Ilustrasi Kisah Orang Samaria, Covid Solidarity Ilustration

Di Bawah Tekanan Wabah: Tanggung Jawab dan Ilustrasi Kisah Orang Samaria

Rangkuman pendek terkait ilustrasi kisah orang Samaria yang membongkar sekat permusuhan, memercik pula harapan bagi semangat hidup manusia di tengah situasi dilematis menghadapi pagebluk Covid-19.

Pengantar: Ilustrasi Kisah Orang Samaria

Orang Samaria yang murah hati menolong orang Yahudi di persimpangan jalan antara Yerusalem dan Yerikho. Kisah ini menghadirkan cerita baru dalam realitas hidup manusia, tak terlepas dari kenyataan bahwa orang Yahudi dan orang Samaria saling bermusuhan.

Permusuhan keduanya telah berlangsung bertahun-tahun. Maka, momen orang Samaria menolong orang Yahudi (musuh menolong musuh) dapat tersebutkan sebagai suatu peretakan epistemologis. Di sini konsep tentang musuh yang tidak boleh saling membantu, terbongkar tuntas (Sebho, 2018: 55).

Rangkuman pendek terkait ilustasi orang Samaria yang membongkar sekat permusuhan itu barangkali memercik pula harapan yang menginsprasi semangat hidup manusia di tengah situasi dilematis menghadapi pagebluk Covid-19.

Adapun sejauh ini penanganan Covid-19 belum mencapai titik maksimal. Salah satu hal yang mendapat sorotaan berkenaan dengan keterlambatan penanganan pandemi ini ialah kerja sama antarnegara yang belum berjalan efektif.

Baca Juga Pandemi, Demokrasi yang Terancam, dan Peran Aktif Parlemen

Salah satu contoh, kerja sama Negara anggota ASEAN mendapat sejumlah tantangan, seperti kurangnya informasi mengenai penanganan, lambatnya respons, perbedaan kebijakan tiap Negara, serta tidak transparannya dana dalam merespons bencana ini.

Selain itu, kurangnya upaya menangani dampak ekonomi yang timbul akibat pandemi Covid-19 dan sulitnya kolaborasi antarlembaga juga merupakan tantangan bagi kerja sama regional ASEAN (psdr.lipi.go.id, 20/11/2020).

Berkaca pada tantangan yang ada, hemat saya terdapat konflik kepentingan, yang mana masing-masing Negara masih mempertahankan egoisme diri untuk hanya menyelamatkan warga Negara sendiri.

Pada pihak lain, secara implisit ini menggambarkan antara Negara ASEAN yang satu dengan lainnya sedang “bermusuhan”. Bermusuhan di sini lebih pada konteks persaingan antarnegara. Terutama persaingan pada bidang ekonomi juga bidang kehidupan lain.

Tanggung Jawab dan Kisah Orang Samaria

Ilustrasi kisah orang Samaria tadi menunjukkan keberanian dan sikap tanggung jawab dalam menolong sesama. Tanggung jawab terhadap sesama juga tertegaskan oleh pandangan filsafat Emmanuel Levinas. Levinas mengajarkan sebuah relasi yang asimetris radikal (tidak seimbang, tidak berdasarkan prinsip kesalingan), yakni “aku” wajib bertanggung jawab kepada “yang lain” (Tobing, 2018: 14).

Artinya, keberadaan di tengah kehidupan bersama mewajibakan kita untuk bertanggung jawab atas diri sendiri dan bertanggung jawab atas yang lain. Yang lain adalah bagian dari diriku.

Hemat saya, prinsip ini yang menggerakkan hati orang Samaria menolong orang Yahudi, terlepas dari sikap prihatin dan rasa kasihan. Lebih daripada itu, tindakan orang Samaria mengarah pada bentuk tanggapan akan situasi kemanusiaan.

Realitas orang Yahudi yang menderita, tergeletak di antara jalan Yerusalem dan Yerihko menujukan situasi penderitaan termaktub. Bahwasanya manusia dan penderitaan tidak dapat terlepaspisahkan. Oleh sebab itu, manusia selalu membutuhkan bantuan manusia lain.

Baca Juga Bacot Santuy COVID-19: Pandemi di Bantaran Kali Code

Ada dua hal penting sebagai refleksi bagi kita; kesediaan untuk menanggung situasi yang terjadi dan kerelaan untuk menjawabi situasi itu. Dengan kata lain, setiap peristiwa menuntut jawaban (Baghi, 2012: 40). Jawaban menjadi bentuk tanggung jawab yang direalisasikan dalam tindakan. Seperti halnya orang Samaria menolong orang Yahudi -bukan seperti imam dan orang Lewi yang memilih mempertahankan egoisme diri.

Adapun saat ini, korban jiwa karena pandemi Covid-19 terus bertambah. Semua sektor kehidupan masyarakat, terutama ekonomi, ikut mengalami penurunan. Kerja sama antarnegara belum berjalan baik, tambah lagi dengan beberapa Negara yang sedang gencar-gencarnya melakukan perang ekonomi dan militer; bersaing menjadi Negara nomor satu dunia.

Banyak Negara juga memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 sebagai kesempatan mengeksploitasi keuntungan yang besar. Terutama dalam bidang ekonomi dan bidang lainnya. Kaum kapitalis dan oligarki semakin kaya sedangkan kaum proletariat bertambah miskin.

Sementara itu, Negara berkembang terpaksa meminjam uang luar negeri yang berdampak pada peningkatan utang. Utang itu sendiri merupakan beban yang terpikul langsung oleh penduduk Negara-negara selatan, karena pemerintah mereka harus menarik dana dari anggaran Negara (APBN) untuk membayarnya kembali (Millet dan Toussaint, 2019). Tentu kita bisa mengajukan pertanyaan, di mana rasa tanggung jawab atau kemanusiaan terletak?

Kisah Orang Samaria dan Perkara Kemanusiaan

Tentang ini, bicara soal kemanusiaan sudah barang tentu berkontinuitas dengan rasa. Rasa belas kasih, benci, marah, simpati, empati, dan lain-lain. Namun, tidak dapat teringkari bahwa ada pula “kematian” rasa atau ketidakpekaan. Kematian rasa lahir dari sikap egoisme diri yang berlebihan juga tingginya motivasi persaingan.

“Kematian rasa atau rasa yang tumpul” berpotensi melahirkan manusia yang tidak manusiawi. Dengan demikian, penyadaran kembali akan kelahiran diri manusia yang bertanggung jawab terhadap manusia lainnya merupakan suatu kebutuhan mutlak.

Terhadap penyadaran kembali akan pentingnya sikap tanggung jawab terhadap yang lain, kita perlu melakukan sesuatu yang disebut Levinas sebaga “reconnaitre” atau “mengenal kembali”, atau dalam refleksi lebih dalam berkaitan dengan hubungan membuka diri; “Se-ouvre” (Baghi, op.cit.)

Mengenal kembali dan membuka diri merupakan langkah yang memotori penemuan sikap solider atau tanggung jawab terhadap yang lain. Aktus mengenal kembali, membuka diri, dan tanggug jawab ini saling melengkapi dan membentuk kesatuan jaringan dalam proses berperilaku manusia.

Penjelasan di atas hendak menunjukkan bahwa pada esensinya “keberadaan” kita itu “diadakan” oleh yang lain; sesuatu yang disebut juga sebagai fakta induk atau “factum primum” (Kleden, 2020). Dengan demikian, tanggug jawab terhadap yang lain tampak menjadi sebuah kewajiban.

Baca Juga Jejak Tuhan dalam Pandemi Covid-19

Lebih lanjut, membuka diri di sini juga menuntut sikap keberanian. Seperti ilustrasi orang Samaria yang berani menolong musuhnya. Dia keluar dari kenyamanan diri dan memberi bantuan guna menyelamatkan nyawa orang Yahudi. Demikian pula, seharusnya antar Negara saat ini harus berani membangun kerja sama guna mengatasi masalah Covid-19.

Korelasi antara kesaksian hidup orang Samaria dan tanggung jawab kita dalam melawan Covid-19 bahwasanya kita terinspirasi oleh orang Samaria yang berani keluar dari kenyamanan diri, berani mengenal diri, membuka diri, dan melakukan tanggung jawab menolong orang liyan.

Hal serupa diharapkan terjadi di tengah situasi penderitaan melawan badai Covid-19. Kita bersama berjuang untuk “merasa” bertanggung jawab terhadap yang lain. Sikap keterbukaan kita akan penderitaan yang dialami oleh yang lain menunjukkan kemampuan kita menyingkapi semua ketertutupan diri. Urusan mengatasi Covid-19 dilihat sebagai tanggung jawab bersama. Denganya penyebaran wabah dapat diatasi dengan mudah dan efektif.

Penutup

Risalah ini -tentang orang Samaria dan tanggung jawab melawan Covid-19- semoga bisa dilihat sebagai kajian kontekstual dan bernilai. Caranya, dengan mengenal keberadaan diri kita sebagai subyek yang bertanggung jawab terhadap sesama dan membuka diri terhadap situasi kehidupan sesama. Sehingga pandangan kita tentang orang lain yang sebelumnya sangat sering didominasi oleh pemikiran stereotipe sempit, bahkan stigma, dapat digoyahkan.

Hal itu bisa hadir dalam bentuk kerja sama antarnegara ataupun dalam pribadi kita yang bertanggung jawab secara bersama mengatasi penderitaan orang lain akibat pandemi Covid-19.


Kepustakaan

Kleden, Paul Budi. 2006. Membongkar Derita. Maumere: Penerbit Ledalero.

Sebho, Fredy. 2018. Moral Samaritan. Maumere: Penerbit Ledalero.

Baghi, Felix. 2012. Alteritas Pengakuan, Hospitalitas, Persahabatan. Maumere: Penerbit Ledalero.

Toussaint, Eric dan Damien Millet. Bank Dunia dan IMF. Terj. Alexander Jebadu. 2019. Maumere: Penerbit Ledalero.

lipi.go.id,psdr./news-and-events/opinions/tantangan-kerja-sama-regional-asean-  dalam-melawan-covid-19.html, diakses pada 20 November 2020.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa