Kapitalisme Ilustrasi Artikel

Norma dalam Normal; Laju Kapital dalam Sirkuit Digital

Pandemi memang telah mengobrak-abrik tatanan ekonomi dunia saat ini, tetapi kapitalisme apa pun bentuknya senantiasa mencari cara agar sirkuit investasinya bisa berjalan terus.

Dalam artikelnya di The Guardian, 26 Januari 2021, kolumnis Simons Jenkins secara blak-blakkan katakan bahwa sekaranglah waktunya memeras orang-orang super kaya karena selama masa pandemi ketimpangan ekonomi kian melebar, buruk, dan berantakan.

Jenkins tidak sedang membuat manifesto ihwal kesadaran kelas ataupun perebutan sarana produksi, tetapi kurang lebih tunjukkan bagaimana cepatnya transformasi kapital yang masuk ke dalam saku rekening para pengendali teknologi komunikasi-informasi (dari Amazon hingga Google), dan selanjutnya mengikuti logika sosial demokrasi dia menuntut peranan Pemerintah untuk ambil bagian dalam usaha “peras” (baca: pengaturan pajak, vaksinasi masyarakat untuk konteks virus, dan lain-lain) termaksud.

Di salah satu warung kopi, seorang aktivis mahasiswa katakan bahwa begitulah  kapitalisme; bergelindang terus dan sukar dibendung, dan cara lama tumbang digantikan pranata baru.

Pandangan ini, yang terinspirasi dari rumus ilmiah Marx, barangkali ada benarnya. Waktu awal pandemi, sebagai contoh, industri televisi terlihat sebagai salah satu model bisnis yang terkena dampak ekonomi, oleh karena pembatasan mobilitas pekerjanya dalam aktivitas produksi.

Industri ini kemudian bermetamorfosis; bukan hanya soal kebijakan kembali syuting dengan patuh pada protokol kesehatan, melainkan juga tawaran konsumsi bagi masyarakat via medium digital (online). Orang-orang pun bermigrasi ke Youtube, sebuah sarana yang kurang lebih teranggap adil dalam hal distribusi kue ekonomi, terlepas dari yang lebih banyak ditonton ialah video “prank” selebritis mandi lumpur atau sejenisnya ketimbang tayangan edukasi, sosial-budaya, ataupun lagu-lagu rohani.

Namanya juga selera orang, Anda kalau tidak berkontribusi untuk beli pulsa data sebaiknya diam saja.

Baca Juga Tumbal Ganda Konsumerisme

Perubahan juga terlihat dari pola bisnis ritel yang berkembang dan menjamur dalam platform-platform online. Nasi uduk, baju kaos, rokok, sepatu sneakers, dan lain-lain tinggal dipesan dengan cara pencet tombol aplikasi di ponsel – hal yang sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sudah jauh dipraktikkan di Negara-negara lumbung pengendali teknologi dan informasi.

Cerita miris lainnya ialah kian sepinya pusat-pusat perbelanjaan karena segala sesuatu yang senantiasa berkembang dan menjamur itu “tinggal” klik saja, “tinggal” pilih saja.

Tidak mengherankan, beberapa waktu lalu, gerai ritel Centro Department Store di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta, diberitakan berhenti beroperasi untuk selamanya akibat dililit pailit; barang-barang bermerek eksklusif pun didiskon dengan harga miring.

Usaha perhotelan juga kena imbas hingga ada pemilik yang harus menjual aset bangunannya. Dalam kacamata yang lebih luas, kecenderungan dari krisis ekonomi memang menghasilkan pihak yang “menang” maupun “yang kalah” serta munculnya respons-respons developmentalis maupun survivalis (White, 2016).

Berbagai dampak dari kapitalisme teknologi sebagai matra khas era kapitalisme akhir telah banyak dibahas.

David Graeber, seorang antropolog anarkis, lewat esainya On The Phenomenon of Bullshit Jobs: A Work Rant (2013), menyindir ekonom cum pemodal John Maynard Keynes bahwasanya apa yang Keynes katakan tahun 1930 tentang kemajuan teknologi yang bisa memangkas waktu kerja dan ciptakan distribusi upah merata sungguh tidak terbukti.

Kerja produktif sebagai kenyataan hakiki manusia justru “kolaps” dan berubah menjadi kerja manajerial, kerja birokrasi, kerja jasa, bahkan “kerja lepas”; kerja di mana saja, bisa atur waktu kapan saja. [1] Diferensiasi kerja termaktub juga bisa terlihat di kantor perusahaan yang mana ada orang yang memegang posisi sebagai manajer, direktur, kepala bagian, petugas keamanan, cleaning service, hingga petugas khusus yang urusannya sekadar mengatur dasi bos-nya ataupun memegang map kala ada rapat bisnis dan lain-lain.

Namun, problemnya tidak hanya soal pembagian kerja produksi-ekonomi, melainkan juga pembentukan-pengaturan subjek manusia baru dalam lalu lintas relasi sosial mereka. [2]

Industri gaya hidup – anak kandung neoliberalisme dari janin kapitalisme – memberikan pelajaran nyata soal ini. Ruang-ruang publik, yang sadar atau tidak didesain untuk memenuhi hasrat privat, berubah menjadi apa yang Erving Goffman katakan sebagai arena teater sosial (1959), dramaturgi di mana manusia sebagai aktris/aktornya melakukan performativitas untuk dapatkan makna tertentu. Atau sebagaimana secara simbolik ditampilkan lewat lagu Nicky Astria, “Dunia ini panggung sandiwara/Cerita yang mudah berubah.”

Kalau tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca, “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” Kulit legam atau rambut keriting ya tetap manusia, yang hebat adalah kalau mau masuk dunia kerja harus kulit putih dan rambut lurus. Ataupun, kalau mau rasakan sensasi kejantanan prima ya mesti konsumsi atau oles produk obat kuat sampai-sampai seorang kakek di Maumere tewas di tempat pekerja jasa seks.

Baca Juga Ruang Abstrak, Fetisisme Komoditas, dan Ruang Harapan

Gagasan aksi sosial Goffman dan akumulasi kapital-nya Marx kemudian bertemu dalam desain kapitalisme gaya hidup. Sebagaimana dijelaskan Langman (1991), masifnya pusat-pusat perbelanjaan – salah satu produk dalam imaji kapitalisme akhir – membuat produsen dan konsumen sama-sama teralienasi. [3] Terutama bagi konsumen, datang ke mall bukanlah sekadar untuk beli barang, melainkan juga arena eksplorasi identitas diri sebagai aktris/aktor yang sedang performance.

Padahal, pada sisi tertentu, pengolahan identitas diri dalam corak produksi semacam ini justru berbahaya dan timbulkan tumpukan penderitaan yang kian membuat manusia semakin bertanya-tanya soal makna hidupnya.

Kecemasan, keraguan diri, ketidakpastian, dan stres, hingga situasi penyakit lain yang lebih akut merupakan bentuk hubungan langsung antara kapitalisme neoliberalisme dan penderitaan manusia (Olivier, 2015).

Tubuh dan pikiran manusia konsumen alias manusia yang kasih keluar uang itu, pun diatur-atur, belum lagi mereka yang bekerja dalam rantai produsen; mulai dari pekerja kebun kapas atau kakao, tukang jahit atau pengolah minyak, hingga Sales Promotian Girl/Boy (SPG/B).

Kini SPG/B itu berubah wujud dalam ikon-ikon aplikasi di telepon genggam dengan senyum manis berupa simbol-simbol notifikasi, sehingga layanan kesehatan digital pun diluncurkan; tidak untuk sembuhkan ponselnya, tetapi manusia penggunanya.

Seiring sejalan dengan itu, munculnya ragam penjualan dan aktivitas online, terutama berkembang cepat pada masa pandemi ini, lantas menjadi ancaman serius bagi sarana-sarana produksi awal dalam terompet neoliberalisme. Kontradiksi internal sistem kapitalistik – tak kenal kawan, tak kenal lawan, yang penting akumulasi profit – tampak terang benderang.

Lewat internet semua orang tentu bisa berusaha, tetapi meminjam istilah dalam drama dokumenter The Social Dilemma (2020) kita sebenarnya juga produknya. Benar bahwa secanggih apa pun teknologi informasi, itu tidak akan bisa melumpuhkan otak manusia karena barang-barang itu memang diciptakan oleh manusia. Namun, jangan lupa, yang membuatnya tidaklah semua umat manusia, tetapi manusia-manusia tertentu yang hidup dalam menara pengawasan (sosial-ekonomi, politik, budaya, dan lain sebagainya) bagi manusia-manusia lainnya.

Algoritma bukan hanya soal viral tidak viral, tetapi sistem dalam mesin politik-ekonomi baru dengan laju lokomotif mekanisme pasar yang kian tak terbendung. Algoritma tidak kenal salah-benar atau baik-buruk; yang ada hanyalah kalau informasi soal terorisme sering dibagikan di media sosial, maka anak kecil yang tidak tahu-menahu apa-apa pun bisa marah, atau takut, atau menangis, atau merasa ngeri.

Baca Juga Beberapa Perkara dalam In(o)vasi Teknologi Potretan

Jika dalam kapitalisme awal, borjuasi yang satu bersaing dengan borjuasi lainnya, maka dalam kapitalisme neoliberal ‘pangkat dua’ saat ini konsumen yang satu justru bertarung dengan konsumen lainnya.

Di dalam mesin pencari informasi raksasa seperti Google, orang bahkan bisa menemukan ratusan artikel tentang masalah krusial perubahan iklim (climate change), yang sama banyaknya dengan artikel yang bilang bahwa perubahan iklim itu ilusi atau tidak nyata, agak-agak mirip dengan pertanyaan apakah Tuhan itu ada atau tidak, ataukah berjihad itu apa sama dengan bom bunuh diri atau justru perjuangan batin melawan hawa nafsu.

Guyonan lain yang sempat muncul, di Google ketika kamu mengetik “socialism”, kata kunci pertama (teratas) yang ada di mesin pencarian itu malah “capitalism” – guyonan ini tidak benar, yang muncul pada bagian atas adalah produk kode mesin Google Voice (baca: Ok Google) yang akan mengarahkan Anda untuk mengucapkan ˈsəʊʃəlɪz(ə)m/.

Pandemi memang telah mengobrak-abrik tatanan ekonomi dunia saat ini, tetapi kapitalisme apa pun bentuknya senantiasa mencari cara agar sirkuit investasinya bisa berjalan terus.

Yang satu tumbang, yang lain muncul. Yang ini rusak, yang itu bisa jadi mesin tempel. Yang di sana merosot, yang di sini bisa jadi alat pompa. Begitulah hukumnya. Berhadapan dengan krisis, corak produsi komoditas, tangible ataupun intangible, dengan biaya produksi yang tinggi sudah barang tentu berada dalam situasi rentan.

Pertanyaannya, ketika hampir semua aktivitas manusia bergantung pada sarana teknologi informasi, apakah gagasan Goffman perihal teater sosial juga turut berubah? Apakah konsep alienasi Marx juga telah bertransformasi sedemikian rupa pada cara manusia memandang sesuatu lewat bilangan-bilangan biner yang dikodifikasi dan dikomodifikasi terus-menerus?

Mungkin inilah yang dimaksud dengan era kenormalan baru; sesuatu yang sebenarnya telah “normal” sejak beberapa tahun belakangan, tinggal ditambah imbuhan “ke-” dan “-an” guna mendapatkan penegasan maknanya.


Kepustakaan

Eriksen, T. H. (2010). Small places, large issues: An introduction to social and cultural anthropology. London: Pluto.

Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. New York: Anchor Books.

Graeber, David. (2013). On the phenomenon of bullshit jobs: A work rant. Strike! 3.

STRIKE! Magazine – On the Phenomenon of Bullshit Jobs

Langman, L. (1991). Alienation and everyday life: Goffman meets Marx at the shopping mall. International Journal of Sociology and Social Policy, 11(6–8), 107–24.

https://doi.org/10.1108/eb013149

Marx, K. (1964). Economic and philosophic manuscripts of 1844. New York: International Publishers.

Mulyanto, Dede. (2011). Antropologi Marx. Karl Marx tentang masyarakat dan kebudayaan. Bandung: Ultimus.

Olivier, Bert. (2015). Capitalism and suffering. Psychology in Society, (48), 1-21. 

https://dx.doi.org/10.17159/2309-8708/2015/n48a1

White, Ben. (2016). Dari krisis ke krisis : masyarakat Indonesia menghadapi resesi ekonomi selama abad ke – 20 . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Jenkins, Simons. (2020). Covid has made inequality even worse. The only answer: squeeze the super-rich. The Guardian.

Covid has made inequality even worse. The only answer: squeeze the super-rich | The super-rich | The Guardian

Rhodes, Larissa (Producers), & Jeff Orlowski (Directors). (2020). The social dilemma [Video file]. Retrieved from https://www.netflix.com.


Catatan Kaki

[1] Pembentukan kelas setelah tumbangnya feodalisme, lalu munculnya kapitalisme industri, kemudian sekarang pada masa neoliberalisme, selain mengarah pada diferensiasi juga kadang membingungkan untuk ditempatkan mengikuti sekop struktur kelas a la Marx. Menurut Mulyanto (2011), kelas yang cukup sulit ditempatkan dalam ancangan dua kelas (borjuis-proletar), tetapi yang juga penting dalam masyarakat borjuis adalah kaum terpelajar dan ‘produsen’ jasa seperti dokter, guru, dosen, politikus partai, konsultan, akuntan, sastrawan, perancang bangunan, dan seniman. Namun, lanjutnya, perkembangan terakhir justru menegaskan teori Marx bahwa kelas terpelajar ini telah dikutuk menjadi pekerja-pekerja upahan yang hidup dari menjual kemampuannya, terutama kepada kelas kapitalis.

[2] Teknologi dan segala hal yang berbau teknis merupakan poduk budaya yang terbentuk sebagai bagian dari proses yang sedang berlangsung dalam masyarakat, sehingga pemahaman atas itu tidak bisa terpisahkan antara alatnya saja atau manusia saja. Dengannya, moda mengerjakan sesuatu (teknik) membentuk hubungan sosial, tetapi juga sebaliknya hubungan sosial membentuk aspek teknik tersebut (Eriksen, 1995).

[3] Konsep alienasi Marx terjelaskan dalam Manuscript 1884, atau dikenal juga dengan Manuskrip Paris, yang sebagai term filosofis dikembangkan dari gagasan dialektika proses dari Hegel. Menurut Marx, sejarah manusia terdiri atas dua aspek; meningkatnya kontrol/kendali atas alam, berikutnya meningkatnya keterasingan manusia atas dirinya sendiri yang dalam masyarakat kapitalis telah terjerumus dalam tata aturan institusi ekonomi, agama, dan Negara. Institusi atau formasi demikian yang dalam “Phenomenology of Spirit”-nya Hegel dilihat sebagai tindakan pengosongan dan apropiasi (peminjaman) diri, dengan demikian menjadi proses yang diperlukan sebagai spirit (Roh) yang membentuk/menggabungkan dunia yang telah teralienasi, diri yang terpisah-pisah, yang kemudian terikat lewat aktivitas kerja.

Pandemi memang telah mengobrak-abrik tatanan ekonomi dunia saat ini, tetapi kapitalisme apa pun bentuknya senantiasa mencari cara agar sirkuit investasinya bisa berjalan terus.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »