Antara Jalan Turun dan Spiritualitas

Jawaban atas Resah Realitas Gereja Katolik Universal Hari Ini: Catatan atas Opini Bonefasius Zanda tentang Spiritualitas Jalan Turun

Jawaban atas resah realitas Gereja Katolik universal hari ini dikemukakan Bonefasius Zanda agar kita tetap setia berziarah di jalan panjang ini.



Menarik membaca artikel studi kasus berjudul “Spiritualitas Jalan Turun dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Toleransi dan Kualitas Iman Umat Katolik: Studi Kasus pada Gereja Paroki Santo Paulus Jerebu’u” karya Bonefasius Zanda (BZ). Artikel itu ditayangkan pada media NTT Progresif (12/11/2020).

BZ dalam studi kasusnya mewawancarai beberapa tokoh agama di Paroki St. Paulus Jerebu’u-Ngada. Tokoh agama tersebut merupakan saksi dan pioner berdiri kokohnya iman umat Katolik setempat hingga kini.

BZ mendapatkan laporan tentang militansi dan segala sepak terjang misionaris pendahulu. Narasumber mengisahkan sejarah awal perjalanan pendidikan iman Umat Katolik di Jerebuú. Narasumber juga melukiskan kesetiaannya yang teguh dalam proses berjalan turun menjangkau umat kala itu.

Memang benar, tapak kaki para misionaris pendahulu berjejak indah di sekitar lereng bukit Paroki Jerebu’u. Bersama para para guru agama kampung, mereka berjalan menjelajahi kampung-kampung untuk mewartakan Injil kabar keselamatan kepada umat.

Spiritualitas umat dan para misionaris perintis di Jerebu’u dulu adalah fondasi spiritualitas yang telah berakar dan membumi dalam kehidupan umat saat ini. Kita lihat, pada awal sebelum Konsili Vatikan II, pelayanan Gereja Katolik bersifat klerikalis. Artinya, pelayanan dan karya pastoral hanya diambil alih oleh para Pastor.

Namun, setelah Konsili Vatikan II hingga kini, Gereja bersifat aggiornomento, Gereja menghari ini. Gereja hadir menyapa situasi zaman secara hari ini.

Gereja tidak tertutup. Gereja telah membuka selubung masker. Ia melebur dalam segala lini kehidupan umat manusia.

Umat adalah anggota Gereja yang turut aktif mengambil bagian dalam karya keselamatan. Kita semua adalah Gereja yang sedang berziarah menuju rumah Bapa. Rumah Bapa adalah rindu dan dambaan semua umat manusia.

Kita semua memiliki spirit yang satu dan sama untuk menghormati sesama yang beragama lain sebagai saudara. Kita tetap setia berkanjang dalam mempertahankan dan mengamalkan iman Katolik di tengah dunia dan realitas yang tak menentu ini.

Baca Juga Spiritualitas Jalan Turun dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Toleransi dan Kualitas Iman Umat Katolik: Studi Kasus pada Gereja Paroki Santo Paulus Jerebu’u

Selanjutnya, Eric Pati (EP) melalui media NTT Prograsif (18/11/ 2020) menurunkan opini berjudul, “Penulis Harus “Jalan Turun” Terlebih Dahulu sebagai tanggapan atas artikel BZ. EP tidak mau umatnya sakit hati atas kepincangan studi kasus yang dilakukan BZ.

Menurut EP, BZ dalam studi kasusnya hanya menghadirkan satu narasumber utama sebagai perintis iman umat di wilayah paroki itu. BZ tidak melibatkan dan menghadirkan tokoh agama terkini yang sedang menumbuhkembangkan iman umat Jerebu’u bersama pastor paroki dan dewan pastoralnya.

Persoalan itulah yang digugat EP. Menurut dia, data hasil wawancara BZ belum matang karena hanya menghadirkan satu narasumber utama.

Oleh karena itu, menurut EP, kesimpulan BZ terlalu dini dan meresahkan hati sebagian besar umat Paroki St. Paulus Jerebu’u. EP menganjurkan agar BZ “jalan turun terlebih dahulu, buat studi yang matang, baru hasilkan sebuah kesimpulan tanpamelukai hati umat Jerebuú.”

Berdasarkan tanggapan EP, menurut saya, studi kasus dan kesimpulan BZ masih prematur. Saya katakan prematur karena sajiannya yang lezat itu kekurangan bumbu racikan yang membuatnya gurih.

Padahal, saya melihat studi kasus BZ di Paroki Jerebu’u hanyalah sampel untuk Gereja Universal. Juga serentak sebagai awasan untuk tetap setia dan berpegang teguh dalam membumikan nilai-nilai Injil di tengah dunia.

Menurut saya, spiritualitas jalan turun versi BZ adalah kisah petualangan para pendahulu berdasarkan spiritualitas Yesus dan kisah pengalaman para perintis Gereja Paroki Jerebu’u. Kisah tentang spiritualitas iman para pendahulu menghadirkan suntikan semangat baru bagi generasi kini untuk setia menyebarkan kasih Kristus kepada umat.

Ulasan BZ menyadarkan para Imam dan agen pastoral Gereja sekarang untuk bercermin pada semangat pelayanan para perintis iman Paroki Jerebu’u. Gugatan ini menyadarkan para pastor dan tim pelayan pastoral Gereja universal untuk tetap teguh dan konsisten mengarungi zaman hari ini.

Baca Juga Penulis Harus “Jalan Turun” Terlebih Dahulu: Tanggapan terhadap Tulisan Bonefasius Zanda

Semangat pelayanan yang dilukiskan BZ mengambarkan spirit seorang pelayan yang rela berjalan turun menjangkau orang-orang kecil serta melebur dalam hidup mereka. Lebih dari itu, para perintis memberi diri secara total dengan pelayanan yang tepat sasar sesuai dengan tanda zaman saat itu. Kalau spiritualitas jalan turun semacam itu masih dihidupi hingga kini, maka saya yakin, inilah dasar iman yang kokoh untuk terus berkanjang menghadapi badai zaman.

Studi kasus dan kesimpulan BZ adalah kritik atas spiritualitas jalan turun umat dan pemimpin Gereja kini yang sudah mulai kendor. Ia menjadikan studi kasusnya sebagai acuan untuk menggugat pemimpin dan Gereja yang kini lupa turun dari Bukit Tabor. Bukit kemapanan.

BZ melihat realitas Gereja hari ini tidak lagi memiliki spiritualitas jalan turun. Tidak heran kalau aneka persoalan sosial di dalam tubuh Gereja kian marak.

Keterlibatan dan semangat umat Katolik dalam hidup menggereja makin pudar dan jauh panggang dari api. Para Imam tidak memiliki semangat menghayati kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan sebagaimana teladan Yesus Sang Guru dan Kepala Gereja. Spirit hidup mengereja universal hari ini semakin jauh dari spiritualitas sebenarnya.

Baca Juga Teater “Peti Mati”, Teologi Terlibat, dan Kaum Penjilat: Belajar dari Pastor Frans Amanue tentang Keterlibatan Pastor dalam Politik

Jawaban atas Resah Realitas Gereja Katolik Universal Hari Ini. Infografis/NTT PROGRESIF
Jawaban atas Resah Realitas Gereja Katolik Universal Hari Ini. Infografis/NTT PROGRESIF

Rasa cemas akan realitas itu mendorong hati BZ untuk melakukan studi kasus dan menulis sebuah artikel otokritik. BZ menaruh perhatian akan realitas hidup menggereja yang kini memprihatinkan.

Hati BZ tergerak oleh belas kasihan akan situasi Gereja hari ini. Ia kemudian kreatif melakukan studi kasusnya sebagai tawaran solusi atas masalah Gereja universal terkini.

Dalam studi kasusnya, BZ menyadarkan kita agar tetap setia berziarah di jalan panjang ini. Sebab, kadang situasi zaman dengan segala tawarannya yang menggiurkan membutakan mata dan hati nurani kita.

Untuk semangat ini, kita mesti acungi jempol pada BZ. Artikelnya adalah obat mujarab yang sejuk dan menyembuhkan. Artikelnya adalah alarm tentang realitas hidup umat dan Gereja hari ini.

Saudaraku, BZ, berjalanlah turun dan turun terus sampai ke akar-akarnya. Berikanlah jalan sejuk kepada Gereja agar kita bisa tiba pada satu tujuan yang sama, yaitu keselamatan kekal di akhirat nanti.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa