Budaya patriarki dan legitimasi praktik kekerasan. Ilustrasi/scrumaka.wordpress.com

Budaya Patriarki dan Legitimasi Praktik Kekerasan dalam Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan [2/Habis]

Budaya patriarki dan legitimasi praktik kekerasan dalam Masyarakat Meto, Timor Tengah Selatan, secara berurutan merupakan sebab satu terhadap lainnya.




Legitimasi Kekerasan dalam Masyarakat Meto

Menurut Galtung sebagaimana diuraikan Herlambang, terjadinya kekerasan baik secara langsung maupun tidak langsung (kekerasan struktural) disebabkan oleh legitimasi produk-produk kebudayaan seperti ideologi, bahasa, karya seni, tanda, simbol, dan sebagainya. [1] Dengan demikian, munculnya praktik kekerasan dalam Masyarakat Meto disebabkan oleh legitimasi produk kebudayaan setempat.

Sebagian besar Masyarakat Meto menganut budaya patriarki. Secara umum, budaya patriarki didefinisikan sebagai budaya yang mementingkan garis keturunan laki-laki. Budaya patriarki muncul sebagai bentuk kepercayaan bahwa laki-laki memiliki kedudukan lebih tinggi daripada perempuan. Alhasil, laki-laki Meto cenderung dilihat sebagai ‘yang pertama dan utama’ (pewaris, pemegang kekuasaan, dan pengambil keputusan) sedangkan perempuan Meto cenderung disubordinasikan. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa praktik-praktik kekerasan yang terjadi dalam Masyarakat Meto memperoleh legitimasi dari produk-produk budaya patriarki.

Hal tersebut ditegaskan kembali melalui hasil studi The SMERU Research Institute. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kekerasan yang tejadi, khususnya terhadap perempuan di Kabupaten Timor Tengah Selatan disebabkan oleh posisi dominan laki-laki terhadap perempuan. [2] Dengan kata lain, kekerasan tersebut terjadi karena adanya legitimasi dari produk budaya patriarki dalam Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan.

Kata legitimasi sebagaimana ditulis Galtung dalam Herlambang memiliki hubungan dengan praktik kekerasan. Artinya, kekerasan tersebut dilegitimasi oleh produk-produk budaya sehingga dapat dibenarkan secara ideologis agar masyarakat dapat melihat praktik kekerasan tersebut sebagai sesuatu yang wajar terjadi. [3] Oleh karena itu, dapat dikatakan, pembenaran terhadap praktik kekerasan melalui produk kebudayaan merupakan sebuah bentuk kekerasan yang disebut sebagai kekerasan budaya.

Alternatif Peminimalisasian

Galtung mengakui, kekerasan budaya sulit diukur, walaupun memberikan pengaruh besar bagi masyarakat. Menurut Galtung, hal ini disebabkan oleh sifat budaya yang permanen. Artinya, secara esensial selalu bersifat sama dan memberikan transformasi yang lamban bagi perubahan. [4]

Kesulitan tersebut tidak menutup niat Galtung untuk mencari alternatif dalam meminimalisasi praktik kekerasan budaya dalam masyarakat. Menurut Galtung, lawan dari kekerasan adalah perdamaian, sehingga lawan dari kekerasan budaya adalah perdamaian budaya. [5]

Sependapat dengan Galtung, Muthien dan Combrinck sebagaimana dikutip Herlambang menulis:

Jika seseorang mengeliminasi kekerasan fisik (termasuk kekerasan gender), maka ia akan mendapatkan perdamaian langsung. Jika seseorang mengeliminasi kekerasan struktural (termasuk seksisme dan rasisme) dan mentransformasikan institusi-institusi yang terkait secara benar, maka ia akan mendapatkan perdamaian struktural. Jika seseorang mengeliminasi kekerasan budaya (termasuk cara berpikir dan hidup), maka ia akan mendapatkan perdamaian budaya. [6]

Baik kekerasan langsung maupun kekerasan tidak langsung (kekerasan struktural) yang terjadi dalam Masyarakat Meto sebagaimana diuraikan di atas, memperoleh dasar legitimasi dari produk-produk budaya patriarki. Untuk itu, alternatif peminimalisasian kekerasan tersebut mesti terjadi pada tubuh budaya patriarki itu sendiri. Artinya, perlu ada penyadaran terhadap bentuk-bentuk pemaknaan baru dan seimbang mengenai produk-produk budaya patriarki yang dianut oleh Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan.

Baca Juga Makna Semiotik “Ike-suti” dan “Suni-auni” dalam Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan

Penyadaran terhadap bentuk pemaknaan baru terhadap produk-produk budaya patriarki dalam Masyarakat Meto diuraikan sebagai berikut.

Pertama, Penyadaran terhadap pemaknaan baru dan seimbang mengenai tanda dan simbol budaya dalam Masyarakat Meto. Tanda dan simbol budaya yang dimaksudkan ialah artefak-artefak budaya, karya sastra, bahasa adat, seni dan pengetahuan. Hal ini penting karena tanda dan simbol budaya memiliki peran dalam menciptakan, memelihara, dan mentransformasikan nilai-nilai moral dalam Masyarakat Meto.

Kedua, penyadaran terhadap pemaknaan baru dan seimbang mengenai ideologi patriarki dalam Masyarakat Meto. Hendaknya, ideologi ini tidak dimaknai secara langsung, seperti pemaknaan sempit akan kekuasaan laki-laki terhadap perempuan dalam Masyarakat Meto. Ideologi ini mesti memperoleh penyesuaian yang mendalam melalui pengalaman praktis sehari-hari – bahwa perempuan Meto juga memperoleh peran penting dalam Masyarakat Meto, sedangkan laki-laki Meto memperoleh peran sebagai penolong yang sepadan, sehingga term menguasai yang sering diidentikkan dengan budaya patriarki dalam Masyarakat Meto ditransformasi maknanya dengan menolong atau melindungi.

Ketiga, memasukkan nilai-nilai penyeimbang dan mempertegas budaya konsensus (consent culture). Mempertegas budaya konsensus berarti Masyarakat Meto secara umum (pemerintah dan komunitas budaya) dan para tua-tua adat secara khusus duduk bersama untuk membuat kesepakatan mengenai transformasi makna yang diproduksi oleh budaya patriarki, berupa ideologi, tanda, simbol, karya seni dan sastra. Tranformasi makna tersebut mesti dilandaskan pada nilai-nilai penyeimbang, sehingga dapat meminimalisasi kekerasan baik secara langsung maupun struktural dalam Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan.

Budaya patriarki dan legitimasi praktik kekerasan. Infografis/NTT PROGRESIF
Budaya patriarki dan legitimasi praktik kekerasan. Infografis/NTT PROGRESIF

Kesimpulan

Kekerasan ternyata tidak hanya disebabkan oleh tirani militer dan politik, tetapi juga produk-produk budaya tertentu. Salah satunya ialah budaya patriarki yang dianut oleh sebagian besar Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan. Budaya patriarki dalam Masyarakat Meto cenderung menomorsatukan kaum laki-laki. Kaum laki-laki dianggap sebagai yang kuat, sedangkan kaum perempuan dianggap sebagai yang lemah (disubordinasikan). Akibatnya, berbagai bentuk praktik kekerasan pun terjadi.

Berdasarkan uraian di atas, saya menyimpulkan, kecenderungan kekerasan yang  terjadi dalam Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan, salah satunya ialah sebab dari budaya patriarki yang terepresentasi dalam bentuk produk-produk budaya seperti ideologi, bahasa, karya seni, tanda, simbol, dan sebagainya.

Tentu, tidak mudah meminimalisasi praktik-praktik kekerasan dalam Masyarakat Meto yang menganut budaya patriarki. Oleh karena itu, salah satu alternatif ialah penyadaran terhadap bentuk-bentuk pemaknaan baru dan seimbang mengenai produk-produk budaya patriarki yang dianut oleh Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan. Untuk mencapai hal tersebut harus, ada kerjasama yang maksimal baik Masyarakat Meto secara umum (pemerintah dan komunitas budaya) maupun para tua adat setempat.


Catatan Kaki

[1] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Paska 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme melalui Sastra dan Film, op. cit., hlm. 35.

[2] Ana Rosidha Tamyis, Niken Kusumawardani, dan Fatin Nuha Astini, Laporan Penelitian SMERU: Laporan Tematik Studi Midline MAMPU Tema 5: Pengurangan Kekerasan terhadap Perempuan, ed. Gunardi Handoko, loc. cit.

[3] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Paska 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme melalui Sastra dan Film, op.cit., hlm. 37.

[4] Ibid.

[5] Ibid., hlm. 38.

[6] Ibid

Bibliografi

Anetong, Fadly. “Letusan Senjata Api Simbol Penjajahan Baru di Besipae [Pernyataan Sikap Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Kupang”. NTT PROGRESIF,  11 November 2020. https://nttprogresif.com/2020/08/19/letusan-senjata-api-simbol-penjajahan-baru-di-besipae-pernyataan-sikap-front-mahasiswa-nasional-fmn-cabang-kupang.html.

http://ttskab.go.id/profil-daerah/letak-georafis, diakses pada 10 November 2020.

Herlambang, Wijaya. Kekerasan Budaya Paska 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi  Anti-Komunisme melalui Sastra dan Film. Serpong: Marjin Kiri, 2013.

Kota, Dion. “Tekan Angka Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, Dinas P3A Gelar Kampanye Masif”. Pos-Kupang 11 November 2020. poskupang.com.

Rosidha Tamyis, Ana, Niken Kusumawardani, dan Fatin Nuha Astini. Laporan Penelitian SMERU: Laporan Tematik Studi Midline MAMPU Tema 5: Pengurangan Kekerasan terhadap Perempuan, Ed. Gunardi Handoko. Jakarta: The SMERU Research Institute, 2019.

Saputra Turu, Marianus Feynolda. “Makna Semiotik Ike-suti dan Suni-auni dalam Masyarakat Meto di Timor Tengah Selatan”. NTT PROGRESIF, 11 November 2020. https://nttprogresif.com/2020/10/06/semiotika-ike-suti-dan-suni-auni-masyarakat-meto-di-tts.html.

.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa