Muslim Eropa

Membaca Kaum Muslim (di) Eropa

Semenjak tragedi 9/11, apa-apa yang “Muslim” dan “Islam” kerapkali dianggap berbahaya, kriminal, dan teroris, di Eropa lebih dari 100 buku dan 5600 artikel diterbitkan hanya untuk bicara soal fundamentalisme Islam.

Tulisan ini merupakan hasil pembacaan atas artikel Gabriele Marranci berjudul “Studying Muslims of Europe” yang terbit dalam buku “A Companion to The Anthropology of Europe” (2012). Artikel Marranci, selain merupakan refleksi atas kerja lapangan dia, mengandung beberapa kosa gagasan untuk membincangkan lebih jauh identitas “Islam” dan “Muslim” di tanah Eropa.

Data tahun 2009 menunjukkan, jumlah populasi Eropa yang berlatar belakang muslim sebanyak 5,5 %, dan dalam beberapa tahun (belakangan), term “Islam” dan “Muslim” semakin banyak dibicarakan dalam media-media arus utama, termasuk blog dan forum internet, dan jarang sekali dengan kacamata yang positif. Marranci katakan, berbagai aspek kemusliman telah menjadi bahan kesibukan masif entah oleh masyarakat ataupun politisi; mulai urusan pakaian, simbol-praktik keagamaan, hingga terminologi teologis.

Sepantaran dengan itu, terjadi juga sekelumit peristiwa persekusi, seperti larangan pembangunan masjid, larangan pakai cadar dan mukena penutup tubuh, serta munculnya aksi-aksi kontroversial, salah satu yang sempat bikin heboh, yaitu poster-kartun Nabi Muhammad. Muslim dilihat sebagai orang asing yang hidup di bawah tekanan privilese tertentu, walakin dalam studi Marranci tertemukan juga adanya perbedaan tipologi, misalnya muslim kulit putih atau bukan kulit putih, yang berpengaruh kepada pembentukan cara pandang.

Baca Juga “Aisyah”: Menembus Fanatisme Agama di Kampung Derok

Tegangan-tegangan di atas semacam menderetkan kejadian sebelumnya; tragedi 9/11, masalah Salman Rushdie, ataupun peristiwa Honeyford, yang kian memuncakkan frasa “war on terror”- jargon kampanye militer Amerika Serikat pascakejadian 9/11. Tak pelak pantikan-pantikan kecil kemudian bermunculan, semisal penyerangan di London, Madrid, dan Glasgow, atau baru-baru ini, pada November 2020, di Wina-Austria yang makin diperparah media dengan sebutan “Islamist Attack.”

Secara gegap gempita, dalam kurun waktu tadi, studi-studi dan risalah akademis menyambutnya dengan tema-tema renyah; “persatuan”, “menghargai perbedaan”, atau dalam kata yang ‘laku’ di Indonesia, “toleransi”. Padahal, sangat mudah  menciptakan (membuat kajian tentang) persatuan dari keberagaman, tapi itu jarang berhasil untuk menyingkap tujuan yang lebih analitis, tulis Marranci.

Kalau begitu, apa tantangan mempelajari atau belajar tentang muslim di Eropa? Jawaban atas ini tergantung bagaimana mendefenisikan “Islam” dan “Muslim” itu sendiri.

Hanya saja, kategorisasi dan pengidentifikasiannya tidaklah sesederhana mengangkat tempel postulasi dari buku-buku pelajaran, dengan kata lain hanya melihat pakaian luarnya saja. Pasalnya, tidak semua orang muslim akan serta merta bilang bahwa mereka masuk dalam etnis ini atau itu, bersuku bangsa di sana, punya nasionalisme A atau B, ataupun pelabelan lainnya.

Contoh paling dekat dan mirip – sebagai bentuk perbandingan – barangkali bisa dilihat di beberapa wilayah di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara Timur. Di Maumere-Kabupaten Sikka, misalnya, meski sama-sama bernenek moyang Suku Bajau dan beragama Islam, warga Kampung Waipare (sebelah timur kota) lebih merasa dirinya sebagai orang Maumere, ketimbang warga Kampung Wuring di arah utara yang dalam kesehariannya bertutur kalau mereka berasal dari lautan jauh. Begitu juga dengan warga kampung pesisir di Ngada atau Nagekeo dan beberapa daerah lain yang mengidentifikasikan diri sebagai muslim NTT alih-alih muslim Arab atau India (Benggala).

Baca Juga Melihat Feminisme dalam Perspektif Islam

Dengan begitu, yang bisa dilakukan oleh orang yang mau belajar – untuk menjawabi pertanyaan di atas – ialah mencari tahu penjelasan masuk akal perkara proses pembentukan identitas itu. Bukan langsung cap bahwa kelompok ini anarkis atau orang pakai cadar itu teroris, dan sebaliknya pada sisi lain mengajukan pertanyaan kritis, seperti apakah tren fashion atau busana muslim memang lahir dari kebutuhan kesadaran religius ataukah kerja tangan tak kentara bernama komersialisasi pasar.

Lebih lanjut, artikel Marranci juga bermaksud menawarkan perspektif baru dari kajian-kajian sebelumnya yang secara pagan membedakan entitas “Islam” dan “Muslim”, maksudnya hanya fokus pada Islam sebagai agama saja pun muslim sebagai identitas kultural belaka. Ini juga melanjuti penelitian-penelitian sejak tahun 1980-an yang berperhatian pada imigran muslim, muslim generasi kedua, serta integrasi/asimilasi dalam komunitas muslim Eropa.  

Usaha “membaca kembali” ini memang tampak perlu. Semenjak tragedi 9/11 apa-apa yang “Muslim” dan “Islam” kerapkali dianggap berbahaya, kriminal, dan teroris; lebih dari 100 buku dan 5600 artikel diterbitkan hanya untuk bicara soal fundamentalisme Islam.

Padahal, mesti diingat, usai Perang Dunia II – dan berlanjut sampai sekarang – Amerika Serikat dan sejumlah Negara barat menjalankan proyek geopolitik dan ekonomi besar-besaran di wilayah Timur Tengah dan Afrika; siapa yang membangkang, dia akan jadi kambing hitam. Dus, politik identitas, dalam arti tertentu, hanyalah alat kekuasaan untuk mematahkan politik kelas, kemudian memodelkan “adu domba” baru. Contohnya banyak ditemukan juga di Indonesia.

Baca Juga Menggugat Loyalitas Kita: Tanggapan atas Artikel “HRS dan Kita” Franz Magnis-Suseno

Di bagian akhir artikelnya, Marranci mengakui bahwa studi tentang Islam dan Muslim di Eropa memang masih terfragmentasi. Namun, hal penting menurut dia, pendekatan yang mesti diutamakan, tidak melihat orang atau warga muslim dari ekspresi kultural atau religi saja, tetapi menganggap mereka sebagai manusia biasa yang bekerja, bertemu dengan sesama, bisa marah, menangis, ataupun melakukan resistensi, dalam semesta lingkungan di sekitarnya.

Artikel ini tampaknya berusaha sensitif, dalam arti berhati-hati, untuk tidak terjebak dalam dikotomi baru atau penarikan kesimpulan yang terburu-buru. Dalam konteks lain, dikotomi kebudayaan tampak pada anggapan seperti Barat itu “jahat”, Timur “suci murni”, ataupun Desa “harmonis”, sementara Kota “serampangan”.

Sebagai penutup, tulisan Marranci bisa membantu melebarkan wacana ihwal toleransi, terutama bagi kalangan kelas menengah ke atas (akademisi, pemuka agama, dan pemutus kebijakan publik) tersebab kelompok inilah yang punya kuasa sosial-ekonomi untuk membicarakan hal-hal macam itu. Toleransi tidak cocok dibicarakan oleh orang yang sedang lapar atau hidup dalam penindasan sistem politik-ekonomi tertentu. Selama ini orang-orang itu sudah terlalu banyak tolerannya; dari mengantre di loket tunggu kesehatan sampai menangis ‘darah’ karena tanah/hutan tempat tinggalnya dirampas demi proyek minyak bumi atau pengembangan sapi, misalnya.  

Referensi

Marranci, Gabriele. (2012). Studying Muslims of Europe. A Companion to the Anthropology of Europe. 295-309. 10.1002/9781118257203.ch17.

Semenjak tragedi 9/11, apa-apa yang “Muslim” dan “Islam” kerapkali dianggap berbahaya, kriminal, dan teroris, di Eropa lebih dari 100 buku dan 5600 artikel diterbitkan hanya untuk bicara soal fundamentalisme Islam.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »