masuk nominasi dalam ajang bergengsi seperti Borobudur Writers & Cultural pada 2019 lalu. Pada tahun 2017, bersama Dimas Radja Lewa, ia juga terpilih sebagai finalis Bengkel Sastra Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara).

Tidak hanya berhenti di situ, baru-baru ini, buku kumpulan puisi perdananya “Mama Menganyam Noken” masuk  lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa bersama Felix K. Nesi yang juga masuk lima besar untuk kategori prosa (Periode penjurian Juni 2019 – Juli 2020).

Prestasi ini merupakan salah satu capaian sangat bergengsi dalam bidang sastra di negeri ini. Hingga kini, buku tersebut masih dalam proses seleksi yang ketat untuk menjadi juara. Buku “Mama Menganyam Noken” kemudian diterbitkan kembali oleh Penerbit Buku Kompas, karena sebelumnya diterbitkan oleh Papua Cendikia.

Saya mengenal Gody Usna’at melalui sebuah tautan media voxntt.com pada tahun 2017. Kalau saya tidak keliru, judul beritanya demikian “Dua Penulis asal NTT Lolos dalam Bengkel Penulisan Puisi Tingkat Asia Tenggara”. Sejak saat itu, saya kerap membaca puisi-puisi Gody Usna’at yang terbit di media online seperti basa basi, literasi nusantara, timor daily, baca petra, voxntt, dan lain-lain.

Prestasi Gody menambah deretan prestasi penyair dan sastrawan senior asal NTT yang sudah familiar seperti Gerson Poyk, Virgo Belan, Umbu Landu Paranggi, Dami N. Toda, John Dami Mukese, Leo Kleden, Maria Matildis Banda, Mezra E. Pellondou, dan lain-lain. Juga penyair dan sastrawan muda asal NTT seperti Mario F. Lawi, Erich Langobelen, Felix K. Nesi, dan lain-lain yang tidak sempat saya sebutkan di sini.

Gody Usna’at merupakan alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero. Sebuah lembaga Perguruan Tinggi yang sudah banyak menelurkan sastrawan ternama di tanah air seperti John Dami Mukese, Dami N. Toda, Ignas Kleden, dan lain-lain.


Baca Juga Sastrawan dalam Dunia yang Tidak Hitam Putih


Puisi: Jalan Menuntaskan Kegelisahan Eksistensial

Pada tahun 2014, Gody hijrah ke Papua. Ia bekerja sebagai katekis yang membantu pelayanan di Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Akarinda Semograf, Kabupaten Keerom. Sebagaimana filosof eksistensialis, Soren Kierkegaard yang mengatakan, yang ia butuhkan bukanlah pengetahuan sistemik mengenai kebenaran objektif, melainkan bagaimana hidup, membuat pilihan, dan mengambil keputusan yang benar, Gody pun demikian.

Ia adalah sosok yang peka terhadap eksistensi dan kegelisahan orang lain. Kegelisahan ini kemudian membawa dia kepada jalan sunyi, yakni puisi. Sebuah upaya kontemplasi untuk menerjemahkan segala realitas pendidikan di tanah Papua.

Hal ini tertuang dalam dua puisinya yang berjudul “Hari ini Trada Guru” dan “Pohon Matoa di Ujung Timur Sekolah”. Baiklah saya tampilkan penggalan puisnya berikut:


Hari ini trada guru//mencari jalan turun ia ke kota//obati kaki gajinya yang sakit macam kaki gajah//di dusun sa tunggu//ditemani daun-daun hutan yang berserai kabut//pagi ini//langkahku masih pasti//menuju kelas beratap bolong//kuajak teman-teman bernyanyi://terpujilah wahai engkau ibu bapak guru namamu akan selalu hidup dalam sanubariku//di luar jendela kulihat seekor katak melompat segar//pada reruntuhan pundak pohon tua//hari ini trada guru lagi…//di hati papan hitam//kugambar kicauan cendrawasih yang masih//terjebak dinding

Ubrub, 2018


Dari sekian banyak masalah sosial-politik dan ekonomi di tanah Papua, pendidikan adalah salah satu yang cukup memprihatinkan. Data terbaru dari Kemendikbud menyebutkan, terdapat 21,9 persen penduduk Papua masih buta aksara (CNN Indonesia, Sabtu, 9 September 2020).

Realitas pendidikan yang demikian tidak luput dari pergumulan Gody. Ia lalu menuliskan lagi tentang kondisi pendikan di Papua dalam puisinya yang berjudul “Pohon Matoa di Ujung Timur Sekolah”. Berikut saya tampilkan lagi puisinya berikut ini:


pada ujung timur sekolah tumbuh subur pohon
matoa//dedaunannya rindang macam atap rumah//di bawahkakinya anak-anak riang duduk bercerita//tentang guru yang macam serangga terbang//pengisap darah//

bila cuaca panas dan penantian bikin gerah//aku duduk sendiri di bawah kaki pohon matoa//sambil membaca puisi: belajar percaya pada musim dan cuaca*//pada guru dan kurikulum, masih perlukah saya menaruh percaya?//

ke hutan, dua temanku berlarian meninggalkan sekolah//berjatuhan jejak di jalan tanah

Ubrub, 2020


Gody dalam kedua puisi di atas ingin menyentil realitas absennya guru dan kegelisahan anak-anak sekolah di Papua yang merindukan gurunya. Absennya guru dalam puisi Gody bukanlah hal yang baru.

Sebab, ada begitu banyak masalah yang kita dengar tentang ketiadan guru sekolah di tanah Papua. Hal ini mungkin dikarenakan kondisi geografis yang sulit dijangkau atau mungkin gaji guru yang terlalu kecil untuk wilayah seperti Papua atau motivasi guru yang hanya ingin mengumpulkan kekayaan. Hal ini bisa kita tafsir dari larik puisinya:

di bawah kakinya anak-anak riang duduk bercerita//tentang guru yang macam serangga terbang//pengisap darah//.

Selain itu, puisi-puisi Gody pun juga mengisahkan nilai-nilai lokalitas yang begitu erat dengan Papua sambil menyentil masalah-masalah sosial-politik, ekonomi, dan pendidikan.


Menangkap Gelisah Anak-anak Papua Gody Usna’at. Ilustrasi/NTT PROGRESIF

Sejak dulu, saya begitu menyukai puisi yang bersinggungan langsung dengan fenomena-fenomena sosial macam ini. Entah itu masalah dalam bidang ekonomi, pendidikan, maupun ketimpangan-ketimpangan sosial politik lainnya.

Hemat saya, kemiskinan dan kebodohan tidak hanya dikarenakan oleh sebuah sistem yang tidak adil, tetapi juga dikarenakan oleh ketidakpekaan orang-orang pintar dalam membaca realitas yang terjadi di sekitarnya.

Hal ini tentu berbeda dengan Gody. Ia tidak hanya menulis puisi yang merepresentasikan kegelisahan dirinya dan anak-anak Papua, tetapi juga membuat anak-anak Papua cerdas dengan sebuah rumah baca yang bernama “Jendela Semografi” yang ia dirikan pada tahun 2015. Rumah baca ini kemdian mendapat dukungan dari Komunitas Buku untuk Papua dan Tim Nusantara Sehat Keerom.


Gody Usna’at dan anak-anak Papua.

Dari sini, beberapa kali Gody bersama anak Papua tampil membacakan puisi-puisinya di Gramedia Reading Cimmunity Competition Award pada tahun 2018 dan menjadi pembicara di Festival Sastra Yogyakarta pada tahun 2019.

Dapat dikatakan, kehidupan orang-orang Papua telah menubuh dalam dirinya. Inilah yang membuat Gody mampu melihat dan merasakan sesuatu yang selama ini luput dari pandangan banyak orang. Barangkali tentang kegelisahan anak-anak Papua yang tidak sempat diungkapkan.



Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »