Imam Katolik. Foto/hidupkatolik.com

Peran Imam Katolik di Era Perkembangan Teknologi

Peran imam Katolik di era teknologi sangat dibutuhkan. Ia harus tahu soal teknologi media dan dapat memberikan pendampingan yang lebih baik.

Pengantar

Kita sedang hidup di era globalisasi. Di era globalisasi ini, proses perubahan terjadi begitu cepat dan hampir menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia. Perubahan itu dialami oleh siapa saja tanpa mengenal batas umur dan status. Ada pelbagai akibat dari proses perubahan di era globalisasi. Siapa pun yang hidup di era globalisasi ini pasti mengalami akibat perkembangan dunia yang semakin pesat itu.

Globalisasi diakui telah membawa ekses ganda dalam kehidupan manusia. Ia telah merombak kehidupan manusia dan membawanya pada kehidupan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Di satu sisi, kita mengalami dampak baik dari globalisasi ini. Namun, di sisi lain, kita juga mengalami dampak yang buruk.

Pada tataran yang positif, globalisasi telah mengantar kita kepada aneka kemudahan dalam proses komunikasi dan pertukaran informasi berkat terciptanya ragam teknologi canggih. Namun, pada tataran yang negatif, secara kasat mata, kita dapat melihat adanya pergeseran dalam dunia kita sekarang, teruatama dalam cara kita bergaul dan berkomunikasi dengan sesama.

Hal ini tak terkecuali kita alami juga dalam kehidupan sebagai umat Katolik. Bersamaan dengan perkembangan globalisasi, umat Katolik mau tidak mau juga terpengaruh dalam pelbagai aspek kehidupannya.

Dalam konteks ini, peran para imam dan gembala menjadi urgen. Peran para imam sangat dibutuhkan di era globalisasi agar proses perubahan yang terjadi dapat berlangsung positif. Dalam tulisan ini, Penulis mencoba melihat peran para imam di era perkembangan teknologi sekaligus memberikan tawaran solusi untuk menghadapi perkembangan tersebut.

Siapa Itu Imam?

Konsili Vatikan II dalam dokumen Presbyterorum Ordinis menjelaskan pengertian imam dalam hubungan dengan dua jenis imamat yang diterima, yaitu imamat umum dan imamat khusus. Imamat umum adalah imamat yang diterima semua umat beriman sejak dibaptis sebagai wujud persatuan dan peran serta dalam imamat Kristus. Imamat khusus adalah imamat yang diterima anggota Gereja yang dipilih Tuhan secara khusus untuk melayani dan mempersembahkan kurban, mengampuni dosa-dosa, mewartakan sabda, dan mengembalakan jemaat. Imamat khusus inilah yang diterima oleh mereka yang kemudian disebut imam dalam Gereja. [1]  Imam adalah pelayan primer bahkan eksklusif bagi kebutuhan spritual umat Katolik. [2]

Para imam dipanggil dan dipilih Kristus dari antara umat beriman melalui sakramen tahbisan untuk menjalankan tugas-tugas khusus menguduskan (imam), mengajar, (nabi) dan memimpin (raja) umat beriman atas nama Kristus sebagai Imam Agung dan kepala Gereja. Para imam dipilih untuk menjadi saksi  cinta Allah yang solider dan membebaskan.

Cinta seperti ini tidak abstrak, tetapi menyentuh manusia dalam kondisinya yang konkret. Kenyataan konkret ini merupakan medan uji penghayatan panggilan sebagai imam. Panggilan menjadi imam harus ditempatkan di dalam Gereja dan sebagai pelayan Gereja dan dipahami dalam rangka panggilan seluruh Gereja.

Yesus Kristus telah memanggil para murid-Nya untuk menempatkan diri mereka sebagai pelayan cinta kasih Allah di tengah dunia. Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk tidak membawa bekal dalam mengembangkan misi Allah. Praktik hidup seperti ini telah ditanamkan dalam pribadi para imam yang dipanggil secara khusus oleh Allah.

Dengan mewartakan Sabda Allah, para imam menghadirkan Kristus yang merupakan penjelmaan dari sabda. In persona et in nomine Chirsti (dalam nama dan pribadi Kristus), para imam mengundang semua orang untuk bertobat dan hidup suci, memuji dan memuliakan kebesaran Kristus yang melindungi dan menyelamatkan umat manusia. Oleh karena itu, para imam diharapkan kreatif mewartakan sabda Tuhan sesuai dengan konteks pendengar agar sungguh-sungguh menyapa mereka dan mudah dimengerti serta diterima sebagai sumber keselamatan. [3]

Perkembangan Teknologi Masa Kini

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi berhasil menggabungkan seluruh aplikasi yang dibutuhkan manusia hanya dalam satu gajet mini berukuran kecil. Irisan atau persinggungan aplikasi ini disebut konvergensi. Telepon seluler yang sebelumnya dipakai untuk menelpon dan mengirim pesan singkat kini telah dipergunakan untuk memotret (kamera), menonton siaran televisi, petunjuk arah sistem pemosisi global (GPS-global positioning system), perpustakan, bioskop, dan lain sebagainya. [4]

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat telah membawa perubahan cara dan gaya hidup masyarakat dunia secara dratis. Teknologi membuat orang yang jauh semakin dekat dan yang dekat semakin jauh. Pesan, undangan, dan salam dalam hitungan detik segera sampai kepada orang yang dituju melalui facebook, twitter, line, whatsapp, dan situs jaringan sosial lainnya. Semakin hari tampak semakin besar penggunaan jejaring sosial sekaligus makin besar kebutuhan masyarakat akan penggunaan internet dan jaringan sosial.

Salah satu hal yang menggembirakan dari perkembangan media komunikasi dan kecepatan mengakses informasi adalah terbentuknya komunikasi global. Media menghadirkan dengan cepat peristiwa-peristiwa yang menimpa manusia di berbagai belahan dunia lain, sekaligus merangsang empati dan solidaritas global. Di sinilah media massa tampil sebagai ‘pencipta’ nurani kemanusiaan universal.

Baca Juga “Spiritualitas Jalan Turun dan Kontribusinya terhadap Peningkatan Toleransi dan Kualitas Iman Umat Katolik: Studi Kasus pada Gereja Paroki Santo Paulus Jerebu’u

Akan tetapi, pada pihak lain, media massa juga dapat menyebabkan ambiguitas. Media massa dapat melahirkan apa yang oleh Bapa Suci disebut sebagai monokultur yang meredupkan kreativitas akal budi. Hal ini terutama berkaitan dengan kebenaran informasi dan keakuratan berita yang semestinya terbuka kepada setiap orang. [5]

Perkembangan seperti ini justru dapat mengurangi rasa hormat terhadap budaya dan kekhasan religius setiap kelompok atau komunitas bangsa. Almarhum Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai gejala sekularisme yang cenderung mempercepat hilangnya rasa keagamaan dari hati nurani manusia zaman ini (pesan Paus Yohanes Paulus II pada Hari Komunikasi Sedunia Ke – 23).

Perkembangan teknologi dengan cara yang sama akan mempengaruhi umat beriman (Katolik) untuk menghayati iman mereka. Oleh karena itu, peran para imam sangat penting untuk menyadarkan umat beriman (Katolik) untuk benar-benar tahu menggunakan alat teknologi agar tidak terjerumus dalam lubang kehancuran.

Peran Para Imam di Era Perkembangan Teknologi

Bersamaan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih, alat-alat teknologi semakin merambah ke setiap orang dengan pelbagai informasi yang terbuka. Peralatan teknologi itu kadang menjadikan orang semakin kritis. Orang akan bertanya dan terus bertanya secara kritis tentang segala yang ditawarkan atau diinformasikan. Umat akan bertanya dan terus bertanya secara kritis tentang segala yang ditawarkan oleh para imam dan segala hal yang harus dipercaya.

Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi para imam untuk mewartakan kerajaan Allah di tengah umat. Kehadiran teknologi membuat umat Katolik semakin menjauh dari Gereja. Mereka mendewakan teknologi ketimbang kitab suci sebagai pegangan hidup mereka.

Tajuk Rencana Harian Kompas dengan judul “Prospek Tahun 2017” mencacat “Gangguan Digital, Digital Disruption” antara lain menghancurkan sistem nilai, pola komunikasi personal, dan gagasan. Semakin sulit dibedakan antara palsu, benar dan salah, baik dan buruk. Melalui media sosial, yang salah bisa dibenarkan dan yang benar bisa disalahkan. Upaya mencari kebenaran, searcing the truth, tampak sulit di media sosial karena cenderung mengutamakan adu kuat dan adu cepat. Suara, voice, dilawan dengan kegaduhan, noise. Begitu banyak orang yang berceloteh, tetapi sedikit yang mendengarkan, termasuk terhadap suara nuraninya sendiri. Kebencian dan dengki diobral. [6]

Selain itu, gaya dan tingkah laku umat Katolik sekarang semakin individualistis. Umat Katolik sekarang kurang peduli dengan urusan Gereja dan sesamanya. Maka, tidak heran agama semakin tak lagi dibutuhkan. Umat bangkit memperagakan keunggulan atau kehebatan dirinya dan mengabaikan Tuhan. Tuhan bahkan tidak mendapat tempat dalam hati dan batin manusia. Zaman yang demikian menimbulkan permasalahan tersendiri bagi kehidupan Gereja.

Dengan ini, kehadiran para imam sangat dibutuhkan untuk mempengaruhi pertumbuhan iman umat Katolik. Imam-imam sebaiknya memberikan sebentuk katekese atau memberi makna yang positif untuk menyeimbangkan kelimpahruahan informasi dan makna yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani.

Baca Juga Penulis Harus “Jalan Turun” Terlebih Dahulu: Tanggapan terhadap Tulisan Bonefasius Zanda

Kehadiran para imam yang membawa terang di tengah umat semakin dibutuhkan. Imam harus memperjuangkan hak asasi dalam cara yang baru. Sebab, manusia adalah gambar dan citra Allah. Manusia yang agung seringkali direndahkan sedemikian rupa dalam media social dengan pelbagai informasi atau eksploitasi vulgar yang tidak mendidik, yang justru seakan merendahkan martabat manusia. Luhurnya martabat manusia menjadi titik sentral upaya Gereja untuk mengemban misi penyelamatan umat manusia seutuhnya, tanpa mereduksinya hanya kepada aspek ekonominya.

Gereja mengakui bahwa perjuangan pembebasan manusia dari dosa adalah sebuah upaya mengembalikan martabat manusia secara penuh dari keterpecahan akibat pandangan-pandangan yang salah tentang diri pribadi manusia itu sendiri, Allah, dan alam ciptaan. [7] Dengan cara ini, Gereja menampilkan diri sebagai suatu persekutuan belajar bersama guna memberi wajah yang lebih positif terkait perkembangan teknologi. Karena itu, lewat Gereja, umat Katolik dapat belajar bagaimana model persekutuan yang terbuka untuk saling memperkaya tanpa adanya upaya mendominasi satu terhadap yang lain.

Para imam juga harus bersikap peduli terhadap visi dan misi Gereja. Kehadiran para imam selayaknya mampu mengingatkan orang pada peristiwa Yesus Kristus. Cinta para imam kepada Tuhan kiranya sungguh dirasakan kehangatannya dalam sikap dan tindakan pelayanan tanpa pamrih kepada Allah, bukan pada dirinya sendiri. Sebab, keselamatan tergantung pada Allah.

Tawaran Solutif

Berhadapan dengan dunia sekarang, para imam dan umat Katolik perlu belajar bersikap kritis terhadap perkembangan teknologi. Dengan tekhnologi, tentu saja orang menganggap bahwa kehidupan akan lebih baik, informasi akan lebih cepat, dan produk baru segera diketahui. Namun, harus kita akui juga bahwa hal-hal yang membahayakan cepat juga tersebar. Alhasil, banyak umat Katolik yang terseret pada hal buruk yang bisa membahayakan iman mereka.

Untuk tidak  terjebak dalam soal ini, kiranya ada ada dua tawaran tindakan yang mungkin bisa membantu para imam. Pertama, para imam hendaknya memperhatikan keberadaaan atau situasi yang dialami umat. Para imam bukan hanya pasif yang selalu tinggal di rumah pastoran, tetapi juga aktif yang selalu setia melihat kehidupan harian umat. Hal ini dapat membantu para imam untuk mengenal iman umat sekaligus memberikan dampak positif kepada imam dan umat untuk berkomunikasi secara riil, bukan hanya sibuk dengan dunia maya.

Kedua, sebagai pembina iman umat, para imam mesti membimbing umat agar mereka secara aktif mengamalkan cinta kasih yang jujur dan untuk hidup dalam kebebasan yang dikaruniakan oleh Kristus kepada mereka, [8] bukan kebebasan yang membawa hidup mereka kepada jalan yang sesat. Dengan ini, kegiatan-kegiatan karitatif diperbanyak, agar umat disibukkan dengan kerja dan relasi konkret dengan sesama, bukan hanya sibuk dengan dunia maya.

Ketiga, para imam juga mesti menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Media sosial hendaknya digunakan untuk katekese dan karya pastoral, bukan sekadar untuk memamerkan perjalanan atau hal-hal dangkal lainnya.  

Memang dalam kenyataannya, cara seperti ini amat rumit untuk direalisasikan lantaran perkembangan zaman yang semakin menjadi-jadi. Kebanyakan umat Katolik saat ini semakin mendewakan alat teknologi ketimbang Kitab Suci sebagai firman Tuhan. Akan tetapi, apapun yang terjadi, peran para imam sangat dibutuhkan untuk merombak sebagian sikap iman umat Katolik ini.

Penutup

Walau perkembangan teknologi membantu kita untuk cepat mendapat informasi dan semakin membuka wawasan kita akan dunia. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga semakin mengikis pertumbuhan iman umat Katolik di masa sekarang. Banyak yang terlalu melarutkan diri dalam teknologi yang berpengaruh pada soal iman.

Di sini, peran dan tantangan para imam masa kini dan masa depan tidaklah ringan. Para imam harus menjadi handal dan profesional dalam memandang diri sebagai imam sambil tetap terus mengembangkan tugasnya sebagai seorang imam di tengah kemajemukan profesi, paham, dan gaya hidup umat manusia. Para imam harus menjadi pendamping untuk memberi isi dan dasar Kristiani bagi seluruh umat dengan memberikan contoh penggunaan media sosial yang baik. Ia harus tahu banyak tentang media dan mengenal dengan baik apa yang terjadi pada umat sehingga dapat memberikan pendampingan yang lebih baik.


Catatan Kaki

[1] Dokumen Konsili Vatikan II, Presbiterorum Ordinis ( PO) No. 1, R. Hardawiryana (Penerj.), ( Jakarta: Dokumen dan Penerangan KWI  dan Obor, 1993), hlm. 460-461.

[2] Evelyn Eaton Whitehead, “Tanggung Jawab Dalam Imamat: Kisah Sebuah Pelayanan Yang Sekadar Mekar”, dalam Donald J. Goergen “ Imam Masa Kini”, ( Maumere: Penerbit Ledalero, 2003), hlm. 41.

[3]  J. D. Crichton, Perayaan Ekaristi ( Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 84.

[4] Agus Alfons Duka,  Komunikasi Pastoral ERA DIGITAL ( Maumere: Ledalero, 2017), hlm.32.

[5]  Richard Muga Buku, Scintilla Conscientiae ( Maumere: Ledalero, 2014), hlm. 196-197.

[6] Tajuk Rencana. “ Prospek Tahun 2017”.  Kompas, 31 Desember 2017.

[7] Mirsel, Robert. “Berpastoral DI Tengah Badai Globalisasi”. Jurnal Ledalero, Vol. 5, No. 1, Juni 2006.

[8] Sefrianus Juhani, “Eklesiologi Misteri Gereja dan Maria” ( Maumere: Bahan kuliah STFK Ledalero, TTH), hlm. 62.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa