Amelio Robles Avila

Amelio Robles Ávila, Prajurit Transgender dalam Revolusi Meksiko

Sebagaimana kebiasaan anak orang berada waktu itu, Amelio Robles Ávila disekolahkan di sebuah asrama putri Katolik dan diajarkan bagaimana memasak, menjahit, serta membersihkan pakaian kaum laki-laki. Dia tidak terbiasa dengan aktivitas seperti itu; dia dilabeli pembangkang dan tukang berontak.

Revolusi Meksiko merupakan sebuah pertempuran tak henti-hentinya yang berlangsung selama kurang lebih sepuluh tahun sejak awal 1900-an.

Setelah beberapa dekade alami ketimpangan ekonomi, warga Negara kelas menengah ke bawah berorganisasi diri guna tumbangkan rezim pemerintahan korup Presiden Porfirio Diaz yang amat melindungi kaum kelas atas.

Masa-masa itu memang membutuhkan kerja keras. Sementara arena perang begitu kuat didominasi laki-laki, tibalah waktunya meminta bantuan wanita -pilihan yang mau tidak mau harus diambil- tersebab kebutuhan peperangan.

Beberapa soldaderas -sebutan prajurit wanita- membantu sembuhkan yang luka, termasuk sediakan makanan, tetapi sebagiannya lagi malah yakin kalau mereka bisa angkat senjata, bertempur bersama, dan kebanyakan memakai identitas laki-laki.

Di antara mereka ada yang mendapat sanjungan dan berperingkat tinggi. Meskipun dalam tatanan militer Meksiko yang memagankan machoisme, gelar untuk perempuan tidaklah berterima secara resmi.

Setelah perang berakhir prajurit wanita dibubarkan -apa pun posisinya- dan mereka diharapkan kembali menjalankan peran sebagai makhluk-makhluk patuh.

Beberapa orang memang melakukan itu, tetapi beberapanya lagi, seperti Amelio Robles Ávila, menghabiskan sisa hidupnya dengan identitas laki-laki yang teradopsi waktu terjun perang.

Baca Juga Prajurit Kebebasan: Obituari Samuel Paty yang Terbunuh pada 16 Oktober

Ávila lahir pada tanggal 3 November 1889 dari keturunan keluarga kaya raya. Sebagaimana kebiasaan anak orang berada waktu itu, dia disekolahkan di sebuah asrama putri Katolik dan diajarkan bagaimana memasak, menjahit, ataupun membersihkan pakaian laki-laki.

Dapat dipahami, Avila tidak terbiasa dengan hal-hal macam itu. Dia pun dengan mudah dicap sebagai pembangkang dan tukang berontak, karena perilakunya berkebalikan dari apa yang diharapkan pengelola asrama.

Menginjak usia 22 tahun, sebelum dijodohkan untuk menikah, Avila menggabungkan diri dengan gerakan revolusi. Meski tidak ada laporan pasti bagaimana dia bisa terlibat, diyakini bahwa ibunya yang menyerahkan dia ke seorang tentara untuk perlindungan, tetapi Avila justru terjun ke medan tempur.

Dia memangkas rambutnya dan namanya berubah menjadi Amelio Robles Ávila. Nama yang kemudian dikenal hingga kini.

Sepanjang karir militernya, Avila memimpin dan memenangkan banyak pertempuran, termasuk berjuang bersama figur-figur tersohor, salah satunya Emiliano Zapata yang menganggap Avila pria hebat dan prajurit berharga.

Avila berkembang pesat dalam lingkungan itu dan mendapat pangkat mengagumkan “Kolonel”, sebuah gelar yang layak dia banggakan selama sisa hidupnya.

Baca Juga Emma Goldman dan Anarkisme Tanpa Pelabelan

Adapun di luar palagan perang, kehidupan Avila sama seperti laki-laki tradisional Meksiko lainnya- hal yang dianggap sebagai tindakan radikal-terpengaruh oleh pembawaannya sebagai seorang “Amelio”.

Namun, terlepas dari ketatnya pandangan-pandangan religius dan ikatan tradisi, dia rupanya diterima di dalam keluarga dan oleh masyarakat sekitar.

Dia juga punya banyak kisah asmara romantis, tetapi akhirnya bertemu dan menikah dengan Angela Torres. Keduanya kemudian mengadopsi seorang putri dan diberi nama Regula Robles Torres.

Pada tahun 1970, Badan Sekretaris Pertahanan Meksiko mendaftarkan nama Amelio Robles sebagai seorang veterano (veteran laki-laki)- dan bukan veterana (veteran wanita)- yang menjadikan Amelio dikenal sebagai seorang pejuang transgender pertama dalam Revolusi Meksiko.

Sejumlah dokumen resmi memang menyebut dia sebagai Amelio. Dan salah bentuk respek kepadanya tampak dalam nama sebuah museum di kawasan Xochipala, Guerrero, seiring sejalan dengan pemberian penghargaan dalam festival tahunan Gender and Sexual Diversity di Morelos.

Walaupun hidup Amelio tidak terlepaspisahkan dari kemakmuran, kegigihan dan perjuangannya di medan perang tidaklah boleh dianggap remeh.

Kaya atau tidak, dia merupakan sosok penting yang memimpin pasukan, menang pertempuran, dan sesudahnya mendapatkan penghormatan, terutama dari para pemuda Meksiko di wilayah-wilayah kecil nan tradisional.

Baca Juga “The Prince” Nicholo Machiavelli: Olok-Olok terhadap Politik Busuk Istana

Ada juga banyak cerita tentang Amelio, terutama berkaitan dengan perangainya yang tak pernah basa-basi.

Salah satunya, seorang malang yang memanggil Amelio dengan pengucapan perempuan, yang segera diresponsnya dengan mendaratkan ujung pistol pada permukaan dahi si pemanggil. Orang itu kemudian meminta maaf.

Dirumorkan juga, sebelum meninggal dunia Amelio sempat meminta dipakaikan busana perempuan, simbol keterlepasan diri dari dunia yang telah dimasukinya.

Namun, tidak ada bukti sahih tentang itu, dan ini menunjukkan bagaimana perjuangan keras dia untuk diakui sebagai seorang laki-laki.

Saat ini, orang-orang yang mengenalnya pun tahu bahwa dia adalah Colonel atau Don Amelio; lelaki pejuang, gila, keras kepala, dengan segala reputasinya.

Begitulah legasinya. Warisan yang membuat dia senantiasa terkenang.


Sebagaimana kebiasaan anak orang berada waktu itu, Amelio Robles Ávila disekolahkan di sebuah asrama putri Katolik dan diajarkan bagaimana memasak, menjahit, serta membersihkan pakaian kaum laki-laki. Dia tidak terbiasa dengan aktivitas seperti itu; dia dilabeli pembangkang dan tukang berontak.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »