El0cPhWU4AAnOeG-min

Agensi “Huhu” dalam Jebakan Kegelisahan Manusia (Catatan Menonton Gelaran Urfear: Huhu and The Multitude of Peer Gynts)

Salah satu hal menarik dalam menonton Urfear: Huhu and The Multitude of Peer Gynts ialah bagaimana layar virtual tidak hanya sekadar medium penyampaian objek mata kamera ke mata manusia, tetapi juga faktor pemroduksian simbol, bahkan menjadi tanda atau bahasa itu sendiri.

Selama hampir sebulan, saya menonton-menikmati pergelaran Urfear: Huhu and The Multitude of Peer Gynts karya Teater Garasi yang dipresentasikan lewat moda teknologi virtual berbasis website. Ada sejumlah nomor pertunjukan di situ sebagai rangkaian atau karya modular guna merefleksikan karakter “Huhu” dalam kisah betotan Henrik Ibsen, seorang penyair dan dramawan Norwegia, berjudul Peer Gynt.

“Huhu” dibaca sebagai tokoh yang riuh, ngeyel, eksotis, lewat sepintas kilas, tetapi juga punya aura memamerkan dirinya dan agak sok tahu. Dalam lakon Ibsen, walakin pertemuan “Huhu” dan “Peer” hanya sebentar saja, percakapan mereka kurang lebih menunjukkan “Huhu” bukanlah sekadar tokoh aktivis bahasa dari Pantai Malabar, sebuah wilayah di India yang punya jejak historis berkaitan dengan imperialisme-kolonialisme pada abad XV-XVI, melainkan juga manusia yang resisten, yang berikan kewaspadaan kepada sosok teman temunya, Peer Gynt, datang dari dunia Utara.

Perspektif “Huhu” itulah yang secara umum coba dimainkan oleh para performer dengan sutradara Yudi Ahmad Tajudin dan dramaturg Ugoran Prasad dalam pergelaran sejak 31 Oktober hingga 30 November 2020. Atau, sebagaimana tertuliskan dalam website interaktif urfearmpg.net: jejaring karya pertunjukan berdasarkan pembacaan ulang lakon Peer Gynt dari sudut pandang dunia Selatan.

Sepanjang pengalaman menikmati pertunjukan-pertunjukan tersebut, saya memperhatikan ada banyak isu yang dibicarakan, tetapi setidaknya kurang lebih menemukan pertanyaan sekaligus pernyataan perkara “pembentukan subjek” manusia dalam lalu lintas relasi dengan “Subjek” lainnya.

Saya kira, “membaca kembali Subjek” inilah juga menjadi salah satu spirit dalam puisi dramatik Ibsen yang ditulis tahun 1867 tersebut. Dalam konteks filsafat, “Subjek” di sini boleh jadi merujuk pada roh absolut kategori Hegelian, seperti Negara, kapitalisme, agama, ataupun institusi apa saja yang kemudian mendefinisikan umat manusia.

Baca Juga Tenang dan Panik! [Terjemahan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”] (8)

Namun, tulisan ini tidak terlalu masuk dalam elaborasi “pembacaan subjek atas Subjek” ataupun meniliki satu demi satu pertunjukan. Tulisan ini lebih secara umum menjelaskan pengalaman saya menonton secara online dan temuan-temuan atas kondisi material yang ditawarkan.

Memang selain karena pandemi Covid-19, penyampaian pertunjukan (teater) dengan cara virtual juga dapat dilihat sebagai arena eksplorasi memanfaatkan kenyataan evolusi teknologi yang telah berkembang begitu pesat. Tantangannya bukan hanya para performer, melainkan juga orang-orang yang terlibat sebagai penonton, dalam arti bagaimana mereka “ikut campur” merespons suguhan ditawarkan sebagai suatu ritual bersama.

Urfear: Huhu and The Multitude of Peer Gynts dibuka dengan pergelaran interaktif Gunawan Maryanto “The Messiah for Dummies” yang menampilkan sosok seorang lelaki mendaku diri sebagai (calon) mesias atau juru selamat. Dia berdiri di area tengah panggung di depan mimbar kecil dan laki-laki lain yang dia sebut sebagai pengikut duduk mengitarinya.

Tokoh calon mesias ini sangat percaya diri; banyak melantur soal kisah-kisah ramalan, menyampaikan nubuat-nubuat, kemudian mengajak penonton agar ikut tahbiskan dirinya sebagai juru selamat; saya sendiri sempat ikut merapal mantra-mantra yang dia ucapkan.

Pertunjukan “The Messiah for Dummies”. Sumber gambar: Teater Garasi (urfearmpg.net).

Hal yang lalu saya sadari, ritus menahbiskan si mesias ini rupanya dimulai sejak awal pertunjukan; berupa ajakan atau seruan untuk memilih busana yang akan dipakai, kitab suci yang dibacakan, juga latar pemanggungan. Para penonton diminta untuk mengklik pilihan yang ada di layar virtual dan pilihan terbanyak akan digunakan olehnya. Dua pilihan (klik) saya tidak memperoleh suara terbanyak, tetapi sisanya berhasil memberikan defenisi untuk pergelaran itu.

Lantas sepanjang pergelaran, si tokoh berusaha membangun komunikasi atau katakanlah menyapa para penonton virtual, seperti meminta pujian dan tepuk tangan, dan lebih banyak berpetuah sembari menyoja dirinya sendiri serta mencibir berbagai hal. Pilihan kata atau kalimat yang disampaikan dalam khotbah palsu itu, termasuk teknik penekanan-penekanannya, menimbulkan bunyi yang punya pesan tertentu untuk membaca peristiwa remeh-temeh yang digambarkan.

Hemat saya, pertunjukan ini, yang dimain-tayangkan secara langsung (live) dengan bagian panggung (digital) dirancang menubuh langsung ke skena penonton, lebih tepat dikatakan sebagai tawaran kebutuhan akan nabi baru ketimbang menyoal nabi palsu. Ataupun, kalau menyoal nabi palsu, pertunjukan ini justru hendak memberikan awasan terhadap nabi atau kuasa apa saja yang ada dalam kehidupan manusia tersebab kerja nabi palsu sangatlah halus, lihai, dan gemar meninabobokan. Sihir si (calon) juru selamat betul-betul memanfaatkan segala faktor produksi dalam panggung pertunjukan, termasuk keselarasan gerakan tubuh (kaki, tangan) dengan kalimat yang dilantunkan.

Baca Juga Teater “Peti Mati”, Teologi Terlibat, dan Kaum Penjilat: Belajar dari Pastor Frans Amanue tentang Keterlibatan Pastor dalam Politik

Dari soal-menyoal nabi yang agak abstrak tadi, saya lalu dibawa pada pertunjukan-pertunjukan lain yang kurang lebih berfokus pada narasi personal-keseharian dalam hubungannya dengan kuasa-kuasa besar (Subyek).

Cerita tentang pengungsi dari Sudan (In Search of Lost Favourite Song), buruh rumah tangga dalam industri fashion (How the Ghost-worker is Dancing in Your Shoes), tenaga kerja luar negeri (Monopoly: Asylum Edition), jejak kolonialisme dan agama (Land of Sorrow), kepengaturan tubuh perempuan (On Gaze and Anonymity, or See You Don’t See Me) merupakan beberapa persoalan yang terbersit di dalamnya. Penonjolan detail gerak tubuh, kata, bahkan mimik, termasuk layar yang diberi pesona tertentu dan penempatan sorot kamera, berjalan satu padu untuk membahasakan itu.

Pergelaran Monopoly: Asylum Edition oleh Andreas Ari Dwiyanto, misalnya, mensyaratkan penonton memainkan (mengklik) dadu dalam layar, yang mana layar selain berfungsi sebagai papan main juga medium gerak performer untuk lakukan aksinya sesuai kalimat pada angka perhentian dadu.

Sorot atau mungkin lebih tepatnya footage kamera difungsikan sedemikian rupa sehingga sang aktor semacam berada dalam lubang monopoli sekaligus menunjukkan bahwa mata penonton sedang melototi atau mengawasinya, mirip seperti yang ditampilkan performer Darlene Litay dalam Dance with The Minotaur yang mana penonton bebas memilih sudut kamera penglihatan.

Pertunjukan Monopoly tadi sangat menekankan layar (papan monopoli) sebagai perspektif dengan kalimat atau kata-kata kunci di dalamnya yang kemudian dikarakterisasi oleh tokoh yang bermain. Sepintas kilas pertunjukan ini kelihatan sederhana, tetapi saya sangka itu membutuhkan ketepatan pemaknaan antara memilih-merumuskan kata/frasa pada layar monopoli dan teknik tubuh aktor waktu meresponsnya. Kuasa pertunjukan ini ada dalam kata-kata pada layar tersebut.

Agak sedikit berbeda, dua pertunjukan dari performer lainnya, Arsita Iswardhani (How the Ghost-worker is Dancing in Your Shoes) dan Venuri Perera (On Gaze and Anonymity, or See You Don’t See Me), banyak berkonsentrasi pada pengolahan energi ketubuhan mereka.

Waktu awal-awal menonton “How the Ghost-worker is Dancing in Your Shoes”, sebuah pergelaran berdurasi empat jam dan dimainkan secara live, saya merasa sedikit jenuh karena sorot kamera yang terlalu berjarak -terlepas dari tampilan dua sudut pandang yang satunya dekat ke tubuh performer– dan performativitas yang menurut saya terkesan monoton.

Namun, kekuatan pertunjukan ini justru ada pada pemaksimalan peristiwa tubuh yang ditampilkan berulang-ulang itu. Daya tahan mengolah dan menjaga energi (fisik-batin) dalam membuat gerakan tangan menirukan aktivitas para wanita pekerja, menjaga keseimbangan duduk tubuh, menampilkan emosi yang diserap dalam interaksi dengan orang-orang yang isunya tengah dibicarakan, merupakan beberapa aspek kunci selain bebunyian dan pemunculan suara (cerita) guna mengolok-olok kehidupan konsumeristis-instan masa kini (terwujud dalam penonton yang gemar bosan seperti saya) pun merefleksikan “otomatisasi” atau “mesinisasi” manusia dalam dunia kerja.

Saya lantas berpikir, sorot kamera yang jauh atau moda pengulangan gerak dalam pertunjukan ini bukanlah sekadar soal teknis, melainkan bagaimana sesuatu yang teknis menjadi bagian dari intisari ataupun pesona atas apa yang mau disampaikan; mengajak menonton menemukan simbol-simbol tertentu sekaligus ikut merasakan situasi orang-orang yang berada pada lantai paling dasar dalam kecamuk hegemoni kapital industri gaya hidup.

Pertunjukan Monopoly: Asylum Edition. Sumber gambar: Teater Garasi (urfearmpg.net).

Hal yang sama bisa pula ditilik pada lecturer performance-nya Venuri Perera. Pergelaran ini tampak bulat (padanan gagasan dan bentuk) karena performer tidak hanya sekadar menampilkan wajahnya dan berbicara dalam sorot kamera close-up, tetapi juga mengolah mimik wajah, pengaturan mata, narasi personal yang disampaikan, serta isian-isian video yang menjelaskan narasi itu.  

Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut performer, teknik perwajahan ke arah kamera, menutup muka dengan kain dan hanya mata yang muncul, dan rekaman-rekaman video tersebut semacam saling sulam-menyulam untuk sampaikan isu terkait kepengaturan (pendefenisian) tubuh perempuan, terutama di wilayah Sri Lanka.

Venuri coba membagi-bagi energi ke dalam berbagai bentuk termaktub untuk menopang isu yang mau dia sampaikan. Jika ingin diulas lagi, pertunjukan ini sebenarnya sangatlah kaya; meski menceritakan pengalaman personal sebagai seorang perempuan yang hidup dalam berbagai kungkungan rezim atur tubuh, performer berhasil sampaikan dalam suatu cita rasa tepat guna, tidak berlebihan atau tidak dilebih-lebihkan. Can you see me? Begitulah kalimat (pertanyaan) yang membuka “kuliah”-nya; Do you see me? Begitulah dia mengakhirinya.

Baca Juga Melihat Feminisme dalam Perspektif Islam

Adapun intensitas energi yang berbeda, terutama bermain-main dengan ketegangan, terasakan dalam pergelaran Land of Sorrow karya East Flores Theater Collective.

Ketegangan itu dibuka dengan nyanyian atau kidung yang kedengarannya sendu dan perlahan-lahan masuk pada aspek penceritaan, konflik (komplikasi), kemudian koda atau penutup. Meskipun kelihatannya terstruktur secara alur, apa yang dipertunjukkan malah sangatlah campur aduk, menggelindangkan emosi, dan simbol-simbol dalam spektakel itu sangat lugas menjelaskan dimensi konflik sosial-politik yang diusung; perkara beroperasinya kolonialisme dan misi (Gereja Katolik) di Flores.

Sepanjangan tontonan ini nyaris tidak ada celah untuk menarik napas sejenak ataupun hadirkan ruang sedimentasi berpikir (refleksi) tersebab tensi-tensinya yang begitu kuat; sesuatu yang saya pikir menjadi tantangan juga dalam permainan teks-teks konflik sosial, terutama berkenaan dengan kesesuaian teknik perpaduan materi dan idenya.

Namun, menariknya, adegan-adegan dalam pergelaran ini dijelujur sedemikian rupa sehingga menghasilkan tontonan ibarat film pendek berwarna hitam putih- warna yang sangat tajam menjelaskan siratan kritik di dalamnya.

Pertunjukan How the Ghost-worker is Dancing in Your Shoes. Sumber gambar: Teater Garasi (urfearmpg.net).

Dengan demikian, salah satu hal berkesan dalam menonton-menikmati Urfear: Huhu and The Multitude of Peer Gynts ini ialah bagaimana layar (laptop atau ponsel) tidak hanya menjadi medium penyampaian objek mata kamera ke mata manusia (spektator), tetapi juga menjadi salah satu faktor pemroduksian simbol, bahkan menjadi tanda atau bahasa itu sendiri, yang sebenarnya sudah ditunjukkan sejak pegelaran pertama dalam The Messiah for Dummies.

Hal ini juga turut mendefinisikan perspektif keruangan pada panggung digital dengan berbagai macam variasinya, dan bukan menjadi sesuatu yang terpisah pun sekadar alat penyampaian kode-kode dalam teknologi modern.

Jika action dalam pergelaran (teater) bukan hanya soal gerak, tetapi juga faktor-faktor lain seperti musik, cahaya, dan lain sebagainya, maka dalam pertunjukan modular ini layar barangkali juga menjadi action atau “Huhu” yang lain. Tentu saja usaha menautkan gerak/tubuh performer dengan tubuh virtual untuk memantik gerak/tubuh penonton membutuhkan banyak pertimbangan agar apa yang disampaikan bisa memberikan cita rasa tepat guna dalam suatu peristiwa bersama.

Sebagai penutup, pergelaran modular ini, baik yang dimainkan secara langsung maupun terekam sebelumnya, membantu penonton atau setidaknya saya yang menonton untuk menangkap bekerjanya agensi “Huhu” yang memotret lalu-lintas keseharian hidup manusia dan membuka sekelumit pertanyaan kritis terkait fakta kepengaturan yang bekerja entah secara langsung ataupun tidak langsung.

Poin tersebut – dalam pertunjukan ini – bahkan bisa langsung ditemukan lewat upaya pendefinisian ataupun pendiktean balik atas perangkat teknologi, yang karena situasi pandemi menjadi medium komunikasi bagi situasi teater termaksud.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa