Richard Rorty. Ilustrasi/redbubble.com

Richard Rorty: Liberalisme Ironis dan Demokrasi

Richard Rorty mendorong apa yang disebut dengan “post-religon”, yaitu reinterpretasi peran agama dalam bingkai kemanusiaan universal, dengannya agama-agama keluar dari benteng-benteng doktrinnya, dan bergandengan tangan menjawab masalah kemanusiaan.

Salah satu tema penting dalam diskursus dan perdebatan filosofis adalah soal prinsip etis manakah yang dapat dijadikan sebagai acuan nilai kehidupan bersama. Perdebatan ini pernah diselesaikan oleh proyek filsafat modern yang menetapkan dasar-dasar metafisik sebagai landasan etis hidup bersama.

Namun, seiring berkembangnya kesadaran masyarakat kontemporer akan pluralisme dan demokrasi, proyek filsafat modern tersebut problematis. Pengalaman kolonialisme dan totalitarianisme abad ke-20 hingga maraknya fundamentalisme dan teror atas nama agama hari-hari ini menunjukkan bahwa hasrat membangun kebenaran metafisik sebagai landasan etis hidup bersama berbahaya bagi cita-cita demokrasi.

Dalam hidup bersama di ruang publik dengan tumpang-tindih nilai dan pandangan moral, kita membutuhkan gagasan tentang subjek yang cair dan kontingen untuk menangkal bahaya fanatisme dan konservatisme. Dalam konteks inilah, pandangan pragmatis Richard Rorty (1931-2007), filsuf asal Amerika Serikat, tentang liberalisme ironis dan implikasinya bagi demokrasi sangat penting untuk diulas kembali.

Penolakan terhadap Filsafat Pendasaran dan Kontingensi Bahasa

Dalam karya-karyanya, Rorty secara konsisten menyerang filsafat analitik sistematis dan berbagai tipe “filsafat profesional” yang dilihatnya sebagai kelanjutan filsafat tradisional. Rorty mempertanyakan secara radikal klaim filsafat tradisional yang hendak mempelajari dasar terdalam realitas sampai pada fundamen pengetahuan. Kritik terhadap filsafat tradisional dan persoalan masa depan filsafat menjadi inti telaah Rorty dalam buku Philosophy and the Mirror of Nature (1979).

Perlu diketahui, yang dikritik Rorty bukan filsafat sebagai usaha berpikir kritis, melainkan konsep-konsep filsafat yang dianggap pasti dan berlaku universal. Dengan kata lain, Rorty menyerang filsafat dengan “F” yang diwariskan sejak Descartes hingga bentuknya yang paling tegas dalam filsafat Kant. Filsafat semacam ini berusaha mencari jawaban atas pertanyaan tentang hakikat pengertian normatif yang pasti dari kebenaran, kebaikan, dan subjek.  

Rorty mengkarakterisasi filsafat sebagai “sebuah disiplin yang mengklaim diri sebagai usaha menjamin atau menolak pengetahuan yang dihasilkan oleh sains, moralitas, seni dan agama, yang berarti menentukan hakikat dan fondasi pengetahuan, budaya dan bahkan pikiran.” [1] Dalam konteks ini, para filsuf juga sering menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang berkecimpung dalam urusan memahami masalah-masalah metafisik, dan karena itu berspekulasi tentang hakikat pengetahuan manusia.  

Dengan obsesi tersebut, filsafat berupaya menemukan suatu kebenaran objektif. Filsafat lalu melihat “pikiran sebagai cermin yang berisi berbagai representasi – beberapa akurat dan yang lain tidak – dan mampu dipelajari dengan murni, yaitu tanpa metode empiris.” [2]

Filsafat terperangkap dalam representasionisme, yaitu pandangan bahwa “pada tingkat paling dasar, pikiran mengandung berbagai macam keyakinan, dan tugas filsafat ialah memastikan keyakinan dan pikiran kita sungguh-sungguh merepresentasikan secara akurat dan objektif realitas sebagaimana adanya.”[3] Menurut Rorty, klaim pikiran dapat berfungsi sebagai cermin realitas ini adalah letak kesalahan filsafat tradisional.

Baca Juga Kant, Mentalitas Teknokratik, dan Sikap Beragama Kita: Catatan Etis atas Heboh Kontroversi Kepulangan Rizieq Shihab

Rorty membangun kritiknya berdasarkan pandangan Wittgenstein, Heidegger, dan John Dewey. Menurutnya, yang sama dari tiga filsuf ini adalah bahwa pada awalnya, mereka terobsesi mencari dasar metafisik pengetahuan. Namun, mereka kemudian sadar akan kekeliruan itu, dan melihat bahwa filsafat harus melepaskan diri dari keinginan untuk mencari dasar-dasar metafisis yang bersifat kekal.

Rorty lalu menyimpulkan bahwa teori representasi yang dipegang filsafat sejak abad ke-17 dan kriteria transenden yang diwariskan Descartes, Kant atau aliran neo-Kantian mustahil diterima lagi. Evaluasi atas klaim-klaim kebenaran tidak lagi bergantung pada kriteria umum, melainkan pada persetujuan sosial.

Menurut Rorty, persetujuan sosial tersebut tidak bersifat transenden dan ahistoris karena merupakan produk historis dan kultural dari percakapan dan praktik-praktik sosial. Maka, semua klaim kebenaran selalu kebetulan sifatnya.

Kontingensi klaim kebenaran itu bertolak dari kontingensi bahasa atau kosakata akhir. Yang dimaksud kosakata akhir ialah keseluruhan term, konsep atau ekspresi dengannya kita mengartikulasikan nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan dasar kita. Dalam Contingency, Irony and Solidarity, Rorty menulis, “apa yang benar ialah klaim bahwa bahasa itu diciptakan dan bukan ditemukan, dan bahwa kebenaran adalah milik bahasa atau kalimat-kalimat.” [4]

Baca Juga Manusia dan “Etika Tanpa Fiksi” menurut Yuval Noah Harari

Maksud Rorty jelas: kita hanya dapat memahami dunia sebagaimana kita mendeskripsikannya. Deskripsi atas dunia itu kita nyatakan dalam bahasa, karena dunia tidak mungkin memberikan dirinya secara objektif kepada kita. Dunia ada di luar sana, dan tidak seperti bahasa, dia tidak diciptakan oleh pikiran manusia. Sedangkan kebenaran sepenuhnya adalah proses mental yang bergantung pada bahasa. Jika bahasa tidak ada, maka kebenaran juga tak ada. [5]

Konsekuensinya, sama seperti kosakata akhir itu kebetulan, setiap klaim kebenaran juga bersifat kebetulan. Karena setiap komunitas mempunyai kosakata akhirnya sendiri, maka kebenaran sebuah interpretasi hanya berlaku dalam komunitas tersebut.

Atau karena kosakata akhir memiliki keterbatasan jangkauan, maka terbatas pula jangkauan pandangan moral dan sistem nilai sebuah komunitas. Jadi, tidak ada pandangan dunia atau keyakinan etis yang lebih benar daripada yang lain. [6]

Tidak ada instrumen dan tolok ukur untuk menilai interpretasi paling benar atau salah karena bahasa sebagai alat deskripsi kebenaran  bersifat kontingen. Dengan demikian, klaim pikiran mampu merumuskan struktur logis realitas dan kebenaran objektif seperti dalam ilmu alam adalah klaim-klaim yang tidak kurang fantastis daripada sastra.

Kontingensi bahasa, yang berarti kontingensi klaim-klaim kebenaran, menuntut kita bersikap ironis. Ironi adalah cara untuk mempertanyakan segala macam klaim yang ada dalam lingkup interpretasi dan bahasa kita.

Manusia Metafisik dan Kerusakan Demokrasi    

Jika ironi adalah kemampuan untuk mempertanyakan kosa kata akhir sendiri, sikap metafisik sebaliknya adalah keyakinan yang kuat akan kebenaran kosakata akhir sendiri sehingga dianggap dapat berlaku untuk semua. Keduanya membawa implikasi politis yang kuat dalam pergaulan publik seseorang.

Ironi membawa kita kepada kelenturan dan sikap yang cair menghadapi perbedaan. Sebaliknya, sikap metafisik mempersempit jalan kepada pengakuan terhadap pluralitas di ruang publik.

Menurut Rorty, kecenderungan metafisik ini ditemukan dalam diri manusia metafisik. Manusia metafisik adalah “orang yang percaya bahwa pertanyaan apa kodrat hakiki seseorang (misalnya keadilan, ilmu pengetahuan, eksistensi, iman, moralitas, filsafat) mempunyai arti objektif. Dia yakin bahwa kehadiran sebuah kata dalam kosakata akhirnya mampu mencerminkan hakikat kenyataan di luar dirinya.” [7]

Terperangkap dalam ilusi “menangkap hakikat realitas” itu, seorang metafisik tidak kreatif dan cenderung konservatif, dalam arti, dia tidak mampu mendeskripsikan ulang klaim-klaim kebenaran atau pandangan moral yang diwariskan, tetapi menerimanya begitu saja sebagai kebenaran final. Inilah alasan mengapa manusia metafisik mudah bersikap fanatik, konservatif, dan sulit terbuka dengan orang lain.  

Jika dari gagasan manusia metafisik ini ditarik konsekuensinya, maka terbentang di hadapan kita aneka masalah kerusakan demokrasi. Manusia metafisik kita temukan dalam diri kelompok-kelompok fanatik dan ekstrimis religius yang memaksakan pandangan moral agamanya di ruang publik.

Baca Juga Menyoal Relasi Agama dan Pasar di Tengah Gempuran Globalisasi Kapital

Manusia metafisik juga kita temukan dalam diri penguasa totaliter yang anti-kritik atau membungkam kritik dengan delik. Manusia metafisik juga kita temukan dalam ideologi-ideologi politik radikal, atau dalam saintisme yang memandang sains sebagai kosa kata akhir yang paling benar untuk menjelaskan segala sesuatu .

Dalam tulisannya Human Rights, Rationality, and Sentimentality, Rorty menggambarkan bahwa konsep metafisik yang dipegang teguh oleh manusia metafisik ini mempengaruhi pahamnya terhadap orang lain. Orang-orang Serbia yang memperkosa dan membunuh orang-orang muslim dalam perang Bosnia, tulis Rorty, tidak berpikir bahwa mereka telah melanggar hak asasi manusia karena mereka yakin bahwa mereka tidak membunuh sesama manusia, melainkan membunuh orang Muslim. [8] Orang-orang Serbia adalah contoh manusia metafisik yang terperangkap dalam pembedaan antara manusia asli dan manusia palsu.

Demikian pun Nazi yang membantai jutaan orang Yahudi selama perang dunia II tidak menganggap orang Yahudi sebagai manusia, melainkan sebagai kelompok ras rendah. Kisah-kisah kolonialisme abad ke-20 berakar pada pandangan metafisik tuan-tuan penjajah bahwa “manusia Barat adalah manusia rasional, cerdas, beradab”, sementara manusia “Timur” itu bodoh, eksotik, terbelakang, dan tidak beradab.”

Di Indonesia, dari tragedi penumpasan PKI 1965/1966, kekerasan terhadap etnis Cina-Tionghoa pada Mei 1998, konflik etnis yang tak terhitung jumlahnya, hingga menyeruaknya aksi-aksi intoleran kelompok fundamentalis religius hari ini adalah contoh nyata implikasi destruktif dari kehadiran manusia-manusia metafisik di ruang publik. Semua itu menunjukkan hubungan sikap metafisik di ruang publik dan rusaknya demokrasi.

Liberalisme Ironis dan Demokrasi

Orang-orang yang menyadari bahwa pandangan dunia, sistem nilai atau keyakinan-keyakinannya yang paling mendasar pun bersifat kebetulan disebut oleh Rorty sebagai manusia ironis. [9] Manusia ironis ialah “seseorang yang menemukan suatu kebetulan di inti keyakinan, pandangan hidup atau nilai yang dipegangnya,” [10] dan karena itu, seperti seorang nominalis dan historisis, dia menolak pencarian dasar-dasar yang transenden dan ahistoris.

Seorang ironis juga memiliki keraguan radikal terhadap kosa kata akhir yang dia pakai saat ini. Dia sungguh menyadari bahwa klaim kebenaran atau pandangan hidup yang dibungkus dalam kosa kata akhirnya saat ini juga tidak bisa menjamin atau menghilangkan keraguan tersebut. [11]

Dengan kata lain, manusia ironis mengakui bahwa kosa kata akhirnya selalu berubah-ubah dan kebetulan, serta hanya berlaku dalam komunitasnya sehingga mustahil memegangnya secara teguh. Konsekuensinya, seorang ironis yakin bahwa pandangan dunia, keyakinan etis, dan nilai-nilai moralnya juga bersifat kebetulan.

Karena kosa kata bersifat terbatas dan kebetulan, maka bagi manusia ironis, mencari pendasaran universal dan final merupakan sebuah usaha yang sia-sia dan tidak masuk akal. Sebab, apa yang dimaksud “pendasaran universal dan final” itu tak pernah netral. Tak pernah netral karena manusia selalu terperangkap dalam komunitas dan sejarah hidupnya masing-masing. Karena kosakata akhir terbatas, maka setiap klaim kebenaran hanya mengungkapkan keunikan atau kekhususan pengalaman komunitas tertentu .

Apakah itu berarti seorang ironis skeptis total terhadap segala sesuatu? Rorty menolak kesimpulan itu. Menurutnya, selama kosa kata akhir tidak berubah, seorang ironis dapat berpegang teguh pada keyakinannya, bahkan bersedia mati untuknya. Seorang ironis tidak harus berarti skeptis total, sama seperti seorang yang meyakini sesuatu tidak harus bersikap fanatik. [12] Seorang ironis tetap memiliki komitmen terhadap keyakinannya.

Baca Juga Transformasi Relasi Sosial Menjadi Jalur Eksploitasi Ekonomi di Era Neoliberal

Namun, komitmen itu tidak terlepas dari kesadaran akan kontingensi. Sadar akan kontingensi dan kerapuhan dirinya, seorang ironis “tidak pernah bisa menganggap dirinya secara serius”. [13] Artinya, bukan saja kosa kata akhirnya yang kontingen, melainkan juga seorang ironis menganggap dirinya kontingen. Rorty menyebutnya sebagai “the contingency of selfhood” (kontingensi diri).

Bersikap ironis di ruang privat tentu tidak soal. Masalah muncul ketika seorang ironis masuk ke ruang publik di mana dia berhadapan dengan orang lain dari komunitas lain dengan kosa kata akhir yang berbeda. Maka pertanyaannya, apakah seorang ironis yang memandang kepercayaannya secara ironis masih dapat menghormati keyakinan orang lain? [14]

Rorty menyadari keseriusan dalam pertanyaan-pertanyaan ini dan karena itu ia mengatakan bahwa seorang ironis juga harus mampu bersikap liberal. Mengikuti Judith Shklar, Rorty memahami “liberal” sebagai “orang yang berpikir bahwa kekejaman adalah perbuatan yang paling buruk”.

Dengan demikian, seorang liberal-ironis adalah “orang yang selain meragukan keyakinan dasarnya sendiri, tetapi juga memiliki harapan bahwa penderitaan akan berkurang dan bahwa penghinaan atau kekejaman akan berakhir”. [15] Kita hanya dapat merasakan penderitaan orang lain atau tidak berlaku kejam terhadapnya kalau kita berani meragukan pandangan kita sendiri (ironis) serentak menghormati orang lain dengan pandangan, keyakinan atau sejarahnya (liberal) .

Oleh karena itu, seorang liberal ironis memainkan peran yang sangat konstruktif, yaitu “mengakomodasi makna privat identitasnya ke dalam cita-cita liberalisme”. [16] Ketika liberalisme dan ironi bersatu, hasilnya ialah pembentukan komitmen kepada liberalisme oleh seorang ironis yang secara privat mengakui kontingensi historis klaim kebenaran atau keyakinannya. Sebagai seorang liberal, dia menghormati cita-cita dan harapan akan kebebasan, keadilan, dan kesetaraaan, dan karena itu berbuat kejam atau bertindak tidak adil terhadap orang lain adalah perbuatan buruk yang menghancurkan harapan liberalnya sendiri. Sebagai seorang ironis, dia meragukan klaim kebenarannya sendiri, karena dia tahu bahwa hanya dengan meragukan klaim kebenaran sendiri, dia dapat menghormati kosa kata-kosa kata lain di luar komunitasnya.

Baca Juga Compassio dan Pentingnya Semangat Biofil di Tengah Covid – 19

Lawan manusia liberal ironis adalah manusia liberal metafisik. Manusia liberal metafisik (termasuk para filsuf liberal kontemporer, kecuali Rorty) adalah mereka yang menganggap bisa menentukan klaim-klaim dasar dan universal tentang keadilan, hak, dan kebebasan. [17] Mereka berpendapat bahwa untuk bersikap adil atau solider dengan orang, diperlukan sebuah pendasaran. Misalnya, karena Allah menghendakinya, atau karena manusia itu makhluk rasional, atau karena sama-sama manusia. [18]

Yang keliru dari kaum liberal ironis bukan liberalismenya (kehendak akan kebebasan, keadilan atau kesetaraan) melainkan kecenderungan metafisiknya, keyakinan bahwa harapan liberal akan kebebasan, keadilan atau kesetaraan itu hanya dapat berjalan di atas dasar pengandaian atau klaim-klaim filosofis yang universal dan final.

Pandangan Rorty tentang manusia liberal ironis, dan kontradiksinya dengan manusia liberal-metafisik tersebut, sangat berpengaruh bagi demokrasi. Bagi Rorty, dalam kehidupan bersama, demokrasi lebih penting daripada filsafat. Filsafat tidak dapat lagi menjamin landasan kebenaran bagi demokrasi.

Benar bukan lagi apa yang secara akurat merefleksikan realitas, melainkan apa yang lebih baik dan berguna. Yang lebih baik adalah yang mendukung demokrasi dan hidup bersama. Dengan kata lain, kebenaran bukan lagi persoalan objektivitas, melainkan solidaritas, bukan masalah epistemologi atau ontologi, melainkan persoalan etika.

Selain itu, prioritas demokrasi terhadap filsafat muncul dari pertimbangan bahwa demokrasi merupakan pengakuan paling nyata terhadap ciri kebetulan klaim kebenaran atau nilai yang kita pegang. Dalam demokrasi, yang dicari bukan pandangan yang paling benar, melainkan yang paling cocok dan berguna bagi kehidupan bersama dan itu ditentukan oleh masyarakat sendiri. [19]

Gagasan Rorty tersebut berguna untuk menyelamatkan demokrasi dari pertarungan klaim-klaim fanatik yang sering berujung kekerasan. Rorty mau menunjukkan bahwa demokrasi liberal tidak membutuhkan dasar-dasar filosofis, melainkan sikap etis dan tindakan praktis yang berguna bagi kehidupan bersama.  

Baca Juga Covid-19 dan Humanisme Katolik dalam Tinjauan Filosofis dan Etika Katolik

Agar suatu pandangan filosofis tidak menjadi alat pembenaran kelompok tertentu, Rorty tetap mempertahankan perbedaan ruang publik dan ruang privat dalam demokrasi liberal. Menurutnya, percobaan untuk menyatukan ruang publik dan ruang privat bukan saja sebuah proyek yang sia-sia, melainkan juga tidak perlu, karena setiap ruang mempunyai legitimasi dan tanggung jawab masing-masing.

Rorty memberikan contoh dalam pandangannya tentang anti-klerikalisme. Menurutnya, anti-klerikalisme adalah perspektif politis, bukan epistemologis atau metafisis. [20]

Maksud Rorty, anti-klerikalisme dipersoalkan hanya dalam hubungannya dengan politik/demokrasi, bukan metafisika. Yang pertama (politik) adalah ruang publik, dan yang kedua (metafisika/epistemologi) adalah ruang privat.

Anti-klerikalisme dapat dipersoalkan karena “institusi-institusi agama, di samping segala hal baik yang mereka lakukan terhadap yang mempercayainya, berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi”. [21] Jadi, bukan agama sebagai perspektif teologis yang menakutkan, melainkan secara politik, referensi mereka kepada ketuhanan dalam pergaulan publik berpotensi intoleran dan merusak demokrasi yang diharapkan menjadi gawang kehidupan bersama.

Kiranya jelas, Rorty meneruskan perbedaan ruang publik dan ruang privat sebagai sesuatu yang sangat penting dalam demokrasi liberal, namun dengan konsekuensi yang berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya, ruang privat adalah ruang olahan sastra yang memupuk perasaan, maka Rorty membalikkannya dengan menempatkan filsafat di ruang privat. Menurutnya, “ruang privat adalah ruang seseorang mewujudkan atau mengembangkan dirinya, sedangkan ruang publik adalah ruang di mana perhatian diberikan kepada penderitaan dan kesengsaraan orang lain”. [22]

Maka, Rorty mau mengalihkan filsafat menjadi sastra. Sastra, laporan jurnalis atau etnografis, dapat mempertemukan kita dengan orang-orang dari kebudayaan lain dan kisah-kisah mereka, serta dapat membuat kita peka terhadap penderitaan mereka yang tidak berbicara dalam bahasa kita.

Baca Juga Martabat Manusia sebagai Basis Etis Masyarakat Multikultural

Dengan membuat pembedaan itu, Rorty menunjukkan sikapnya sendiri terhadap politik dan demokrasi liberal. Menurutnya, agar mengalami kemajuan liberal dan moral, baik masyarakat Barat maupun masyarakat di tempat lain tidak saja perlu menyadari kontingensi historisnya, melainkan juga menyadari bahwa keberlangsungannya sangat ditentukan oleh solidaritas dan simpati sosial terhadap penderitaan dan kekejaman yang dialami orang lain. [23]

Sebagai seorang liberal, Rorty memiliki harapan sosial akan terwujudnya masyarakat yang bebas, adil, dan demokratis. Tentang itu, dalam koleksi artikel, Philosophy and Social Hope, dia menulis: “Karya-karya saya selama beberapa dekade terakhir berisikan usaha untuk mengikat harapan-harapan sosial saya, yaitu harapan akan sebuah masyarakat global, kosmopolitan, demokratik, egalitarian, dan tanpa kelas-kelas, yang juga menunjukkan ketidaksepakatan saya dengan Platonisme.” [24]

Rorty mau melakukan redeskripsi atas keyakinan-keyakinan liberalnya supaya berguna dalam menjawabi kenyataan sosial terutama pengalaman penderitaan dan kesengsaraan orang lain.

Bagi Rorty, seorang liberal-ironis merasakan pengalaman penderitaan orang lain tidak dengan pengandaian-pengandaian filosofis atau teologis, melainkan dengan secara praktis menunjukkan solidaritas nyata. Demokrasi, karena itu, lebih baik dan berguna dilihat sebagai suatu ranah solidaritas daripada panggung pertunjukkan doktrin metafisis religius atau teori-teori filsafat.

Solidaritas ini tidak ditemukan melalui refleksi, melainkan diciptakan. Solidaritas diciptakan dengan meningkatkan kepekaan kita terhadap segi-segi rasa sakit dan keterhinaan orang lain, orang yang belum kita kenal. [25]

Baca Juga Oligarki, Paradoks Demokrasi, dan Populisme Kiri di Indonesia

Berdasarkan gagasan kontingensi bahasa tadi, Rorty merumuskan pahamnya tentang solidaritas. Menurutnya, solidaritas tidak dapat dilukiskan dengan kosa kata universal karena setiap kosa kata merujuk pada satu komunitas tertentu saja. “Pemaknaan kita terhadap solidaritas menjadi sangat kuat ketika orang-orang yang kepadanya solidaritas itu diekspresikan dilihat sebagai salah satu dari antara kita di mana “kita” di sini berarti sesuatu yang lebih kecil dan lokal daripada seluruh umat manusia.” [26]

Itu berarti, solidaritas dengan para penderita tidak memerlukan universalitas konsep atau kosa kata universal, melainkan kepekaan dan tindakan praktis terhadap para penderita dan korban yang terkapar di depan mata.

Di sini, tampak perbedaan Rorty dan Habermas meskipun sama-sama liberal. Kalau mau bertindak moral, bertindaklah tanpa memerlukan premis-premis filosofis, melainkan cukup dengan kesadaran “tak ada hal di dunia ini yang lebih buruk daripada kekejaman”.

Solidaritas hanya mungkin jika kita peka dan berani bersentuhan dengan orang lain. Artinya, selama seseorang masih dilihat sebagai “orang kafir”, “PKI”, “lesbian”, “homoseks”, atau golongan ekstrim, kita mudah bertindak kejam terhadap mereka. Begitu kita melihat dia sebagai orang dengan isteri dan anak yang menderita, kita akan mampu menahan diri untuk bertindak kejam terhadapnya. [27]

Bagi Rorty, kepekaan atau sentimentalitas jauh lebih penting daripada prinsip-prinsip rasional HAM. Sebab, kita mampu mengabaikan perbedaan suku, agama atau aliran politik bukan karena refleksi filosofis tentang “kodrat universal” manusia, melainkan semata-mata karena merasakan kesamaan dalam penderitaan yang dialami orang lain.

Jadi, hal terpenting dalam demokrasi adalah solidaritas, yaitu belajar untuk merasakan penderitaan orang lain. Gagasan-gagasan Rorty tersebut sangat berguna dalam mewujudkan harapan sosial, yaitu terbentuknya masyarakat yang demokratis, kosmopolitan, egaliter, dan tanpa kelas-kelas.

Kritik

Sekurang-kurangnya ada tiga kritik terhadap pandangan Rorty.

Pertama, pandangan Rorty bahwa tindakan moral tidak memerlukan pendasaran tampak bermasalah. Masyarakat modern memiliki kompleksitas persoalan moral yang memerlukan pertimbangan etis dan prinsip rasional. Bagaimana memberikan penilaian moral terhadap seorang miskin yang merampas harta orang kaya, atau terhadap seorang perempuan yang meminta dokter melakukan aborsi karena himpitan ekonomi?

Kepekaan spontan atau perasaan saja tidak cukup memecahkan dilema moral semacam ini. Kita membutuhkan pendasaran objektif agar pilihan etis dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

Kedua, pemisahan Rorty atas ruang privat dan ruang publik juga bermasalah karena dalam kenyataan keduanya sulit dipisahkan satu sama lain. Dalam kenyataan, seorang yang ironis di ruang privat mudah bersikap ironis terhadap nilai-nilai liberal di ruang publik. Dengan bersikap ironis terhadap nilai-nilai liberal, bukankah kita sulit meyakinkan orang lain untuk melakukan perjuangan sosial di ruang publik?

Ketiga, penolakan Rorty terhadap prinsip HAM juga bermasalah. Dengan menolak HAM, kita kehilangan alasan rasional mengapa melawan penindasan perempuan dalam ruang privat agama atau budaya; atau mengapa kita menolak rasisme terhadap orang kulit hitam di Amerika. HAM memang bukan idea metafisik, tetapi dia memberi alasan rasional mengapa kita membela keadilan dan melawan ketidakadilan.

Baca Juga Politik Pasca-Kebenaran

Kritik terhadap Rorty sama sekali tidak mengecilkan relevansi dan signifikansi pemikirannya. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, pemikiran Rorty sangat relevan bagi  masyarakat plural yang menerima sistem demokrasi seperti Indonesia. Berhadapan dengan gelombang fanatisme religius yang menghantam sendi-sendi demokrasi, gagasan liberalisme ironis Rorty dapat menjadi penopang.

Selain itu, usulannya agar kaum intelektual jangan hanya berteori tetapi juga mengambil tindakan etis praktis dengan terlibat membantu para korban merupakan salah satu gagasan yang relevan. Dan bagi agama-agama, pandangan Rorty tentang solidaritas merupakan dorongan untuk memberi perhatian pada keterlibatan dengan penderitaan.

Gagasan Rorty mendorong apa yang disebut dengan “post-religon”, yaitu reinterpretasi peran agama dalam bingkai kemanusiaan universal, dengannya agama-agama keluar dari benteng-benteng doktrinnya, dan bergandengan tangan menjawab masalah kemanusiaan. Di tengah aneka bencana kemanusiaan, seperti pandemi Covid-19 saat ini, gagasan Rorty tentang solidaritas menjadi seruan moral yang amat relevan dan signifikan.


Catatan Kaki

[1] Richard Rorty, Philosophy and the Mirror of Nature (New Jersey: Princeton University Press, 1979), hlm. 3.

[2]  Ibid., hlm. 12.

[3] Charles Guignon & David R. Hiley (eds.),  Richard Rorty (New York: Cambridge University Press, 2003), hlm. 7.

[4] Richard Rorty, Contingency, Irony and Solidarity/CIS (New York: Cambridge University Press, 1989), hlm. 6.

[5] Ibid.

[6] F. Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20 (Yogyakarta: Kanisius, 2000), hlm. 244.

[7] Richard Rorty, CIS, op.cit., hlm. 74.

[8] Richard Rorty, “Human Rights, Rationality and Sentimentality”, dalam  Aakash Singh Ratore & Alex Cistelecan (eds.), Wronging Rights? (Routledge India, 2011), hlm. 112.

[9] Franz Magnis-Suseno, op.cit., hlm. 244.

[10]Richard Rorty, CIS, op.cit., hlm. xv.

[11] Ibid., hlm. 73.

[12] Franz Magnis-Suseno, op.cit., hlm. 246.

[13] Richard Rorty, CIS, op.cit., hlm. 73.

[14] Franz Magnis-Suseno, Etika abad ke-20 (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm. 259.

[15] Richard Rorty, CIS, op.cit., hlm. xv.

[16] Ibid., hlm. 68.

[17] Richard. J. Bernstein, “Rorty’s Inspirational Liberalism,” dalam Alan Malachowski, A companion to Richard Rorty (Wiley Blackwell, 2020), hlm. 128.

[18] Franz Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, op.cit., hlm. 249.

[19] Ibid., hlm. 243.

[20] Ola Sigurdson, “Beyond Secularism? Toward A Post-Secular Theology,” dalam Jurnal  Compilation, Modern Theology(Blackwell Publishing, 2010), hlm. 178.

[21] Ibid.

[22] Richard Rorty, CIS, op.cit., hlm. 198.

[23] Richard J. Barnstein,  op.cit., hlm. 132.

[24] Richad Rorty, Philosophy and Social Hope (London: Penguins Books, 1999), hlm. xii.

[25] Richard Rorty, CIS, op.cit., hlm. 152.

[26] Ibid., hlm. 191.

[27] Franz Magnis-Suseno, 12 Tokoh Etika Abad ke-20, op.cit., hlm. 253.

Richard Rorty mendorong apa yang disebut dengan “post-religon”, yaitu reinterpretasi peran agama dalam bingkai kemanusiaan universal, dengannya agama-agama keluar dari benteng-benteng doktrinnya, dan bergandengan tangan menjawab masalah kemanusiaan.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »