Aspek komunikasi budaya

Aspek-aspek Komunikasi dalam Budaya “Kumpul Kope” di Manggarai

Aspek komunikasi budaya “Kumpul Kope” di Manggarai sangat kuat dirasakan. Aspek komunikasi yang dibangun dalam budaya itu, yaitu persaudaraan lintas batas.


Indonesia terdiri atas banyak pulau dan beragam budaya. Keberagaman budaya Indonesia yang datang dari berbagai daerah masih tetap dilestarikan oleh masyarakat asli di daerah tersebut. Setiap daerah memiliki kebiasaan hidup, tradisi, dan ciri khas tersendiri yang sudah menjadi identitas mereka. Mulai dari bahasa, pakaian, rumah, sampai kesenian rupa, lagu, dan tari-tarian.

Manggarai adalah salah satu daerah di Indonesia Timur yang memiliki budaya tersendiri. Salah satu budaya atau tradisi Manggarai yang sering dilakukan oleh masyarakat setempat hingga saat ini adalah kumpul kope.

Tradisi kumpul kope dimaknai sebagai salah satu bentuk solidaritas antara keluarga kerabat patrilineal, kerabat tetangga, dan kerabat kenalan dekat dalam penyelesaian biaya belis. Tradisi ini secara tidak langsung dapat menyatukan dan mempererat hubungan antara keluarga dan kerabat serta meringankan beban keluarga laki-laki dalam menyelesaikan biaya belis.

Dalam hal ini, seorang laki-laki yang hendak menikah mempunyai tanggungjawab atau utang laki-laki. Karena ia sudah dibantu oleh orang lain, maka jika orang lain meminta bantuannya dalam hal yang sama, ia harus siap dan wajib membantu. Jika tidak, orang tidak akan membantunya di masa yang akan datang. Ia pun akan dianggap sombong, kikir, dan pelit.

Kumpul Kope

Kumpul kope berasal dari dua kata Bahasa Manggarai, yaitu kumpul, artinya kumpul, berkumpul, menghimpun dan kope, artinya parang. Arti harfiah kumpul kope ialah mengumpulkan parang-parang.

Penekanan utama kumpul kope terdapat pada kata kope (parang). Kope ialah kiasan jenis kelamin laki-laki atau pria atau pengumpulan dana. Kumpul kope adalah persatuan laki-laki untuk mengumpulkan dana dalam rangka persiapan perkawinan anak laki-laki. [1]

Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dapat disimpulkan, kumpul kope adalah pengumpulan dana atas dasar persatuan keluarga kerabat laki-laki, keluarga kerabat tetangga, dan keluarga kerabat dan kenalan dekat dalam rangka persiapan perkawinan anak laki-laki atau calon mempelai laki-laki.

Tempat pelaksanan kumpul kope biasanya berlangsung di rumah keluarga calon mempelai laki-laki atau di rumah adat. Pada saat kumpul, tak ada topik pembicaraan yang baru lagi menyangkut kumpul kope. Peserta atau anggota keluarga yang datang hanya setor uang, makan bersama, bercanda ria dengan penuh rileks, santai, penuh persaudaraan dan kekeluargaan.

Yang perlu disampaikan keluarga calon mempelai laki-laki atau yang mewakili pada saat itu kepada anggota keluarga yang hadir hanyalah tentang waktu pelaksanaan perkawinan. Maksud pemberitahuan itu adalah supaya mereka hadir bersama-sama pada hari pelaksanaannya.

Oleh karena itu, kumpul kope harus dilandasi oleh rasa persatuan, persaudaraan, kekeluargaan, sikap saling membantu, dan tata bahasa yang baik dan sopan. Nilai-nilai seperti ini merupakan komitmen moral sebagai ungkapan rasa tanggung jawab sebagai mata rantai keluarga kerabat atau hubungan kekerabatan yang perlu dibina secara terus-menerus. [2]

Aspek Komunikasi dalam Budaya Kumpul Kope 

Komunikasi adalah salah satu kebutuhan penting manusia sebagai makhluk sosial. Komunikasi dapat dipahami sebagai interaksi antarpribadi melalui pertukaran simbol-simbol linguistik, yaitu simbol verbal dan nonverbal.

Harold D. Laswell mendefinisikan komunikasi sebagai hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. Komunikasi membuat manusia dapat mengetahui suatu kejadian atau peristiwa.

Melalui komunikasi, manusia dapat mengetahui peluang yang ada untuk dimanfaatkan, dipelihara, dan menghindar dari ancaman alam sekitarnya. Melalui komunikasi pula, manusia dapat mengembangkan pengetahuannya.

Komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ia diperlukan untuk mengatur pergaulan antarmanusia.

Sifat manusia yang ingin menyampaikan keinginannya dan mengetahui hasrat orang lain merupakan awal keterampilan manusia berkomunikasi secara otomatis melalui lambang isyarat, kemudian disusul dengan kemampuan untuk memberi arti setiap lambang itu dalam bentuk bahasa verbal. Usaha-usaha manusia untuk berkomunikasi lebih jauh terlihat dalam berbagai bentuk kehidupan mereka di masa lalu.

Di samping itu, komunikasi telah memperpendek jarak, menghemat biaya, menembus ruang dan waktu. Komunikasi berusaha menjembatani pikiran, perasaan, dan kebutuhan seseorang dengan dunia luarnya.

Kumpul kope adalah salah satu media tradisional yang dapat digunakan oleh masyarakat Manggarai untuk berkomunikasi dengan orang lain. Aspek komunikasi yang dibangun dalam budaya kumpul kope, yaitu persudaraan lintas batas.

Persaudaraan lintas batas ini ditandai dengan tidak adanya perbedaan pandangan masyarakat Manggarai tentang orang yang hadir pada saat acara kumpul kope. Maksudnya tidak ada perilaku yang istimewa antara yang satu dengan yang lainnya.

Baca Juga Kedudukan Perempuan Manggarai dalam Budaya “Lonto Leok”: Satu Kritik dan Tiga Rekomendasi

Dalam tradisi kumpul kope, persamaan tidak lagi menjadi dasar persahabatan dan persaudaraan. Karena persamaan itu bukan berarti sahabat, saudara atau keluarga. Jika kehadiran orang lain (hae reba) didasarkan karena adanya persamaan, di sana tidak ada nilai kekeluargaan. Persaudaraan dalam tradisi kumpul kope ini tidak didasari pada kesamaan tertentu.

Sebab, persaudaraan atas dasar persamaan dapat melahirkan sikap fundamentalisme. Persaudaraan semacam ini mereduksi arti persahabatan: seseorang disebut sahabat sejauh sama.

Konsekuensinya, yang berbeda tidak didekati sebagai sahabat, melainkan sebagai lawan atau musuh dan relasi tidak dilandasi oleh rasa cinta. Mereka bersembunyi di balik kata persaudaraan, dimanteli oleh afirmasi persaudaraan. Padahal, ada tujuan tersembunyi di baliknya.

Dalam tradisi kumpul kope, kita akan menemukan persahabatan yang dibicarakan oleh Aristoteles. Dia mengatakan, persaudaraan itu mengatasi keutamaan keadilan. Sebab, dalam persahabatan atau persaudaraan, pasti ada sikap saling memberi, memperhatikan, dan menghormati.

Afirmasi pikiran Aristoteles ini juga terdapat dalam tradisi kumpul kope Manggarai. Kiranya pandangan yang dikemukakan oleh Aristoteles membantu masyarakat Manggarai untuk melihat universalitas persaudaraan dalam tradisi kumpul kope di Manggarai.

Tradisi kumpul kope merupakan suatu tradisi yang sangat menekankan pentingnya keterlibatan orang lain. Keterlibatan di sini lebih pada kehadiran yang mencintai.

Kumpul kope adalah kumpulan para pemuda yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, terutama untuk sahabat mereka yang akan menikah. Melalui acara kumpul kope, masyarakat Manggarai memperluas jaringan kebersamaan, jaringan kekeluargaan. Sebab, yang hadir dalam acara kumpul kope itu sendiri bukan hanya keluarga kandung, melainkan sahabat, kenalan, dan lain sebagainya.

Kumpul Kope: Media Komunikasi yang Efektif

Komunikasi yang efektif dalam budaya kumpul kope telah dimanfaatkan sebagai sarana unutk menyampaikan pesan. Baik berupa bahasa verbal maupun nonverbal: ucapan, tulisan, bahasa tubuh, dan lain sebagainya.

Dalam budaya kumpul kope di Manggarai, komunikasi yang efektif dapat dilihat apabila mereka berkumpul dalam satu rumah atau kelompok. Di sana, setiap orang saling menghargai satu sama lain. Apabila pihak keluarga laki-laki ingin memberikan informasi penting, maka semua orang yang ada di dalam rumah tersebut diam dan mendengarkan pembicaraannya.

Selain itu, dalam budaya kumpul kope, sikap ramah sangat ditekankan. Masyarakat Manggarai sangat menjunjung tinggi sikap ramah dengan orang lain.

Dalam membangun relasi dengan orang lain, maka yang perlu diperhatikan oleh orang Manggarai adalah bersikap ramah, sopan, dan menyenangkan agar muncul rasa nyaman dalam berkomunikasi. Sikap arogan, egois, dan temperamen dalam budaya kumpul kope harus dihindari karena dapat membuat orang lain atau sesama menjadi tidak nyaman dan merasa terganggu dalam membangun komunikasi.

Budaya kumpul kope juga menekankan pentingnya sikap saling terbuka satu sama lain. Sikap ini sangat diperlukan untuk memastikan tidak ada hal-hal yang ditutup-tutupi yang dapat memicu sebuah konflik di antara sesama. Sikap saling terbuka ini dapat dilakukan dengan menceritakan apa yang sedang dirasakan baik dari keluarga laki-laki maupun keluarga yang datang untuk membantu keluarga laki-laki tersebut.

Budaya kumpul kope di Manggarai masih terus dilakukan oleh masyarakat tersebut. Masyarakat Manggarai yakin dan percaya bahwa budaya ini dapat membantu meringankan beban, khususnya yang berkaitan dengan finansial. Budaya kumpul kope ini masih efektif sampai sekarang dan tidak akan hilang sampai kapan pun.

Kesimpulan

Setelah menelusuri aspek-aspek komunikasi yang terkandung dalam budaya kumpul kope di Manggarai, maka budaya ini layak disebut sebagai media komunikasi. Sebab, ia mengandung nilai etika, moral, persaudaraan, kekeluargaan, sikap ramah, dan terbuka satu sama lain.

Masyarakat Manggarai diharapkan dapat memelihara kelangsungan tradisi kumpul kope. Tradisi ini perlu dipelihara karena salah satu fungsinya adalah menjadi media komunikasi tradisional yang dapat mempersatukan dan mempererat tali persaudaraan di antara sesama.


Catatan Kaki

[1] Adi M. Nggoro, Budaya Manggarai Selayang Pandang, (Ende: Nusa Indah, 2006), hlm. 86.

[2] Ibid., hlm. 91.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa