sains-agama

Akar Konflik Sains dan Agama: Catatan Pendek atas Buku “Sains Religius, Agama Saintifik”

Konflik sains & agama dibahas oleh Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla dalam buku “Sains Religius, Agama Saintifik”.

Pada tahun 1947, Albert Camus menulis roman “La Peste”, diterjemahkan oleh N.H. Dini dengan judul “Sampar”. Roman itu mengisahkan epidemi yang melanda penduduk Kota Oran, Prancis: penduduk hidup berpisah-pisahan dan terkucilkan satu sama lain, Oran di-lock down total.

Secara keseluruhan, roman itu menggambarkan rasa kemanusiaan Camus yang besar dan luas; seorang Penulis yang selalu melibatkan diri dalam persoalan publik kemasyarakatan karena yakin bahwa “seniman tidak dapat hidup tanpa keindahan. Seniman berada di tengah-tengah keduanya, lebih mengharuskan diri untuk mengerti daripada menentukan baik buruknya.”

Salah satu adegan roman yang menarik adalah tentang Romo Paneloux. Pastor Jesuit ini pandai sekali berkhotbah sehingga seluruh penduduk Kota Oran segan dan mendengarkan pendapatnya, tak terkecuali saat epidemi. 

Sampai pada akhirnya Sang Pastor terkena suatu penyakit yang seperti sampar, tetapi bahkan tak dapat didiagnosis secara tepat oleh Dokter Bernard Rieux, tokoh utama dalam kisah ini. Dalam pergulatannya melawan penyakit dengan “kasus meragukan” itu, Romo Palenoux bersih keras menolak dipanggilkan dokter. Ia berjuang sendirian melawan rasa sakit hingga maut menjemput dengan patung salib tergenggam erat di tangannya.

Baca Juga Emma Goldman dan Anarkisme Tanpa Pelabelan

Beberapa waktu lalu, beberapa intelektual ramai memperdebatkan relasi antara agama dan sains melalui platform Facebook. Perdebatan terutama dipicu oleh dua penulis kondang, yaitu A.S. Laksana dan Goenawan Mohamad. A.S. Laksana gigih mempertahankan sains sebagai pandu kehidupan masyarakat modern, terutama selama wabah korona melanda dunia, sedangkan Goenawan Mohamad mengambil sikap hati-hati terhadap sains. 

Perdebatan elite intelektual itu antara lain berangkat dari dualisme sikap masyarakat sekular dan religius atas wabah. Di satu sisi, terdapat kelompok masyarakat menuntut otoritas sains untuk menanggulangi wabah. Di lain sisi, terdapat kelompok masyarakat tidak percaya pada otoritas sains dan lebih memilih pasrah pada Tuhan.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sebuah diskusi Zoom bertajuk “Agama dan Sains” digelar. Salah satu pembicaranya adalah Haidar Bagir. Dalam pemaparannya, Haidar Bagir “Mengurai Akar Konflik Sains dan Agama”. Menurut dia, berdasarkan data-data sejarah interaksi Islam dan sains, tak ada sama sekali fenomena konflik (para ahli, bukan awam) antara agama dan temuan-temuan sains di sepanjang sejarah.

Baca Juga Gerakan Petani di Era Demokrasi Terpimpin: Catatan atas Buku Rex Mortimer “Indonesian Communism Under Soekarno”

Hadir pula dalam diskusi virtual itu Ulil Abshar Abdalla. Dalam tanggapannya, Ulil Abshar Abdalla menekankan agar dalam diskusi seperti ini tak perlu muncul sikap Wahabisme dalam sains yang memperolok-olok agama. 

Segera tampak dalam diskusi tersebut olok-olok atas agama. Pendapat “tidak ada konflik antara Islam dan sains dalam sejarah” diejek sebagai sebatas “sopan santun” belaka.

Haidar Bagir gerah. Dia segera protes keras dengan kemukakan dua argumen: pertama, sikap mencela agama tidak baik karena menunjukkan kepongahan, kebebalan, dan kesempitan wawasan. Kedua, data sejarah menunjukkan apresiasi penuh semangat dari para agamawan atau pemikir Islam atas sains.

Perdebatan dalam ruang diskusi virtual itu kemudian pindah ke dunia tulis menulis. Saling tanggap gagasan tentang relasi sains dan agama antara Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla terjadi. Fenomena intelektualisme keagamaan di dalam Islam dan “New Atheism” menjadi salah satu topik yang hangat diperbincangkan.
Lalu, lahirlah buku ini: “Sains Religius, Agama Saintifik.” Penulisnya adalah Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla.

Baca Juga Komunisme atau Barbarisme, Sesederhana Itu! [Terjemahan atas Buku Slavoj Žižek “Pan(Dem)ic, Covid-19 Shakes The World”] (11)

Seperti disebut dalam Pengantar, buku yang memuat kumpulan tulisan keduanya ini lebih tepat disebut snack book (buku kudapan): ringan, tapi enak dibaca sekaligus menyehatkan pikiran. Dengan kata lain, tulisan-tulisan dalam buku ini bukanlah tulisan-tulisan ilmiah (kesarjanaan/scholarly) atau esai-esai ilmiah yang canggih dan mendalam. Memang bukan itu yang dimaksudkan sejak awalnya. Oleh karena itu, buku ini dapat dibaca oleh semua kalangan, mulai dari para ahli atau awam dalam hal relasi antara agama dan sains.

Di samping itu, “Sains Religius, Agama Saintifik” dapat memberi sumbangan yang berarti dalam diskurus tentang masyarakat post-sekular dewasa ini. Dalam kehidupan masyarakat post-sekular yang ditandai oleh tetap sintasnya agama dalam kehidupan bermasyarakat, timbul pertanyaan, bagaimana tata pergaulan antara warga beriman dan sekular diatur? Bagaimana relasi antara iman dan nalar? Bagaimana relasi agama dan sains? 

Selamat mencari akar konflik antara agama dan sains dalam buku ini!

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa