Ilustrasi Teologi Terlibat

Dari ‘Contemplatio’ kepada ‘Actio’ (Mengafirmasi Teologi sekaligus Respons atas Opini Fancy Ballo)

Namun, dewasa ini hidup beriman dan semangat berteologi, atau pergumulan dengan teologi, dari orang-orang terpanggil diserang sakit “mati rasa” lantaran merasa nyaman dalam menara gading rumah selibat, tinggal tetap di biara dan enggan keluar dari selubung kenyamanan untuk empati kemanusiaan, kerajaan Tuhan.

“Fides sine operibus mortura est”
(Yak 2:17)

Pengantar

Afirmasi teologi yang serius ialah kemantapan memahami diskursus tentang Allah dan keberanian profetis untuk membuktikan iman yang terlibat. Teologi tidak pernah bisa hanya menjadi eksperimen intelektual di dalam kelas teologi, sebab seperti ilmu lain ia dituntut untuk menjadi aktual dalam aplikasi praksis hidup manusia. Teologi yang mapan dan mantap dengan menara gading keilmuannya ialah teologi yang gagal mengerti wahyu Allah yang nyata secara antropik dalam persona historis seorang manusia juru selamat.

Nada argumentasi dalam tulisan ini lebih sebagai teologi Katolik sejauh yang saya pelajari dan mengerti. Bahwasanya Allah yang dibicarakan dalam teologi Katolik ialah Allah yang mewahyukan diri-Nya dalam karya penyelamatan dalam Putera-Nya Yesus Kristus. Manifestasi ilahi ini hadir pada satu sisi sebagai kenyataan sejarah manusiawi, dan pada sisi lain sebagai pengalaman iman.

Poin di sini ialah Allah sudah terlibat dalam sejarah hidup umat manusia dan tanggapan manusia atas revelasi diri Allah terwujud dengan iman yang tidak bisa tidak tanpa perbuatan. Sebab, iman tanpa perbuatan adalah mati, tidak berguna, sia-sia – “Fides sine operibus mortura est” (Yak 2:17).

Begitu juga teologi, ia harus sampai pada implikasi kegiatan kemanusian, sebab yang menjadi tema berteologi bukan hanya Allah dalam kontemplasi diri-Nya yang statis, tetapi Allah dalam dinamika-Nya sebagai Allah untuk kita, deus pro nobis [1]. Teologi harus terlibat dalam lapangan hidup manusia dan dalam kerangka partisipasi ini ia perlu belajar dari humaniora dan sains untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang lebih kontekstual dan bisa menyumbangkan refleksi teologis dari pengalaman nyata hidup manusia.

Baca Juga Teologi Sadar Konteks di Tengah Situasi Bencana Alam

Saya menulis opini ini untuk mengafirmasi teologi yang terlibat dan sekaligus sebagai respons saya atas opini Fancy Ballo dalam NTT Progresif (28/1). Fancy menimbang gugatan saya dalam opini “Menggugat Teologi (Tanggapan atas Opini Har Yansen)” sebagai peleburan radikal antara teologi dan antropologi dalam teologi liberal yang dinilainya justru menghilangkan identitas teologi. Saya pikir, Fancy berlangkah lebih cepat dan cukup gesit gesture epistemiknya sehingga menempatkan argumentasi saya pada ruang diskursus teologi liberal yang sama sekali tidak saya pikirkan dan maksudkan untuk bergerak dalam dialektika itu.

Tentang ini, saya mengutip gagasan ateistik Feurbach untuk menggugat opini teologis Har Yansen di Media Indonesia (22/1). Saya menilai posisi Har terlalu konseptual karena menerangkan teologi sebagai usaha memahami kehadiran Tuhan, selain merefleksikan kehadirannya di tengah bencana. Har menulis, “Tugas pertama teologi di tengah krisis saat ini ialah membantu manusia memahami kehadiran Tuhan yang menguatkan di tengah bencana” (Media Indonesia,22/1). Menghadapi argumentasi macam ini saya tentu bertanya, apakah pada saat krisis kehadiran Tuhan yang menguatkan itu absen atau apakah tepat dan bisa memberi jawaban praktis lewat usaha memahami kehadiran Tuhan yang menguatkan itu.

Saya pikir, lewat ide Feurbach kita belajar berteologi secara antropologis, sosiologis dan bahkan secara politis [2]. Dalam posisi ini seorang teolog melalui perspektif teologis membaca kehadiran Tuhan yang nyata dalam diri orang-orang yang menderita. Realitas krisis dan penderitaan itu tidak dibaca dari ruang kelas atau perpustakaan atau kamar belajar, tetapi dari pengalaman langsung seperti peneliti ilmu sosial dengan metode partisipasi-observasi.

Teolog mengalami sendiri situasi batas dan membuat refleksi tentangnya pada pokok pengamatan itu untuk kemudian menyadarinya secara teologis siapa sebenarnya Tuhan yang teralami itu. Kehadiran Tuhan macam apa atau rupa Allah seperti apa dalam situasi penderitaan yang dialami lewat jerit derita para papa dan penderita.

Feurbach membuat semacam de-teologisasi untuk mencapai antropoteisme. Bukan lagi teologi, melainkan antropologi. Teologi mesti dibatalkan untuk memperoleh kajian otentik tentang manusia. Ini merupakan ide ateisme yang radikal, tetapi sebetulnya gagal dan tidak potensial untuk proses saling belajar interdisiplin.

Allah dinilai Feurbach sebagai hasil proyeksi dan alienasi manusia. Feurbach menulis, “Allah adalah pikiranku yang pertama, akal budi yang kedua, sedangkan manusia adalah yang ketiga dan terakhir” [3]. Dengan ini ia menegaskan ateisme sebagai antropoteisme; menolak Allah untuk mengiyakan manusia dan lebih lanjut membangun usaha pembebasan manusia.

Feurbach terlampau radikal dan kontroversial sehingga tidak bisa didikte olehnya untuk mencapai justifikasi teoretis yang tepat. Saya menampilkan idenya dalam konfrontasi dengan teologi untuk belajar darinya demi mempertegas dari mana teologi harus bersuara dan merefleksikan Tuhan dalam situasi bencana alam dan krisis kemanusian.

Feurbach menegaskan manusia sebagai subjek penting dan dari situ hal yang perlu diteliti oleh teologi ialah kehadiran Tuhan dalam pribadi manusia yang mengalami penderitaan itu. Tuhan hadir dalam wajah orang miskin dan menderita. Teologi mesti mendengar suara lirih dari pelik hidup orang yang menderita untuk kemudian membangun refleksi teologis yang jelas referensinya, penderitaan hidup manusia.  Itulah locus theologicus yang menjadi medan berteologi kontekstual.

Baca Juga Menggugat Teologi: Tanggapan atas Opini Harr Yansen

Konteks, baik fakta geografis maupun fakta eksistensial pengalaman hidup manusia, merupakan tempat di mana teologi mempertegas jati dirinya. Teologi terlibat di dalam konteks hidup sosial, politik, agama dan budaya untuk memberi sumbangan bagi kemashalatan hidup bersama. Atas dasar ini dalam studi Teologi Kontekstual perspektif mahasiswa teologi terlatih oleh praktik partisipasi di dalam lingkungan sosial masyarakat. Dengan pola ini atau termasuk bagian dari metode pembelajaran saya melihat ada dinamika dalam hidup beriman dan bertelogi. Dinamika itu adalah semangat peralihan.

Refleksi semangat peralihan di bawahlebih membahas dinamika hidup sepesifik orang terpanggil. Mahasiswa teologi (teolog) STFK Ledalero umumnya adalah calon imam Katolik. Penulis-penulis yang terlibat dalam polemik ini (setahu saya) ialah dua orang mahasiswa S1 Filsafat (Fancy Ballo dan Edy Soge) dan seorang mahasiswa Teologi Kontekstual (Har Yansen). Ketiga orang ini adalah calon imam dan misionaris SVD.

Atas dasar keterangan identitas ini saya menulis pokok pikiran tentang spirit untuk beralih dari contemplatio kepada actio. Dari berteologi secara ekslusif kepada berteologi secara inklusif kontekstual dan interkontekstual.

Semangat Peralihan

Hidup beriman, hidup beragama, dan hidup religius serta dinamika berteologi merupakan perjalanan rohani terus menerus yang beranjak dari kesunyian dan kemuliaan kapel dan gereja ke tempat ramai pinggir jalan dan pedesaan, dari altar ke pasar, dari doa ke aksi, dari pewartaan ke tindakan, dari kelas ke lapangan, dari contemplatio kepada actio. Ada pergerakan atau peralihan (passing over) dari perjumpaan personal dengan Tuhan dalam hening doa-doa kepada panggilan misioner dan pelayanan kepada sesama yang menderita, miskin, dan tersingkirkan.

Optatam Tutius (Dekrit tentang Pembinaan Imam) menegaskan bahwa seluruh pembinaan harus berhubungan erat dengan tujuan pastoral. Oleh karena itu, semua aspek pembinaan, rohani, intelektual, dan displiner, hendaknya secara terpadu diarahkan kepada tujuan pastoral [4]. Afirmasi masih jelas dari penegasan ini ialah keterlibatan teologi dan juga filsafat (perihal praktik) dalam kehidupan sosial masyarakat luas sebagai tujuan pelayanan dan kegiatan pastoral.

Keutamaan hidup beriman adalah pastoral kehadiran; partisipasi aktif dalam dunia. The act of faith [5] tidak hanya berkisar pada doa, ritus, kultus, dan devosi-devosi, atau pada dimensi intelektual dan afektif saja, tetapi juga dimensi praksis, tindakan konkret sebagai jawaban riil atas  keberimanan akan Allah.

Namun, dewasa ini hidup beriman dan semangat berteologi orang-orang terpanggil diserang sakit “mati rasa” lantaran merasa nyaman dalam menara gading rumah selibat, tinggal tetap di biara dan enggan keluar dari selubung kenyamanan untuk empati kemanusiaan demi terciptanya Kerajaan Allah. Merasa cukup dengan beragama (having a religion) tanpa memperhatikan keharusan menjadi religius (being religious).

Contemplatio: Jalan Menuju Allah

Allah telah menyatakan diri-Nya lewat Putra-Nya yang terkasih Yesus Kristus. Allah rela menjadi manusia dan tinggal di dalamnya. Begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya manusia beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Komunikasi diri Allah inilah yang kita sebut wahyu. Allah mewahyukan diri dalam bahasa manusia, secara antropik dan manusia mengenal Allah secara analogis [6]. Relasi keduanya termungkinkan oleh iman sebagai jawaban bebas manusia. Manusia memiliki di dalamnya dirinya dimensi spiritual dan transenden; keterbukaan dan keterarahkan kepada Allah [7]. 

Rindu memandang wajah Allah menjadi dorongan kodrati yang abadi. Di dalam hidupnya manusia tak berhenti merindukan Allah. St. Agustinus mengatakan hatiku belum tentram, sebelum beristirahat pada-Mu. Menjawabi kehausan rohani manusia bergerak ke tempat sunyi dan berdoa. Doa  (contemplatio) adalah jalan menuju Allah. Dengan melewati jalan ini manusia beroleh kasih karunia demi kasih karunia. Karena itu contemplatio (doa, sabda, ekaristi) sangat penting dalam kehidupan orang beriman, khususnya mereka yang dipanggil secara khusus untuk hidup selibat dan membiara.

Aktivitas belajar teologi di kelas bisa juga terlihat sebagai bentuk lain dari contemplatio sebagai kegiatan permenungan akademik dan intelektual untuk mengerti iman akan Allah dan berbagai pokok ajaran iman. Kegiatan dengan konsentrasi belajar filsafat dan teologi yang serius menjadi bekal intelektual untuk bisa memahami realitas sosial dan iman demi pelayanan dan pewartaan yang tanggap terhadap zaman dan struktur sosial.

Poin penting lain yang mengafirmasi teologi juga pertumbuhan iman seorang teolog dan calon teolog ialah hidup doa. Saya mencoba membahasnya secara spesifik dalam hubungan dengan panggilan.

Hidup Doa dan Panggilan

Doa adalah pertemuan manusia dengan Allah dalam Yesus Kristus. Orang beriman berkat Roh Kudus yang berdiam dalam hatinya selalu dan secara eksistensial berdoa; dan keadaan itu terbahasakan dalam doa batin (renungan, meditasi, kontemplasi) dan lisan. Di dalam doa orang beriman “berbicara dengan Allah” menyampaikan isi hati dalam kepercayaan penuh kepada Allah Bapa atau Allah Putra sebagai pengantara satu-satunya[8]. 

Sedangkan panggilan merupakan rahmat yang diberikan Allah bagi mereka yang demi Kerajaan Allah memilih untuk menjalani hidup wadat, selibat dan berkaul. Panggilan datang dari pihak Allah dan manusia dalam kebebasannya menjawabi sapaan Allah itu dengan mempersembahkan diri secara total bagi Allah. Dengan ini keduanya bersatu dalam cinta mesra yang suci. Kekuatan perkawinan rohani mereka adalah doa. Tanpa doa panggilan tidak mungkin bertumbuh. Hidup doa adalah realitas panggilan orang terpanggil.

Pemahaman ini mengafirmasi bahwa hidup doa adalah domain penting dalam kehidupan orang terpanggil, selibat dan religius. Tuhan memanggil mereka secara khusus untuk bekerja meneruskan karya keselamatan bagi dunia. Mereka itulah para imam, biarawan-biarawati yang menjalani hidup wadat, selibat dan dalam penghayatan kaul-kaul.

Baca Juga Tanggung Jawab Teologi di Tengah Dunia dan Bencana (Tanggapan untuk Edy Soge)

Hidup panggilan suci ini dilihat sebagai representasi eskatologis dan para imam disebut sebagai impersona Christi. Kristus hadir di dalam diri imam yang merayakan ekaristi. Betapa dekatnya intimacy spiritual, relasi mereka dengan Tuhan. Mereka hidup dalam penghayatan doa yang mendalam. Masuk dan tenggelam dalam keheningan untuk memandang wajah Allah dari dekat.

Hidup doa adalah kekuatan dalam panggilan. Pertumbuhan dan kesuburan panggilan sangat ditentukan oleh dinamika hidup spiritual, hidup doa yang setia dihayati. Ini sangat penting sebab mereka tidak berdoa untuk dirinya sendri, tetapi untuk gereja, semua umat beriman. Penghayatan hidup doa ini harus terjalankan dalam kebenaran dan dalam roh.

Berdoa dalam kebenaran berarti berdoa “dalam Yesus”, yaitu “dalam kebenaran Kristiani”, dalam kenyataan keselamatan yang dibawa-Nya. Dalam roh berarti berdoa dengan bebas dari pandangan dan aktivitas kebadanan, kebendaan. Berdoa dalam roh merupakan ungkapan kepada Allah Bapa. Doa harus menjadi ekpresi dari cinta kasih kepada Allah [9].

Relitas hidup doa dan panggilan menyimpan pertanyaan, apakah cukup dengan doa saja dalam menghayati panggilan Tuhan? Doa memang penting dalam panggilan tetapi apa arti isi doa jika tidak dibarengi dengan tindakan?

Doa, kesunyian, altar, dan kelas adalah titik pijak, dasar rohani, rumah intektual yang kuat untuk peralihan kepada aksi, aktif dalam dunia menyebarkan kasih Tuhan dengan ada bersama mereka yang menderita. Kehadiran inilah yang menjadi doa nyata dan sukacita injili. Actio adalah jawaban dari hidup doa menuju kemanusiaan.

Actio: Jalan Menuju Kemanusiaan

Hidup beriman orang terpanggil harus sampai pada aksi kasih yang riil demi kemanusiaan. Yosep Titus, seorang ahli Kitab Suci Katolik di Banglore India, menyebut karakter iman yang asali sebagai berikut. Iman adalah sebuah tindakan. Tindakan kebebasan manusia, sebuah tindakan pribadi yang dengannya seseorang masuk dalam relasi yang terbuka. Iman selalu aktif dalam seluruh tatanan kehidupan manusia. Aksentuasi iman adalah aksi yang tidak pernah terlepas dari relasi dengan manusia [10]. Karena itu tidak cukup dengan doa saja dalam menjalani panggilan tetapi juga kepenuhannya lahir dalam perbuatan kasih. Doa tetap penting dan utama tetapi aksi juga penting demi kemantapan iman dan terkabulnya doa.

Sudah saatnya orang terpanggil, para imam, biarawan-biarawati beralih dari contemplatio kepada actio. Agama harus menjadi religion of humanity dan Gereja harus “menceburkan diri ke jalan-jalan” (Paus Fransiskus) demi sukacita Injil dan harmoni kemanusian. Fajar pelayanan kemanusiaan segera terbit supaya umat manusia mengalami hangat mentari kasih Allah. Dinamika ini menjadi tuntutan fundamental hidup beriman orang terpanggil sebab iman tanpa perbuatan adalah mati, fides sine operibus mortura est (Yak 2:17).

Berteologi secara afirmatif ialah dengan melibatkan diri di dalam kenyataan sulit hidup manusia. Teologi harus terlibat. Orang yang beriman adalah orang yang mendekati situasi manusia, masuk ke dalam pergumulan manusia, dan berusaha mencairkan berbagai kebekuan yang masih mewarnai hubungan antarmanusia dan manusia dengan dunianya[11].

Penutup

Peralihan atau dinamika passing over menjadi panggilan utama pelayanan misioner dewasa ini di tengah pudarnya nilai kemanusiaan. Tindakan ini juga sebuah bentuk afirmasi terhadap teologi. Orang terpanggil tidak bisa tinggal diam dalam kenyaman bersama diri sendiri atau hanya aktif di altar dan mimbar, tetapi harus “berkeliling” mengunjungi yang sakit dan menderita. Gerak pindah ini merupakan dinamika iman dalam penghayatan konkret dari doa.

Hidup beriman dan beragama serta penghayatan kaul mencapai kepenuhannya dalam tindakan kasih dan kebaikan. Jawaban iman ini mampu menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia. Maka setelah doa, “Tuhanku, di pintu-Mu aku mengetuk, aku tak bisa berpaling” (C. Anwar) kita turun ke ke dalam hidup umat untuk mengalami realitas dunia saat ini, mewartakan Kabar Baik, memberi pakian kepada yang telanjang, air untuk yang dahaga, tumpangan kepada yang tak punya rumah. Contemplatio orang terpanggil terpenuhi dalam actio.

Karena itu, beralihlah, duc in altum supaya Kerajaan Allah tetap hidup di bumi yang fana ini. Dengan cara ini afirmasi akan teologi dan hidup beriman kita menjadi jelas dan berguna bagi keselamatan manusia dan kemulian Tuhan.


[1] Paulus Budi Kleden, Teologi Terlibat, Politik & Budaya dalam terang Teologi (Maumere: Penerbit Ledalero, 2003), hlm. viii.

[2] Teologi politis adalah usaha akhir-akhir ini untuk menjadikan teologi lebih relevan, artinya lebih berarti bagi kehidupan masyarakat yang terorganisir. Inilah usaha korektif yang kritis terhadap sifat teologi yang privat, supaya iman ikut memengaruhi keputusan-keputusan duniawi setiap orang beriman, dan supaya seluruh Gereja menjalankan peranannya yang sosio-kritis dalam masyarakat yang sedang berubah. Demikian gereja ikut membebaskan manusia dari ikatan-ikatan membelenggu yang bersifat usang maupun ideologis, sehingga menjadi sanggup menjalankan pembaharuan struktur yang perlu dalam masyarakat maupun dalam Gereja sendiri; teologi harus berhubungan dengan praktik. Bdk., Staf Yayasan  Cipta  Loka  Caraka, Ensiklopedi Populer tentang Gereja (Jakarta: Yayasan Kanisius, 1978, hlm. 278)

[3] Simon Petrus L. Tjahjadi, Tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2007), hlm. 92-102.

[4] Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana , SJ, (Jakarta: Obor, 2013), cet. 13, hlm. 280.

[5] Tindakan iman memiliki tiga dimensi yaitu, pertama dimensi intelektual yang menyatakan penerimaan akan wahyu Allah sebagai kebenaran iman. Menerima dan mengimani wahyu Allah memberi arti, nilai, dan makna untuk hidupku. Istilah klasik untuk dimensi ini disebut credere Deum (mengimani Allah) atau fides quae creditor (iman yang dipercayai). Kedua, dimensi afektif bahwa kita percaya kepada Allah yang selalu menjalin relasi dan persahabatan dengan manusia dan memanggil kita kepada komunio dengan-Nya. Kepercayaan yang mendalam kepada Allah diungkapkan dalam credere Deo (percaya akan Allah) atau fides qua creditor (iman yang olehnya kita percaya). Ketiga, dimensi perilaku sebagai implikasi dan realisasi dari dua dimensi sebelumnya dalam penghayatan menjalankan moralitas dan perbuatan baik dalam hidup sehari-hari. Mengimani Allah berarti melakoni cara bertindak atau cara hidup yang sesuai dengan tindakan Allah yang penuh rahmat, cinta kasih, keadilan dan integritas. Segi iman ini disebut credere in Deum (percaya akan Allah). Bdk., Remegius Ceme, SVD., Mengungkap Relasi Dasar Allah dan Manusia (Maumere: Penerbit Ledalero, 2017) Cet. II., hlm. 117-118.

[6] Ibid., hlm. 74.

[7] Ibid., hlm. 104.

[8] Staf  Yayasan  Cipta  Loka  Caraka, op. cit., hlm. 44-45.

[9] Josef Boumans, SVD., Menjadi Imam Allah. Tuntunan Khawalat Menjelang Tahbisan Imam (Jakarta: Obor, 2000), hlm. 116-117.

[10] Silvester Manek Eko, “Mepertanyakan Otensitas Iman dalam Potret Buram Wajah Kemanusiaan”, Vox (59/0/2014), hlm. 16.

[11] Paulus Budi Kleden, op. cit., hlm. vii-viii.

Daftar Pustaka

Budi Kleden, Paulus. Teologi Terlibat, Politik & Budaya dalam terang Teologi. Maumere: Penerbit Ledalero, 2003.

Boumans SVD, Josef. Menjadi Imam Allah. Tuntunan Khawalat Menjelang Tahbisan Imam. Jakarta: Obor, 2000.

Ceme SVD, Remegius. Mengungkap Relasi Dasar Allah dan Manusia. Maumere: Penerbit Ledalero, 2017.

Manek Eko, Silvester. “Mepertanyakan Otensitas Iman dalam Potret Buram Wajah Kemanusiaan”, Vox (59/0/2014).

L. Tjahjadi, Simon Petrus. Tuhan Para Filsuf dan Ilmuwan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2007.

Staf  Yayasan  Cipta  Loka  Caraka. Ensiklopedi Populer tentang Gereja. Jakarta: Yayasan Kanisius, 1978.

Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana , SJ. Jakarta: Obor, 2013. Cet. 13.

Namun, dewasa ini hidup beriman dan semangat berteologi, atau pergumulan dengan teologi, dari orang-orang terpanggil diserang sakit “mati rasa” lantaran merasa nyaman dalam menara gading rumah selibat, tinggal tetap di biara dan enggan keluar dari selubung kenyamanan untuk empati kemanusiaan, kerajaan Tuhan.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »