Hoaks

Jamur Hoaks dan Rente Klik Usai Suatu Peristiwa Kecelakaan

Semua elemen masyarakat berpotensi menciptakan dan ikut serta menyebarkan hoaks.

Seekor keledai diikat ke pohon dan suatu malam hantu memotong tali, lalu melepaskan keledai itu.

Keledai itu pergi dan menghancurkan tanaman di kebun milik seorang petani. Karena begitu marah, isteri petani menembak keledai itu dan membunuhnya.

Pemilik keledai sangat sedih karena kehilangan hewan kesayangannya. Sebagai balasan, ia menembak mati isteri petani itu.

Sedih dan marah karena kematian istrinya, si petani mengambil sabit dan membunuh pemilik keledai.

Istri pemilik keledai menjadi sangat marah sehingga dia dan anak-anaknya pergi membakar rumah petani.

Petani melihat rumahnya berubah menjadi abu, ia pun pergi dan membunuh istri dan anak-anak pemilik keledai.

Akhirnya, ketika petani itu sadar, dia bertanya dengan penuh penyesalan kepada hantu itu; kenapa hantu membunuh mereka semua?

Hantu menjawab; aku tidak membunuh siapa-siapa, aku baru saja melepaskan seekor keledai yang terikat dengan tali.

Kalian semua yang melepaskan iblis dalam diri kalian dan mengakibatkan segala hal yang buruk terjadi.

Nah, hari-hari belakangan ini, media telah berubah menjadi hantu yang terus melepaskan keledai setiap hari. Orang-orang bereaksi dan berdebat satu sama lain, saling menyakiti tanpa berpikir dua kali.

Media-media tersebut menghindari tanggung jawab, dan kita-lah yang menanggung akibat buruknya.

Pada satu sisi, menjadi tanggung jawab kita juga untuk tidak bereaksi salah kaprah terhadap setiap keledai yang dilepaskan oleh media. Artinya, kita menjadi bijak dalam membaca setiap informasi di media apa pun.

Jangan mudah percaya, jangan mudah terprovokasi, periksa fakta, dan jangan ‘share’ sembarangan.

Peristiwa Kecelakaan Pesawat

Reaksi paling spontan ketika melihat dan mendengar berita tentang kecelakaan pesawat terbang adalah kegoncangan perasaan atau rasa duka yang mendalam.

Rasa duka tentunya tidak hanya menyelimuti pihak keluarga dari korban, melainkan semua orang.

Dalam rasa duka ini, ada yang shock, ada yang menangis, ada pula yang menguntai doa, serta ada yang menatap kosong dan terpekur.

Beberapa waktu terakhir, kegoncangan perasaan ini terjadi usai jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 di Kepulauan Seribu, Jakarta, Sabtu (9/1).

Sriwijaya Air SJ-182 tujuan Bandara Supadio, Pontianak-Kalimantan Barat, itu hilang dari radar pukul 14.40 WIB setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Banten, pada pukul 14.36 WIB.

Tragedi Sriwijaya datang dalam sekejap. Terjadi hanya selang 4 menit setelah pesawat lepas landas, mengingatkan kita pada jatuhnya Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018 di Laut Jawa, Karawang Jawa Barat.

Baca Juga Masyarakat Virtual

Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 dalam penerbangan mengangkut 43 penumpang dewasa, 7 penumpang anak, 3 penumpang bayi dan 12 kru.

Pencarian pesawat dan korban sudah berjalan dengan baik. Manajemen kebencanaan serta pengorganisasian musibah tersampaikan secara terbuka dan berkala kepada keluarga korban.

“Yang paling utama ialah mengerahkan segenap kemampuan bangsa ini untuk mencari lebih maksimal dan menemukan 62 jiwa di dalam pesawat Boeing 737-500 itu,” ungkap Presiden Joko Widodo.

Tragedi ini mengingatkan kita untuk senantiasa menumbuhkan bentuk rasa simpati yang paling utama, bukan mencari-cari kesalahan dalam peristiwa yang terjadi apalagi menyebarkan hoaks di media sosial.

Fenomena Hoaks

Perbincangan serentak praktik hoaks kini menjadi masalah yang menyebar luas dalam lalu lintas global.

Masifnya penyebaran berita bohong alias hoaks tak dapat terlepaspisahkan dari perkembangan kapitalisme teknologi yang begitu pesat.

Dalam dunia maya, dengan kecanggihan teknologi dan kecerdasan penggunanya, kebohongan tak sebatas langgeng di ranah verbal tapi juga audio dan visual.

Informasi yang berkembang di dunia maya (internet), tidak bisa terbendung. Akibatnya, informasi yang baik dan buruk bisa bebas berkembang begitu saja.

Semua elemen masyarakat berpotensi untuk menjadi pihak yang memproduksi, menerima, dan menyebarkan hoaks.

Tragedi Sriwijaya, misalnya, ada dua foto yang menampilkan sosok bayi di dalam sebuah jaket penyelamat. Foto tersebut menghebohkan warganet karena kemudian dikaitkan dengan kecelakaan pesawat Sriwijaya AIR SJ 182.

Dalam foto itu, terlihat bayi telah dievakuasi oleh petugas berseragam TNI selain dua orang lain. Narasi sematan pada foto itu menyatakan bayi tersebut merupakan korban selamat dari peristiwa kecelakaan pesawat tersebut.

Tidak hanya itu, ada juga sebuah video eksklusif yang menampilkan penemuan bangkai pesawat di laut. Video tersebut mencantumkan narasi bahwa bangkai pesawat yang ditemukan merupakan pesawat Sriwijaya.

Video tersebut juga menampilkan percakapan sejumlah orang yang menyebut adanya potongan kulit manusia berserakan di lokasi tempat jatuhnya pesawat.

Dengan demikian, semua elemen masyarakat berpotensi untuk menyebarkan berita bohong (hoaks).

Hoaks menjadi faktum yang sudah berakar dalam nalar kemanusiaan kita. Sebagai pejuang dan pengabdi kebenaran, kita mesti tidak serta merta menjadi mudah terprovokasi.

Artinya, kita harus memfilterisasi setiap informasi atau berita secara kritis yang kita dapat melalui media.

Berikutnya, ini juga menjadi penting dalam penggemblengan sikap kritis yang salah satu pirantinya lewat budaya literasi.

Budaya literasi sangat urgen diberikan kepada anak-anak, bukan hanya anak muda melainkan anak-anak yang masih kecil, sehingga anak-anak tahu tentang bagaimana semestinya menggunakan media sosial secara baik dan benar.

Pada akhirnya, mari kita belajar dari ilustrasi di atas. Media saat ini telah menjadi hantu yang terus melepaskan keledai setiap hari, dan orang-orang bereaksi dan berdebat satu sama lain, saling menyakiti tanpa berpikir dua kali.

Kita jangan menjadi tukang pikul penyakit jamur hoaks tersebab ulah rente klik oleh media itu sendiri.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa