Eric Wolf

Eric Wolf tentang Kebudayaan dan Kapitalisme

Eric Wolf berpendapat, keberadaan hubungan kekerabatan yang para antropolog pelajari sebagai orang-orang primitif atau masyarakat pra-kontak merupakan bagian dari relasi pasar global, dan terus berlanjut dengan provokasi buruh migran besar-besaran.

Antropolog Eric Wolf, yang banyak mempelajari perubahan sejarah peradaban manusia, dan yang karya-karyanya berpengaruh bagi studi tentang petani rumah tangga, dampak kapitalisme, dan sifat rezim kekerasan, telah meninggal dunia dalam usia 76 tahun pada 1999.

Dalam buku tersohornya “Europe And The People Without History” (1982), yang versi bahasa Inggrisnya terjual lebih dari 80.000 cetakan, dia menjelaskan akibat ekspansi Eropa ke masyarakat Afrika, Amerika, dan belahan Timur, telah menyebabkan penduduk setempat menjalin hubungan dengan pasar Eropa – entah lewat perbudakan, bulu-bulu, rempah-rempah ataupun teh – jauh sebelum mereka melihat warga Eropa itu sendiri.

Wolf berpendapat, keberadaan hubungan kekerabatan yang para antropolog pelajari sebagai orang-orang primitif atau masyarakat pra-kontak merupakan hasil pendefinisian dari relasi pasar tersebut. Ekspansi pasar ini, menurut dia, terus berlanjut mengubah wajah populasi dunia dengan provokasi buruh migran besar-besaran. Meskipun demikian, orang-orang jelata atau rakyat biasa itu merupakan agen dalam membaca proses sejarah karena mereka memang korbannya, terlepas dari peranan mereka yang ditekan, bahkan dihilangkan, oleh catatan sejarah itu sendiri.

Baca Juga Relevansi Semiotika Barthesian terhadap Kajian Kebudayaan di NTT

Ketajaman analisis Wolf mengenai sejarah orang-orang tertindas berakar dari pengalaman hidupnya sendiri. Dia lahir di Wina, ibunya seorang Rusia, ayahnya dari Austria, dan sebagai seorang remaja yang tumbuh dalam tradisi Yahudi, dia menjadi saksi beroperasinya rezim Nazi yang berakar dari Depresi Ekonomi 1930-an. Ayahnya-seorang buruh tekstil di wilayah Sudetenland- merasakan langsung situasi pendudukan Jerman atas Wina pada bulan Maret, 1938. Wolf kemudian melarikan diri ke Inggris, mengikuti orangtuanya, dan tahun 1940 pindah ke New York.

Di Queens’ College, dia mulanya belajar biokimia, tetapi secara tiba-tiba mengambil kursus antropologi Asia yang terentang dari sejarah naskah Cina hingga sistem kasta India. Inilah, sebagaimana dia tuliskan kemudian, merupakan “disiplin ilmu berkenaan dengan segala hal yang sungguh membuat saya tertarik.” Namun, sebelum lulus, dia harus ikut wajib militer dan terlibat dalam pertempuran di pegunungan Alpen – wilayah yang kemudian menjadi salah satu lokasi risetnya.

Meneruskan studi di Columbia University, Wolf menjadi bagian dari mahasiswa veteran perang yang bersimpati pada gerakan kiri, dia menjadi yakin bahwa ilmu antropologi mesti banyak belajar dari Marx. Bersama kawan satu kakinya Sidney Mintz, dia melakukan penelitian di Puerto Rico dan membuat studi komparasi antara petani kecil dan pekerja perkebunan di perusahaan kopi dan perkebunan gula. Kerjanya di Puerto Rico dan Meksiko itu menarik perhatian dan minat dari kaum tani, dia kemudian menulis keterlibatan mereka terkait enam pemberontakan politik yang tertuang dalam buku “Peasant Wars Of The Twentieth Century” (1969).

Baca Juga Menyoal Relasi Agama dan Pasar di Tengah Gempuran Globalisasi Kapital

Wolf mengembangkan observasinya melalui kerja-kerja lapangan yang berbasis pada kerakusan atas bahan bacaan. Dari awal turun riset, dia mengabaikan berbagai perspektif, dan fokus analisisnya lebih mencakupi hubungan geografis dan kajian historis. Karya-karyanya beranjak dari wilayah pinggiran ketimbang pusat, lebih banyak tentang kaum yang tidak mendapat perhatian alih-alih orang mapan.

Dia mengajar di berbagai universitas, tetapi kepindahannya ke Lehman College dan City University of New York merupakan suatu jalan pulang ke ekosistem pendidikan yang bebas, urban, dan terbuka. Dia secara konsisten mendorong keberanian intelektual murid-muridnya; perangai ilmiah serta kehausannya akan pengetahuan membuat mereka mudah mengenalnya lebih dekat.

Wolf juga aktif dalam gerakan menolak Perang Vietnam, dan di Michigan tahun 1965 menjadi salah satu pengusung agenda “Anti-War-Teach-Ins”. Dia mengkritik keterlibatan para antropolog dalam program pemerintah “Counter-Insurgency”, semacam desainan militer yang memanfaatkan kelas intelektual dan masyarakat sipil lain untuk memberikan laporan dari wilayah konflik, serta sempat bersilang pendapat antarsesama akademisi, salah satunya, dengan Margareth Mead.

Pada tahun-tahun terakhirnya, dia mendapat diagnosis kanker usus besar, namun malah membuatnya semakin berfokus menajamkan karya-karyanya. Buku “Envisioning Power, Ideologies of Dominance of Crisis” terbit tahun 1999, berisikan perbandingan tiga rezim kekuasaan; Aztec, Nazi, juga Kwakiutl di pantai barat laut Pasifik, dalam kaitan dengan reaksi mereka atas ancaman kecemasan masa depan yang diasosiaskan dengan ideologi kosmik kekerasan. Dari atas ranjang sakitnya dia merapikan naskah final artikel-artikel tersebut.

Baca Juga Karl Marx, Kesadaran Material, dan Kegiatan Produksi Manusia

Tiga bulan sebelum wafat, dia sempat menceritakan mimpinya; ditantang oleh Tlaloc, seorang dewa Aztec, di muka pintu dunia bawah sadar. Tlaloc bertanya, apa pekerjaannya. Wolf menjawab dia seorang antropolog dan menjelaskan sejawatnya dari Inggris telah menyatakan bahwa ilmu antropologi itu tidak penting, tetapi perlu. Tlaloc merespons, “Saya tidak terlalu tahu bagian mana yang perlu, tapi bila itu tidak penting, kamu bisa melakukannya di sini untuk sesuatu yang abadi.”

Eric Robert Wolf, antropolog, yang lahir pada 1 Februari 1923, meninggal dunia pada 6 Maret 1999. Dia meninggalkan istrinya, Sydel Silverman, dan dua putra dari pernikahan pertama, serta dua putri tirinya.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa