Kant, Mentalitas Teknokratik, dan Sikap Beragama Kita. Foto/Palembang.tribunnews.com

Kant, Mentalitas Teknokratik, dan Sikap Beragama Kita: Catatan Etis atas Heboh Kontroversi Kepulangan Rizieq Shihab

Kant, Mentalitas Teknokratik, dan Sikap Beragama Kita. Berbuat moral, yaitu baik tanpa pembatasan seharusnya adalah suatu manifestasi luhur orang beragama.




Hari-hari ini, problem tentang kiprahagama di ruang publik kembali booming. Kedatangan Ulama Besar Habib Rizieq Shihab yang disambut ribuan umat Muslim mendapat tanggapan serius. Salah satu tanggapan yang cukup kontroversial datang dari selebriti ternama, Nikita Mirzani yang berkomentar lewat akun instagramnya.

Komentar Nikita Mirzani ini menuai banyak kecaman karena dinilai menghina tokoh ulama yang sangat dihormati umat Islam di seluruh Indonesia itu. Pasca postingan Mirzani viral, kecaman terhadapnya pun mulai bersileweran di Media Sosial (medsos). Salah satunya datang dari Ustadz Maaher At-Thuwailibi lewat sebuah akun Youtube.

Seluruh skenario persoalan ini berlangsung di Medsos, tetapi sangat kuat berpengaruh terhadap keadaban publik dan keharmonisan berwarga Negara. Komentar yang dikemukakan Nikita Mirzani maupun Ustadz Maaher sama-sama berpotensi menimbulkan kekacauan simbolik karena ujaran yang disampaikan selalu menimbulkan tafsir yang berbeda bagi semua pengguna Medsos.

Menariknya, problem ini bahkan dibawa ke ranah hukum untuk diproses. Kita terkesiap. Suatu kesadaran yang mustajab menghampiri kita; bahwa berkomentar lewat Medsos tidak menjamin suatu diskursus publik yang etis sambil terus mengutamakan akal sehat, malah sangat berpotensi menimbulkan kebencian yang dibalut kalimat-kalimat ancaman, penghinaan akhlak, dan intoleransi horizontal.

Imbasnya, subjektivitas agama sangat kental mempengaruhi seluruh tindakan kita. Agama di satu sisi menimbulkan simpati, tetapi juga di sisi lain menimbulkan antipati serius yang bisa merusak stabilitas multidimensi publik Indonesia akhir-akhir ini.

Baca Juga Manusia dan “Etika Tanpa Fiksi” menurut Yuval Noah Harari

Tulisan ini tidak bermaksud membedah persoalan yang sedang melilit Nikita Mirzani dan Ustaz Maaher, lalu menempatkan suatu keberpihakan radikal terhadap salah satunya. Penulis hanya sekedar beri semacam suatu intisari filosofis dari seluruh aktus bermedsos yang akhir-akhir ini memainkan peran sentral dalam seluruh dimensi kehidupan kita.

Aktus bermedsos sangat mempengaruhi keakraban berwarga Negara karena di sana pengagungan kehendak dan kepentingan sangat mudah termanifestasi. Ada mentalitas teknokratik yang memboncengi seluruh aktus bermedsos hari-hari ini.

Lewat filsuf Immanuel Kant yang berbicara tentang moralitas universal, Penulis coba mencermati problem di atas. Seluruh kerangka moralitas yang dibangun Kant dalam pemikirannya coba dielaborasi dalam suatu praksis beragama kita hari-hari ini.

Moralitas apapun selalu terpaut erat dengan agama dan kebajikan etis yang diturunkan agama-agama. Moralitas secara universal hampir pasti selalu bersentuhan dengan produk doktrin agama manusia.

Mengidentifikasi Mentalitas Teknokratik dalam Media Sosial

Media Sosial (Medsos) memungkinkan setiap orang dapat berinteraksi secara bebas. Manusia menjadi pribadi bermental teknokratik dengan dua kecenderungan utama, yaitu utilitarianisme dan fungsionalisasi. [1]

Mental teknokratik dengan dampak-dampak semacam hoax, hate speech, fake news, dan pelbagai informasi berbau provokatif, demagogis, dan hiperbolis adalah suatu negasi dari nilai-nilai universal yang timbul dari kehendak subjek, manusia. Karakter diri menjadi taruhannya.

Ruang Medsos yang demikian terbuka ini tidak dapat menjamin setiap kehendak baik termanifestasi dan diterima sebagai suatu nilai. Ambiguitas kebebasan menjadi suatu keprihatinan dalam menciptakan dunia yang lebih beradab, suatu kebaikan tanpa pembatasan.

Secara sederhana, Medsos dapat diartikan sebagai media komunikasi interaktif yang dilakukan dalam ruang siber-virtual/online tanpa dibatasi ruang dan waktu.  Yang dimaksud dengan ruang siber virtual ialah suatu ruang maya, di dalamnya manusia masuk secara imajinatif, tetapi keterlibatan manusia itu bukan suatu halusinasi, melainkan riil/nyata. [2] Beberapa contoh Medsos yang banyak digunakan adalah YouTube, Blog, Facebook, BBM, Insttagram, Twitter,WhatssAp, dan lain-lain.

Melalui komunikasi interaktif dalam Medsos ini, manusia sekaligus menjadi manusia beridentitas siber yang menciptakan interaksi dengan simbol-simbol.

“Manusia mengungkapkan diri tentang perasaan-perasaan, mood, cita-cita, kecemasan, dan kegembiraannya dan dengan demikian manifestasi simbolik manusia dalam media sosial ini adalah suatu syering kepada publik yang bisa berpengaruh kepada kehidupan global.” [3]

Baca Juga Menyoal Relasi Agama dan Pasar di Tengah Gempuran Globalisasi Kapital

Sebagaimana sudah disebutkan di atas, utilitarianisme dan fungsionalisasi adalah dua karakteristik mentalitas teknokratik manusia dalam media sosial dewasa ini, ketika syering kepada publik itu justru menjadi ‘bablas’.

Utilitarianisme merupakan paham yang terobsesi untuk memperoleh keuntungan sebanyak mungkin dan menghindari kerugian sekecil mungkin. Dalam medsos, kecenderungan ini tampak kuat ketika manusia menggunakan kebebasannya dengan pertimbangan untung-rugi. Tendensi ini menimbulkan mental untuk mengobjektivasi sesama dalam relasi interaktif sehingga keterpecahan rentan terjadi.

Sementara itu, fungsionalisasi adalah upaya memperlakukan orang lain sebagai instrumen untuk mencapai pemuasaan kehendak. Di sini, signifikansi kepentingan sangat kuat berpengaruh dan tendensi menempatkan konstruksi emosional dalam interaksi sosial-politis sangat potensial. Fungsionalisasi membuat manusia memandang sesama lebih terpusatkan pada fungsinya dan bukan pada pribadinya, selanjutnya absen mempertahankan eksistensi sesamanya. [4]

Dua karakteristik ini jelas menempatkan dominasi materialitas dan karakter emosional dalam kehidupan manusia yang sebenarnya bukan merupakan tindakan yang bermoral menurut Kant, terutama dalam uraiannya tentang tiga kemungkinan pemenuhan kewajiban.

Mentalitas Teknokratik dan Moralitas menurut Immanuel Kant

Dalam uraian Kant tentang moralitas, kebaikan moral adalah kebaikan tanpa batasan, atau baik dalam dirinya sendiri, tetapi sekaligus suatu imperatif yang secara kategoris memerintah karena ia tak bersyarat. [5] Selanjutnya, bagi Kant, kewajiban yang dijalankan dengan motivasi memenuhi keuntungan atau dorongan emosional adalah kewajiban yang bukan moral.

Yang bermoral hanyalah kewajiban yang dijalankan untuk memenuhi kewajiban itu sendiri. Dengan demikian, Kant sebenarnya telah membuat pembedaan mendasar antara kewajiban dan kecenderungan yang dilatari oleh prasangka subjektif dan emosi.

Moralitas Kantian juga memiliki relevansi logis dengan kehidupan di ruang public, terlebih tesisnya tentang universalitas maksim dalam melakukan tindakan moral. [6] Jika mengkonfrontasikan moralitas Kantian dan mentalitas teknokratik dalam media sosial, tampak kental negasi atas mentalitas teknokratik.

Pertama, sikap utilitarian dengan memperdaya ‘yang lain’ demi meraup keuntungan tidak dapat diuniversalkan sebagai suatu hukum umum. Dalam postingan hoax di Medsos, misalnya, semua orang boleh jadi dapat mempercayainya dalam jangka waktu tertentu, tetapi tidak menerimanya sebagai suatu hukum umum bahwa hoax adalah baik dalam dirinya sendiri, sekalipun hoax itu menguntungkan pihak tertentu. Jika hoax diuniversalisasikan sebagai suatu nilai, maka akan ada saat di mana semua orang tidak dapat saling mempercayai satu sama lain.

Kant menolak tindakan ini karena kehendak baik masih mendapat pembatasan dan dengan demikian kebaikan adalah hasil modifikasi manusia yang diboncengi oleh dominasi hasrat kepentingan untung-rugi. Jika masih ada pembatasan, yaitu ketika sikap moral belum dapat diuniversalisasikan, maka sikap utilitarian dengan pertimbangan untung rugi dalam Medsos pun tidak dapat dikatakan sebagai hukum umum yang berlaku bagi siapa pun. Tendensi utilitarian dalam tindakan praktis akan mendepak manusia pada kekacauan simbolik atau situasi klaim-klaim kebenaran yang dapat memicu keruntuhan peradaban dan memecah belah keberagaman.

Baca Juga Transformasi Relasi Sosial Menjadi Jalur Eksploitasi Ekonomi di Era Neoliberal

Selanjutnya, dengan memperlakukan orang lain berdasarkan fungsinya atau fungsionalisasi, maka kehendak baiknya tidak lagi menjadi otonom yang memampukannya untuk dengan bebas melakukan kewajiban moralnya. Sementara itu, fungsionalisasi selalu memiliki motivasi tertentu yang jelas menggagalkan sebuah tindakan itu sebagai suatu nilai yang dapat diuniversalisasikan.

Fungsionalisasi berarti merampas otonomi diri pribadi yang lain untuk bertindak juga secara moral tanpa pembatasan. Dalam Medsos, misalnya, interaksi sosial cenderung mempertimbangkan fungsi-fungsi sesama dan bukan pada aspek pribadinya secara ontologis.

Pola interaksi fungsional ini membawa manusia pada suatu tahap di mana setiap orang menjadi anonim satu sama lain. [7] Anonimitas diri ini menjadi pijak dasar perilaku saling mensubordinasi, mengecam, dan bahkan sampai pada taraf usaha untuk melenyapkan “yang lain”.

Mentalitas teknokratik tentu mendapat penolakan dari moralitas Kantian, terutama mengingat maksim mentalitas teknokratik tidak dapat diterima sebagai hukum universal. Namun, perlu diperhatikan bahwa keduanya hanya mungkin dipersoalkan karena dibawa dalam tatanan kehidupan publik untuk diuji [8], sekalipun mentalitas teknokratik berlangsung dalam dunia maya, sedangkan ketentuan moralitas Kantian tidak menentukan pembatasan konteks.

Maka, baik Moralitas Kantian maupun mentalitas teknokratik dalam Media Sosial selalu relevan dengan konteks kehidupan publik, yang melibatkan semua orang. Persentuhan dengan realitas kehidupan publik justru membantu mentalitas teknokratik dapat dengan mudah dicermati dalam kaca mata Kantian.

Dalam hal ini, perlu dilihat pembedaan yang diuraikan Kant tentang kewajiban dan kecenderungan. [9] Bagi Kant, moralitas yang murni ialah a priori dan tidak berdasarkan ketentuan empiris, perasaan suka tidak suka, atau tidak harus berdasarkan pandangan umum/ keyakinan yang telah mapan di dalam masyarakat termasuk doktrin komprehensif agama yang rigoristik.

Bertindak Moral dalam Media Sosial: Melawan Mentalitas Teknokratik

Bertolak dari Kant, mentalitas teknokratik dapat disebut sebagai tindakan yang melawan moral. Bahwasanya, utilitarianisme dan fungsionalisasi sudah mendapat pembatasan bagi manifestasi kehendak baik. Sekurang-kurangnya, ada dua poin kunci yang dapat ditarik dari moralitas Kantian untuk melawan mentalitas teknokratik ini.

Pertama, hormat terhadap person. [10]

Sejak awal, Kant sesungguhnya sudah menaruh basis uraiannya pada kehendak bebas personal untuk bertindak sesuai maksimnya. Terdapat dua muatan dalam prinsip ini, yaitu “Aku tidak pernah boleh menjadikan diriku sendiri ataupun diri sesamaku sebagai sarana belaka untuk mencapai suatu tujuan”. [11]

Dengan pijak ini, media sosial sebagai sarana interaksi yang bebas harus dapat digunakan dengan pertimbangan moral, yaitu penghargaan yang tinggi antarperson. Dalam setiap tindakan, kita perlu mempertimbangkan dari dan pihak lain. Oleh karena itu, ‘yang lain’ tidak dapat dianggap remeh dalam tindakan-tindakan praktis.

Kedua, setiap tindakan moral harus diwujudkan sebagai suatu kehendak a priori yang diterima umum.

Dalam Medsos, klaim-klaim kebenaran bersileweran. Begitu banyak kebenaran yang dijumpai, tetapi kebenaran-kebenara itu tidak dapat diverifikasi secara empiris, bahkan jauh dari syarat ontologis. Alasan mendasarnya ialah tindakan-tindakan subjek sudah diboncengi oleh muatan-muatan kepentingan parsial, pertimbangan untung-rugi, dan dominasi sentimental dalam ruang publik.

Tindakan moral yang menganut kehendak bersama berarti manifestasi tindakan-tindakan harus sesuai dengan prinsip akal budi a priori yang mempertimbangkan tindakan baik dan buruk. Analisa rasional dapat dibenarkan berhadapan dengan kehendak buruk yang diungkapkan dengan santun.

Keterjebakan semacam ini ditolak Kant dengan sangat radikal, misalnya saat menolak etika sukses. [12] Poin ini hendak menegaskan suatu upaya memapankan doktrin komprehensif agama sebagai upaya fungsionalisasi dan utilitarianisme.

Kemapanan beragama berdampak pada ekstrimisme. Kemabukan agama bisa mengamputasi pluralitas perspektif kapan dan di mana saja. Upaya untuk mengayomi kehendak bersama hanya mungkin jika ada keterbukaan menerima “yang lain” sebagai “dia yang memperdalam pemahamanku”. Perspektif yang lain turut memperkaya diriku.

Kant, Mentalitas Teknokratik, dan Sikap Beragama Kita. Infografis/NTT PROGRESIF
Kant, Mentalitas Teknokratik, dan Sikap Beragama Kita. Infografis/NTT PROGRESIF

Sikap Beragama Kita

Mentalitas teknokratik sangat mempengaruhi sikap beragama kita dewasa ini. Tak dapat dimungkiri bahwa realitas riil mulai tergusur karena dominasi media virtual. Kita menjumpai begitu banyak “menara gading” agama yang ingin memproklamasikan diri dalam realitas maya. Doktrin-doktrin agama dikemukakan untuk mempertahankan argumentasi.

Agama bisa menimbulkan “kemabukan” karena orang berkiblat secara pasrah tanpa suatu upaya rasional sambil terbuka kepada “yang lain”. Di sini, agama justru menjadi basis tindakan amoral para penganutnya.

Sebab, menurut Kant, praksis moral itu tidak perlu ada pembatasan oleh instansi apa pun. Kecacatan beragama timbul ketika keyakinan atau doktrin agama dan seluruh atribut agama ditempatkan pada posisi paling mapan untuk tidak boleh diganggu oleh rasionalitas manapun.

Keyakinan yang mendahului rasionalitas berarti ekuivalen dengan irasionalitas. Beragama di tengah Medsos sering memproduksi irasionalitas yang bisa merobohkan seluruh bangunan keberagaman dan toleransi.

Orang-orang yang diyakini sebagai pemimpin agama dianggap menjadi “penjaga gawang” moralitas agamanya. Sikap beragama yang demikian terkadang mencapai suatu pengagungan yang berlebihan terhadap pribadi bersangkutan. Setiap agama besar pasti menginginkan dua hal ini, keselamatan bagi penganutnya dan kemuliaan yang makin besar bagi Tuhan. [13]

Problem dasar yang sering dijumpai ialah mendewakan dan bahkan membela mati-matian pemimpin agama tertentu dalam keadaan apapun. Segala cara bisa dihalalkan demi membela kehormatan pemimpin agama tanpa mengintrospeksi bobot rasional setiap tindakannya. Kita cenderung membela agama kita mati-matian dan mengorbankan keselamatan orang lain. Agama, lantas berubah dari signum menuju significatum, cara berubah menjadi tujuan. [14]

Agama, dari sarana/jalan menjadi tujuan. Agama justru berubah menjadi jeruji yang mendorong orang berbuat amoral. Sikap demikian juga menjadi indikasi bahwa manusia terjebak ke dalam mentalitas teknokratik; memfungsionalisasikan agamanya dan mencari keuntungan berupa reputasi, kebenaran, dan bahkan kekuasaan sosial-politis strategis.

Baca Juga Compassio dan Pentingnya Semangat Biofil di Tengah Covid – 19

Moralitas yang dipikirkan Kant sangat bersentuhan dengan sikap beragama kita. Bahkan, untuk berbuat moral, kita tidak harus beragama dan agama pun tidak harus mensubordinasi kita taat secara buta. Berbuat moral, yaitu baik tanpa pembatasan seharusnya adalah suatu manifestasi yang luhur orang beragama.

Apakah Nikita Mirzani berbuat amoral dan orang yang menghujatnya telah sangat religius?

Semua kita yang mengaku beragama patut bersujud simpuh penuh rendah sambil mengintropspeksi diri, “bagaimana dengan sikap beragama saya selama ini? Apakah saya menghamba buta kepada seorang pemimpin agama dan mengorbankan persaudaraan-hospitalitas intersubjektif?”

Pertanyaan ini menohok. Pertanyaan ini merupakan salah satu upaya praksis mencapai dan mengupayakan kebaikan tanpa pembatasan sebagaimana yang Kant maksudkan. Bermoral dan respect terhadap sesama adalah indikasi kita beragama dan meyakini Yang Transenden, bukan menghamba buta terhadap pemimpin agama.


Catatan Kaki

[1] Mathias Hariyadi, Membina Hubungan Antarpribadi (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994), hlm. 115.

[2] P. Alfons Agus Duka SVD,  Komunikasi Pastoral Era Digital (Maumere: Penerbit Ledalero, 2017), hlm. 27.

[3] Ibid., hlm. 28-29.

[4] Mathias Hariyadi, op.cit.,hlm. 121.

[5] Immanuel Kant, Kritik atas Akal Budi Praktis, penerj. Nurhadi, M.A (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005),  hlm.53.

[6] SP. Lili Tjahjadi, “Kepublikan dalam Filsafat Kant” dalam F. Budi Hardiman (ed.), Ruang Publik Melacak “Partisipasi Demokratis” dari Polis sampai cyberspace (Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius, 2010), hlm. 79.

[7] Mathias Hariyadi, loc  .cit.,hlm. 121.

[8] Karlina Supelli, “Ruang Publik Dunia Maya”, dalam F. Budi Hardiman(ed.), Ruang Publik Melacak “Partisipasi Demokratis” dari Polis sampai cyberspace (Yogyakarta: Penerbit PT Kanisius, 2010), hlm. 342.

[9] SP. Lili Tjahjadi, op.cit., hlm. 80.

[10] Ibid., hlm. 81.

[11] Ibid., hlm. 82.

[12] Mathias Daven, Epistemologi (Ms), Sekolah Tinggi FIlsafat Katolik Ledalero, hlm. 48

[13] Norbertus Jegalus, Membangun Kerukunan Beragama dari Ko-Eksistensi sampai Pro-Eksistensi (Maumere:Penerbit Ledalero, 2011), hlm. 125.

[14] Ibid.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa