Museum Bikon Blewut Ledalero. Foto/kataomed.com

Pelita Jendela Museum Bikon Blewut Ledalero: Mengenal Jejak Sejarah dan Kebudayaan Flores [2/Habis]

Museum Bikon Blewut Ledalero merekam jejak sejarah dan kebudayaan Flores. Dua tokoh pentingnya adalah Pater Dr. Verhoeven SVD dan Pater Drs. Piet Petu SVD.


Kategori Hasil Penemuan/Penggalian Fosil dan Artefak Budaya Purba Flores oleh Para Misionaris [1]

Artefak Kebudayaan Neolithicum (Zaman Batu Muda) Flores

Sejak tahun 1950, Dr. Verhoeven berhasil mengumpulkan 150 buah kapak dan beberapa alat neolithis yang lain. Alat-alat kebudayaan neolithis ini diperoleh dari tangan penduduk lokal di Flores dan juga ditemukan pada bekas-bekas kampung lama.

Kapak-kapak tersebut dapat digolongkan ke dalam beberapa tipe: 

(a) Kapak persegi-panjang (tipe Jawa)

(b) Kapak lonjong (tipe Papua)

(c) Kapak berpunggung atas atau dakvorming (tipe Seram)

(d) Kapak berbentuk campuran

Tipe kapak yang paling banyak ditemukan adalah kapak persegi-panjang (tipe Jawa), walaupun ada juga sejumlah kecil kapak lonjong (tipe Papua). Kapak-kapak tipe Jawa dan Papua ini ditemukan di wilayah Timur  Pulau Flores. Hal ini menunjukkan bahwa “Pulau Flores berada di daerah pertemuan unsur-unsur Barat dan Timur dari era Neolithicum Indonesia.

Berhubung hingga saat ini belum ditemukan tempat pembuatan dan pengasahan alat-alat ini di Flores sebagaimana di Jawa dan Sulawesi Selatan, maka diperkirakan kapak-kapak ini datang dari luar Flores. Itu berarti bahwa kebudayaan neolithicum Flores belum lama lampau.

Tambahan lagi, kehadiran tipe-tipe kapak ini pada zaman Neolithicum (4.500-2.500 tahun yang lampau), [2] hanya bisa membuktikan bahwa penduduk Pulau Flores pada waktu itu sudah bercocok-tanam (ada jenis kapak untuk upacara menanam padi) dan memelihara ternak serta bermukim di kampung-kampung. Mereka juga sudah mengenal kesenian berupa ukiran-ukiran pada tanah bakar dan pada dinding rumah serta pada perabot-perabot lainnya (ada jenis kapak untuk memahat).

Baca Juga Pelita Jendela Museum Bikon Blewut Ledalero: Mengenal Jejak Sejarah dan Kebudayaan Flores Purbakala [1/2]

Fosil dan Artefak Budaya “Flake” dan “Blade” (Mesolithicum = Zaman Batu Tengah) Flores

Tim Ekspedisi I Verhoeven mulai melakukan penjelajahan ilmiah ke gua-gua alam di seluruh wilayah Pulau Flores dari bulan Agustus 1950 hingga tahun 1960. Mereka melakukan penggalian-penggalian (ekskavasi) secara sistematis sehingga menemukan alat-alat batu zama Mesolithicum serta fosil-fosil tengkorak dan tulang-belulang manusia purba Flores.

Bersama tuan H.R. van Heekeren, Kepala Dinas Purbakala di Jakarta, pada tahun 1951, Verhoeven menetapkan kerangka manusia purba ini sebagai manusia Proto–Negrito dari species Homo Erectus. Sedangkan alat-alat kebudayaan “Flake” dan “Blade” (zaman Mesolithicum: 6.500 – 4.500 tahun yang lampau) [3] yang ditemukan adalah mata panah, mata tombak, ketam, serut, alat tusuk, dan mata pisau yang semuanya terbuat dari bahan batu–batu keras dan tulang serta tanduk kewan dan kulit kerang.

Penemuan artefak-artefak zaman Batu Tengah (mesolithicum) ini menunjukkan bahwa di Flores juga terdapat bukti-bukti peninggalan budaya Megalith. Yang mengejutkan adalah bahwa Tim Ekspedisi ini juga menemukan barang-barang peninggalan kebudayaan Tiongkok seperti porcelin dan mata–uang.

Di kemudian hari, setelah dianalisis oleh Guus Cremmers SVD dan Piet Petu SVD, ternyata bahwa benda-benda porcelin (piring, poci, dandang, guci, mangkuk, dan lain-lain) ini berasal dari periode dinasti Ming dan dinasti Han. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh perdagangan orang Tionghoa  dari  kedua dinasti ini sudah sampai di  Flores. Hal itu diperkirakan terjadi pada zaman Kerajaan Majapahit yang menjalin hubungan perdagangan dengan orang Tionghoa dari dua dinasti tersebut dan yang juga memperluas pengaruhnya sampai ke Pulau Flores.

Baca Juga “Pata Déla” Orang Bajawa, Situasi Batas, dan Pesan Sosial di Baliknya

Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 1 Piring Porcelin Cina dari Dinasti Ming dan Dinasti Han
Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 1 Piring Porcelin Cina dari Dinasti Ming dan Dinasti Han

Demikian juga halnya dengan mata-uang, baik mata uang RI dari semua periode maupun pelbagai mata-uang asing dalam bentuk kertas dan koin yang dikoleksi secara sistematis oleh P. Piet Petu SVD. Di antara semua mata uang itu terdapat mata uang koin tertua, yang pada satu sisinya tertera gambar “wajah Iskandar Zulkarnain” atau Raja Alexander Agung. 

Seorang ahli numismatic, F. A. Loefken, mengatakan bahwa mata uang tersebut pernah digunakan sebagai alat-pembayaran baik di Persia (336-323 SM) maupun di Hindia Timur (327-325 SM). Peredaran mata uang ini menunjukkan bahwa Alexander Agung pernah menaklukkan dan menguasai wilayah jajahannya sampai ke Hindia Timur pada abad IV.

Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 2 Mata – Uang Koin Tertua Berwajah Alexander Agung
Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 2 Mata – Uang Koin Tertua Berwajah Alexander Agung

Artefak–Artefak Budaya Dongson

Dalam penelitian Tim Ekspedisi I Verhoeven di wilayah-wilayah Flores Tengah (Ngada, Ende-Lio, Sikka) ditemukan  jejak-jejak kebudayaan Dongson [4] dari zaman Perunggu (2.500-2000 tahun yang lampau). Mereka menemukan keris dan golok yang terbuat dari perunggu di Kampung Menge (Ngada). Prof. R. Heine Geldern menjelaskan bahwa penemuan ini adalah suatu kejadian yang istimewa. Sebab, keris Dongson di Flores ini merupakan satu-satunya yang ditemukan di seluruh Indonesia. [5]

Baca Juga Kedudukan Perempuan Manggarai dalam Budaya “Lonto Leok”: Satu Kritik dan Tiga Rekomendasi

Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 3 Keris Dongson di Flores
Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 3 Keris Dongson di Flores

Walaupun asal-usul keris tidak diketahui dengan pasti, tetapi keris ini memiliki kesamaan dengan dua keris yang terdapat di Annam Utara. Minimal penemuan ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa ada lukisan-lukisan keris yang terpahat pada arca-arca megalith di Pasemah, Sumatera Selatan.

Di samping keris Dongson, pada tahun 1952, Tim Ekspedisi I Verhoeven juga menemukan tiga (3) kapak perunggu di Kampung Guru (Sikka). Orang tua penduduk lokal hanya mengatakan bahwa kapak-kapak ini datang dari seberang lautan serta berdaya-magis untuk menangkal setan (du’a  helang), mengusir perampok, dan meminta hujan turun.

Pater Piet Petu SVD menamakan jenis kapak ini sebagai Taka-Plager. Karena dikatakan “datang dari seberang lautan”, maka diperkirakan bahwa kapak-kapak ini termasuk tipe kapak-tuangan Jawa karena dibuat pada waktu yang sama dengan kapak Jawa. Ia memiliki ciri-ciri “berlobang di bagian hulu” untuk dimasukkan ke dalam tungkai kayu.

Kapak tipe ini merupakan salah satu unsur kebudayaan Dongson. Ia diduga masuk ke Flores pada masa akhir kebudayaan Dongson ketika didesak oleh masa pemakaian besi. Pada zaman besi itu, kapak-kapak ini tidak dipakai lagi sebagai perkakas. Ia hanya digunakan sebagai ajimat yang berkekuatan mitis-magis.

Sementara itu, ada satu penemuan penting lainnya di Nua Mbiko (Ende-Lio), yakni  “Watu Weti” atau “picture rock”. Watu Weti adalah sebuah batu besar rata yang di atasnya tergores lukisan-lukisan tentang beberapa jenis benda terkenal dari zaman Perunggu. Benda-benda itu misalnya kapak-kapak corong, keris, mata tombak, teristimewa perahu-perahu arwah yang biasanya menjadi hiasan pada nekara-nekara perunggu di Indonesia dan Asia Tenggara. Salah satu “nekara perunggu” yang ditemukan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah Mokko yang banyak terdapat di pulau Alor. Jadi, penemuan keris perunggu dan kapak perunggu serta nekara perunggu Mokko ini membuktikan bahwa kebudayaan Dongson juga pernah menyebar sampai ke Pulau Flores.

Baca Juga Makna Semiotik “Ike-suti” dan “Suni-auni” dalam Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan

Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 4 Nekara perunggu (Mokko) di Flores
Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 4 Nekara perunggu (Mokko) di Flores

Temuan di Bidang Paleoantropologis

Penggalian (ekskavasi) secara sistematis oleh Tim Ekspedisi I dan II Verhoeven pada  rentang  waktu  tahun 1951-965 di hampir semua gua-alam di Flores (Liang Bua, Liang Momer, Liang Toge, Mata Menge) telah berhasil menemukan tengkorak dan rahang serta tulang-belulang manusia purba. Hasil-hasil penemuan ini dikirim ke Universitas Utrecht,  Nederland untuk diuji dan dianalisis oleh Prof. Dr. Huizinga dan Prof. Dr. von Koeningswald.

Mereka kemudian menetapkan bahwa kerangka manusia yang berbentuk pipih dan pendek itu tergolong dalam ras Negrito. Sementara itu, kerangka manusia yang kepalanya berbentuk “dolichocephal” dan yang memiliki bentuk geraham yang amat  besar itu tergolong dalam ras Proto-Negrito. Hasil penemuan ini ternyata dapat memberikan jawaban atas persoalan  penyebaran ras-ras di Kepulauan Indonesia.

Untuk pertama-kalinya, penemuan ini membuktikan bahwa ras Negrito adalah juga pendukung kebudayaan gua di Indonesia atau kebudayaan  bertingkat epi-paleolithis”, selain ras Austro-Melanesoid  di Jawa dan Sumatera serta ras Wedoid di Sulawesi Selatan. Oleh sebab itu, antropolog, Paul  Schebesta SVD  menegaskan bahwa ras Negrito ini benar-benar terbukti pernah hidup di Pulau Flores. Tentunya telah pula tersebar lebih jauh lagi ke Asia Selatan dan Tenggara, walaupun kehadiran ras ini di Jawa dan Sumatera serta Kalimantan belum pernah bisa dibuktikan.

Baca Juga Relevansi Semiotika Barthesian terhadap Kajian Kebudayaan di NTT

Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 5 Tengkorak manusia Proto – Negrito di Flores
Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 5 Tengkorak manusia Proto – Negrito di Flores

Temuan di Bidang Paleontologis

Fauna Gua Bertingkat Sub-Fosil

Tim Ekspedisi II Verhoeven menemukan bahwa dalam lapisan-lapisan gua-gua alam  di Flores terdapat banyak sekali rahang dan gigi serta tulang belulang dari berjenis-jenis binatang sebagai remah-remah makanan dari manusia purba penghuni gua-alam. Sub-fosil fauna gua ini dikirim kepada Dr. P. A. Hooyer dan Dr. L. D. Brongersma di Universitas Leyden-Nederland untuk dipelajari dan dianalisis.

Hasil studi dan kajian para sarjana ini ditetapkan sebagai berikut:

  1. Jenis Tikus Raksasa. Penemuan ini membuktikan bahwa pada masa pleistosen-awal (600.000-100.000 tahun yang lampau) [6] telah hidup di daratan Asia Tenggara banyak jenis tikus besar.
  2. Sub-fosil Landak, Babi Rusa, Kijang, Anjing, Kera, Kalong, pelbagai jenis Kerang dan Siput. Penemuan ini membuktikan bahwa jenis-jenis binatang tersebut di atas ini merupakan makanan dari manusia purba Flores penghuni gua-gua alam, yang hidupnya berburu binatang-binatang kecil baik di daratan maupun di dalam air. Itu berarti bahwa  binatang-binatang tersebut telah hidup di Flores pada zaman pleistosen-awal.
  3. Fauna Daratan Pre-historis Bertingkat Fosil. Lewat bantuan penduduk lokal dan para ahli arkeologi dari Bogor, pada bulan Desember 1956, Tim Ekspedisi II Verhoeven berhasil menemukan fosil sejenis Stegodon pada lapisan pleistosen di daratan Ola Bula dan Mengeruda (Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada, Flores Tengah) sebagai “subspecies baru” dari golongan gajah. Penemuan terpenting di bidang paleontologis ini dibenarkan oleh Dr. Dirk von Hooijer. Dia memberi nama bagi sub-species baru ini sebagai Stegodon Trigonocephalus Florensis.

Fosil-fosil dari Stegodon ini ditemukan di  tepi sebuah sungai besar sepanjang 10 Km pada lapisan-tanah sedalam 1-3 meter. Bentuk Stegodon Florensis ini lebih kecil dibandingkan dengan yang hidup di Pulau Jawa, tetapi memiliki puncak geraham yang lebih tinggi. Species ini diperkirakan hidup di Flores pada zaman pleistosen tengah dan  akhir (400.000-8.000 tahun yang lampau). [7]

Diduga bahwa Stegodon Florensis ini berpindah dari Pulau Jawa melalui rangkaian Pulau Bali dan Lombok serta Sumbawa pada zaman Quartair atau “the ice ages” ketika permukaan air laut menurun, sehingga pulau-pulau di Nusa  Tenggara dapat saling dihubungkan oleh  jembatan-jembatan tanah (land bridges) yang dapat dilalui oleh binatang-binatang itu.

Baca Juga Sistem Pertanian Lahan Kering Masyarakat Naekake Ditinjau dalam Terang Ensiklik “Laudato Si” dan Implikasinya bagi Karya Pastoral

Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 6 Fosil Gading dan Tulang – Belulang Gajah Stegodon Florensis
Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 6 Fosil Gading dan Tulang – Belulang Gajah Stegodon Florensis

Penemuan fosil Stegodon Florensis ini telah turut menggoncangkan “teori Wallace-line” untuk segera direvisi dan dikaji-ulang. Menurut Alfred R. Wallace, garis batas antara fauna Asia dan fauna Australia itu  berjajar antara Kalimantan Timur dan Sulawesi, lalu diteruskan ke selatan antara Bali dan Lombok.

Namun, dengan penemuan fosil Stegodon Florensis ini, tampak dengan jelas bahwa Pulau Flores pun termasuk daerah fauna Asia. Jadi, besar kemungkinan bahwa  garis batas fauna Asia semestinya masih lebih ke Timur lagi.

Hasil penemuan fosil gading gajah purba Stegodon dan fosil kerangka tulang belulang manusia purba Flores ini dipublikasikan di majalah ilmiah ANTHROPOS Volume 53 Tahun 1958 di Modling-Austria. Publikasi ini dalam waktu singkat menarik perhatian dan mendapat tanggapan para ilmuwan dan arkeolog dari seluruh pelosok dunia. Sebab, ada yang menyangsikan hasil-hasil temuan Verhoeven.

Kendati demikian, Verhoeven tetap berusaha mencari hubungan antara hewan purba dan manusia purba di Flores. Pada tahun 1963, dengan bantuan masyarakat local, Verhoeven SVD, Mommersteeg SVD, dan J. Maringer SVD melakukan ekskavasi  lagi di Mata Menge dan Boa Leza, wilayah cekungan Soa-Kabupaten Ngada. Mereka pun menemukan lagi fosil kerangka gajah purba jenis Stegodon dan pelbagai artefak  batu yang telah berusia 750.000 tahun. Temuan artefak batu ini mengindikasikan bahwa di wilayah ini pernah hidup sekelompok manusia  purba, karena ada semacam simbiosis mutualisme antara hewan purba dan manusia purba.

Menjawabi tanggapan negatif dari beberapa arkeolog mapan dan ilmuwan yang menyangsikan hasil-hasil temuannya, pada tahun 1965, Verhoeven  SVD dibantu oleh Rokus Due Awe (anak angkatnya) bersama masyarakat lokal melakukan ekskavasi besar-besaran di Liang Bua, kini bagian dari wilayah Kabupaten Manggarai. Di kedalaman 4 meter, mereka berhasil menemukan fosil pigmi gajah Stegodon, artefak batu, dan tulang-belulang manusia purba yang diduga dari species Homo Erectus dengan tinggi badan 103 centimeter.

Berdasarkan seluruh hasil ekskavasi dan temuan ini, Verhoeven SVD merumuskan satu kesimpulan teoretis bahwa species Homo Erectus telah menghuni Pulau Flores pada 750.000 tahun yang lampau. Species ini adalah penghuni gua-gua alam. Makanan utamanya adalah beberapa jenis hewan purba.

Satu kejutan baru terjadi lagi pada tanggal 11 Juli 1998. Saat itu, Tim Ekspedisi Museum Bikon-Blewut (P. Piet Petu SVD dan P. Ansel Doredae SVD) menemukan satu fosil tengkorak manusia raksasa (a mythical gigantic skeleton) di Lia Natanio, Kabupaten Ngada, Flores Tengah. Wilayah temuan itu terletak hanya 12 Km dari lokasi penemuan fosil-fosil gajah Stegodon Florensis. Fosil ini sedang dipelajari atas dasar hipotesis bahwa besar kemungkinan fosil tengkorak manusia raksasa ini  mempunyai kaitan historis dengan fosil gajah Stegodon Florensis.

 Temuan Artefak “Lower–Paleolithic

Dengan bantuan para arkeolog dan geolog dari Bandung, pada  tahun 1959-1960, Verhoeven juga menemukan fosil-fosil vertebrata lainnya, fosil tumbuh-tumbuhan serta beberapa jenis siput. Di antara fosil–fosil ini terdapat juga tektit-tektit yang menurut Prof. von Koeningswald sudah ada di Pulau Flores pada masa akhir Pleistosen Tengah (400.000 -18.000 tahun yang lampau). Juga ada artefak–artefak paleolithicum bawah (Lower – Paleolithic) seperti misalnya “chooper” dan “chooping tools” atau alat-alat batu tua. Artefak-artefak zaman lower- paleolithic ini menunjukkan “kesamaan periode waktu” dengan artefak-artefak Budaya Sangiran dan Pacitan di Jawa Timur. Hal ini membuktikan bahwa sejarah zaman batu tua (paleolithicum) di Flores ternyata lebih tua dari pada yang diperkirakan.

Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 7 Batu – Batu Zaman Batu Tua Flores
Museum Bikon Blewut Ledalero. Gambar 7 Batu – Batu Zaman Batu Tua Flores

Catatan Kaki

[1] Arsip Museum Bikon Blewut Tahun 1985. Bdk. Redaktur VOX, “Sejarah Penelitian Dr. Th. Verhoeven” dalam DIAN, No. 2, Th. III, 10 November 1985, hlm. 6-7.

[2] H.R. van Heekeren, Penghidupan dalam Zaman Prasejarah di Indonesia (Jakarta: Lembaga Kebudayaan Indonesia, 1955), hlm. 79.

[3] Ibid.

[4] Nama Dongson diambil dari nama seorang penemu kebudayaan ini yaitu Dong So’o yang bermukim di Annam Utara. Konon menurut berita – berita Tionghoa (300 SM), di Indo – China hidup sekelompok penduduk melayu – purba yang berkebudayaan  Neolithicum tetapi telah dipengaruhi oleh kebudayaan Tionghoa. Penduduk ini sangat mahir menuangkan perunggu untuk dijadikan alat – alat senjata dan perkakas – perkakas serta barang – barang perhiasan. Walaupun mereka menghidupi beberapa unsur kebudayaan Tionghoa, namun mereka berkembang dalam satu corak kebudayaan tersendiri, sehingga para Sarjana Prasejarah menyebut budaya ini sebagai kebudayaan Dongson.  Bdk. H.R. van Heekeren, Ibid., p. 64.

[5] Ibid., 65.

[6] Ibid., hlm. 25-29.

[7] Ibid., hlm. 30-39.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa