Antara Jalan Turun dan Spiritualitas

Spiritualitas Jalan Turun dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Toleransi dan Kualitas Iman Umat Katolik: Studi Kasus pada Gereja Paroki Santo Paulus Jerebu’u

Spiritualitas jalan turun sangat penting untuk meningkatkan kualitas iman dan semangat toleransi umat Katolik dan para pemimpin gereja atau Hierarki.

Abstraksi. Artikel ini menjelaskan pentingnya spiritualitas jalan turun terhadap peningkatan kualitas iman dan semangat toleransi umat Katolik dan para pemimpin gereja atau Hierarki dengan contoh studi kasus di Paroki St. Paulus Jerebu’u, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT. Asumsi Penulis adalah spritualitas pelayanan jalan turun sebagaimana telah ditanamkan oleh para misionaris dan awam Katolik terdahulu tidak lagi menjadi dasar dan spirit kehidupan sebagian imam dan awam masa kini. Oleh karena itu, Penulis memproposalkan dialog yang partisipatif dan transparan berlandaskan spritualitas jalan turun sebagai dasar penghayatan cara beragama umat Katolik dewasa ini.

Pendahuluan

Tulisan ini berpijak pada empat (4) variabel yang saling berkaitan satu sama lain. Pertama, proses pendidikan iman umat Paroki St. Paulus Jerebu’u. Kedua, spritualitas pelayanan jalan turun. Ketiga, toleransi sebagai realitas yang menggugat. Keempat, meluruskan kembali konsep semangat toleransi yang keliru.

Untuk mengetahui dan memahami secara mendalam sejarah pendidikan iman umat Paroki St. Paulus Jerebu’u, maka pada 17-18 Januari 2020, Penulis melakukan diskusi bersama lima orang narasumber. Mereka adalah Petrus Woga dan Hironimus Ede (narasumber kunci), Hendrikus Bea, Yakobus Mame Lagho, dan Eulogius Ngetu Woga (narasumber pelengkap).

Petrus dipilih sebagai narasumber kunci karena Beliau adalah salah satu tokoh yang mengalami langsung suka-duka perjalanan panjang pendidikan iman umat sejak awal hingga kini. Ia juga menjadi salah satu tokoh penting di balik keberadaan Paroki St. Paulus Jerebu’u saat ini.

Perjalanan Pendidikan Iman Umat Katolik Jerebu’u

Berikut ini adalah hasil wawancara langsung bersama narasumber kunci dan pelengkap tentang sejarah perjalanan pendidikan iman umat Katolik Jerebu’u. Penulis hanya memformulasikan kalimatnya saja.

Pada tahun 1953, Jerebu’u berpisah dari Maghilewa. Waktu itu, Maghilewa masih merupakan sebuah stasi yang bernama Santa Familia. Ia juga masih menjadi bagian dari Paroki Bajawa yang saat ini disebut Mater Boni Consilii (MBC). Tujuan pemekaran itu sendiri adalah mempersiapkan Jerebu’u menjadi sebuah paroki yang mandiri, sosialis, dan kuat dalam iman.

Saat itu, belum ada pastor paroki. Umat masih menggunakan istilah “pastor desa”. Si pastor desa ini selalu berpatroli dari suatu tempat ke tempat yang lain. Tugas utamanya adalah mempersiapkan pelayanan sakramen. Di antaranya sakramen permandian, pengakuan, pernikahan, dan ekaristi kudus. Semua pelayanan sakramen itu berpusat di Paroki MBC Bajawa.

Tahun 1920 dinobatkan menjadi tahun iman Katolik masuk kawasan Jerebu’u. Penyebaran iman Katolik itu dipelopori oleh seorang awam asal Maghilewa. Namanya Bernardus Wea. Selama empat tahun, Bapak Bernardus mengajar Pendidikan Agama Katolik. Metode pengajaran yang digunakan adalah dengan berpatroli keliling menyusuri setiap kampung. Pada malam hari, Beliau akan menggunakan lentera. Keuletan Bernardus dalam mewartakan Injil semakin kuat ketika pada tahun 1924, ia mengundang Pater Schorlemens, SVD untuk mempermandikan 209 orang umat menjadi anggota Gereja Katolik.

Baca Juga Teater “Peti Mati”, Teologi Terlibat, dan Kaum Penjilat: Belajar dari Pastor Frans Amanue tentang Keterlibatan Pastor dalam Politik

Untuk semakin memperkuat karya pelayanan dan pendidikan iman Katolik di Jerebu’u, maka pada tahun 1925 ditambah lagi satu guru agama. Nama guru agama itu Bapak Martinus Bhoki. Bapak Martinus berasal dari kampung Bela, yang merupakan bagian dari Paroki Langa. Hasilnya, pada tahun 1926, dipermandikan lagi 217 orang.

Pada tahun yang sama, para Pastor dari Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD) mulai berdatangan untuk membantu karya pelayanan sakramen. Mereka adalah Pater Yakob Kobler SVD, Pater Kurt Bart SVD, Pater Hermens SVD, Pater Shorlemen SVD, Pater Van Well SVD, Pater Wirs SVD, Pater Aloysius George SVD, Pater Martinus Bots SVD, Pater Paul Arndt SVD, Pater Pius Kibo SVD, Romo Lukas Lusi, Pater Yan Bala SVD, dan Pater Iwa Naga SVD.

Atas semangat dan dorongan dari para Imam Misionaris SVD itulah, maka pada tahun 1939, atas inisiasi Pater Hermens SVD bersama umat dan Kepala Hamente (Kecamatan) Inerie I Bapak Yosep Sebo Madja, didirikanlah gereja darurat pertama. Gereja darurat itu masih beratapkan alang-alang. Tujuan pembangunan gereja adalah menanamkan nilai keseimbangan hidup rohani dan jasmani semua umat yang sudah dibaptis. Kala itu, semangat umat menyatu dalam satu semboyan: “urusan sakramen bersama sak semen”.

Akhirnya, menjelang tahun 1953, hampir semua orang Jerebu’u sudah menerima sakramen pembaptisan. Mgr. Antonius Taysen pun meresmikan kawasan Jerebu’u menjadi sebuah paroki. Nama pelindungnya St. Paulus Jerebu’u. Pater Aloysius George SVD dipercayakan sebagai pastor paroki yang pertama.

Spritualitas Pelayanan Jalan Turun

Pada bagian ini, Penulis mencoba mengaitkan sejarah perjalanan iman umat Jerebu’u dan pelayanan para imam dahulu. Penulis menyebutnya spiritualitas pelayanan jalan turun.

Romo Daniel Aka dalam kotbah perayaan ekaristi perpisahan bersama siswa Kelas XII SMAK Regina Pacis Bajawa, Flores, NTT pada 2018 silam menegaskan, spiritualitas pelayanan jalan turun adalah suatu semangat pelayanan seorang imam sebagai gembala umat. Ungkapan spiritualitas jalan turun dikutip dari kotbah Paus Benediktus XVI pada upacara pentahbisan imam baru di Roma, 7 Mei 2006.

Saat itu, Paus mengatakan, imam baru harus sungguh menjadi seorang gembala, bukan pengejar karier. Beliau mengingatkan, imamat bukanlah karier, posisi, atau jabatan. Pengejar karier selalu berusaha untuk menjadi yang terdepan dalam mendapatkan posisi dalam gereja. Dengan begitu, seorang imam akan selalu membuat dirinya penting dan hebat. Lambat laun, bahaya kesombongan dan mencari popularitas diri pun akan menguasai hidup dan kehidupan imam itu sendiri.

Spiritualitas jalan turun menjadi kekuatan untuk bisa menerima penghinaan. Bahkan, mesti siap mengalami berbagai kesulitan, tantangan, penjara, dan kematian seperti yang sudah dialami Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus sendiri.

Sementara itu, Romo Sil Betu dalam kotbah ekaristi syukur bersama siswa Kelas XII SMAS Katolik Regina Pacis pada 2019 lalu kembali menegaskan pentingnya spiritualitas pelayanan jalan turun. Menurutnya, dalam peristiwa inkarnasi, Allah turun menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah manusia. Allah yang maha agung, mulia, dan kuasa mau turun menjadi sederhana seperti kita manusia.

Di sini, kita belajar tentang jalan kerendahan hati. Allah tidak hanya menjadi manusia, tetapi turun lagi menjadi hamba/pelayan: “Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.” “Barang siapa ingin menjadi yang terbesar, hendaklah ia menjadi pelayan bagi semua orang”. Sebab, “tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya”.

Baca Juga Kosuke Koyama, Teologi Petani, dan Kontekstualisasinya

Firman ini pun dijalankan oleh Tuhan Yesus sendiri yang mengorbankan dirinya dengan menderita, disalibkan, wafat, dan dimakamkan demi keselamatan manusia. Realitas ini jelas merupakan sebuah keteladanan yang teguh tentang kekuatan dan kekudusan spiritualitas pelayanan jalan turun itu sendiri.

Dua pendapat di atas, jika ditautkan dengan semangat yang telah diteladani oleh para misionaris dan awam dalam mewartakan kabar gembira dan juga pendidikan iman umat Jerebu’u dahulu, sebenarnya sedang dan telah melegitimasi pentingnya penghayatan spritualitas jalan turun itu sendiri. Mereka menunjukkan sebuah semangat keterlibatan pelayanan yang tidak saja menjadi tugas imam, tetapi juga tugas semua umat Allah. Artinya, baik imam maupun awam terbaptis sudah seharusnya memberi diri secara total untuk menjadi rekan sekerja Allah.

Tak heran, jika semangat para imam dan awam dahulu sangat tangguh dan total. Mereka menunjukkan diri bahwa seorang yang beriman harus menghayati hidup. Bukan sekadar beragama. Ia harus mampu bergerak lebih tinggi dan mendalam. Seluruh praktik hidupnya harus diarahkan untuk menghasilkan pelayanan keselamatan, berkat, dan kelangsungan hidup manusia. Sebab, agama adalah sarana sekaligus sumber daya iman yang harus selaras dengan praksis hidup itu sendiri.

Seorang beriman mesti mampu mendeteksi situasi manusia, masuk ke dalam pergumulan antarsesama manusia, dan berusaha mencairkan berbagai kebekuan yang masih melekat dan mewarnai kehidupan manusia. Akhirnya, menjadi jelas bahwa iman tidak mengurung seseorang dalam kemapanan diri sendiri dan keasyikan mengurus keselamatan diri sendiri.

Dokumen-dokumen Konsili Vatikan Kedua secara tegas memberikan pendasaran teologis untuk keterlibatan Gereja yang lebih menyeluruh. Konsili merefleksikan hubungan antara Gereja dan dunia. Di dalam refleksi ini, Gereja memberikan pendasaran teologis terhadap komitmen politisnya sebagai bagian utuh dari keterlibatan dan kehidupannya di dunia ini. [1]

Realitas yang Menggugat

Pada bagian ini, Penulis melakukan perbandingan realitas pelayanan dan perjuangan imam dan umat dahulu dan para imam dan umat masa kini. Hemat Penulis, ada semacam jarak yang sudah terlampau dalam. Oleh karena itu, sebagai umat Katolik, Penulis merasa terpanggil untuk memberikan catatan kritis dan autoktritik.

Tak dapat dimungkiri bahwa kini semangat pelayanan kita sebagai seorang beriman Katolik sedang dilanda krisis multi dimensi. Semangat pelayanan spiritualitas jalan turun sebagaimana yang telah ditanamkan oleh para misionaris dan awam terdahulu tak lagi menjadi dasar dan spirit bagi kehidupan sebagian imam dan awam masa kini.

Pertama, bagi kaum tertahbis. Ada semacam gejala umum bahwa gaya hidup dan pelayanan sebagian kaum tertahbis saat ini belum ideal sebagaimana yang diharapkan. Misalnya, ada kelunturan semangat menghayati kemiskinan dan kemurnian. Tak heran jika sebagian imam hanya sekadar pintar berkotbah dari mimbar Gereja atau dari istana paroki, tetapi minus keteladanan praksis. Tanpa disadari, monster yang menindas sekaligus memenjarakan iman pun bergentayangan di mana-mana.

Kedua, bagi kaum awam Katolik. Tak dapat dimungkiri juga bahwa banyak umat Katolik saat ini masih mempertontonkan cara pikir dan perilaku yang tidak menunjukkan identitasnya sebagai umat yang beriman Katolik. Keterlibatan umat dalam semangat pelayanan dan hidup menggereja rasa-rasanya semakin jauh panggang dari api. Orang lebih nyaman memilih hidup dalam kesendirian, angkuh, acuh hingga hilangnya kepekaan sosial baik terhadap sesama maupun kehidupan menggereja.

Akibatnya, tindakan saling membunuh, menyerang Gereja lewat media sosial, kekerasan seks, pembangkangan terhadap berbagai kewajiban dalam Gereja yang disutradarai oleh awam-awam Katolik semakin marak terjadi. Bahkan menjadi hal yang lumrah.

Spiritualitas Jalan Turun. Infografis/NTT PROGRESIF

Meluruskan Konsep Semangat Pelayanan dan Toleransi yang Keliru

Semangat toleransi sebagaimana sudah dihayati para misionaris dan awam Katolik Jerebu’u dahulu hanyalah masa lalu yang tak diperdulikan lagi oleh generasi gereja masa kini. Dahulu, penghayatan toleransi dari dalam diri dan kehidupan menggereja selalu digemakan dalam tutur maupun tindak. Kini, sudah menjadi amat lain. Bahkan sudah mengarah kepada keterpurukan yang sudah terlampau luas.

Buktinya, saat ini, beragam kemajuan telah menggeser pemakanaan budaya dan agama dalam hidup sehari-hari. Tak heran jika kebanyakan orang lebih nyaman mengartikan semangat toleransi selalu dari kacamata sempit, yakni perbedaan agama. Cara hidup kita pun terjebak dalam pemikiran yang amat sempit itu. Bahwa toleransi bisa bertumbuh jikalau kita hidup atau diperhadapkan pada situasi di tengah perbedaan keyakinan dan agama.

Tak heran jika perilaku jauh dari kehidupan menggereja dan hilangnya rasa kepekaan sosial terhadap sesama umat kristiani dianggap sebagai suatu sikap yang tidak melawan toleransi. Inilah realitas sikap bahwa manusia cenderung melakukan penilaian atau pemahaman yang kurang hati-hati dan terlalu terburu-terburu. Dampak destruktif pun muncul, yakni terjadinya pelanggaran terhadap martabat manusia itu sendiri. [2]

Oleh karena itu itu, melalui tulisan ini, Penulis mencoba memahami semangat toleransi dari perspektif lain. Hemat Penulis, toleransi adalah sebuah gambaran hidup yang menegaskan bahwa kehidupan sosial haruslah dilihat, dimengerti, dihayati, dan dialami secara pribadi dan bahwa etika dan moralitas terletak pada hubungan antarmanusia secara konkret. Sebab, tatanan toleransi akan semakin kuat jika dimunculkan dari kesadaran moral individual untuk saling menghargai, saling melengkapi, saling mengasihi, dan saling melayani tanpa melihat perbedaan.

Hal ini bisa terjadi jika kita dewasa dalam beragama. Artinya, agama harus menuntun kita untuk memiliki kepekaan dan kedewasaan dalam iman. Seorang kristiani yang toleran adalah mereka yang memiliki ketahanan iman yang kuat, tidak mundur meninggalkan agamanya apabila mengalami berbagai kesulitan, dan selalu mencintai lebih dalam dari sekadar kata cinta di bibir saja. [3]

Baca Juga Ilmu-ilmu Sosial dan Teologi Kontekstual (Menanggapi Dr. Ignas Kleden)

Ketika kita sudah mampu mencintai sesama yang berkeyakinan sama, maka sikap ini akan menjadi kekuatan dan dasar pijak kita untuk mencintai sesama yang beragama lain. Artinya, sebelum orang mampu mencintai sesamanya dengan tulus, ia haruslah terlebih dahulu mengenal dan mencintai dirinya secara tulus. Oleh karena itu, penghayatan terhadap semangat pelayanan mesti harus mulai dari dalam diri dan harus melampaui sekat-sekat perbedaan. Bahwasanya, perbedaan bukanlah sekat dan alasan untuk tidak menghidupi sikap saling melayani.

Sebab, indikator umat atau Gereja yang dewasa adalah mampu memancarkan sinar kasih dari dalam, yang tidak saja untuk diri dan gereja, tetapi semua umat manusia. Untuk itulah Yesus lahir, disalibkan, dan mati di kayu salib demi menyelamatkan semua orang tanpa kecuali. Pada titik inilah, kita semua sadar, sebenarnya sikap mental keagamaan apa pun itu selalu mengarah pada pembentukan sikap-sikap yang humanis.

Selanjutnya, agar nilai-nilai kebenaran itu tetap terjaga hingga keabadian, maka dibutuhkan dialog. Dialog menjadi urgen bukan karena banyaknya konflik antaragama, tetapi juga karena yang sekeyakinan dan seagama pun sering menunjukkan sikap-sikap yang tidak toleran.

Dialog yang partisipatif dan transparan berlandaskan spiritualitas jalan turun adalah dasar bagi kita agar bisa menghayati hidup ini secara humanis. Sebab, melalui dialog dan semangat pelayanan jalan turun, kita akan selalu diingatkan bahwa kita hidup dan diciptakan oleh Tuhan bukan untuk mempersoalkan perbedaan, bukan pula untuk menunjukkan diri paling benar dan paling suci. Namun, sebaliknya, adanya kita harus berarti bagi diri, sesama, dan Tuhan itu sendiri.

Itulah yang dinamakan penghayatan akan cinta dan keadilan yang konkret dan universal. Sebab, cinta adalah ikatan yang mempersatukan semua bidang kehidupan, keberagamaan, dan komitmen manusia di tengah dunia ini. Sebab, kita tidak bisa mencintai Allah tanpa saling mengasihi, mencintai, dan melayani satu sama lain.


Catatan Kaki

[1] Paulus Budi Kleden, Teologi Terlibat (Maumere: Penerbit Ledalero, 2003), hlm. 195.

[2] Karl-Heinz Peschke, Etika Kristiani (Maumere: Penerbit Ledalero, 2003),

hlm. 184.

[3] D. Hendropuspito, Sosiologi Agama (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1983), hlm. 103.

Sumber:

Buku

Paulus Budi Kleden, Teologi Terlibat (Maumere: Penerbit Ledalero, 2003)

D. Hendropuspito, Sosiologi Agama (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1983)

Karl-Heinz Peschke, Etika Kristiani (Maumere: Penerbit Ledalero, 2003)

Niels Mulder, Agama, Hidup Sehari-hari dan Perubahan Budaya (Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1999)

Manuskrip

Teks Kotbah Romo Daniel Daniel Aka (2018)

Teks Kotbah Romo Silverius Betu (2019)

Wawancara:

Petrus Woga, diwawancara pada 17-18 Januari 2020

Hironimus Ede, diwawancara pada 17-18 Januari 2020

Hendrikus Bea, diwawancara pada 17-18 Januari 2020

Eoulogius Ngetu Woga, diwawancara pada 17-18 Januari 2020

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »