Antara Jalan Turun dan Spiritualitas

Penulis Harus “Jalan Turun” Terlebih Dahulu: Tanggapan terhadap Tulisan Bonefasius Zanda

Penulis Harus Jalan Turun Dahulu. Foto/Bonefasius Zanda's comrade.
Penulis Harus Jalan Turun Dahulu. Foto: Paroki St. Paulus Jerebuu/Bonefasius Zanda’s comrade.

Penulis harus jalan turun dahulu, buat studi yang matang, baru hasilkan sebuah kesimpulan tanpa melukai hati umat Jerebu’u. Artikel ini adalah tanggapan atas artikel Bonefasius Zanda berjudul Spiritualitas Jalan Turun dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Toleransi dan Kualitas Iman Umat Katolik: Studi Kasus pada Gereja Paroki Santo Paulus Jerebu’u


Oleh Eric Pati


Pokok-pokok utama tulisan “Spiritualitas Jalan Turun dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Toleransi dan Kualitas Iman Umat Katolik: Studi Kasus pada Gereja Paroki Santo Paulus Jerebu’u

  • Studi kasus di wilayah Paroki St. Paulus Jerebu’u.
  • Penulis membandingkan gaya pelayanan imam dan awam masa lalu dan masa kini.
  • Atas dasar perbandingan ini, Penulis menganjurkan sebuah gaya pastoral yang ideal untuk Gereja Katolik dewasa ini.

Tanggapan Kritis

Hal pertama yang perlu ditanggapi adalah “Spiritualitas Jalan Turun” dengan studi kasus Paroki St. Paulus Jerebu’u. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mengapa paroki St. Paulus Jerebu’u dipilih sebagai lokasi studi kasus?

Bentuk geografis Paroki Jerebu’u memang identik dengan jalan menurun, berkelok-kelok, licin, dan tajam. Namun, term ‘menurun’ dipakai mengandaikan Penulis atau siapa saja sedang berada di tempat yang tinggi dan siap untuk turun.

Lantas, bagaimana jika titik mulainya adalah dari bawah?

Mungkin spritualitasnya bisa diubah dari jalan turun menjadi jalan naik. Semua tergantung prespektif dan cara kita memandang.  Dengan demikian, spiritualitas jalan turun bisa menjadi salah satu pilihan, tetapi bukan satu-satunya pilihan.

Penulis membuat studi kasus di wilayah Paroki St. Paulus Jerebu’u dengan menggunakan metode wawancara. Orang-orang yang diwawancarai adalah tokoh-tokoh Jerebu’u dari masa lalu yang saat ini sedang menikmati masa-masa tuanya. Tokoh-tokoh ini bisa dibilang cukup berpengalaman karena telah melewati beberapa masa pelayanan pastoral.

Namun, studi kasus yang dibuat oleh Penulis masih sangat subjektif untuk sampai pada satu titik kesimpulan akhir. Hasil yang objektif harusnya bisa didapat jika Penulis bisa menjangkau semua unsur lapisan umat. Ada pastor yang sedang bertugas, Dewan Pastoral Paroki (DPP), para ketua stasi, tokoh pemuda, dan berbagai unsur lain yang bisa dijangkau. Data atau informasi yang diambil paling tidak harus mewakili suara semua unsur umat yang ada di wilayah paroki St.  Paulus Jerebu’u.

Selain itu, wawancara tidak cukup kuat untuk digunakan sebagai satu-satunya metode pengumpulan data. Pihak paroki biasanya memiliki jurnal pastoral yang bisa dipakai untuk melihat berbagai kegiatan pelayanan yang telah dilakukan.

Penulis dengan data yang sangat minim membuat kesimpulan sepihak tentang pelayanan pastoral di Paroki St. Paulus Jerebu’u. Yang sedang terjadi di sini bukan penilaian objektif, tetapi sebuah penghakiman terhadap kehidupan pastoral di wilayah Jerebu’u.


Baca Juga Teater “Peti Mati”, Teologi Terlibat, dan Kaum Penjilat: Belajar dari Pastor Frans Amanue tentang Keterlibatan Pastor dalam Politik


Penulis memang tidak secara langsung menilai kehidupan pastoral di Jerebu’u saat ini. Akan tetapi, dengan mengidealkan gaya pastoral masa lalu di Jerebu’u, pada saat yang sama, Penulis telah menganggap rendah gaya pastoral saat ini.

Penulis yang mengkritik gaya pastoral bukanlah sebuah masalah. Akan tetapi, mengkritik tanpa data yang kuat itu bermasalah, apalagi dalam kapasitas Penulis yang adalah seorang akademisi.

Gereja Katolik adalah Gereja yang terus berkembang di tengah arus zaman dengan segala situasi dan kehidupan umat. Perbandingan antara gaya pelayanan Gereja masa lalu dan Gereja masa kini bukanlah sebuah perbandingan yang ideal atau bahkan tidak layak untuk dibandingkan.

Gereja itu berkembang dalam sebuah proses. Masa lalu atau masa kini tidak bisa dipisahkan karena Gereja yang sekarang ada adalah hasil bentukan masa lalu yang masih akan terus berkembang di masa depan.

Gaya pelayanan Gereja berubah karena situasi dan kehidupan umat juga berubah. Gereja selalu kontekstual pada masanya.

Penulis mengangkat situasi saat Gereja baru dirintis di wilayah Jerebu’u. Gereja saat itu berhadapan dengan umat yang baru mau belajar agama. Sebagian besar bahkan belum beragama.

Standar keberhasilan Gereja saat itu dilihat dari jumlah baptisan yang diterima umat. Para pastor saat itu lebih proaktif karena mereka harus menanamkan nilai-nilai Kristiani kepada umat yang sama sekali belum mengenal Kristus.

Gereja bergerak di segala lini, baik rohani maupun jasmani. Banyak kemajuan saat itu dimulai oleh para misionaris yang jalan turun.

Umat saat itu benar-benar hanya siap menerima dan menunggu karya-karya dari para pelayan pastoral. Sedikit kasar, umat pada masa awal hanya siap “telan” semua yang sudah disiapkan oleh para misionaris.

Masa-masa “jaya” Gereja itu sudah lewat. Para misionaris Eropa juga sudah pergi. Gereja saat ini mulai lagi dengan slogan ‘Gereja Mandiri’.


Baca Juga Kosuke Koyama, Teologi Petani, dan Kontekstualisasinya


Penulis Harus Jalan Turun Dahulu. Infografis/NTT PROGRESIF
Penulis Harus Jalan Turun Dahulu. Infografis/NTT PROGRESIF

Definisi Gereja sebelum konsili Vatikan II juga sudah berubah. Gereja yang dulu hanya menjadi gambaran para imam, kini didefinisikan sebagai semua umat Allah. Gereja itu adalah imam, awam, dan biarawan/i. Kegiatan pelayanan pastoral saat ini menjadi tanggung jawab semua orang, tidak hanya imam, atau awam saja.

Soal penghayatan iman, perbuatan nyata, berbuat baik, berbagai kasih adalah adalah tanggung jawab semua pribadi yang sudah menyatakan diri sebagai orang Katolik. Cara Gereja masa kini menjalani spiritulitas jalan turun tentu akan berbeda dengan cara Gereja masa lalu.

Gereja masa lalu mungkin jalan turun dengan mengajarkan agama dan membaptis orang. Namun, Gereja masa kini jalan turun dengan mengamalkan iman dengan segala kegiatan pastoral khas saat ini.  

Catatan dan autokritik dari Penulis tentang kehidupan umat Katolik saat ini, imam, dan awam, adalah sesuatu yang bisa diterima. Baik imam atau awam memang sering gagal menampilkan diri sebagai orang Katolik yang tidak hanya beragama, tetapi juga beriman dan bertindak nyata. Itu memang tanggung jawab kita bersama dalam proses menjadi orang Katolik yang baik.


Baca Juga Ilmu-ilmu Sosial dan Teologi Kontekstual (Menanggapi Dr. Ignas Kleden)


Namun, tindakan Penulis yang membuat studi kasus ‘seadanya’ di Jerebu’u adalah hal yang mesti dipertangungjawabkan. Gereja dan umat di wilayah Paroki St. Paulus Jerebu’u memiliki pola, gaya, dan dinamika sendiri yang tidak bisa dibandingkan dengan umat di tempat lain.

Pendekatan-pendekatan pastoral yang dibuat selalu sesuai dengan konteks dan keadaan umat. Berbagai kegiatan pastoral untuk menjawabi masalah dan situasi umat sudah diupayakan. Pastoral anak dan remaja, pastoral kaum muda, pastoral keluarga, dan berbagai kelompok kategorial lain berjalan dengan baik di Jerebu’u.

Kegiatan pastoral ini tidak hanya bergerak di dunia ide, tetapi betul dinyatakan dalam aksi. Anak-anak Serikat Kepausan Anak Misioner (Sekami) mengumpulkan sumbangan dan memberikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Kaum muda melakukan kegiatan penghijauan. Pendampingan diberikan kepada calon keluarga baru dan keluarga baru.

Banyak kegiatan yang sudah dan sedang berjalan yang tidak bisa ditulis satu persatu di sini. Kegiatan-kegiatan ini memang banyak yang belum sempurna, tetapi umat sedang berproses dengan segala lebih dan kurangnya.

Penulis mungkin harus jalan turun terlebih dahulu, buat studi yang matang, baru hasilkan sebuah kesimpulan tanpa melukai hati umat Jerebu’u. Tulisan yang saat ini ada di media mungkin hasil dari jalan turun, tetapi belum sampai dasar dan sudah ambil kesimpulan sepihak.

Salam dari umat dan Pastor di Jerebu’u yang sedang berproses menjadi umat Katolik yang lebih baik! 


Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »