Transformasi Pendidikan di Era Globalisasi

Transformasi Pendidikan di Era Globalisasi

Transformasi pendidikan di era globalisasi menekankan adanya suatu perubahan radikal dalam bingkai pendidikan di Indonesia; mengacu pada persoalan-persoalan mengenai konteks kurikulum, fasilitas, tenaga pendidik, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Berbicara tentang globalisasi berarti berbicara tentang kehidupan global serta interaksi antara satu Negara dan negara lain di dunia dalam berbagai aspek secara umum. Menurut Lodge, globalisasi adalah suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia dapat menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan dalam semua aspek kehidupan mereka. Baik dalam aspek budaya, ekonomi, politik, teknologi, maupun lingkungan.

Sejalan dengan pemikiran Lodge di atas, Penulis bisa menggambarkan bahwa globalisasi memiliki arti dan makna tertentu di mana kata kunci “global” di sini mampu menyatukan antara masyarakat, baik secara nasional maupun internasional, dengan berbagai aspek yang sudah disebutkan di atas.

Menurut Beck dalam Tilaar (2004), globalisasi adalah proses dengan dampak pada penyerahan kedaulatan “national state” kepada “global players. Lanjutnya, era globalisasi memiliki 4 ciri utama; dunia tanpa batas, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran HAM serta kewajiban asasi manusia dan masyarakat mega kompetisi.

Teknologi informasi dan komunikasi menjadi pelopor utama atas perubahan global yang semakin pesat. Perubahan yang semakin subur tersebut membawa kita pada perubahan perilaku dalam meneropong fenomena global yang kian memanas. Bahkan, simbol-simbol budaya yang menjadi kekuatan sebuah bangsa dicekikkan oleh pengaruh rezim global yang kian tak terbendung.

Dalam konteks di atas, globalisasi membawa dampak yang besar dan signifikan pada perubahan sikap dan perilaku manusia. Baik secara positif maupun negatif. Perubahan globalisasi yang signifikan itu pula sangatlah ditentukan dari kehadiran peran pendidikan dalam meretas isu-isu global yang punya dampak buruk bagi kelangsungan kehidupan manusia.

Peran Pendidikan dan Urgensinya

Dalam Pasal 1 Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tersebutkan pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujdukan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Pendidikan menjadi salah satu unsur kebudayaan (kepercayaan, pendidikan, mata pencaharian, bahasa,, seni, dan adat istiadat). Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) juga diawali dengan sebuah sistem pendidikan. Adapun menurut Nashir (2013:14), pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan juga menjadi suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan.

Selain itu, menurut tokoh pendidikan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia, yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat (Dewantara II, 1994). Dalam konteks ini, pendidikan pada hakikatnya adalah sebuah upaya mendewasakan diri dalam rangka menciptakan perubahan perilaku manusia yang berkarakter dan berpotensi dalam meningkatkan ilmu dan pengetahuannya. Di sisi lain investasi pendidikan menjadi tolok ukur perubahan perilaku manusia; bukan hanya berilmu melainkan juga berkarakter.

Baca Juga Pendidikan Kritis Menghalau Politik Identitas

Amanat UUD 1945 juga menegaskan peran pemerintah untuk mewujudkan sistem pendidikan yang mencerdaskan rakyat. Pendidikan yang mencerdaskan rakyat merupakan keharusan akan hak-hak yang diperoleh rakyat menuju masyarakat yang demokratis, adil, dan makmur. Lantas, korelasi antara globalisasi dan peran pendidikan terletak pada perubahan perilaku manusia yang ditandai dengan kemampuan seseorang dalam melihat fenomena dunia dengan bantuan ilmu dan pengetahuan yang didapat serta kemampuan seseorang dan merefleksikan kehadiran perubahan global dengan akal dan pikirannya.

Untuk merestorasi itu semua pendidikan memiliki peran yang strategis sekaligus jadi modal di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat. Pendidikan sebagai leading sector dalam upaya pembangunan manusia memiliki peran yang amat vital untuk menjawab tantangan kapitalisme global yang makin tak terbendung. Upaya terus-menerus perlu dilakukan dengan mengedepankan strategi manajemen pendidikan dalam membantu mengangkat kualitas pendidikan kita yang terperosot.

Selama ini mutu pendidikan kita mengalami suatu kemunduruan yang berimbas pada menurunannya tingkat keberhasilan peserta didik baik secara kognitif, afektif, dan psikomotorik. Mengapa hal itu terjadi? Karena manajemen pendidikan kita selama ini tidak digagas dan dikemas dengan baik. Pemenuhan fasilitas di setiap sekolah menjadi tantangan besar di samping kebutuhan profesionalisme guru yang tentunya  muncul atau tercipta dalam ruang pendidikan yang berkualitas.

Sebab, pada dasarnya pendidikan merupakan proses pengembangan potensi manusia, baik potensi fisik maupun psikis. Dalam diri manusia terdapat beberapa potensi; potensi-potensi tersebut tidak dapat berkembang dengan baik tanpa adanya proses kegiatan pendidikan yang berkualitas.

Persaingan global yang semakin represif tentu mengharuskan kita semua mampu menghadapi gejolak-gejolak yang terjadi dengan menempatkan pendidikan dan kekayaan budaya Indonesia di garda terdepan dalam upaya menciptakan perubahan peradaban perilaku manusia sekaligus peningkatan sumber daya manusia itu sendiri.

Upaya dan harapan tentu ada, namun belum menjawab semua tantangan yang kita hadapi dalam melihat fenomena proses pendidikan selama ini. Upaya peningkatan manusia yang mumpuni di tengah persaingan global merupakan salah satu prioritas pemerintah dengan memberikan aksesibilitas ruang belajar yang luas dan dengan memberikan berbagai bantuan dalam upaya meningkatkan kemampuan, baik secara pengetahuan maupun keterampilan. Konsep pendidikan di era global ini menekankan pada aspek berpikir secara inklusif serta menekankan peningkatan sumber daya manusia melalui suatu proses pendidikan yang berkualitas.

Pandemi COVID-19 bisa juga dibaca sebagai penanda kekuatan awal dalam merancang masa depan pendidikan Indonesia. Dengan dirancangnya pendidikan secara online atau istilah BDR (Belajar Dari Rumah) harapan besar sedang ditaruh agar penggunaan teknologi bisa diimplementasikan dengan sebaik mungkin supaya tidak menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat akan penggunaan digital itu sendiri. Semuanya itu harus dikemas dengan baik, entah oleh pemerintah ataupun oleh sekolah sebagai eksekutor di tengah lapangan.

Transformasi Pendidikan di Era Globalisasi

Pada prinsipnya, konsep transformasi pendidikan di era globalisasi menekankan adanya suatu perubahan radikal dalam bingkai pendidikan di Indonesia sehingga kita bisa menikmati yang namanya peradaban baru dalam dunia pendidikan. Transformasi itu tentunya haruslah mengacu pada persoalan-persoalan mengenai konteks kurikulum, fasilitas, tenaga pendidik, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Adapun proses belajar-mengajar, yang diatur lewat kurikulum, juga diupayakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menimba berbagai ilmu dan pengetahuan, serta menciptakan SDM yang berkarakter. Kurikulum sendiri adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai  pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.

Sekarang seiring perkembangan zaman pemerintah melakukan terobosan baru terhadap pendidikan kita ke depannya. Terobosan baru itu adalah melalui penerapan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif, kreatif, ifovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, berNegara, dan berandil dalam peradaban dunia (Permendikbud RI No 67 Tahun 2013). Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan karena ada tantangan internal maupun eksternal (Kemendikbud, 2013). Tantangan internal sehubungan dengan kondisi delapan standar nasional pendidikan yang telah berjalan dan faktor perkembangan penduduk Indonesia menjelang 100 tahun Indonesia merdeka. Tantangan eksternal berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogik, serta berbagai fenomena  negatif yang mengemuka.

Kurikulum Nasional 2013 menuntut guru untuk melaksanakan pembelajaran yang berbasis tematik-integratif. Guru juga dituntut untuk tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga harus memiliki kompetensi pedagogik, sosial, dan kepribadian. Selain itu, Kurikulum Nasional 2013 juga menuntut guru-guru untuk melakukan pembelajaran berbasis pendekatan saintifik. (Nyoman dan Sukanto. Survey Permasalahan Implementasi Kurikulum Nasional, 2013 Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Sekolah Menengah Pertama Di Jawa Timur, Sejarah dan Budaya, Tahun Kesembilan, Nomor 2, Desember 2015. Hal 193-195).

Sejalan dengan pemikiran di atas, komitmen pemerintah RI dalam meningkatkan pendidikan di antaranya tercermin dalam upaya meningkatkan profesionalitas guru. Upaya tersebut diawali dengan penetapan guru sebagai profesi dan disusul dengan penerbitan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, karena dalam kehidupan suatu Negara, pendidikan memegang peranan penting untuk menjamin kelangsungan hidup, pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia.

Baca Juga Ekonomi Politik Pendidikan Indonesia Timur yang Inklusif Disabilitas (Perkembangan Gerakan Advokasi untuk Perguruan Tinggi Inklusif Disabilitas di NTT)

Namun, adapula tantangan yang terjadi yakni rendahnya mutu dan relevansi pendidikan di Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain mutu proses pembelajaran yang belum mampu menciptakan pembelajaran yang berkualitas, distribusi guru yang tidak merata, pendayagunaan yang belum efisien, belum menghasilkan kinerja guru secara optimal,  profesionalisme guru masih dirasakan rendah dan kinerja guru yang berorientasi pada penguasaan teori dan hafalan yang tentunya menyebabkan kemampuan peserta didik tidak dapat berkembang secara optimal.

Karena itu, persoalan mutu pendidikan secara keseluruhan tidak terlepas dari persoalan mutu guru sebagai ujung tombak dari penyelenggaraan pendidikan itu sendiri karena guru merupakan orang yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan dalam mewujudkan cita-cita pembangunan nasional terutama pendidikan nasional.

Kurikulum pemerintah juga hendaknya menuju hal yang kontekstual dengan berkaca pada situasi budaya lokal, bukan hanya mengejar target perolehan kognitif, tetapi betul-betul mengarah pada pembangunan SDM yang unggul dan produktif. Pendidikan karakter betul-betul dibangun dengan mengedepankan nilai-nilai moral untuk menjaga hubungan relasi sosial antarumat manusia dan nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila.

Upaya dan Harapan

Pendidikan nasional saat ini harus mampu menjamin pemerataan  kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi pendidikan. Oleh karena itu, sistem pendidikan nasional harus diterapkan secara merata di seluruh pelosok tanah air sehingga sumber daya manusia bisa berkembang. Karena itu, pendidikan merupakan suatu wadah yang kaya akan ilmu pengetahuan dan diberikan kepada manusia agar menjadi pribadi yang terdidik untuk bangsa dan Negara.

Ada beberapa masukan dari Penulis sebagai bagian dalam menanggapi isu mengenai rancangan konsep pendidikan kita ke depannya terutama dalam kaitannya dengan kosa gagasan transformasi pendidikan di era globalisasi.

  • Pemerintah melakukan penelusuran serta mengevaluasi realitas pendidikan kita selama ini.
  • Pemerintah mengkaji lagi tatanan stuktur dan manajemen pendidikan agar betul-betul menjawab persoalan pendidikan kita selama ini.
  • Pengkajian secara lebih mendalam terhadap Kurikulum 2013 (K-13) yang sudah diimplementasikan, karena banyak persoalan-persoalan yang muncul dari perubahan KTSP ke K-13.
  • Penguatan pendidikan berbasis karakter 
  • Peningkatan kualitas dan kinerja profesi guru seyogyanya berjalan seimbang dan simultan.
  • Pemenuhan fasilitas tiap sekolah haruslah merata di setiap pelosok negeri.

Sebagai penutup, Penulis mengutip apa yang dikatakan Sir John Lubboc. Sistem pendidikan yang bijaksana setidaknya akan mengajarkan kita betapa sedikitnya yang belum diketahui oleh manusia, dan seberapa banyak yang masih harus ia pelajari.

Transformasi pendidikan di era globalisasi menekankan adanya suatu perubahan radikal dalam bingkai pendidikan di Indonesia; mengacu pada persoalan-persoalan mengenai konteks kurikulum, fasilitas, tenaga pendidik, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »