Ilustrasi Artikel Teologi Belajar

Tugas Teologi: Menemukan dan Menghadirkan Tuhan? (Jawaban atas Opini Har Yansen)

Maksud opini saya ialah teologi bisa belajar dari ilmu sains dan humaniora seperti antropologi dan psikologi, sebab sumbangan pengetahuan dari ilmu-ilmu itu bisa membantu teologi membaca realitas secara lebih praktis dan aktual. Teologi Kontekstual tidak akan berpengaruh pada perubahan sosial atau pembangunan manusia apabila tugasnya hanya menemukan dan menghadirkan Tuhan.

Pengantar

Allah orang Kristen adalah Allah yang terlibat. Terlibat secara paripurna ke dalam dan di dalam ruang waktu kehidupan manusia. Fakta iman yang secara tekstual terdapat di dalam Kitab Suci sebagai konfigurasi dari para penulis suci, pertama-tama adalah prefigurasi, pengalaman hidup, Allah hadir secara otentik imanen di dalam sejarah. Inilah manifestasi ilahi melalui inkarnasi, revelasi diri Allah yang nyata dalam diri Yesus Kristus.

Yesus Kristus adalah Putra tunggal Allah Bapa, tanda kasih Allah bagi dunia. Ia hadir ke dalam dunia, terlibat membangun dunia, dan memberikan keselamatan. Allah hadir di tengah dunia dan setiap manusia memiliki pengalaman yang khas akan kehadiran Allah yang dialami secara personal.

Dengan itu tanggapan iman dari pihak manusia ialah mengalami pemberian diri Allah dan bertransformasi menjadi saksi kebaikan dan keselamatan. Lalu dengan bantuan Teologi Kontekstual dan Teologi Pembebasan, manusia yang belajar teologi) berusaha melihat kenyataan kehadiran Allah dalam konteks empiris.

Menurut saya tidak tepat jika teologi berjuang untuk menemukan atau menghadirkan Tuhan. Jika memang demikian teologi menjadi absurd dan tidak membebaskan. Susbstansi berteologi ialah memahami dikursus tentang Allah dalam konteks fakta dan data hidup manusia supaya pengalaman itu berguna bagi kemashalatan.

Saya menulis jawaban ini untuk untuk mengafirmasi ketidaksepakatan saya atas opini dan tanggapan Har Yansen. Dalam opininya di Media Indonesia (22/1) dia menyatakan bahwa tugas pertama teologi di tengah krisis saat ini ialah membantu manusia memahami kehadiran Tuhan yang menguatkan di tengah bencana.

Kemudian dalam opini tanggapannya di NTT Progresif (1/2) ia mengafirmasi pendapatnya dengan menyatakan bahwa maksud “menghadirkan” Tuhan ialah teologi mencoba mencari Allah di mana Allah di tengah dunia saat ini, dan teologi membantu manusia menemukan dan memahami kehadiran Tuhan.

Baca Juga Tanggung Jawab Teologi di Tengah Dunia dan Bencana (Tanggapan untuk Edy Soge)

Saya tidak setuju dengan opini itu. Saya menilai opini itu terlalu ideal dan juga sangat angkuh. Usaha teologi macam itu bisa jadi memberikan harapan palsu dan optimisme yang keliru karena tidak ada yang dicapai dengan jalan pencarian macam itu. Bisa jadi dalam pengalaman pewartaan Injil dan penyebaran agama oleh para misionaris juga para saudagar yang bepergian terdapat superioritas intelektual dan superioritas agama dengan merusak kemapanan reliogiositas lokal dan berusaha menghadirkan Tuhan yang ia yakini paling benar.

Mereka lupa bahwa Tuhan sudah hadir di dalam kebudayaan dengan pengalaman kultural yang kaya akan kearifan. Teologi bisa belajar dari kultur masyarakat tradisional untuk jawaban yang konkret. Lalu dalam realitas penderitaan, bencana dan perang, musibah dan malapetaka, teologi membuka jalan pengertian untuk jawaban iman dan harapan yang asli di dalam pengalaman. Untuk apa lagi teologi mencari, menemukan dan menghadirkan Tuhan. Jika demikian adanya, teologi tidak terlibat, tapi hanya bisa terbayangkan.

Teologi harus merasakan penderitaan itu untuk mengalami (tidak lagi mencari, menemukan, dan menghadirkan) dan merasakan imanensi ilahi kehadiran Tuhan yang aktual dalam diri mereka yang menderita. Dengan ini teologi bisa membuka diri untuk belajar dari sains dan humaniora agar pengalaman akan Allah begitu berguna bagi keselamatan manusia.

Jawaban untuk Har Yansen

Saya membaca opini Har berjudul, “Tanggung Jawab Teologi di Tengah Dunia dan Bencana (Tanggapan untuk Edy Soge)”. Saya pikir, judul tersebut sangat bernas dan terlibat, tetapi isinya hanya remah-remah sebab tidak ada afirmasi teoretis dan praktis yang tegas atas judul itu.

Opininya tidak komprehensif. Komposisinya kacau karena judul tulisan tidak dijelaskan secara tepat sasar di dalam isi. Judul hanya jadi ornamen. Har tidak berbicara tentang tanggung jawab teologi di dalam bencana, tetapi hanya secara kronologis argumentatif menerangkan polemik atau lebih tepat evaluasi atas opini saya.

Saya bertanggung jawab atas tulisan saya itu. Maka saya perlu menerangkan kekeliruan Har di dalam tanggapannnya sebagai bentuk afirmasi saya atas polemik ini.

Pertama, Har menyatakan bahwa judul opini saya kurang tepat. Ia memberikan keterangan defenisi leksikal (Kamus Bahasa Indonesia) dari kata “menggugat” sebagai “mendakwa”, “mengadukan”, dan “menuntut”. Har lupa (atau mungkin tidak tahu) bahwa kata kerja “menggugat” berarti juga “menyanggah”. Saya memberi judul dengan kata kerja itu untuk menegaskan posisi saya yang tidak setuju dan tidak mau menerima ide Har di dalam tulisan itu.

Lebih lanjut meskipun tidak sepakat dengan judul itu, Har yakin bahwa kami sepakat untuk menggugat teologi. Tidak setuju, tetapi yakin bahwa sama-sama mendukung. Saya tidak mengerti posisi intelektual Har. Saya tidak sepakat dengan ide Har. Dalam polemik ini saya menjadi oposan. Saya menilai Har terlalu ideal memahami teologi.

Baca Juga Dari ‘Contemplatio’ kepada ‘Actio’ (Mengafirmasi Teologi sekaligus Respons atas Opini Fancy Ballo)

Kedua, Har menjelaskan maksud menghadirkan Tuhan ialah mencari di mana Allah di tengah dunia saat ini. Apakah menghadirkan sama artinya dengan mencari? Kalau memang demikian mengapa Har tidak memakai kata kerja mencari, tetapi menghadirkan?

Har menilai saya memahami kehadiran secara ontologis bahwa teologi hendak menghadirkan Tuhan secara fisik. Saya berangkat dari verba menghadirkan yang berarti membuat sesuatu ada, membuat hadir (di dalam ruang dan waktu). Tuhan sudah hadir. Hadir secara eksistensial, ontologis, dan transenden.

Selanjutnya Har menyatakan pengertian lebih jauh dari “menghadirkan” bahwa teologi hendak melibatkan manusia dalam pencarian akan Allah dan sekaligus menemukan Dia dalam konteks yang profan. Pertanyaannya, mau menghadirkan apa lagi? Mau mencari Allah di mana? Untuk apa? Saya pikir, definisi Har tentang teologi tampak konseptual.

Ketiga, uraian singkat seputar sejarah pemikiran modern, khususnya dalam revolusi ilmu pengatahuan (N. Copernicus, Galileo Galilei) yang menghendaki otonomi ilmu pengetahuan, pemisahan ilmu-ilmu alam dari filsafat dan teologi dan secara lebih khusus perintis filsafat ilmu pengatahuan dengan tokoh (Francis Bacon) yang menegaskan ilmu pengatahuan harus memiliki fungsi praktis.

Ilmu-ilmu alam mulai mandiri dari filsafat atau mungkin juga teologi untuk memungkinkan spesifikasi yang sifatnya emprisis, positivistik, dan praktis. Dalam kerangka ini Har butuh demarkasi antara ilmu-ilmu. Saya sangat menghargai otonomi setiap bidang ilmu dan mengajurkan adanya resiprositas antarilmu. Ada kesalingan untuk belajar dan saling membantu demi pengembangan ilmu itu sendiri juga aplikasi praktis dari ilmu itu.

Maksud opini saya ialah teologi bisa belajar dari sains dan humaniora seperti antropologi dan psikologi sebab sumbangan pengetahuan dari ilmu-ilmu itu bisa membantu teologi membaca realitas secara lebih praktis dan aktual. Hal penting ialah setiap bidang ilmu berjalan pada koridornya masing-masing dan tidak superior lalu mengabaikan yang lain.

Baca Juga Menggugat Teologi: Tanggapan atas Opini Harr Yansen

Keempat, Har menilai saya keliru memahami gagasan Nietszche tentang moralitas budak. Ia menyatakan bahwa saya memahami moralitas budak sebagai individu atau orang (plural). Saya tidak menerangkan tentang orang, tetapi sikap hidup.

Saya kutip bagian yang disanggah itu. “Orang terikat dan hanyut di dalam perbondongan. Nietzsche menyebut ‘moralitas budak’, ‘moralitas perbondongan’ (Sudiarja, 2003: 196). Orang menjadi sedemikian patuh terhadap apa saja yang keluar dari mulut pemimpin dengan kedua belah mata yang tertutup.”

Maksud saya ialah sikap ikut hanyut di dalam perbondongan (floating mass) itu. Moralitas budak yang dimaksudkan ialah nilai moral yang dimiliki kelompok lemah seperti kerendahan hati, cinta kasih, dan kepasarahan. Namun, untuk memperjelas harus dikonfrontasikan dengan moralitas tuan sebagai nilai yang kuat, ketangguhan dengan kehendak untuk berkuasa (Will zur Macht).

Tentu kedua bentuk moralitas berbeda dan saling bertentangan tetapi kehadiran yang satu mengafirmasi yang tidak lengkap dari yang satu. Ada perlawanan dan Nietzsche menghendaki kemandirian otonomi subjek untuk tidak dibelenggu oleh moral universal demi subjektivitas yang tangguh yaitu adimanusia.

Penutup

Teologi Kontekstual tidak akan berpengaruh pada perubahan sosial atau pembangunan manusia apabila tugasnya ialah menemukan dan menghadirkan Tuhan.

Teologi Kontekstual harus masuk ke dalam konteks, merasakan dan belajar dari konteks untuk merefleksikan iman yang otentik yaitu iman yang terlibat. Dengan cara ini teologi merayakan rahmat wahyu Allah secara bersama-sama dalam kasih dengan mereka yang miskin, menderita, dan papa.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »