Menggugat Teologi. Ilustrasi/apeatmaja.wordpress.com

Menggugat Teologi: Tanggapan atas Opini Harr Yansen

Menggugat teologi perlu dilakukan antara lain karena membangun relevansi pemikiran tentang Tuhan dan bencana adalah pandangan teologi yang terlampau ideal.

Kolom Opini Media Indonesia (22/1) menampilkan gagasan teologis seorang mahasiswa teologi kontekstual STFK Ledalero, Maumere. Opini itu berjudul, “Bencana, Teologi Kemaslahatan, dan Kemanusiaan”.

Ada tiga pokok pembahasan, yaitu bencana dan Tuhan, teologi kemaslahatan, dan roh kemanusiaan. Bagian pengantar menerangkan ulang informasi editorial Media Indonesia (11/1) tentang duka kemanusiaan tanah air di awal tahun; tragedi Sriwijaya Air, tanah longsor di Sumedang, gempa di Sulawesi Barat, dan banjir di Kalimantan Selatan. Dari pengantar ini, Har Yansen (penulis opini) kemudian menerangkan relevansi teologis, Tuhan dan Bencana, dan teologi kemaslahatan.

Saya pikir, opini itu merupakan suatu sumbangan akademik seorang mahasiswa teologi. Pelajaran teologi di kelas menjadi bekal teoretis untuk membaca realitas sosial. Dengan cara ini, teologi menjadi terlibat menanggapi masalah-masalah sosial.

Namun, saya kurang menerima beberapa pokok pikiran dalam tulisan itu. Pertama, Har membangun ide teodice tentang Tuhan dan bencana. Har yakin akan posisi eksistensial manusia ketika berhadapan dengan situasi batas, yaitu kepasrahan dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Har Yansen menulis, “Ketika manusia sudah tidak bisa menemukan jawaban lagi atas berbagai kenyataan pahit yang dihadapinya, gugatan terakhir akan tertuju kepada Tuhan. Upaya merefleksikan dan menghadirkan Tuhan di tengah bencana seperti inilah dikenal dengan sebutan teologi. Teologi ditantang untuk menyumbangkan refleksi yang berguna bagi keberadaan umat manusia di saat mereka mengalami krisis dan bencana.”

Pertanyaan saya, mengapa harus mempertanyakan Tuhan dan bersandar kepada Tuhan dalam situasi sulit itu? Mengapa harus teologi dan bukan antropologi atau psikologi atau sains?

Teologi sudah lama mapan dengan metafisika iman dan ideal transenden sehingga ketika berjuang untuk kemanusian ia tidak berani berkotor tangan. Teologi kemaslahatan bisa berguna secara konkret apabila dasar refleksinya adalah manusia dan bukan Tuhan yang dijaga baik di dalam Kitab Suci atau teks ajaran iman.

Baca Juga Meluruskan Kusut Pikir yang Terlampau Kusut: Tanggapan untuk Eric Pati

Relevansi dari kembali ke struktur masyarakat manusia untuk berefleksi di tengah situasi batas adalah memberikan kesempatan bagi manusia untuk mengoreksi tugas dan tanggung jawabnya terhadap manusia lain. Ini berarti, aparatus untuk memprediski gempa bisa ditingkatkan untuk sebuah early warning yang memadai dan menginisiasi proyek pembangunan gedung yang tahan gempa di kemudian hari.

Di dalam studi perubahan iklim, kita mengenal istilah anthropogenic climate change, artinya aktivitas manusia dalam rupa fossil fuel burning and combustion processes turut menyumbang konsentrasi emission C02 di atmosfir yang oleh climate scientists berkontribusi ke perubahan struktur iklim seperti kemarau berkepanjangan, hujan tanpa batas, dan banyak peristiwa alam lain seperti kebakaran hutan (wildfire) dan badai angin. Itu artinya, teologi hanya bisa berciri antropologis kalau menginsipirasi manusia untuk menemukan kesalahannya sendiri dari sebuah peristiwa fisikal, bukan transendental.  

Har memberikan suatu batasan yang keliru tentang teologi sebagai upaya merefleksikan dan menghadirkan Tuhan di tengah bencana. Teologi sama sekali tidak mampu menghadirkan Tuhan. Sebab, genesisnya Tuhan adalah kehadiran. Tuhan sudah pasti hadir dan karena itu tidak perlu dihadirkan. Teologi begitu angkuh jika berjuang menghadirkan Tuhan.

Teologi merefleksikan Tuhan di tengah bencana barangkali hanya menjadi intermeso intelektual. Sebab, situasi kaos jika dihubungkan dengan subjek transenden tidak memberi dampak pedagogis ke dalam pencarian solusi oleh manusia yang terbuka terhadap kritik diri dan pencarian jawaban di luar kekuasaan Tuhan.  

Teologi tidak tepat menjadi horison ide dalam diskursus tentang bencana alam dan derita kemanusiaan. Kita mengakui bahwa teologi boleh menyiapkan jawaban karena orang bisa merefleksikan apa yang terjadi di dalam hidup dari sudut pandang imanya. Akan tetapi, kita tidak bisa menerima semua yang terjadi di dalam hidup merupakan konsekuensi teologis.

Baca Juga Jawaban atas Resah Realitas Gereja Katolik Universal Hari Ini: Catatan atas Opini Bonefasius Zanda tentang Spiritualitas Jalan Turun

Salah satu contoh blunder teologi di dalam situasi lain yang mendera kebersamaan sebagai bangsa adalah tindakan terorisme meluluhlantakkan rumah ibadah dan melenyapkan kerumunan orang dari sebuah perayaan liburan sebagai hukuman Yang Mahakuasa, sementara Negara dibiarkan membebaskan mastermind dari sebuah tindakan teror. Intinya, mesti dibaca bahwa seringkali manusia dan tindakannya diluputkan oleh corong refleksi teologis yang meninabobohkan dan karena itu kehilangan daya kritis yang memberdayakan proses demokrasi untuk pencarian solusi bersama yang mempertemukan yang melek teologi dan yang tak melek refleksi teologis.

Jika harapan terakhir adalah kepasrahan kepada Tuhan, maka manusia beriman secara pesimistik, dan tidak realistis. Manusia sangat beriman kepada Tuhan dengan kepasrahan total, tetapi ragu kepada kemampuannya sendiri. Harapan iman hanya memperpanjang kesengsaraan manusia. Di hadapan Tuhan serta agama dan teologi, manusia menjadi tidak bebas. Beragama berarti juga tidak bebas merayakan hidup paling otentik.

Membangun relevansi pemikiran tentang Tuhan dan bencana adalah pandangan teologi yang terlampau ideal. Sudah waktunya kita belajar dari Feuerbach bahwa manusia adalah Allah bagi sesamanya (Homo homini Deus). Teologi harus menjadi antropologi; antropoteisme; ‘menolak Allah’ untuk mengiyakan manusia. Feurbach berkata, “Allah adalah pikiranku yang pertama, akal budi yang kedua, sedangkan manusia adalah yang ketiga dan terakhir”. (bdk. Tjahjadi, 2007: 92-102).

Antropologi memahami subjektivitas manusia dalam ranah kultur dan psikologi membaca psikis manusia, karakter individu, pola perilaku, kesadaran, dan ketidaksadaran untuk memperoleh pemahaman akan subjek. Kedua cabang ilmu ini jika dikaitkan dengan bencana alam memberikan kita pemahaman bahwa manusia dan kebudayaan dapat merusak alam dari sebuah personalitas yang tidak utuh (split of personality).

Har menerangkan teologi kemaslahatan sebagai teologi agama-agama yang dapat memberi sumbangan bagi keselamatan dan kebaikan hidup manusia. Teologi terlibat dalam konteks sosial hidup masyarakat.

Membaca gagasan ini, saya bertanya, keterlibatan macam apa? Apa sumbangan konkret dari teologi di tengah krisis? Apakah teologi kontekstual sudah membuktikan diri terlibat dan membangun kemanusiaan?

Baca Juga Kosuke Koyama, Teologi Petani, dan Kontekstualisasinya

Berikut, saya tidak sepakat apabila Har menyatakan bahwa tugas pertama teologi di tengah krisis saat ini ialah membantu manusia memahami kehadiran Tuhan yang menguatkan di tengah bencana. Bukankah lebih baik memahami keadaan, menelusuri kenyataan, dan merawat harapan untuk sebuah Negara yang hadir? Bukan untuk mitigasi bencana saat situasi batas terjadi, melainkan adaptasi bencana agar intensitas korban dari sebuah peristiwa alam yang sama, kalau terjadi kembali, bisa diantisipasi untuk direduksi. Hal itu bisa dibuat dengan akomodasi bajet dan teknologi yang membantu program adaptasi bencana.

Tugas pertama teologi adalah hadir dan turut menderita, bukan lagi kegiatan intelektual, memahami kehadiran Tuhan untuk sebuah jawaban Tuhan. Teologi adalah aksi dan misi iman di dalam dunia. Teolog dan mahasiswa teologi harus berani terlibat, berpartisipasi aktif, berbelas kasih, dan turut membangun peradaban Indonesia.

Har yakin sekali bahwa agama dan teologi dapat menjadi inspirasi kebaikan. Namun, saya sangsi. Sebab, di sisi lain, agama dan teologi yang tidak dihayati dengan baik bisa menjadi sumber kepasrahan dan legitimasi kejahatan.

Saya pikir, agama telah menjadi demonstrasi. Di ruang public, orang hadir dengan identitas agama. Agama dipolitisasi demi kepentingan ideologis kelompok. Orang terikat dan hanyut di dalam perbondongan.

Nietzsche menyebut ‘moralitas budak’, ‘moralitas perbondongan’ (Sudiarja, 2003: 196). Orang menjadi sedemikian patuh terhadap apa saja yang keluar dari mulut pemimpin dengan kedua belah mata yang tertutup.

Sudah waktunya teologi terlibat sebagai partisipasi aksi belas kasih, dan bukan aktivitas memahami kehadiran Tuhan dalam bencana. Tuhan tidak perlu dihadirkan oleh teologi. Kekeliruan Har Yansen dibaca kembali untuk menolong kekeliruan yang sama tidak terjadi lagi demi peradaban bangsa ini semakin lebih optimal di dalam menegaskan kehadirannya untuk masyarakat.

Menggugat teologi perlu dilakukan antara lain karena membangun relevansi pemikiran tentang Tuhan dan bencana adalah pandangan teologi yang terlampau ideal.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »