Allah

Tuhan Macam Mana? (Tanggapan atas Opini Edy Soge)

Dalam opininya, Edy berpendapat bahwa menemukan dan menghadirkan Allah di tengah krisis bencana adalah sebuah kesombongan teologi. Saya pikir pendapat ini didasarkan pada pemahaman akan hakikat teologi yang tidak benar. Seolah-olah menjadikan teologi hanya sebagai ilmu yang “bisu” terhadap konteks penderitaan manusia akibat bencana.

NTT Progresif (13/2) kembali menyuguhkan opini tanggapan Edy Soge atas opini Har Yansen, terbit di Media Indonesia (22/1) berjudul “Bencana, Teologi Kemaslahatan, dan Kemanusiaan”.

Opini tanggapan Edy tadi berjudul “Tugas Teologi: Menemukan dan Menghadirkan Tuhan? (Jawaban atas Opini Har Yansen)” serentak bertujuan mengafirmasi tanggapannya yang pertama atas opini Har yang juga diterbitkan dalam NTT Progresif (24/1).

Inti tanggapan Edy adalah menggugat peran telogi dalam menemukan dan menghadirkan Tuhan di tengah situasi bencana. Bagi Edy, menemukan dan menghadirkan Tuhan di tengah situasi bencana tidak lebih daripada sebuah pandangan teologi yang terlampau ideal.

Dalam tulisan ini, saya justru akan menggugat balik pernyataan Edy. Dengan kata lain, saya mengafirmasi pendapat Har Yansen bahwa peran teologi dalam menemukan dan menghadirkan Tuhan adalah sebuah imperatif di tengah situasi bencana.

Baca Juga Tanggung Jawab Teologi di Tengah Dunia dan Bencana (Tanggapan untuk Edy Soge)

Teologi pada hakikatnya bukan hanya ihwal merefleksikan Allah dalam bayangan dogmatis semata. Lebih daripada itu, teologi menemukan dan menghadirkan Allah yang imanen, sehingga Allah yang transenden itu menjadi nyata dan bisa teralami oleh manusia dalam aneka konteks.

Secara filosofis dan teologis, perdebatan tentang siapa itu Tuhan dalam hubungannya dengan bencana tidak pernah usai. Tuhan adalah sebuah misteri yang tidak pernah tuntas untuk disingkap. Semua perdebatan tentang Tuhan pada akhirnya hanya menghasilkan konsepsi tentang Tuhan yang berbeda-beda.

Dalam agama-agama (teologi), kita umumnya mengenal tiga jenis pemahaman tentang Tuhan. Ada yang memahami Tuhan sebagai Allah yang transenden, yang jauh dari manusia dan alam.

Ada juga yang memahami Allah yang berisifat imanen, Allah yang ada di dunia dan bisa ditemukan manusia.  Selain itu, ada juga yang memahami Allah bersifat panteistik, Allah yang hadir dalam segala sesuatu, atau segala sesuatu adalah Allah.

Karena itu, ada yang mengatakan bahwa Allah itu adalah kehadiran. Dia sudah hadir dalam segala sesuatu. Allah tidak perlu lagi ditemukan dan dihadirkan.

Namun, pertanyaannya adalah gambaran Tuhan macam mana yang dihadirkan dalam situasi bencana?

Di tengah bencana, para korban tentu tidak membutuhkan konsepsi tentang Tuhan yang dogmatis. Yang hakiki dari itu, para korban bencana ingin melihat dan mengalami kehadiran Tuhan yang maha kuasa yang bersifat imanen; yang hadir dan menolong mereka di tengah-tengah penderitaannya melalui kehadiran kita secara nyata di tengah-tengah mereka.

Karena itu, dalam opini di Media Indonesia, Har menulis, “Di tengah bencana, agama-agama dan teologi mereka mesti menjadi spirit dan inspirasi bagi lahirnya gerakan-gerakan kesukarelaan (voluntaristik) bagi kemanusiaan. Aksi-aksi kemanusiaan, merupakan bagian hakiki dari ekspresi iman”.

Baca Juga Membaca Kembali Har Yansen dan Menimbang Gugatan Edy Soge: Awasan Terhadap Lahirnya Sikap Fatalisme Praktis dan Bahaya Teologi sebagai Antropologi

Dalam arti ini, kita dapat memahami bahwa menemukan dan menghadirkan Allah di tengah bencana berarti menemukan Allah yang imanen; yang ada di dalam diri para korban yang menderita dan menghadirkan Allah yang peduli; dan terlibat dengan mereka yang mengalami penderitaan melalui aksi-aksi yang nyata.

Dalam opininya, Edy berpendapat bahwa menemukan dan menghadirkan Allah di tengah krisis bencana adalah sebuah kesombongan teologi. Saya pikir pendapat ini muncul dari pemahaman tentang hakikat teologi yang tidak benar.

Pendapat tersebut seolah menjadikan teologi hanya sebagai ilmu yang “bisu” terhadap konteks manusia yang menderita akibat bencana. Dalam Kekristenan, justru teologi membantu memahami iman Kristen dengan mengindahkan konteks tertentu (Bevans, 2002). Salah satu konteks itu adalah pengalaman bencana.

Bagaimana memahami iman Kristen dalam konteks bencana?

Realitas bencana perlu menjadi konteks berteologi di mana Allah ditemukan dan dihadirkan secara nyata. Kita perlu menemukan dan menyadari kehadiran Tuhan dalam diri mereka yang menderita.

Selanjutnya teologi perlu menjadi inspirasi yang mendorong setiap orang untuk mewujudkan kehadiran Tuhan yang ikut menderita bersama para korban bencana melalui aksi-aksi nyata.

Dengan demikian teologi tidak tinggal diam dalam menara kesombongan dogmatis yang tidak mau merendah untuk menemukan dan menghadirkan Tuhan dalam kenyataan bencana.

Baca Juga Ilmu-ilmu Sosial dan Teologi Kontekstual (Menanggapi Dr. Ignas Kleden)

Sebaliknya, sebagaimana dikatakan oleh Stephen B. Bevans, “Teologi adalah ihwal menemukan Allah dalam situasi dimaksud sehingga kehadiran Allah yang tersembunyi itu dapat dinyatakan dalam struktur-struktur biasa dari situasi bersangkutan, yang sering kali terjadi secara tak terduga”.

Selanjutnya, Edy juga menulis bahwa teologi tidak akan berpengaruh pada perubahan sosial atau pembangunan manusia kalau tugasnya hanya menemukan dan menghadirkan Tuhan.

Pada hemat saya, pendapat Edy ini masih terjebak dalam pemahaman bahwa teologi hanya menghadirkan Tuhan yang ideal di tengah situasi bencana. Perubahan sosial atau pembangunan manusia macam apa yang Edi maksudkan?   

Saya kira upaya teologi dalam menginspirasi lahirnya kelompok peduli bencana, dan gerakan bantuan bencana adalah bagian dari pembangunan manusia, terutama bagi mereka yang menderita akibat bencana.

Pembangunan manusia tidak hanya melulu dalam arti material. Lebih dalam, pembangunan itu menyentuh pula aspek psikis korban bencana, di mana para korban bencana didampingi dan diberdayakan agar mereka bisa keluar dari persoalan bencana yang mereka hadapi.  

Dengan demikian, Tuhan yang terimani adalah Tuhan yang juga antropos dan personal, yang hadir sebagai dan di tengah-tengah kehidupan manusia. Tuhan bukan hanya sebuah realitas yang transenden, tetapi juga imanen, yang hadir dan ikut merasakan penderitaan manusia, sekaligus yang berusaha mengatasi persoalan-persoalan kemanusiaan (Johannis Siahaya, dkk, 2020).

Baca Juga OMK Paroki Mamsena Beri Bantuan bagi Para Lansia

Tuhan semacam inilah yang dihadirkan oleh teologi. Oleh karena itu, upaya menemukan dan menghadirkan Tuhan dalam berbagai konteks, termasuk bencana adalah hakikat teologi itu sendiri.

Di hadapan konteks (bencana), pertanyaan yang muncul adalah, Tuhan ada di mana? Tuhan ada dalam diri siapa? Tuhan macam mana?

Dalam konteks bencana, menghadirkan Tuhan berarti mewujudkan kehadiran Tuhan yang imanen. Tuhan yang menyelamatkan dan membebaskan semua orang melalui tindakan kasih yang nyata.

Dengan demikian, kehadiran Allah tidak hanya menjadi realitas ideal, tetapi realitas yang bisa teralami secara riil oleh manusia dalam segala pengalaman hidupnya, terutama mereka yang mengalami bencana dan penderitaan.

Dalam opininya, Edy berpendapat bahwa menemukan dan menghadirkan Allah di tengah krisis bencana adalah sebuah kesombongan teologi. Saya pikir pendapat ini didasarkan pada pemahaman akan hakikat teologi yang tidak benar. Seolah-olah menjadikan teologi hanya sebagai ilmu yang “bisu” terhadap konteks penderitaan manusia akibat bencana.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »