Antara Jalan Turun dan Spiritualitas

Antara Jalan Turun dan Spiritualitas “Jalan Turun”: Catatan untuk Eric Pati dan Bonefasius Zanda

Antara jalan turun dan spiritualitas jalan turun, terdapat pelajaran yang bisa kita petik dari kritik Saudara Bonefasius Zanda.

Tidak dapat disangkal bahwa menurut hakikatnya manusia adalah pribadi atau seorang makhluk individual. Namun, juga tidak dapat disangkal, manusia berhubungan dengan makhluk-makhluk lainnya, termasuk manusia lain.

Manusia hidup bersama dan menjalin hubungan dengan orang lain. Kebersamaan dan hubungan dengan orang lain merupakan unsur mutlak dalam hidup manusia.

Titik pangkal hubungan dengan orang lain adalah “aku – engkau”, yakni hubungan subjek-subjek. Hubungan itu timbal balik, aktif, dan saling membantu mewujudkan suasana hubungan tersebut.

Dalam hubungan yang sejati itu, “engkau” hadir. Namun, kehadirannya seolah-olah berada di luar kekuasaanku. Karena “engkau” hadir, maka terbina hubungan “aku – engkau” itu.

Perjumpaan merupakan awal hubungan  yang sejati. Kehadiran engkau menandai hubungan “aku – engkau”. “Engkau” itu nyata dan dinamis. “Engkau” yang demikian itu mengacu kepada “engkau yang abadi“, yang mendasari, membaharui, serta mengabadikan hubungan “aku – engkau” di antara manusia.

Aku (ego) mendapat prioritas utama. Prioritas mengaburkan bahkan meniadakan segi-segi penting lainnya dari “yang lain”. Kesadaran akan “aku” hanya memasukkan “yang lain” ke dalam si “aku”.

Yang lain hanya merupakan bagian dari si “aku.  Dalam “yang lain” termasuk juga “yang lain”. Dia selalu muncul. Tidak pernah si “aku” mengetahui “yang lain” itu sehabis-habisnya.

Untuk mengetahui yang lain sehabis-habisnya perlu suatu perjalanan. Perjalanan yang membutuhkan spriritualitas jalan turun.

Baca Juga Jawaban atas Resah Realitas Gereja Katolik Universal Hari Ini: Catatan atas Opini Bonefasius Zanda tentang Spiritualitas Jalan Turun

Spiritualitas jalan turun merupakan bentuk totalitas pelayanan. Seseorang yang menghayati spiritualitas jalan turun harus mampu menjadi pelayan bagi sesamanya. Pelayanan dalam berbagai aspek kehidupan zaman ini membutuhkan spiritualitas jalan turun. 

Dalam artikel “Spiritualitas Jalan Turun dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Toleransi dan Kualitas Iman Umat Katolik: Studi Kasus pada Gereja Paroki Santo Paulus Jerubu’u”, Penulis Bonefasius Zanda telah berusaha menggambarkan situasi kehidupan masyarakat dan umat di paroki tersebut yang mungkin saja membutuhkan suatu pendekatan yang lebih humanis, yang oleh Saudara Bonefasius Zanda dikatakan spiritualitas jalan turun.

Zaman globalisasi menjadikan segalanya berubah. Pergeseran tatanan kehidupan terpampang di depan mata. Jika ruang studi kasus diperluas, maka hal spiritualitas jalan turun tidak hanya untuk umat Paroki Jerebu’u, melainkan menyangkut kehidupan umat manusia di atas bumi ini.

Spiritualitas jalan turun itu mesti diterapkan di segala aspek kehidupan manusia. Tokoh politik diagung-agugkan, padahal bupati dan anggota DPR dipilih untuk melayani. Gaya hidup dipertuanagungkan.

Ini pun sering muncul pada pribadi segelintir pastor. Misalnya, pastor ingin makan masakan enak, padahal berbanding terbalik dengan kehidupan umat yang dilayani. Ketika diminta merayakan misa, ditanya di rumah siapa? Misa di rumah bupati atau Sekretarias Daerah (Sekda) pasti dengan cepat dilayani. Akan tetapi, kalau di rumah orang tak berpunya pasti ada saja alasan.

Hal-hal kecil ini yang menurut Bonefasius Zanda perlu diperhatikan serius. Sebab, menjadi pemimpin sesungguhnya adalah menjadi pelayan.

Saudara Eric Pati melalui artikel berjudul “Penulis Harus “Jalan Turun” Terlebih Dahulu: Tanggapan terhadap Tulisan Bonefasius Zanda” menanggapi artikel Saudara Bonefasius Zanda di atas. Pada paragraf kedua, Saudara Erik berusaha menggambarkan keadaan geografis Jerubu’u.

Pada paragraf kedua itu, saya akhirnya paham mengenai pemahaman jalan turun Saudara Eric. Eric mungkin gagal paham tentang spiritualitas jalan turun. Eric hanya mengerti jalan turun. Karena itulah Saudara Eric mengajukan pertanyaan, bagaimana jika titik mulainya adalah dari bawah?

Baca Juga “Spiritualitas Jalan Turun dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Toleransi dan Kualitas Iman Umat Katolik: Studi Kasus pada Gereja Paroki Santo Paulus Jerebu’u

Bagi saya, entah secara geografis, titik awal ada di puncak (atas) atau dari lereng/lembah (bawah), pendekatan pelayanan hendaknya berpedomankan pada spiritualitas jalan turun. Spiritualitas yang menghendaki pelayanan secara total dan humanis.

Bagaimana jika titik mulainya adalah dari bawah? Saudara Erik sendiri menjawab pertanyaan retoris ini, “mungkin spiritualitasnya bisa diubah dari jalan turun menjadi jalan naik”.

Dalam pemahaman saya, Saudara Erik menginginkan spiritualitas jalan turun diubah dengan spiritualitas dipertuanagungkan. Mungkin saja Saudara Eric gagal paham dengan spiritualitas jalan turun karena pemahamannya pada sistem pelayanan pemerintahan sekarang yang bottom-up, tidak lagi top-down.

Pelayanan pemerintah baik secara top-down maupun bottom-up bertujuan mendengar aspirasi masyarakat. Sementara yang dinginkan Saudara Bonefasius Zanda adalah seorang pemimpin harus dapat melayani dengan sungguh dalam spiritualitas jalan turun.

Saudara Eric juga meminta Saudara Bonefasius Zanda (Penulis) untuk jalan turun. Menurut saya, meski masih banyak kekurangan, Saudara Boy telah berupaya jalan turun untuk mengungkapkan suatu metode pendekatan yang namanya spiritualitas jalan turun.

Mengapa harus spiritualitas jalan turun?

Meski studi kasus sebatas Paroki Jerubu’u, Boy membaca dengan sangat cermat keadaan Gereja Katolik dewasa ini. Artikel itu cukup memberi dampak kepada tokoh masyarakat, tokoh politik, dan pemuka agama dalam melakukan tugas dan pelayanan. Spiritualitas jalan turun yang dikemukakan Bonefasius Zanda mempengaruhi pola pelayanan para pemimpin kepada masyarakat dan umat.

Spiritualitas jalan turun merupakan suatu pendekatan pelayanan solidaritas. Pelayanan solider sebagai upaya mempertahankan hubungan antarmanusia merupakan suatu yang konstruktif dalam eksistensi manusia.

Sebab, bereksistensi adalah bereksistensi dengan yang lain. Bereksistensi dengan yang lain menunjukkan suatu yang lebih mendalam dari pada bersama secara kelihatan saja.

Eksistensi itu mencapai perwujudannya yang paling tinggi dalam kasih. Karena itu, hubungan antarmanusia juga mencapai kesempurnaannya dalam hubungan yang ditandai dengan cinta kasih.

Baca Juga Penulis Harus “Jalan Turun” Terlebih Dahulu: Tanggapan terhadap Tulisan Bonefasius Zanda

Berbicara tentang manusia dan pranata sosial sebenarnya sama saja dengan berbicara tentang sosialitas manusia dalam sosietas. Yang dimaksud dengan sosietas adalah kebersamaan yang bersifat reflektif, kebersamaan  yang tematis. Sosietas mengandaikan adanya pribadi-pribadi.

Yang dimaksud sosietas dalam manusia di sini adalah interaksi antara orang yang satu dengan yang lain. Interaksi itu punya pola sendiri, dan karena itu juga punya coraknya sendiri. Sosietas merupakan suatu keseluruhan.

Keseluruhan itu dapat dijelaskan dengan model drama peran. Sebagaimana halnya drama, sosietas mencirikan peran para anggotanya. Sosietas pun mempunyai makna, pengungkapan, serta tujuannya sendiri. Semua itu tercapai jika para pemainnya berperan sesuai dengan perannya dan dalam kerja sama dengan para pemain lain.

Berlatar belakang ilmu sosial, Bonefasius Zanda memahami benar mengenai teori drama-peran. Setiap orang tentu saling berinteraksi dalam kehidupannya. Dalam interaksi itu, Boy Zanda menawarkan suatu bentuk pelayanan solidaritas yang dinamainya spiritualitas jalan turun.

Berada di puncak memang indah dan megah. Namun, ada banyak godaan. Ketika seseorang memiliki kekuasaan kadang lupa diri bahwa masih banyak orang yang ada di lembah atau lereng yang membutuhkan bantuannya. Ia lupa bahwa ia berada di puncak karena mereka yang di lembah.

Oleh karena itu, seorang pemimpin harus dapat berjalan turun untuk melayani mereka yang berada di lembah atau lereng. Melayani dengan hati dan totalitas diri.

Berjalan turun tidak menjadikanmu terpuruk, melainkan menjadikanmu berdiri kokoh. Sebab, sesungguhnya tumpuan puncak gunung ada pada lembah atau lereng yang ada di bawah. Inilah spiritualitas jalan turun.


Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa