Humanisme

Di Bawah Bayang-bayang Kecerdasan Buatan: Peran Humanisme Saintifik, Sains Humanistik, dan Filsafat dalam Masyarakat yang Semakin Tidak Masuk Akal

Humanisme sebagai pendirian etis dan filosofis akan tetap menjadi sumber inspirasi dan harapan untuk membela manusia di bawah bayang-bayang kecerdasan buatan, saintisme, dan teknokrasi.

Humanisme Abad ke-21 sedang menghadapi tantangan baru. Dalam diskursus filsafat kontemporer, sekurang-kurangnya ada tiga tantangan. Pertama, paradigma post-modern. Post-modernisme menolak metanarasi dan merayakan kematian subjek. Humanisme tertantang karena ia sendiri berpusat pada subjek (manusia).

Kedua, fundamentalisme agama. Abad ke-21 juga disebut abad post-sekularisme. Abad ini ditandai kegairahan agama yang belum pernah dilihat sebelumnya. Gerakan-gerakan radikal agama tampil di ruang publik untuk memaksakan universalitas doktrin agamanya. Tak jarang, kaum radikal ini menganggap humanisme sebagai musuh dan paham kafir.

Ketiga, humanisme  juga ditantang oleh isu kecerdasan buatan, teknologi super, dan saintisme. Berhadapan dengan tantangan-tantangan tersebut, telaah filosofis tentang hubungan humanisme dan sains menjadi sangat penting.

Sekilas tentang Humanisme dan Sains

Humanisme memiliki sejarah panjang, membentang dari Yunani klasik, melewati renaisans, hingga meluas di era modern dan kontemporer. Istilah humanisme sendiri baru muncul di zaman Renaisans, sekitar awal abad ke-16 di Italia.

Istilah “umanista” dalam bahasa Italia, yang kemudian menjadi cikal bakal istilah humanisme, menunjuk kepada “seorang sarjana atau guru ilmu humaniora: disiplin tata bahasa, retorika, puisi, sejarah, dan filsafat moral”. [1] Dalam bahasa Latin, studi-studi ini disebut studia humanitatis, yang menyiratkan kontras antara studi tentang “kemanusiaan” dan studi tentang “ketuhanan”.

Sejak Yunani kuno, humanisme merupakan pendirian etis-filosofis yang menyangkal kekuatan atau nilai moral yang lebih tinggi dari kemanusiaan. Humanisme berpusat pada manusia dan akal budinya serentak melawan segala bentuk keyakinan supranatural yang menghambat kemajuan manusia.

Inti seluruh refleksi filosofis tentang manusia dalam humanisme ialah mengajukan proposisi sederhana yaitu bekerja demi kebahagiaan manusia di dunia ini sebagai tujuan terpenting. Oleh karena itu, humanisme menentang keyakinan religius tentang hidup kekal. Bagi humanisme, yang terpenting ialah etika atau moralitas yang mendasari seluruh nilai kemanusiaan dan mengarahkan manusia kepada cita-cita kebahagiaan, kebebasan, dan kemajuan (ekonomi, budaya, dan etika).

Humanisme juga percaya, individu dapat mencapai kehidupan yang baik lewat kombinasi kepuasan pribadi dan kontribusi sosial. Humanisme menerima nilai-nilai demokrasi dan perdamaian serta standar hidup yang tinggi di atas tatanan ekonomi yang adil. Masyarakat humanis adalah masyarakat yang mengakui dan memperjuangkan kebebasan berekspresi dan kebebasan sipil dalam berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, politik, dan budaya. [2]

Oleh karena itu, humanisme juga bisa dipahami sebagai sikap hidup demokratis dan etis, yang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki hak dan tanggung jawab untuk memberi makna dan bentuk pada kehidupannya dengan caranya sendiri. Itu artinya, humanisme berorientasi pada usaha membangun hidup manusia di atas nilai-nilai etika dan kemanusiaan dengan kekuatan nalar dan penyelidikan bebas. [3]

Baca Juga Barat Lebih dari Timur: Representasi dan Relasi Kekuasaan

Dengan demikian, ada beberapa argumentasi pokok tentang humanisme dari perspektif filosofis. [4]

Pertama, humanisme adalah seperangkat keyakinan bahwa manusia dapat menghasilkan suatu sistem moralitas melalui penalaran/akal budi daripada melalui kepercayaan kepada Tuhan, wahyu, kekuatan adikodrati, atau otoritas. Secara filosofis, etika humanis menempatkan “kesejahteraan manusia” sebagai hal yang lebih penting daripada kehendak Tuhan dalam agama atau kehendak penguasa dalam masyarakat totaliter.

Kedua, humanisme juga adalah keyakinan filosofis fundamental bahwa manusia bisa hidup tanpa agama. Hidup manusia sepenuhnya bergantung pada nalar, komunikasi, kesepakatan moral, dan sikap terbuka terhadap berbagai kritik dan revisi.

Ketiga, humanisme adalah komitmen terhadap perspektif, kepentingan, dan sentralitas pribadi manusia; sebuah kepercayaan pada nalar dan kebebasan sebagai fondasi eksistensi; suatu keyakinan bahwa dalam kondisi apapun, nalar, skeptisisme, dan metode ilmiah adalah satu-satunya instrumen untuk menemukan kebenaran dan menyusun komunitas manusia.

Perspektif ketiga dari kesimpulan tersebut menunjukkan kedekatan humanisme dan sains. Humanisme sering dianggap sebagai perspektif naturalistik, dan karena itu sangat dekat dengan sains. Dalam filsafat ilmu, sains dipandang sebagai suatu kegiatan ilmiah di mana ilmuwan baik secara individual maupun kelompok melakukan studi objektif terhadap fenomena yang diamati untuk menemukan rantai sebab-akibat. [5]

Dengan kata lain, sains adalah suatu usaha ilmiah yang bersifat deskriptif untuk menemukan scientific truth. Deskriptif berarti sains mengumpulkan dan menjelaskan data berdasarkan metode ilmiah seperti penalaran (deduktif-induktif) dan eksperimen atau uji laboratorium. Melalui metode ilmiah, sains menjawab pertanyaan bagaimana dunia bekerja dan menolak asumsi-asumsi yang salah.

Metode ilmiah juga diterima oleh kaum humanis sebagai cara mendeskripsikan realitas dan mendekati kebenaran tentang dunia naturalistik. Hal ini secara otomatis menolak segala proposisi atas dasar dogma, wahyu, atau keyakinan pribadi yang tidak bisa diverifikasi oleh bukti memadai. Metode ilmiah ini menguatkan orientasi humanisme pada pengetahuan tentang dunia ini, bukan dunia transenden. 

Baca Juga Richard Rorty: Liberalisme Ironis dan Demokrasi

Sebagai cara memahami realitas, sains menurunkan satu prinsip emas yang berlaku sebagai aturan intelektual pada umumnya, yaitu “pengujian pernyataan pada landasan logika dan fakta yang bisa diverifikasi secara rasional dan empiris”. [6] Untuk menghasilkan sebuah argumen yang valid dan mendekati kebenaran ilmiah, seseorang harus menunjukkan penalaran logis dan fakta empiris.

Dalam kaitan dengan humanisme, ada dua tujuan sains yang penting untuk diketahui, yaitu tujuan epistemik dan praktis. Tujuan epistemik sains ialah memberikan gambaran akurat tentang realitas, mengembangkan teori dan hipotesis, melakukan prediksi yang matang, menghilangkan kesalahan dan bias, dan menyajikan kepada publik suatu informasi tentang ide dan fakta sosial. [7] Sementara itu, tujuan praktisnya meliputi pemecahan masalah dalam bidang praktis seperti teknik, kedokteran, ekonomi, pertanian, teknologi, dan lain-lain.

Humanisme Saintifik

Ketika Francis Bacon menulis Novum Organum, dia merumuskan sintesis baru dari pengetahuan manusia. Bacon mendesak agar manusia keluar dari skolastisisme dan mengejar sains. Caranya ialah meninggalkan supranaturalisme menuju naturalisme, dari perhatian kepada dunia akhirat menuju dunia ini, dari wahyu dan sihir kepada akal budi dan sains. [8]

Bacon mengagungkan ilmu pengetahuan modern. Alasannya, hanya melalui ilmu pengetahuan, manusia dapat mencapai kebenaran objektif dan mengalami kemajuan.

Dengan metode observasi, ilmu pengetahuan melepaskan kita dari “idola-idola”, yaitu keyakinan yang diterima begitu saja tanpa menguji kebenarannya. Yang termasuk idola ialah prasangka baik pribadi maupun kolektif, opini atas dasar keyakinan minus fakta, dan keyakinan yang dipupuk tanpa pengujian ilmiah.

Humanisme saintifik dapat dipahami sebagai “ketergantungan humanisme pada metode ilmiah dan nilai-nilai ilmu pengetahuan dalam menyelidiki dan mencari kebenaran”. [9] Dengan kata lain, sains dan akal budi penting bagi humanisme karena kemampuannya untuk mendekatkan diri pada kebenaran, sebelum tiba pada suatu keyakinan.

Sains memang tidak menyediakan “kepastian”, melainkan kebenaran tentatif. Namun, itulah keunggulannya, dan itu terasa lebih baik daripada percaya begitu saja pada kebenaran yang dikarang-karang. 

Boleh dikatakan, humanisme dapat memperoleh fondasi epistemik dan koherensi posisinya pada metode ilmiah sains. Sebagai contoh, sifat kebenaran dalam sains ialah falsiable dan tentatif. Ilmuwan Stephen Jay Gould mengatakan bahwa dalam sains, fakta hanya berarti “dapat dikonfirmasi sedemikian rupa sampai itu ditentang dengan menahan persetujuan sementara.” [10]

Setiap teori baru yang dihasilkan dari penalaran yang ketat dan eksperimen yang hati-hati selalu terdapat kemungkinan untuk diuji kembali dan bahkan digugurkan. Karl Popper menyebut hal ini sebagai falsifikasi.

Metode ilmiah ini tidak saja menopang tujuan epistemik ilmu, tetapi juga mengandung prinsip etis yang mendukung cita-cita humanisme. Metode ilmiah ini menjadi fondasi epistemologis mengapa humanisme menolak dogmatisme, fundamentalisme, intoleransi, dan klaim-klaim kebenaran absolut yang membahayakan kebebasan manusia.

Baca Juga Kant, Mentalitas Teknokratik, dan Sikap Beragama Kita: Catatan Etis atas Heboh Kontroversi Kepulangan Rizieq Shihab

Dengan kata lain, dimensi etis-praktis yang humanis dari prinsip ilmiah sains ini ialah pengakuan yang rendah hati bahwa kebenaran dalam analisis terakhir hanya mengakui probabilitas, sehingga secara ilmiah, sikap fundamentalistik adalah sebuah kebodohan. Kerendahan hati sains adalah keberanian intelektual-moral humanisme melawan kepongahan agama. Prinsip saintifik ini jelas mendorong bertumbuhnya nilai-nilai humanis seperti dialog, toleransi, pengakuan, kebebasan, dan kerja sama.

Sekurang-kurangnya, ada lima cara manusia memperoleh pengetahuan dan tiba pada keyakinan tertentu, yaitu melalui revelasi, otoritas, intuisi, rasionalisme, dan metode saintifik. [11]

Melalui revelasi, manusia tiba pada keyakinan akan objek-objek supranatural dan ilahi. Dengan bantuan sains, kaum humanis memiliki alasan untuk menolak keyakinan ini.

Melalui otoritas, manusia percaya begitu saja klaim-klaim yang diwariskan. Hal ini bertentangan dengan cita-cita humanisme akan kebebasan manusia untuk berpikir dan menemukan hal-hal baru.

Melalui intuisi, manusia memperoleh keyakinan secara langsung tanpa melalui penalaran. Kaum humanis mengakui bahwa intuisi adalah kemampuan pra-reflektif. Namun, intuisi harus direfleksikan dengan penalaran. Sebab, jika tidak, intuisi dapat tiba pada keyakinan dan tindakan irasional.

Melalui rasionalisme, manusia dapat menempuh penalaran logis dan membentuk jalinan koheren dari berbagai ide kompleks. Matematika dan filsafat termasuk di dalamnya. Rasionalisme sepenuh-penuhnya merupakan metode ilmiah. Kaum humanis juga membangun posisinya di atas rasionalisme.

Yang terakhir ialah metode ilmiah. Metode ilmiah tidak saja mengandalkan penalaran, melainkan memverifikasi atau memfalsifikasi suatu teori dengan eksperimen. Oleh karena itu, yang dicapai melalui metode saintifik bukan saja penalaran logis, melainkan proposisi-proposisi ilmiah yang bisa diverifikasi secara empiris.

Alih-alih bersikap rasional dan ilmiah, faktanya, manusia modern saat ini masih dikuasai oleh klaim-klaim kebenaran yang mengada-ada, yaitu dua jenis keyakinan non-ilmiah berikut.

Baca Juga Manusia dan “Etika Tanpa Fiksi” menurut Yuval Noah Harari

Pertama, keyakinan kepada supranatural beings seperti setan, hantu, benda-benda magis, kekuatan-kekuatan gaib, dan lain-lain. [12] Contohnya, dua tahun lalu, di Madiun, sejumlah calon PNS kedapatan menyimpan jimat di tali BH, di belakang kerah baju, saku hingga celana dalam. Mereka yakin, benda magis itu membantu mereka supaya berhasil dalam ujian. [13]

Selain itu, menurut Franz Magnis-Suseno, para politisi bangsa ini tidak saja memakai nalar biasa, tetapi juga nalar gaib. Mereka akan mempertimbangkan sasaran yang mau direngkuh, stok kekuatan yang dibutuhkan, kelemahan-kelemahan dan kesempatan-kesempatan juga ancaman yang perlu dipertimbangkan. Namun, sekaligus mereka akan membidik bintang, memeriksa usus angsa, melihat bola hablur, memakai dukun, menunggu wangsit di kuburan, bersemadi di gunung-gunung, dan sebagainya. [14]

Jadi, kecenderungan irasional bahkan menjangkiti para (calon) pegawai Negara atau mereka yang ditugaskan untuk mengeksekusi kebijakan publik (yang membutuhkan stok akal sehat).

Kedua, keyakinan pada fenomena non-supranatural yang luar biasa seperti monster Loch Ness, Unidentified Flying Object (piring terbang), penculikan alien, dan teori-teori konspirasi. Stephen Law dalam Science, Reason, and Sceptisism menyebut klaim-klaim kebenaran tentang fenomena non-supranatural ini sebagai klaim-W (woo claims).

Klaim-W adalah sebutan untuk orang-orang yang percaya pada fenomena non-supranatural (alien, UFO, criptozoologi/makhluk raksasa), nubuatan akhir zaman, keajaiban, hantu, peri, dewa, dan lain-lain. [15] Kebenaran tentang klaim-W ini tidak terbukti secara ilmiah. Orang-orang yang meyakininya mengatakan bahwa mereka tidak melihat langsung, tetapi mendengar kesaksian dari orang lain. Basis argumentasinya bukan fakta, melainkan kesaksian atau testimoni.

Walaupun para ilmuwan realis umumnya bersikap agnostik terhadap fenomena non-supranatural ini, sebagian dari klaim ini dianggap oleh sains tidak kompatibel dan dipastikan salah. Sebagiannya, termasuk teori bumi datar, merupakan pseudo-sains yang tidak terbukti benar secara ilmiah.  

Baca Juga Menyoal Relasi Agama dan Pasar di Tengah Gempuran Globalisasi Kapital

Keyakinan-keyakinan seperti ini tidak saja membawa kesesatan secara epistemologis, tetapi juga secara etis-praktis berbahaya bagi kemanusiaan. Saya ingat kisah seorang mahasiswa kedokteran UI yang mengadakan penelitian di sebuah pulau di Flores. Mahasiswa ini berkisah tentang seorang ibu yang mengalami pendarahan berat saat melahirkan.

Menurut keyakinan setempat, pendarahan itu menandakan, si ibu pernah berzinah dengan laki-laki lain, sehingga tak perlu dibawa ke Puskesmas. Namun, atas dasar kebenaran ilmiah, mahasiswa itu meyakinkan mereka bahwa pendarahan disebabkan sejumlah faktor biologis yang perlu ditangani secara medis. Andai tak ada si mahasiwa, ibu itu mungkin menjadi korban yang ke sekian dari pandangan yang keliru.

Contoh lain, Holocaust adalah tragedi yang lahir dari keyakinan Nazi yang tanpa bukti tentang superioritas ras Arya dan posisi inferior orang Yahudi. Kekejaman ideologis: fasisme, komunisme, dan totalitariansme selama Abad ke-20 terjadi karena keyakinan yang dikarang-karang lalu dipaksakan sebagai kebenaran.

Baca Juga Transformasi Relasi Sosial Menjadi Jalur Eksploitasi Ekonomi di Era Neoliberal

Itulah mengapa setelah Perang Dunia I dan II, para filsuf lingkaran Wina berusaha mengubah bahasa filsafat ke dalam proposisi ilmiah. Pengalaman traumatik kejahatan Abad ke-20 mendorong mereka berkomitmen terhadap fakta empiris, kejernihan bahasa, dan penolakan atas metafisika. [16] Dengan ini, mereka dapat membedakan pernyataan ilmiah dari slogan politis atau moral minus fakta/data, yang dapat membawa orang kepada fanatisme, kesesatan, dan kekerasan.

Saat ini, kita juga tengah hidup dalam aneka kesesatan. Ruang publik kita diserang wabah hoaks, anti-intelektualisme dan anti-rasionalitas, opini atas dasar keyakinan semata minus fakta/data, serta gempuran fundamentalisme agama di satu sisi dan relativisme kebenaran (malah pasca-kebenaran) di sisi lain. Singkatnya, kita tengah hidup dalam masyarakat yang semakin tidak masuk akal, yang tidak saja menyesatkan akal sehat, tetapi juga mengancam kebebasan dan kemanusiaan.

Maka, peran sains dalam humanisme amat penting. Melalui metode ilmiah, sains mampu menumbuhkan suatu masyarakat ilmiah, yaitu masyarakat yang bebas dari aneka irasionalitas dan ekspresi-ekpresi minus akal sehat di ruang publik. Dengan kata lain, sains dapat menunjang humanisme baik secara epistemis maupun etis, yaitu menyelamatkan kemanusiaan dari irasionalitas, kemalasan berpikir, keyakinan palsu, intoleransi, dan fundamentalisme.

Sains Humanistik

I am become death, the destroyer of the worlds.” Kata-kata dari Bhagavad Ghita itu diungkapkan oleh Oppenheimer, fisikawan yang dikenal sebagai bapak bom atom, sesaat setelah eksperimen bom itu pada 16 Juli 1945. [17] Oppenhemier menyadari kekuatan sebenarnya dari bom atom. Sebuah kekuatan destruktif yang  mengancam peradaban.

Dan memang, setelah jatuhnya bom itu di kota Hirosima dan Nagasaki, seluruh mata dunia menyaksikan wajah sangar sains dan teknologi. Orang mulai menyadari bahaya fisika nuklir bagi masa depan peradaban manusia.

Selain terhadap manusia, sejak tahun 1960-an, dampak destruktif sains dan teknologi terhadap ekologi mulai disadari. Pada saat ini, kita umumnya telah sadar bahwa yang dibawa oleh sains dan teknologi bukan saja kemajuan, tetapi juga kemunduran, jika manusia tidak tahu lagi membatasi diri.

Dalam konteks itulah, kita bisa memahami mengapa para filsuf post-modern, yang dimulai oleh Nietzsche dan Heidegger, bersikap curiga terhadap sains dan humanisme modern. Pengalaman kekejaman Abad ke-20 mendorong para filsuf post-modern memproklamasikan kematian subjek (manusia). Mereka melakukan decentering of subject dan mengosongkan pemahaman atas manusia dari klaim-klaim metafisik dan pendasaran objektif seperti dalam sains.

Secara umum, ada tiga argumentasi tentang problem etis penerapan sains terhadap kemanusiaan (dan ekologi). [18]

Pertama, perkembangan sains dan teknologi telah memunculkan objek-objek baru yang berimplikasi etis. Misalnya, manipulasi materi berskala nano atau kehidupan buatan dalam biologi sintetik menimbulkan problem etis bahkan tanpa mengacu kepada aplikasi teknologi aktual.

Kedua, perkembangan sains dan teknologi telah membawa kapasitas baru untuk bertindak disertai risiko yang secara etis tidak diinginkan, entah disengaja atau tidak. Ini memicu perdebatan publik dewasa ini tentang dampak buruk teknologi nano, rekyasa genetik, nanofoods, kerusakan ekologis, serta polusi atmosfer dan elektromagnetik.

Baca Juga Compassio dan Pentingnya Semangat Biofil di Tengah Covid – 19

Ketiga, perkembangan sains dan teknologi baru membentuk lanskap profesional sains dengan cara menantang etika kelembagaan yang sudah mapan. Contohnya ialah kode etik yang ditegakkan asosiasi ilmiah disipliner dianggap usang oleh ilmuwan yang bekerja di bidang teknologi konvergen mutakhir. Ini menyebabkan, penelitian-penelitian mutakhir menyimpang dari standar-standar etis kegiatan ilmiah sehingga menimbulkan problem etis terhadap manusia.

Sains perlu kembali kepada nilai-nilai humanis agar dalam penerapannya tidak membahayakan manusia dan lingkungan. Inilah yang saya maksudkan dengan “sains humanistik”, yaitu “kemanusiaan” atau “kesejahteraan manusia” sebagai prinsip tertinggi sains baik dalam dimensi epistemiknya (pencarian kebenaran) maupun dalam dimensi etis-praktis (penerapannya melalui teknologi).

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, humanisme dan sains sama-sama memegang teguh prinsip-prinsip naturalistik. Namun, perlu diperhatikan bahwa humanisme selalu lebih luas dari sains itu sendiri atau dari posisi naturalistik.

Di atas prinsip-prinsip naturalistik, humanisme menganut tujuan etis tertinggi, yaitu kemanusiaan. Dalam humanisme, kemanusiaan sebagai prioritas adalah sudut pandang yang bisa dipahami tanpa kesulitan oleh orang-orang dari berbagai latar budaya, agama, bangsa, dan suku yang berbeda di dunia. [19]

Agar sains mendukung humanisme, sekurang-kurangnya dua prinsip etis-humanistik berikut perlu diperhatikan setiap ilmuwan.

Pertama, seorang ilmuwan mesti memiliki tanggung jawab sosial. Dia mengabdikan diri bagi kepentingan publik, menginformasikan hasil penelitian secara terbuka kepada publik, serta mengadvokasi kebijakan sains dan teknologi sehingga terarah kepada tujuan-tujuan yang mendukung cita-cita humanisme.

Kedua, seorang ilmuwan mesti memiliki tanggung jawab ekologis. Di tengah krisis ekologis saat ini, peran ilmuwan sangat dibutuhkan. Selama tahun 1960-an, misalnya, banyak ilmuwan yang dipimpin Rachel Carson dan Barry Commoner meningkatkan kesadaran publik tentang berbagai masalah lingkungan seperti polusi, populasi berlebih, pestisida, pembuangan limbah berbahaya, kepunahan spesies, dan lain-lain. Para ilmuwan juga dapat mendukung usaha ini dengan menghasilkan teknologi yang ramah lingkungan.

Masa Depan Humanisme dan Peran Filsafat

Kita telah melihat bagaimana sains berwajah ganda: menopang sekaligus menghantam humanisme. Di masa depan, dengan perkembangan yang makin pesat, sains dan teknologi dapat melakukan apa saja yang sebelumnya hanya misteri dan fantasi belaka.

Ini peluang sekaligus tantangan: jika benar prediksi para ahli bahwa sekitar tahun 2045 nanti, “makhluk” bernama “kecerdasan buatan” itu benar-benar melampaui kesadaran dan kecerdasan manusia, apa yang dapat dilakukan manusia?

Di Abad ke-21, begitu Yuval Noah Harari menulis dalam Homo Deus, ide bahwa manusia memiliki kemampuan unik di luar jangkauan algoritma non-kesadaran yang dikembangkan filsafat berabad-abad lamanya, akan segera menjadi fiksi penghibur saja. [20] Karena tuntutan real, sains dan teknologi mulai membuka misteri besar yang selama ini tersembunyi.

Yang mereka temukan dalam “individualitas” manusia, bukan kesadaran, jiwa, kedirian atau kehendak bebas, tetapi hanya kumpulan gen, hormon, dan neuron yang patuh pada hukum-hukum fisika dan kimia. Dengan kata lain, di masa depan, manusia sebagai individu tak lain hanyalah unit dari struktur biokimia yang bisa dianalisis secara akurat oleh ilmu biologi dan ilmu komputer beserta cabang-cabangnya seperti ilmu saraf, life sciences, dan Artificial Intelligence (AI).

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, manusia sebagai individu dengan segala kebebasan dan otonominya adalah inti sari humanisme. Saya adalah individu, yang berarti saya adalah esensi tunggal yang tak terbagi ke dalam berbagai subsistem. Saya memiliki kesadaran, pikiran dan suara batin, tempat di mana saya menemukan diri saya yang otentik. Diri yang otentik tersebut adalah diri yang bebas sepenuhnya, dan karena itu humanisme memberi otoritas penuh kepada diri personal manusia.

Harari menunjukkan, sains pada saat ini dan di masa depan menentang pendapat tersebut dengan beberapa argumentasi. [21]

Baca Juga Covid-19 dan Humanisme Katolik dalam Tinjauan Filosofis dan Etika Katolik

  1. Organisme adalah algoritma, dan manusia bukan in-dividu melainkan “dividual”, yang berarti manusia adalah susunan dari banyak algoritma berbeda sehingga mustahil menjadi substansi diri yang tunggal.
  2. Algoritma membuat manusia tidak bebas karena direpresi oleh gen-gen dan tekanan lingkungan. Manusia mengambil keputusan secara deterministik dan acak, tetapi tidak bebas. Maka, kebebasan individu itu mustahil.
  3. Algoritma teoretis bisa tahu lebih baik tentang diri saya. Algoritma yang mampu memantau cara kerja otak dan sistem pembentuk tubuh itu dapat dengan akurat mengetahui apa yang saya pikirkan, alami dan inginkan lebih daripada apa yang saya sendiri ketahui.

Ketika individu tak lain hanyalah struktur biokimia dan jaringan algoritma, kemanusiaan diretas dan gagasan tentang otoritas individu runtuh seketika. Mesin-mesin cerdas akan menjadi “tuhan” baru. Jika begitu, adakah sisa-sisa harapan?

Jawabannya, ya. Humanisme tetap memiliki harapan. Teknologi canggih yang menjadi “tuhan baru” itu justru memicu perhatian yang lebih besar lagi kepada tesis utama humanisme, yaitu manusia dalam kebebasan, individualitas, inklusi, dan kesetaraan.

Sebab, “tuhan” baru itu justru menciptakan persoalan kemanusiaan yang serius, yaitu kesenjangan makin besar dan perbudakan jenis baru. “Tuhan baru” itu diperalat oleh “manusia-manusia tuhan”, homo deus, yaitu segelintir elite yang disebut kasta manusia super, mereka yang menguasai sumber daya uang, pengetahuan, dan teknologi.

Mereka ini akan memperlakukan manusia-manusia lain sama seperti orang Eropa Abad ke-19 memperlakukan budak Afrika dan Asia. Keadaan ini tidak melemahkan humanisme, melainkan memperkuat cita-cita utamanya: pembelaan manusia!

Baca Juga Martabat Manusia sebagai Basis Etis Masyarakat Multikultural

Pembelaan manusia adalah pendirian etis-filosofis yang diperjuangkan humanisme sejak awal. Oleh karena itu, peran filsafat menghadapi tantangan jenis baru ini sangat dibutuhkan. Ada kemampuan dalam diri manusia, yang tak mungkin diambil alih menjadi algoritma oleh mesin-mesin cerdas. Kemampuan itu adalah kemampuan filosofis yang disebut kebijaksanaan.

Kebijaksanaan memampukan manusia mengambil keputusan etis dalam setiap situasi. Contohnya, kasus dilema mobil otonom. Ketika seorang pengemudi menginjak rem untuk menghindari menabrak pejalan kaki yang menyeberang jalan secara ilegal, dia membuat keputusan moral yang mengalihkan risiko dari si pejalan kaki ke para penumpang dalam mobil. Sains masih perlu mencari tahu bagaimana kecerdasan buatan bisa berhasil dalam situasi yang menuntut pertimbangan etis seperti itu.

Berbeda dari mesin, manusia mampu membuat keputusan etis bahkan dalam dilema seperti itu. Walaupun batas antara manusia dan mesin semakin kabur, tetapi tak ada yang menjamin bahwa saat ini dan di masa depan, mesin akan mampu membuat keputusan etis. Baik di era 4.0 ini maupun di masa depan, kita membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh algoritma mesin-mesin cerdas,, yaitu kebijaksanaan.

Di sinilah, filsafat memiliki peran yang justru semakin penting dan tak tergantikan oleh ilmu pengetahuan manapun. Dengan demikian, humanisme sebagai pendirian etis dan filosofis akan tetap menjadi sumber inspirasi dan harapan untuk membela manusia di bawah bayang-bayang kecerdasan buatan, saintisme, dan teknokrasi.***


Catatan Kaki

[1] Richard Norman, On Humanism (London: Routledge, 2004), hlm. 8.

[2] Corliss Lamont, The Philosophy of Humanism (New York: Humanist Press, 1997), hlm. 14-15.

[3] Andrew Copson & A.C.Grayling (eds.), Wiley Blackwell Handbook for Humanism (UK: Wiley Blackwell, 2015), hlm. 6.

[4] Andrew Copson & A.C.Grayling (eds.),  op.cit., hlm. 4.

[5] Report of COMES, “Ethical Perspective on Science, Technology and Society,” Paris, 31 Juli 2015, hlm. 6.

[6] Dawkins, Dennet, Harris & Hitchens, Empat Penunggang Kuda, penerj. Haz Algebra (Manado: Global Indo Kreatif, 2020),  hlm. 9.

[7] David B. Resnik, The Ethics of Science (London: Routledge, 1998),  hlm. 35.

[8] Corliss Lamont, op.cit., hlm. xxx.

[9] Ibid., hlm. 234.

[10] Dawkins, Dennet, Harris, Hitchens, op.cit., hlm. 25.

[11] Corliss Lamont, op.cit., hlm. 208.

[12] Andrew Copson & A.C.Grayling (eds.), op.cit., hlm. 58.

[13] Bdk. https://regional.kompas.com/read/2018/11/05/22282941/puluhan-peserta-tes-cpns-madiun-kedapatan-simpan-jimat-dalam-bra-dan-celana., diakses pada 14 Desember 2020.

[14] F. Magnis-Suseno, Berebut Jiwa Bangsa. Dialog Perdamaian dan Persaudaraan (Jakarta: Kompas, 2006), hlm. 47-48.

[15]Andrew Copson & A.C.Grayling (eds.), op.cit., hlm. 60.

[16] Karlina Supelli, “Ancaman terhadap Ilmu Pengetahuan, dalamhttps://www.indonesiana.id/read/117282/ancaman-terhadap-ilmu-pengetahuan-karlina-supelli, diakses pada 10 Desember 2020.

[17] Ibid., hlm. 238.

[18] Report of COMES, op.cit., hlm. 6.

[19] Corliss Lamont, op.cit., hlm. 31.

[20] Yuval Noah Harari, Homo Deus, penerj. Yanto Musthofa (Ciputat: Pustaka Alvabet, 2018),  hlm. 367.

[21] Ibid., hlm. 379.

Humanisme sebagai pendirian etis dan filosofis akan tetap menjadi sumber inspirasi dan harapan untuk membela manusia di bawah bayang-bayang kecerdasan buatan, saintisme, dan teknokrasi.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Demokrasi Korupsi Protes Sosial

Demokrasi Korupsi, Distribusi Risiko, dan Protes Sosial

Demokrasi sebagai sistem politik yang berkepentingan umum tidak boleh mencekik atau membungkamkan protes sosial, sebab protes sosial adalah sarana komunikasi politis. Protes sosial bertujuan membongkar kemapanan korupsi (dan hipokrisi) sebagai konsekuensi logis dari risiko yang sengaja diciptakan dan direproduksi oleh koruptor terhadap rakyat miskin.

Baca Selengkapnya »