Pantun Orang Hewa

Memahami Pantun Orang Hewa

Artikel ini merupakan analisis atas isi dan bentuk pantun orang Hewa. Terutama tentang “paen” yang merupakan pantun nasihat dan dinyanyikan oleh orang-orang tua di dalam “hegor” pesta injak padi orang Hewa.

Pengantar

Sastra lisan merupakan narasi kultural yang diucapkan (oral) pada momen budaya untuk didengar (aural) karena ia menyampaikan pesan kehidupan. Pesan itu dapat berupa nasihat, teguran, larangan atau berupa pujian dan motivasi kreatif. Generasi pewaris menyatakan kesaksian lisan kepada generasi penerus tradisi lisan dalam dinamika dua medium, mulut dan telinga (oralhear).

Suara yang disampaikan oleh mulut didengar oleh telinga menjadi harmoni yang terus dihidupi dan diwariskan dari waktu ke waktu. Harmoni itu lahir dari ucapan, nyanyian, dan musik. Salah satu jenis sastra lisan yang dinyanyikan adalah pantun.

Menurut sintesis Multafifin sebagai rangkuman dari beberapa pendapat pantun adalah bentuk puisi lama yang di dalamnya mengandung kaidahan berbahasa dalam menyampaikan pesan, yang terkait oleh aturan-aturan seperti: (1) terdiri dari empat baris, (2) bersajak bersilih dua-dua (pola a-b-a-b), (3) tiap baris terdiri dari delapan sampai dua belas suku kata, (4) dua baris pertama disebut sampiran, dan (5) dua baris berikutnya disebut isi pantun [1].

Dalam budaya hegor[2] orang Hewa selalu dinyanyikan pantun nasihat (paen). Secara harfiah istilah paen berarti pernyataan yang memberi perintah dan afirmasi atas pengalman hidup yang penting. Biasanya diberikan atau diucapkan oleh orang yang lebih tua atau orang yang sangat dipandang dalam masyarakat.

Pernyataan imperatif yang disampaikan dalam pantun yang dinyanyikan berbunyi ajaran, nasihat, dan larangan. Paen dalam pengertian ini merupakan pantun nasihat yang dinyanyikan oleh orang-orang tua dalam hegor pesta injak padi orang Hewa.

Arti Pantun

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang terdiri atas empat baris, memiliki rima (persamaan bunyi) /a b a b/, dengan baris pertama dan kedua merupakan sampiran (semacam teka-teki) dan baris ketiga dan keempat merupakan isi [3]. Pantun biasanya dinyanyikan, tetapi perkembangan literasi membuktikan bahwa ada pantun yang tertulis.

Pantun merupakan sastra lisan dalam bentuk senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan, dan merupakan jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.

Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti petuntun. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa sunda dikenal sebagai paparikan dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa) [4].

Berdasarkan pemahaman di atas jelas bahwa pantun memberikan pedoman dan petunjuk untuk menyatakan suatu sikap hidup yang baik dan benar dalam suatu masyarakat. Pantun merupakan bagian dari tradisi lisan yang memiliki relevansi untuk kehidupan.

Sebagai tradisi lisan atau lebih tepat sastra lisan pantun mengandung ajaran tentang nilai, mengungkapkan angan-angan dan harapan, dan memberikan inspirasi [5]. 

Pantun secara leksikal diartikan sebagai salah satu jenis puisi lama, maka ia memiliki ciri-ciri kebahasaan puisi atau struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik menyatakan ungkapan makna dalam bahasa yang dinyatakan dalam diksi (diction), imaji (imagery), kata konkret (the concrete words), dan rima dan ritme (rhyme dan rhytm).

Struktur batin mengungkapkan makna yang terdapat di dalam pantun sebagai instrinsik seperti  tema (theme), nada (tone), perasaan (felling), dan amanat (intention) [6]. Selain itu pantun memili ciri-ciri yang khas yaitu tiap bait memiliki empat baris, terdapat 8-12 suku kata di tiap baris, memiliki sampiran dan isi, dan berima a-b-a-b [7]. 

Adapun begitu banyak jenis pantun yaitu pantun nasihat, pantun jenaka, pantun agama, pantun anak, pantun teka-teki, dan pantun berkasihan-kasihan [8].

Memahami Pantun Orang Hewa

Sebelum masuk analisis bentuk dan isi pantun, saya memberikan keterangan umum tentang desa Hewa. Desa Hewa merupakan salah satu desa di wilayah Kabupaten Flores Timur, Kecamatan Wulanggitang. Desa Hewa terletak di daerah perbatan antara Kabupaten Sikka dan Kabupaten Flores Timur, di bagian pantai selatan Pulau Flores.

Sebelah timur desa Hewa berbatasan dengan desa Nawakote, barat dengan desa Ojadetun, utara dengan desa Boru Kedang, dan selatan berbatasan dengan desa Pante Oa dan Laut Sawu.

Letaknya di daerah perbatasan memungkinkan masyarakat Hewa berbicara dalam beberapa bahasa. Karena itu masyarakat desa Hewa merupakan masyarakat bilingual yang memungkinkan menggunakan lebih dari satu macam bahasa.

Masyarakat Hewa berbahasa Sikka (krowe), tetapi juga bisa berbahasa Lamaholot, dan bahasa nagi (bahasa khas orang Larantuka kota), selain bahasa Indonesia [9].

Salah satu momentum budaya orang Hewa ialah pesta injak padi (ri’). Disebut pesta karena suasana yang diciptakan dalam upacara injak padi berlangsung ialah suasana gembira ria, menari tari, dan saling berbalas pantun (tegu naruk atau tegu paen).

Pantun yang biasa dinyanyikan adalah pantun nasihat yang mengajak orang untuk rajin bekerja, mengajar orang untuk iris tuak, mengajar orang tentang hubungan kekeluargaan dan adat perkawinan, mengajarkan generasi muda dalam memilih jodoh, dan nasehat untuk keluarga baru dan cara hidup dalam keluarga [10].

Baca Juga “Aib dan Nasib” dan Desa yang Tak Lagi Lugu

Saya hanya memilih pantun nasihat untuk keluarga baru dan cara hidup dalam berkeluarga. Orang Hewa merasa bertanggung jawab bagi mereka yang telah masuk dalam hidup berkeluarga, baik keluarga baru maupun keluarga lama.

Tanggung jawab mereka tampak dalam memberikan bantuan, tetapi juga dalam berupa nasehat yang bijak. Nasihat itu sering didengungkan atau dinyanyikan dalam hegor sewaktu diadakan pesta injak padi.

Bunyi pantun nasehat itu ialah sebagai berikut [11].

Apu gahu reta wutu (saling mengasihi di dalam rumah)

Muli mut wali une (saling menasehati dalam kamar)

Pa’an naha gera blatan (paha harus selalu dingin)

Uhun naha doe dolo (susu harus melimpah airnya: kasih sayang ibu)

Ha gou newan utan (jika seorang memperoleh sayur)

Gea hama-hama (makanlah bersama-sama)

Ha kare newan tua (jika ada yang dapat mengiris tuak)

Minu hama-hama (minumlah bersama-sama)

Analisis Struktur Fisik dan Batin

Pantun nasihat orang Hewa di atas memiliki struktur fisik dan batin yang dapat ditelaah dan dianalisa untuk ditemukan arti, pesan, dan amanat yang terkandung di dalamnya.

Pertama, analisa struktur fisik. Diksi yang diucapkan oleh penutur [12] dalam pantun tersebut di atas ialah pemilihan dan pengunaan kata-kata yang yang memiliki arti konkret sebenarnya (denotatif) dan arti kiasan sombolis (konotatif).

Tampak jelas bahwa bait kedua menggunakan kata-kata yang artinya dapat ditangkap dengan mudah. Seseorang memetik sayur (ha gou newan utan) dan ada yang iris tuak (ha kare newan tua). Kemudian dirayakan dalam makan dan minum bersama (gea hama-hama, minu hama-hama).

Namun, bait pertama pantun itu memiliki kata-kata berkias yang mengungkapkan kemesraan dan kasih sayang dalam rumah, keluarga. Apu gahu secara harfiah berarti peluk hangat atau sebuah pelukan hangat yang menyatakan kasih sayang, ungkapan cinta mesra suami-istri dan anak-anak.

Pada bagian isi diksi konotatif diungkapkan secara simbolik – pa’an naha gera blatan dan uhun naha doe dolo. Ungkapan fisik anggota tubuh, pa’an (paha) dan uhun (buah dada) melukiskan kelimpahan kasih sayang seorang ibu untuk anak-anak dan erotika murni seorang istri untuk suami.

Imaji yang ditampilkan dalam pantun tersebut ialah perabaan (saling memeluk) – apu gahu reta wutu, paha harus selalu dingin – Pa’an naha gera blatan dan imaji cita rasa, makan dan minum bersama – gea hama-hama, minu hama-hama.

Daya bayang pendengar (konteks orality) atau pembaca (konteks literary) dalam pantun tersebut ialah diarahkan oleh penggunaan kata-kata konkret.

 Ha gou newan utan (jika seorang memperoleh sayur)

Gea hama-hama (makanlah bersama-sama)

Ha kare newan tua (jika ada yang dapat mengiris tuak)

Minu hama-hama (minumlah bersama-sama)

Pendengar langsung mengerti ketika mendengar kata sayur (utan), makan (ea), tuak (tua), dan minum (minu). Pendengar langsung membayangkan kegiatan makan minum; seolah-olah pendengar terlibat di dalamnya.

Baca Juga OMK Paroki Mamsena Beri Bantuan bagi Para Lansia

Bahasa yang digunakan oleh penutur dalam paen atau pantun pada bait pertama ialah bahasa metaforik. Penutur menyatakan suatu hal dengan bahasa yang tidak biasa, kata-kata terpiilih, yang indah dan penuh makna.

Baris-baris kata itu mengungkapkan suatu makna yang mendalam tentang cinta, kasih sayang, asmara, dan percumbuan.

Apu gahu reta wutu (saling mengasihi di dalam rumah)

Muli mut wali une (saling menasehati dalam kamar)

Pa’an naha gera blatan (paha harus selalu dingin)

Uhun naha doe dolo (susu harus melimpah airnya: kasih sayang ibu)

Bagian terakhir dari struktur fisik puisi atau dalam konteks tulisan ini pantun ialah rima. Rima yang tampak dalam pantun tersebut ialah rima tengah dan vocal u dan a.

Apu gahu reta wutu (saling mengasihi di dalam rumah)

Muli mut wali une (saling menasehati dalam kamar)

Pa’an naha gera blatan (paha harus selalu dingin)

Uhun naha doe dolo (susu harus melimpah airnya: kasih sayang ibu)

Ha gou newan utan (jika seorang memperoleh sayur)

Gea hama-hama (makanlah bersama-sama)

Ha kare newan tua (jika ada yang dapat mengiris tuak)

Minu hama-hama (minumlah bersama-sama)

Pengulangan bunyi vokal dan rima tengah menghasilkan irama dan lagu yang menciptakan keindahan bunyi bahasa pantun, dan ini menghasilkan harmoni dalam dinamika berpantun dan berbalas pantun.

Baca Juga Menggali Potensi Sosio-Kultur Masyarakat Kampung Wuring dalam Festival Siselo Susurang

Analisis kedua, yaitu struktur batin dari pantun tersebut. Tema yang ditampilkan dari pantun nasehat itu adalah nasehat untuk keluarga baru dan cara hidup dalam keluarga. Keluarga baru dalam menjalankan cara hidup baru dalam keluarga diharapkan untuk menjaga harmoni kerukunan dan cinta, saling berbagi dan merasa senasib – susah senang sama-sama merasakannya.

Nasihat itu tampak dalam bagian baris pantun pa’an naha gera blatan (paha harus selalu dingin), gea hama-hama (makanlah bersama-sama), uhun naha doe dolo (susu harus melimpah airnya: kasih sayang ibu). Nada perintah tampak dalam kata harus dan akhiran –lah.

Hidup berkeluarga adalah sebuah ikatan cinta dan komunio dari dua pribadi, laki-laki dan perempuan yang dipersatukan dalam ikatan kasih suci perkawinan. Namun keutuhan cinta itu pada waktu tertentu mengalami stagnasi, kebekuan internal sehingga menimbulkan ketegangan dari kedua pihak dan konflik bisa saja terjadi.

Kemungkinan terjadinya problem mendorong penutur untuk menyampaikan pesan supaya masalah yang terjadi dalam keluarga diselesaikan di bawah empat mata dari dua pribadi sendiri.

Apu gahu reta wutu (saling mengasihi di dalam rumah)

Muli mut wali une (saling menasehati dalam kamar)

Selain penyelesaian secara internal dibutuhkan komitmen untuk menjaga harmoni di ruang makan. Kesempatan makan bersama adalah momen rohani merayakan segala jerih-lelah yang disyukuri lewat makan dan minum bersama.

Tuak menjadi materi penting dalam kultur tradisional dan kegiatan iris tuak dianggap penting bagi laki-laki. Perempuan memainkan peran di dapur, mencari sayur, memasak. Mengiris (tuak) dan memasak (sayur) adalah gambaran peran dua pribadi dalam keluarga yang hasilnya harus dirayakan secara bersama-sama.

Ha gou newan utan (jika seorang memperoleh sayur)

Gea hama-hama (makanlah bersama-sama)

Ha kare newan tua (jika ada yang dapat mengiris tuak)

Minu hama-hama (minumlah bersama-sama)

Perasaan yang disampaikan oleh penutur lewat pantun itu ialah perasaan berharap dan berbahagia. Diharapkan supaya selalu ada tegur sapa mesra dalam keberduan yang intim dan keriangan dalam kebersamaan melakukan pekerjaan dan kebahagiaan perjampuan bersama.

Sisi lain dari perasaan penutur adalah sikapnya terhadap pendengar. Tone penutur lewat pantun itu adalah tone yang sugesif, menggurui, dan memberi perintah. Pendengar diharapkan untuk ‘harus’ melakukan apa yang dituturkan yaitu – pa’an naha gera blatan (paha harus selalu dingin),

uhun naha doe dolo (susu harus melimpah airnya: kasih sayang ibu), gea hama-hama (makanlah bersama-sama), minu hama-hama (minumlah hama-hama).

Mendengar pesan imperatif demikian suasana pendengar menjadi semacam sebuah ‘ketersinggungan’ positif, kesadaran dan intuisi digerakkan, nurani dan kehendak diaktifkan untuk menata hidup keluarga menjadi lebih harmonis dan damai.

Dari tone dan felling penutur tersebut kita menemukan amanat yang terkandung dalam pantun nasehat itu ialah supaya keluarga baru dapat menakodai bahtera rumah tangga dengan suatu sikap hati yang berbelas kasih, simpati dan empati, cinta dan kebaikan, saling mengerti dan membangun optimisme supaya keluarga bertumbuh dalam suasana firdaus yang membahagiakan.

Poin penting yang harus diingat ialah cinta. Cinta menumbuhkan kebahagiaan dan mempersatukan kedua insan. Semoga cinta tetap melimpah – uhun naha doe dolo (susu harus melimpah airnya: kasih sayang ibu) dalam keluarga. Jika keluarga memiliki kelebihan berbahagialah dengan sesama keluarga tetangga.

Ha gou newan utan (jika seorang memperoleh sayur)

Gea hama-hama (makanlah bersama-sama)

Ha kare newan tua (jika ada yang dapat mengiris tuak)

Minu hama-hama (minumlah bersama-sama)

Pesan Edukatif dalam Pantun Orang Hewa

Transfer informasi pengatahuan (transfer of knowledge) dan transfer nilai (transfer of value) tidak selalu harus terjadi di dalam iklim akademik kelas dan kampus, tetapi juga bisa disalurkan lewat budaya tutur lisan seperti pantun dan syair, nyanyain rakyat dan tuturan adat.

Dalam khazanah kelisanan penutur menyampaikan bahasa sebagai ungkapan pikiran dan gagasan kolektif. Tradisi lisan merupakan milik bersama, dan itu diekspresikan dalam bentuk nyanyian adat atau pun pantun.

Penyampain pesan di dalam pantun merupakan ekspresi didaktif yang dapat membentuk kepribadian orang yang memiliki pantun itu, baik pemantun maupun pendengarnya. Karena itu tradisi lisan dapat menjadi medium penyalur pendidikan karakter. Fia Nur Rahayu menulis,

Di dalam tradisi biasanya mengandung serangkaian unsur kebiasaan dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pembelajaran dan pengetahuan. Nilai-nilai pada suatu tradisi akan memberikan dampak positif bagi masyarakat apabila diterapkan dengan baik dalam kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaan tradisi tentu ada ritual atau upacara khusus yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat.Dari kebiasaan itulah kemudian tercipta suatu sikap atau perilaku yang semakin lama akan membentuk suatu karakter” [13]

Pantun nasihat atau paen dalam kebudayaan masyarakat Hewa dapat menjadi medium transfer nilai pendidikan karakter bagi generasi muda. Momen tuturan lisan di dalam kebudayaan merupakan dinamika transfer nilai bagi penutur dan pendengar.

Bahasa pantun yang diucapkan memuat amanat dan nilai kehidupan yang dapat dihayati dan dipraktikan oleh kelompok masyarakat yang menghidupi khasanah pantun daerah.

Baca Juga “Pata Déla” Orang Bajawa, Situasi Batas, dan Pesan Sosial di Baliknya

Dalam pantun nasihat untuk keluarga baru dan cara hidup berkeluarga kita menemukan nilai pendidikan karakter yang diberikan. Pendidikan karakter berhubungan dengan pendidikan nilai berupa moral, religius, cinta, tolerasi, dan sikap hormat.

Karakter yang dicupakan dalam pantun itu ialah karakter yang mencintai dengan penuh rasa hormat, saling kerja sama, saling mendengarkan.

Apu gahu reta wutu (saling mengasihi di dalam rumah)

Muli mut wali une (saling menasehati dalam kamar)

Pa’an naha gera blatan (paha harus selalu dingin)

Uhun naha doe dolo (susu harus melimpah airnya (kasih saying ibu)

Ada kerja sama antara laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. Perempuan menyiapkan tangga dari bambu dan laki-laki akan menggunakan bambu itu untuk memanjat pohon lontar. Kemudian hasil tuak yang diperoleh harus diminum juga oleh orang lain. Sikap gotong royong pada akhirnya bertujuan saling berbagi.

Ha gou newan utan (jika seorang memperoleh sayur)

Gea hama-hama (makanlah bersama-sama)

Ha kare newan tua (jika ada yang dapat mengiris tuak)

Minu hama-hama (minumlah bersama-sama)

Berdasarkan nilai pendidikan karakter di atas dapat disimpulkan bahwa paen  atau pantun nasehat yang dinyanyikan saat hegor pesta injak padi merupakan ajaran dan ajakan penting bagi kedua pihak, laki-laki dan perempuan yang saling mencintai dan ingin menghayati hidup berkeluarga harus rajin bekerja, memiliki iman yang kokoh, saling mencintai, dan memiliki rasa simpati dan empati.

Penutup

Berdasarkan gagasan-gagasan yang sudah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa analisa struktur fisik dan batin pantun daerah sangat penting sebagai jalan pencarian makna, arti, amanat, dan pesan sebuah pantun.

Pantun nasihat atau paen dalam tradisi hegor pesta injak padi orang Hewa memiliki struktur fisik yang khas, meskipun rima akhir bukan a-b-a-b, tetap mengandung unsur batin yang menyingkapkan arti dan pesan untuk hidup berkeluarga.

Dari amanat itu dapat dirumuskan fungsi pantun nasehat yaitu fungsi edukatif, etis, pengawasan sosial, dan fungsi mempersatukan. Penutur orang Hewa menyampaikan pesan lewat mulut (oral) untuk didengar (aural) oleh pendengar pantun supaya menghidupi nilai-nilai etis dalam hidup bersama sebagai sebuah keluarga – muli mut wali une (saling menasehati dalam kamar), memiliki empati dan rasa solidaritas sebagai makhluk sosial dalam ada bersama yang lain.

Akhirnya, dapat dipahami bahwa pantun merupakan bahan pelajaran kehidupan dan berpantun merupakan aksi edukatif dalam rupa kesaksian lisan.


[1] Multafifin, “Kemampuan Menulis Pantun Siswa Kelas VII SMP Negeri  52 Konawe Selatan”, dalam Jurnal Humanika No. 15, Vol. 3, Desember 2015, hlm. 4.

[2] Hegor merupakan nyanyian berbalasan yang diiringi dengan gerak teratur (mengangkat kaki kanan sesudah kiri) dalam pesta injak padi kebudayaan orang Hewa.

[3] Herman J. Waluyo, Apresiasi Puisi (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 49.

[4] Bdk., https://www.e-jurnal.com/2013/12/pengertian-pantun.html, diakses pada Minggu, 20 Oktober 2019.

[5] Rm. Frans Amanue, “Pengalaman-Pengalaman Menggali Tradisi Lisan”, dalam Dr. Hubert Muda, SVD, dkk., Menggali Tradisi Lisan (Pustaka Misonalia Candraditya, Seri II/1, 1993), hlm. 108.

[6] Herman J. Waluyo, op. cit., hlm. 2-43.

[7] Bdk., https://www.studiobelajar.com/pantun-pengertian-jenis-contoh/, diakses pada Minggu, 20 Oktober 2019.

[8] Ibid.

[9] Metodius Buku Boruk, “Menelaah Status dan Peran Tujuh Suku dalam Masyarakat Hewa” (Skripsi, STFK Ledalero, Maumere, 2016), hlm. 9-11, dan Petrus Uje Plue, SH., M.Si., “Hewa Menuju Desa Wisata, Gagasan Perubahan Arah Pembangunan Desa Hewa” (ms.), 2014, hlm. 3-12.

[10] Yohanes Sasi Ipir, “Manusia dalam Budaya Injak Padi Orang Hewa, Suatu Refleksi Filosofis-Antropologis”  (Skripsi, STFK Ledalero, Maumere, 1994), hlm. 54-59.

[11] Ibid., hlm. 59.

[12] Saya menyebut penutur dan bukan pencipta atau pengarang sebab ciri khas mendasar dari tradisi lisan, dalam hal ini sastra lisan pantun daerah ialah anonimitas pengarang. Tidak ada pengarang tunggal dari pantun tersebut, tetapi merupakan milik bersama atas dasar  kesepakatan kolektif. Karena itu saya menyebut penutur atau orang yang menyampaikan atau menyanyikan pantun.

[13] Fian Nur Rahayu, “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga Tahun 2017” (Skripsi, IAIN, Salatiga, 2018), hlm. 2-3.

Daftar Pustaka

J. Waluyo, Herman. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.

Muda, Hubertus dkk. Menggali Tradisi Lisan. Pustaka Misonalia Candraditya, Seri II/1, 1993.

Buku Boruk, Metodius. “Menelaah Status dan Peran Tujuh Suku dalam Masyarakat Hewa”. Skripsi, STFK Ledalero, Maumere, 2016.

Uje Plue, Petrus. “Hewa Menuju Desa Wisata, Gagasan Perubahan Arah Pembangunan Desa Hewa” (ms.), 2014.

Sasi Ipir, Yohanes. “Manusia dalam Budaya Injak Padi Orang Hewa, Suatu Refleksi Filosofis-Antropologis”. Skripsi, STFK Ledalero, Maumere, 1994.

Nur Rahayu,Fian. “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga Tahun 2017”. Skripsi, IAIN, Salatiga, 2018.

Multafifin. “Kemampuan Menulis Pantun Siswa Kelas VII SMP Negeri  52 Konawe Selatan”, Jurnal Humanika No. 15, Vol. 3, Desember 2015.

https://www.e-jurnal.com/2013/12/pengertian-pantun.html

Artikel ini merupakan analisis atas isi dan bentuk pantun orang Hewa. Terutama tentang "paen" yang merupakan pantun nasihat dan dinyanyikan oleh orang-orang tua di dalam "hegor" pesta injak padi orang Hewa.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »