Aki Yagi

Akiko “Aki” Yagi, Anarkis-Feminis dari Jepang

Empat tahun setelah menikah, Aki Yagi menceraikan suaminya. Dia menyadari, pandangan-pandangan progresifnya yang tengah berkembang sungguh bertolak belakang dengan pemikiran tradisional lelaki itu.

Akiko, atau Aki, Yagi lahir pada 6 September 1895 di Fukushima-co di wilayah bagian Nagano, Jepang. Saat berusia 23 tahun, dia menikah dengan Rokuro Furuyama, dan setelah melahirkan putra mereka, Kenichiro, dia menyadari pandangan-pandangan progresifnya yang tengah berkembang sungguh bertolak belakang dengan pemikiran tradisional suaminya. Pada usia 27 tahun atau empat tahun setelah menikah, dia menceraikan lelaki itu dan meninggalkannya beserta anak mereka.

Tentu tindakan tersebut nyaris tak pernah terdengar di Jepang sebelumnya. Aki Yagi mengenang dan mengungkapkan itu, “Setelah menikah saya perlahan-lahan menyadari kalau saya sudah membuat kekeliruan. Kepekaan kami amatlah berbeda….Memang ada keluarga, ada rumah tangga, tetapi tidak ada makhluk manusia dan terlalu banyak pekerjaan yang tidak bisa saya topang….Saya tidak menyesali kehidupan masa lalu saya meskipun itu sulit dijalankan. Seorang wanita yang menelantarkan anaknya praktis tidak punya cerita di Jepang. Bercerai sama saja dengan bunuh diri.”

Aki lalu bekerja sebagai guru sekolah dasar dan memulai aktivitas menulis sebagai seorang reporter pada koran Tokyo Nichinichi Shimbun. Dia juga menulis untuk sebuah majalah anak-anak dengan editor Mimei Ogawa, kemudian terlibat dalam kursus-kursus pendidikan bagi pekerja dan serikat buruh yang mana dia pertama kali tertarik secara serius dengan gerakan Marxis. Dia mempelajari anarkisme di Akademi Buruh, berjumpa dengan seorang anarkis bernama Akira Miyazaki (1889-1977), dan setelah itu benar-benar menjadi seorang anarkis.

Baca Juga Emma Goldman dan Anarkisme Tanpa Pelabelan

Pada tahun 1928, Aki menjadi kontributor dan staf editorial Nyonin Geijutsu (Women’s Arts), sebuah majalah wanita berfokus pada isu feminisme, aktivitas seni, dan karya sastra. Majalah, yang terbit pada Juli 1928 dan berhenti Juni 1932, itu dieditori Shigure Hasegawa dan Aki Yagi banyak menulis reviu dan roman. Secara umum majalah ini berkonsentrasi pada pembebasan kaum wanita entah lewat karya seni ataupun karya sastra lainnya. Dalam perkembangannya, Nyonin Geijutsu  menjadi sangat berpengaruh dan perlahan-lahan mulai menerbitkan fiksi proletariat yang lebih condong ke sosialisme dan menerbitkan laporan-laporan dari Uni Soviet. Jangkauan penulisnya sangat luas, termasuk penulis Marxis Yukiko Nakashima, anarkis Yuriko Mochizuki, dan tentu saja Aki Yagi sendiri.

Adalah Aki Yagi yang pertama kali menggulirkan perdebatan “Ana-Boru” (Anarkis-Bolshevik) sehingga banyak mendapat perbincangan pada berbagai majalah waktu itu. Women’s Arts menginisiasi debat  tersebut di halaman-halaman mereka sejak Juli 1929 hingga Januari 1930. Dan semuanya berawal dari surat terbuka Aki Yagi kepada Shigeyoshi Fujimori. Perempuan anarkis lain yang turut nimbrung adalah Itsue Takamure, Masae Matsumoto, dan Yuriko Mochizuki. Mereka ini, pada Februari 1930, mendirikan Liga Seniman Wanita Proletariat (Musan Fujin Geijutsu Renmei) dan menerbitkan lembaran anarkis-feminis Fujin Sensen (Women’s Front) dengan Takamure sebagai editornya. Para kontributor yang berkecimpung seperti Shizuka Jo dan Raicho Hiratsuka.

Fujin Sensen tidak segan-segan mengkritisi anarkis laki-laki. Itu tampak dalam artikel Masae Matsumoto yang mengkritik Kropotkin dan Bakunin atas sikap berlebihan mereka ke kaum wanita, dan tidak ada ruang sama sekali untuk Piere-Joseph Proudhon. Isu lain yang dibahas menyoal kontrol kelahiran, relasi seksual, kritik atas keluarga tradisional, dan bagaimana mengatasinya. Tak pelak pemerintah akhirnya melarang peredaran majalah itu tahun 1931.

Baca Juga Komunisme atau Barbarisme, Sesederhana Itu! [Terjemahan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”] (11)

Aki Yagi juga berkontribusi untuk majalah anarkis lain, yaitu Kokushoku Simba (Black Front); di dalamnya dia tergabung dengan anarkis Ono Tozaboru dan Akiyama Kiyoshi.

Di samping itu bersama Miyazaki Akira, Suzuki Yasuyuki, dan beberapa rekan, dia mendirikan asosiasi Noson Seinensha (Society of the Rural Youth) pada bulan Februari 1931. Sejarah asosiasi pedesaan anarkis-komunis ini sempat dibahas oleh Philippe Pelletier dalam artikelnya perkara Anarko-Sindikalisme di Jepang: 1911-1934. Aki Yagi lalu menarik perhatian banyak pihak karena penentangannya atas pendirian negara boneka-nya Jepang, Manchukuo,  pada 1 Maret 1932. Di lembaran-lembaran surat kabar Noson Seinensha  Aki katakan negara boneka  tidak lain merupakan negara budak dan dia serukan perlawanan atas imperialisme.

Aki Yagi pun pernah ditangkap atas tuduhan terlibat pencurian guna mendanai Noson Seinensha. Empat tahun kemudian dalam persidangan Noson Seininsha (1935) dia dijatuhi hukuman penjara 2 tahun 6 bulan dengan dakwaan melanggar Undang-Undang Keamanan

Usai jalani masa hukuman, Aki pindah ke Manchuria dan bekerja sebagai pramuniaga di Mantetsu, perusahaan kereta api di Manchuria selatan, tepatnya cabang Shinkyo. Di Shinkyo, dia menjalin pertemanan dengan Nobuko Nakhasima -seorang feminis sekaligus anggota Partai Komunis- yang pernah dia jumpai di Tokyo tahun 1925 dan berasosiasi dengan sejumlah tahanan politik, seperti anarkis Ikumasa Funaki (nama aslinya Nobori, lahir tahun 1912) yang sempat ditangkap juga karena publikasi terkait anarkisme.  

Menjelang akhir Perang Dunia II, Uni Soviet mendeklarasikan perang terhadap Jepang dan menginvansi Manchuria tahun 1945. Aki Yagi terpaksa kembali ke Jepang. Temannya, Nobuko Nakashima, diperkosa oleh sekelompok tentara Merah dan kemudian bunuh diri; kabar yang tinggalkan kesan mendalam bagi Yagi.

Baca Juga Gerakan Petani di Era Demokrasi Terpimpin: Catatan atas Buku Rex Mortimer “Indonesian Communism Under Soekarno”

Di Tokyo Aki Yagi menjadi ibu asrama untuk anak-anak di tempat usaha milik kerabatnya. Dia tidak banyak lagi terlibat dengan aktivitas gerakan anarkis. Sepantaran dengan itu, putranya Kenichiro, yang telah sekian lama terpisah, meninggal dunia. Aki Yagi pun hanya fokus menjadi ibu asrama, lalu mendirikan Asosiasi Rehabilitasi Ibu dan Anak. Dia pensiun pada 1963 seiring dengan penataan organisasi tersebut.

Sejak tahun 1967 dia tinggal di apartemen mungil di Kiyose-Tokyo sepuluh tahun lamanya. Pada Desember 1976, dia masuk panti jompo tetapi kembali pulang dengan tetap memberi kabar. Inilah yang memungkinnya menerbitkan 15 edisi buletin pribadi, Harakuna, dan menghasilkan tiga jilid memoar.

Pada 30 April 1983, Akiko “Aki” Yagi meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Saat pemakaman, seorang kamerad lama dari Noson Seinensha, Junji Hoshino, memberikan penghormatan terakhir kepadanya.

  • Artikel biografi ini, yang pertama kali terbit di libcom.org dengan judul Akiko Yagi (1895-1983), diterjemahkan oleh Elvan De Porres dan diterbitkan ulang di sini untuk kepentingan pendidikan.

Empat tahun setelah menikah, Aki Yagi menceraikan suaminya. Dia menyadari, pandangan-pandangan progresifnya yang tengah berkembang sungguh bertolak belakang dengan pemikiran tradisional lelaki itu.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »