Sains dan Agama. Ilustrasi/antinomi.org

Sains dan Agama: Lebih Baik Dipisah? [1/2]

Sains dan agama sering menjadi topik perdebatan yang aktual. Keduanya punya klaim-klaim sendiri dengan dasar argumen yang kuat.

Dalam perbincangan tentang sains dan agama, kita kerap mendengar slogan yang paralel, yaitu iman dan rasio. Sains seolah identik dengan “rasionalitas”, sedangkan perkara iman atau Tuhan identik dengan soal kepercayaan buta yang secara rasional tidak bisa dijelaskan.

Lebih jauh, yang rasional diartikan sebagai yang terukur, terbatas, dan dapat diamati. Argumen ini sangat kental unsur saintiknya.

Pemisahan yang kurang tepat ini kemudian melatarbelakangi klaim-klaim amatir seperti misalnya bahwa Tuhan tidak ada karena alam semesta ini dapat dijelaskan secara rasional seturut prinsip fisika dan matematika sampai tuntas.

Argumen seperti ini biasanya disokong dengan data empiris berupa temuan fisika yang menunjukkan gejala keteraturan yang kebetulan dalam proses-proses alam yang mekanis. Pertanyaan paling mendasar dari sudut sains ialah bagaimana menjelaskan peran Tuhan di balik proses alam semesta jika alam semesta bekerja dengan hukumnya sendiri?

Pertanyaan ini makin meruncing seiring perkembangan kosmologi yang kian sistematik terutama dengan munculnya teori big-bang yang mengklaim dapat menjelaskan asal-usul alam semesta. Akibatnya, sains dan agama kerap dipertentangkan.

Akan tetapi, pertanyaan lebih fundamental yang kemudian muncul ialah apakah klaim sains yang menolak adanya Tuhan berdasarkan data-data ilmiah mengenai proses mandiri pembentukan alam semesta dan keberlangsungannya berdasarkan ketetapan hukum-hukum fisika tidak menuai problem?

Isi tulisan ini merupakan uraian terhadap masalah tersebut dan pemecahannya.

Kosmologi Zaman Modern dan Revolusi Keilmuan

Sejak penemuan teleskop oleh Galileo pada tahun 1609, kosmologi mulai menjadi sangat observasional. Kini, bangunan-bangunan teoretis mengenai model-model alam semesta dalam kosmologi pra-ilmu yang sudah mulai berkembang sejak Aristoteles mulai diimbangi dengan kerja laboratorium.

Ciri utama zaman ini ialah pensistematisasian, yang lebih dikenal dengan istilah revolusi keilmuan. Demikian Galileo misalnya memadukan fisika dan kosmologi. Hal ini tampak dalam tulisannya tentang gerak, gravitasi pada substansi dan inti gravitasi. Kuantifikasi alam oleh Galileo tampak ketika ia menetapkan pemilahan antara kualitas primer benda (meliputi hal-hal terukur seperti bentuk, lokasi, ukuran, dan lain-lain) dan kualitas sekunder (meliputi hal-hal yang tergantung pada subjek seperti bau,warna, cecapan, dan lain-lain).

Dengan memadukan ilmu alam dengan fisika, Galileo dengan demikian menghapus tatanan dunia Aristotelian, menyimpulkan bahwa benda-benda langit merupakan benda alam, bukan benda ilahiah. Di sini, mulai tampak bagaimana kedudukanyang ilahi itu perlahan disingkirkan dari ranah sains.

Tokoh-tokoh seperti Francis Bacon, Descartes, dan Newton juga turut berperan dalam perkembangan kosmologi menjadi ilmu pengetahuan yang sistematis dan kalkulatif. Demikian Bacon misalnya melihat alam semesta sebagai suatu entitas mekanis yang bekerja pada suatu prinsip hukum tertentu.

Oleh karena itu, ilmu pengetahuan harus bersandar pada observasi ilmiah untuk dapat memahami cara kerja alam dan dengan demikian bisa menguasainya. Bacon lalu dikenal sebagai tokoh empirisme.

Selain Bacon, Descartes juga terlibat dalam revolusi keilmuan ini dengan menyumbangkan “metode” dalam filsafat, yaitu usaha mencari kepastian sebagai landasan bagi pengetahuan yang benar dan terpilah-pilah. Descartes menganggap matematika, khususnya geometri sebagai model bagi pengetahuan yang memiliki landasan kepastian yang tak dapat diragukan.

Revolusi keilmuan ini mencapai puncaknya pada Newton. Newton menerapkan kalkulus matematika ke dalam fisika dan astronomi. Ia mentransformasi prinsip-prinsip filsafat ke prinsip-prinsip matematika untuk membangun filsafat alam.

Baca Juga Populisme di Indonesia dan Alasan Kebangkrutannya

Dampak revolusi keilmuan bagi kosmologi ialah lahirnya pandangan bahwa alam semesta tersusun atas satu jenis materi (uni-verse), alam bersifat deterministik, mekanis, dan matematis. Persis pada tahap inilah pembicaraan tentang kosmos terpisah dari kata-kata kunci seperti penciptaan, Tuhan, dewa-dewi, dan lain-lain, yang menjadi unsur sentral dalam Kosmologi Pra-ilmu maupun Kosmologi Abad Pertengahan.

Unsur-unsur ini perlahan diabaikan dan dianggap tidak rasional karena hanya merupakan pengalaman subjektif atau unsur sekunder yang tidak dapat diuji kebenarannya secara ilmiah. Sebenarnya, inilah titik awal “konflik” antara sains dan agama dimana realitas direduksi atau dibatasi hanya pada hal-hal yang secara objektif teramati, sedangkan pengalaman religius-spiritual, pengalaman estetik, daya kreatif imajinatif dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan dan karena itu diabaikan. Pengalaman-pengalaman religius dalam kebudayaan modern hanya diterima sebagai emosi psikologis yang berubah-ubah.

Big-bang dan Pertanyaan tentang Tuhan

Teori Big-bang bermula dari solusi Edwin Hubble mengenai persoalan nebula spiral, yaitu apakah ada keterkaitan antara ukuran spiral pergeseran spektral dan jaraknya. Hal ini menjadi problem menarik bagi para astronom, fisikawan, dan matematikawan selama periode 1920-an.

Pada 1929, Hubble mempublikasikan rumus mengenai kesebandingan hubungan antara kecepatan menjauh galaksi dan jaraknya. Hubungan yang juga dikenal sebagai Hukum Bubble ini merupakan fakta hasil observasi yang memperlihatkan gerak saling menjauh galaksi. Demikian, Hubble menunjukkan satu temuan menarik bahwa alam semesta berkembang dan dengan demikian memiliki awal.

Sebelum Hubble, sebenarnya sudah ada matematikawan asal Rusia Alexander Friedmann (1922,1924) yang menemukan solusi bagi persamaan medan Einstein dalam teori relativitas umum, yaitu bahwa alam semesta berubah sepanjang waktu. Friedmann menyatakan bahwa alam semesta pada satu waktu lampau (antara sepuluh dan dua belas miliar tahun lalu) berada pada posisi tak terhingga, jarak antara galaksi-galaksi mesti nol.

Titik ini oleh para ahli matematika disebut singularitas (singularity). Pada titik ini, rumus matematika buyar. Sebab, kelengkungan ruang dan waktu bersifat tak terhingga, sementara matematika mengandaikan ruang dan waktu mulus dan nyaris datar.

Titik inilah yang disebut awal mula alam semesta yang memicu ledakan besar (big-bang). Apa yang dimaksud dengan awal mula alam semesta di sini tidak berarti bahwa alam semesta baru ada.

Peristiwa ledakan besar dipatok sebagai awal perhitungan matematis kita atas perkembangan ruang dan waktu karena kita tidak bisa menghitung apa-apa sebelum peristiwa big-bang. Kemampuan prediksi kita buyar di titik singularitas itu.

Setelah Friedmann, solusi serupa ditemukan oleh Georges Lemaître pada 1927 meskipun keduanya tidak saling berkontak langsung. Lemaître tidak mengenal karya Friedmann. Ia mengacu ke teori kuantum untuk menjelaskan bahwa kondisi paling dini dari alam semesta berbeda dari alam semesta kini.

Baca Juga Marx tentang Alat Produksi dan Bentuk Kepemilikan

Dengan itu, Lemaître merumuskan model alam semesta yang berkembang dan dengan demikian memiliki awal. Secara umum, awal terbentuknya alam semesta diperkirakan terjadi atas suatu ledakan besar yang dikenal dengan sebutan Big-bang tadi. Begitulah Lamaitre memberi dasar bagi model alam semesta yang mandiri.

Dalam bagian ini, kita tidak akan masuk lebih dalam tentang bagaimana kalkulasi fisika mengenai peristiwa ledakan besar yang disebut Big-bang itu. Hal yang akan dibicarakan di sini ialah bahwa perubahan besar dalam memahami proses terbentuknya alam semesta tersebut tidak bisa tidak bersinggungan dengan pembicaraan sangat lama di dunia ini mengenai Tuhan.

Siapa menyangka sains dapat memecahkan semua persoalan kosmologis yang sebelumnya dilihat sebagai manifestasi keberadaan hakikat ilahi yang tak kelihatan. Sains kini beranjak lebih jauh dalam keyakinan bahwa keberadaan alam semesta ini tidak butuh Tuhan. Tuhan bukan lagi merupakan suatu penjelasan yang sentral. Kini posisi agama pun makin tersudut.

Pertanyaan penting yang muncul di sini ialah, apakah sains menyingkirkan Tuhan yang personal?

Menolak Arogansi Sains

Kemajuan sains selain tidak bisa disangkal, tentu juga positif. Kita mesti menerima itu. Di zaman ini, menolak sains adalah satu sikap kolot dan kampungan. Itu sama sekali tidak ilmiah. Akan tetapi, antusiasme berlebihan pada sains juga tidak kurang kolotnya seperti sikap ekstrim kaum beragama yang menolak sains.

Hal yang akan saya soroti di sini bukanlah sains pada dirinya sebagai bidang kajian ilmu, melainkan sikap antusias berlebihan pada sains itu. Sikap ini disebut sebagai saintisme atau fundamentalisme sains, yakni satu sikap optimisme berlebihan pada sains yang justru kekanak-kanakan dan tidak ilmiah.

Saintisme secara sederhana berarti kepercayaan bahwa seluruh realitas adalah saintik. Karena itu, satu-satunya sumber kebenaran atau pengetahuan akan realitas adalah sains. Menurut saya, inilah akar konflik antara agama dan sains.

Jika kita bedah, alih-alih membawa kita pada pengetahuan yang pasti mengenai realitas, saintisme justru menjauhkan kita dari kebenaran itu. Saintisme justru buta terhadap realitas yang luasnya tidak sebanding dengan sains itu sendiri.

Dengan kata lain, orang-orang ini pada dasarnya lupa batas dan karena itu bisa dibilang amatir. Mereka begitu yakin bahwa seluruh realitas hanya bersifat saintik dan karena itu hanya bisa dijelaskan secara tuntas oleh sains. Mereduksi realitas sebagai sekadar realitas objektif dan melantik sains sebagai jawaban untuk semua perkara tentu keliru.

Contoh ilmuwan yang jatuh dalam kekeliruan saintisme ialah Richard Dawkins. Hal ini cukup jelas kita lihat dalam publikasinya The God Delusion, (2006).

Dawkins di situ berusaha menempatkan Allah sebagai salah satu objek kajian Sains. Baginya seluruh realitas sama saja, termasuk Allah. “Saya akan menyarankan bahwa eksistensi Allah merupakan sebuah hipotesis ilmiah seperti yang lain”, tulis Dawkins (h.72).  Hal ini diangkat oleh F. Budi Hardiman dalam tulisan lepasnya “Dawkins Dan Kemelaratan Ateisme” (28/07/2020).

Baca Juga Menyoal Relasi Agama dan Pasar di Tengah Gempuran Globalisasi Kapital

Bagi saya, cukup mudah membuktikan kekeliruan Saintisme. Kita dapat bertanya demikian, bagaimana sains menjelaskan pertanyaan mengapa alam semesta yang rasional itu lebih baik bersifat seperti itu dari pada tidak seperti itu? Apakah alam semesta mempunyai tujuan?

Di sini, sains buntu. Pertanyaan-pertanyaan ini tetap tertinggal atau tak terselesaikan oleh sains bukan karena ia belum bisa menjawab, tetapi karena ia secara metodis tidak mungkin bisa menggeluti pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan kata lain, pertanyaan-pertanyaan tersebut akan tetap ada, tidak peduli secanggih apa pun penemuan sains.

Pada titik ini, sebetulnya kita bisa melihat bahwa klaim saintisme mengenai pemutlakan sains sebagai jawaban atas segala pertanyaan tampak terlalu naif. Di sisi lain, kita perlu mengapresiasi beberapa Fisikawan serius yang justru mengakui keterbatasan sains sebagai salah satu bentuk pendekatan saja terhadap kemajemukan realitas yang mencakup kondisi fisik dan metafisik.

Satu di antaranya dari Paul Davies. Ia menulis demikian:

Saya selalu ingin percaya bahwa sains akan mampu menjelaskan semua, setidak-tidaknya secara prinsipil pun pula jika kita mengabaikan peristiwa-peristiwa adikodrati, namun sama sekali tidak eviden bahwa sains mampu untuk menjelaskan seluruh alam semesta … Jadi, masalah-masalah terakhir (The ultimate questions) tetap tinggal di luar ilmu empiris.”

Baca Juga Transformasi Relasi Sosial Menjadi Jalur Eksploitasi Ekonomi di Era Neoliberal

Adalah suatu kejelasan bahwa hal yang menjadi persoalan di sini bukanlah bahwa agama yang melihat alam semesta sebagai ciptaan menolak kebenaran observasional sains, melainkan pada kenyataan bahwa sains itu terbatas. Karena itu, ia tidak boleh mengklaim sebagai tak terbatas.

Lebih jauh, berkaitan dengan persoalan ketuhanan, sains yang berdiri pada observasi empiris memang terbatas—oleh metodenya—untuk dapat membuktikan Tuhan ada atau tidak ada. Itu bukan wilayahnya.

Inilah maksudnya jika kita berbicara tentang batas, bahwa sebagaimana yang dikatakan seorang ahli Fisika kuantum Heisenberg, rasionalitas semata-mata tidaklah cukup.

Kita harus bersedia menerima batas pengetahuan dalam menghadapi beragam pengalaman manusia. Fisika berkaitan dengan apa yang dapat kita katakan tentang alam. Sebaliknya, pertanyaan agama dalam refleksi ketuhanan sekalipun di hadapan semua fakta sains ialah menyangkut dimensi kualitatif dari semua fakta itu. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bergerak pada level metafisik yang tidak bisa dijangkau oleh ilmu ukur.

Bersambung

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »