Teater

Teater “Ina Tana Ekan”, Tragika Dialektis Riwayat Hidup Manusia

Sebagai tragika dialektis, lakon teater “Ina Tana Ekan” mengandung sejumlah persoalan intrik dalam hidup manusia yang membutuhkan jalan rekonsiliasi. Tujuannya adalah menyingkap pilihan-pilihan baru untuk kehidupan yang lebih baik.

Gerimis belum sungguh reda di bukit Ledalero. Kabut masih turun bak putik-putik kapas yang dijatuhkan dari langit, dan beberapa penduduk Wairpelit dan Gere dengan payung menaungi kepala berjalan dari depan Pos Satpam menuju kompleks Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.

Hari itu, Selasa, 30 Maret 2021, bertempat di pelataran Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, mereka hendak menyaksikan sebuah pementasan teater yang digagas oleh Komunitas Aletheia Ledalero. Pementasan tersebut dikemas sebagai bagian dari acara menyambut pesta Paskah.

Sebagai catatan awal, perlu diketahui bahwa Aletheia adalah komunitas yang menghimpun para frater (calon pastor) di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero yang mempunyai minat dan kecintaan pada dunia sastra. Adapun pementasan teater berjudul “Ina Tana Ekan” menjadi satu dari serangkaian program bulanan Aletheia pada masa kepengurusan periode 2020-2021.

Pementasan yang berlangsung selama satu jam empat puluh lima menit itu berhasil menyedot atensi penonton yang telah ramai memadati halaman Kapela Agung sejak pukul 18.00 WITA. Sejak awal dimulai pementasan, mata para penonton terpaku kepada para pelakon yang memerankan aksi dengan sangat telaten. Gerak tubuh yang terlatih, mimik yang mendayu-merayu, instrumen musik yang mencekam dan dukungan lighting yang mantap berhasil memberi corak yang khas selama pementasan.

Baca Juga Ekologi Kekerasan dalam Novel “Orang-orang Oetimu” Felix K. Nesi

Penonton seolah-olah dibawa ke dalam suatu refleksi ontologis-filosofis terkait subyektivitas dan relasi imannya dengan Tuhan sebagai Wujud Tertinggi. Di bawah rinai hujan, lakon teater “Ina Tana Ekan” menyajikan sebuah cerminan untuk melihat diri dan merefleksikan perjalanan hidup dan relasi yang dibangun manusia.

Artikel berikut merupakan refleksi sederhana dari sudut pandang saya sebagai penonton dan sutradara dalam teater. Saya “merasa perlu” untuk menuliskan sebuah feed back, sambil sesekali memberi semacam stimulus ontologis- filosofis atau refleksi biblis-teologis yang terkandung dalam pementasan teater.

Namun, mengingat universalitas interpretasi yang in se mencakup semua karya sastra- termasuk teater, maka refleksi sederhana ini boleh jadi hanya digunakan sebagai “catatan pinggir” yang dapat dibaca sebagai pelengkap dari refleksi para penonton.

Baca Juga Sastra dan Sastrawan dalam Dunia yang Tidak Hitam Putih

Untuk maksud tersebut, maka pada bagian pertama artikel, saya coba memulai gagasan dengan terlebih dahulu membuat pemaknaan terhadap keseluruhan naskah[1] “Ina Tana Ekan” dan bagaimana naskah tersebut mendapat tempat dalam panggung pementasan.

Saya akan menggali suatu pola transformatif dari naskah yang tertulis secara literer kepada lakon yang dipentaskan secara langsung. Selanjutnya, sebagai rangkuman atas keseluruhan makna teater, maka saya coba membangun sebuah tesis tentang tragedi dialektis riwayat hidup manusia.

Setiap babak dalam teater, hemat saya memiliki tragedi yang bersifat dialektis. Sebagai tragedi, “Ina Tana Ekan” telah menyajikan suatu gambaran yang dilematis dan merongrong kemapanan eksistensial manusia.

Oleh karena itu, manusia sebagai aktor kehidupan perlu membaca setiap tragedi untuk membangun rekonsiliasi yang berguna bagi perkembangan “ke-diri-an” dan sosialitas. Artikel akan ditutup dengan sebuah kesimpulan umum yang berisi rangkuman dari keseluruhan gagasan di dalamnya.

“Ina Tana Ekan”

Secara etimologis, istilah “Ina Tana Ekan” berasal dari bahasa Lamaholot, Flores Timur. Masyarakat Suku Lamaholot menggunakan istilah “Ina Tana Ekan” untuk mengungkap intimitas relasional antara mereka dan sesuatu yang bersifat transenden. Sesuatu yang dimaksud itu bersifat sangat sakral, kultis, dan memiliki kesatuan yang menyeluruh dengan individu masyarakat Lamaholot.

Konsekuensinya, tidak semua orang dapat dengan bebas menggunakan istilah tersebut. Ada konteks-konteks tertentu dalam masyarakat yang dapat menjadi semacam suatu “ketetapan kultural” dalam penggunaan istilah “Ina Tana Ekan”. Konteks tersebut, misalnya saat upacara adat, perkawinan, pendinginan lahan untuk bercocok tanam dan upacara pembangunan rumah.

Sejak masuknya gelombang misionaris Katolik, istilah “Ina Tana Ekan” bergeser pemaknaannya menjadi “Wujud Tertinggi”.[2] Dalam konteks bahasa Indonesia, “Ina Tana Ekan” dapat diterjemahkan sebagai “Ibu Bumi”. Ia disebut ibu bumi karena menjadi sumber bagi segala yang hidup di bumi: tumbuh-tumbuhan, hewan, air, bebatuan dan manusia.

Baca Juga Menggali Potensi Sosio-Kultur Masyarakat Kampung Wuring dalam Festival Siselo Susurang

Sebagai “Ibu Bumi”, Ia menjadi pemilik kehidupan. Ia bertakhta di atas singgasana segala yang ada. Ia secara in se mengandung sifat ontologis sekaligus transenden.

Naskah teater “Ina Tana Ekan” ditulis oleh Selo Lamatapo, mahasiswa pascasarjana Prodi Teologi Kontekstual di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero dan disutradarai oleh Selo Lamapato, Defri Ngo, Ando Sola, dan Ryan Lagaor.

Selo menulis “Ina Tana Ekan” dalam empat babak yang paralel dan korelatif. Berbeda dengan naskah-naskah teater kontemporer yang bersifat asimetris dan cenderung dekonstruktif, naskah teater yang ditulis Selo terkesan sangat rapi, taat struktur, dan mengalir dalam alur yang jelas.

Selo bahkan “tidak tertarik” untuk menyisikkan gurauan yang terlampau humoris atau candaan yang memantik tawa. Naskah yang ditulisnya terkesan ketat dan serius. Minim kata dan lebih banyak gestur.

Oleh karena itu, untuk mendukung makna teatrikal yang dibangun dalam naskah, maka para pelakon dituntut untuk masuk secara sungguh ke dalam peran masing-masing, membangun karakter yang sesuai,dan menerjemahkannya ke dalam gerak tubuh yang pandai.

Baca Juga Ritual Hisa di Kampung Wolopogo; Panjat Syukur dan Rapal Harapan

Berikut adalah gambaran umum dari empat babak dalam teater termaktub.

Babak pertama naskah teater berisi kisah penciptaan Adam dan Hawa, Manusia Pertama (Bdk. Kejadian 3: 1-24).[3] Sebagai mahasiswa teologi dan calon biarawan misionaris dalam tarekat Societas Verbi Divini (SVD), Selo tentu lebih memilih inspirasi bibliotik dalam Kitab Suci Kristen, dibandingkan eksperimen saintifik yang digagas Galileo.

Babak pertama ini menampilkan dua orang pelakon yang hidup di sebuah taman yang indah sebagai representasi dari taman Eden. Keduanya bersukacita dan menari. Yang pria menggandeng erat tangan yang wanita, sambil sesekali menariknya ke dalam pelukan.

Secara berbalasan, yang wanita menggaet jemari tangan yang pria, mengajak kekasihnya menari dan meliuk-liuk bagai kupu-kupu di atas kelopak mawar. Terlihat intimitas hubungan antara yang pria dan yang wanita, tetapi kekasihnya berhasil merobohkan niat baik dan janji yang telah diikat bersama tuan sang penjaga taman.

Mereka memetik buah terlarang dan memakannya. Di sana, sebenarnya terdapat perasaan mencurigai rahasia Allah. Paul B. Kleden, mengutip ungkapan Georg Kirchberger, mengemukakan bahwa kesulitan inti yang menyebabkan manusia masuk ke dalam suatu lingkaran dosa yang mematikan dan merusakkan ialah ketidakpercayaan atau kecurigaan terhadap Allah.[4] Akibat dosa yang dilakukan manusia, maka “Ina Tana Ekan” sebagai “Ibu Bumi” menjadi terluka. Ia menangis.

Baca Juga Derap-derap Kepentingan: Catatan atas Cerpen “Maut Lebih Kejam daripada Cinta” Gabriel García Márquez

Paradoks dalam babak pertama kelak membawa malum yang mengandung penderitaan dan tangis, serta kesedihan dan kemelaratan bagi manusia sesudah Adam dan Hawa.

Dosa yang dilakukan keduanya menjadi warisan yang ditanggung oleh manusia pasca Adam dan Hawa. Penderitaan pun tak pernah terelak dari realitas hidup manusia. Pandemi Covid-19, abrasi, dan kekeringan air adalah tiga fragmen yang diangkat Selo dalam teater dan menjadi inti babak kedua.

Fragmen-fragmen tersebut mengingatkan kita akan hukuman yang diberikan Allah dalam Kitab Kejadian dan Keluaran.[5] Setelah kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, Allah mengirimkan sejumlah bencana, seperti Air Bah (Kejadian 7:1-24), Penindasan Bangsa Israel oleh Orang-Orang Mesir (Keluaran 1:1-22), dan sejumlah Tulah atau penyakit (Keluaran 7:14-25; 8: 1-32; 9:1-35; 10:1-29; 11:1-10).

Allah berharap, hukuman yang diberikan kepada manusia dapat menyadarkan mereka akan dosa dan kesalahan yang diperbuat, dan kemudian membangun suatu sikap tobat yang benar.

Untuk menggenapi misi keselamatan, Allah kemudian mengutus Putera tunggal-Nya, Yesus Kristus. Karya dan pengabdian Yesus selama di bumi, serta penderitaan dan kematian-Nya diharapkan memberi kesadaran baru kepada manusia untuk menghargai kehidupan.

Baca Juga Kurban Kristus dalam Perspektif Teologi Katolik: Hubungan antara Paskah, Ekaristi, dan Liturgi

Oleh penginjil Matius, sosok Yesus yang demikian, dinamai “Imanuel” yang berarti “Allah menyertai kita” (Matius 1:23). Begitulah sekilas gambaran yang terdapat dalam babak ketiga.

Gambaran tersebut di atas bukanlah sebuah resolusi yang memberi jawaban final terkait status eksistensial manusia. Bahwasanya setelah Yesus datang, manusia akan mengalami kebahagiaan abadi. Sebab, bagaimana pun juga kehidupan manusia selalu berada dalam ketegangan dialektis dengan Allah sebagai Wujud Tertinggi dan sesama sebagai “aku yang lain”.

Manusia melakukan konflik dengan sesama di sekitar dan berdosa dengan Allah sebagai pemberi kehidupan. Ketegangan yang tercipta adalah suatu factum naturale karena hakikat eksistensial manusia sebagai orang-orang berdosa.

Dosa adalah kenyataan yang abadi karena sejak dilahirkan, manusia telah membawa serta dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa. Paradoks kehidupan manusia dalam ketegangan-ketegangan tersebut ditampilkan dengan sangat apik dalam babak keempat.

Di sana, dua orang lelaki datang membawa cangkul dan sebatang pohon. Lalu, seorang wanita yang berperan sebagai “Ina Tana Ekan” menjunjung sebuah kendi berisi air.

“Ina Tana Ekan” menuangkan air ke dalam bola bumi yang sebelumnya telah ditakhtakan pada sebuah menara. Sekelompok pelakon kemudian datang dan merayakan sukacita bersama ketiga pelakon sebelumnya.

Mereka tertawa dan menari bersama. Situasi bahagia dan sukacita itu hanya merupakan bagian dari ekspresi emosional manusia sebagai orang-orang bebas. Entah disadari ataupun tidak, hidup akan menghadirkan sejumlah teka-teki penderitaan dan kesengsaraan, serta kedukaan dan tangis yang kelak bakal menghantar menusia pada permenungan mendalam tentang kehidupan.

Tragika Dialektis Riwayat Hidup Manusia

Setiap gambaran yang terdapat dalam pertunjukkan teater “Ina Tana Ekan” secara gamblang telah menampilkan nuansa kehidupan manusia yang bersifat tragikal.

Ia disebut tragikal karena mengandung benturan psikis-emosional individu sebagai sosok yang menjalani hidup. Sejak kelahirannya ke dalam dunia, manusia sesungguhnya sedang dihadapkan dengan sejumlah medan pertempuran yang menuntut keberanian dan sikap tahan uji.

Tangis yang pecah ketika ia pertama kali dilahirkan dari rahim seorang ibu secara abstrak menggambarkan kesan pertama manusia berhadapan dengan misteri kehidupan. Manusia itu menangis sebab ia memandang dunia yang misterius; sebuah dunia yang sangat baru bagi kehidupannya.

Kemudian, manusia itu bertumbuh, menjumpai banyak orang, merasakan nikmatnya jatuh cinta, lalu membangun kehidupan berumah tangga, menua bersama, tetapi akhirnya jatuh sakit dan meninggal.

Baca Juga Paskah, “Malum”, dan Makna Kebangkitan di Tengah Pandemi Covid-19

Dinamika waktu yang linear dalam kehidupan manusia menyisikkan sejumlah pertanyaan abadi tentang makna kelahiran dan kematian, kebahagiaan dan penderitaan, serta perjumpaan dan perpisahan. Manusia kerap menuai pesimisme justru ketika ia menerima suatu given yang memberi kebahagiaan.

Sebab, untuk apa kelahiran jika ada kematian? Untuk apa kebahagiaan jika kelak yang dituai adalah penderitaan? Sindhunata, mengutip seruan pesimistis filsuf Arthur Scopenhauer (1788-1860), menyebutkan bahwa eksistensi manusia adalah penderitaan dan kesia-siaan. Kebahagiaan sejati itu omong kosong.[6]

Manusia yang menderita, lalu bangkit melayangkan protes kepada Tuhan. Dalam nada yang satir, filsuf Nietzsche menulis amukan emosional manusia sebagai makhluk yang menderita:

Kenapa engkau (baca: Tuhan) melihat ke mari, tidak bosannya engkau akan kepedihan manusia. Dengan mata ilahi berkilat kejam? Mengapa engkau tidak membunuh, hanya menyiksa dan menyiksa? Mengapa kau siksa diriku, Engkau Tuhan kejam yang tak kukenal?[7]

Tragedi yang dialami manusia sejak masa kelahirannya selalu berada dalam benturan dialektis. Kelahiran selalu disandingkan dengan kematian; tawa selalu dibicarakan dekat dengan tangis; pertemuan selalu menuai perpisahan.

Baca Juga Teologi Pembebasan di Flores: Di Manakah Saudaramu?

Pada titik ini, proses dialektis tidak mengarah pada sintesis dalam arti perpaduan, melainkan mengarah pada tujuan baru sama sekali, yakni “rekonsiliasi” (Aufhebung), di mana tercakup pengertian “pembaharuan”, “penguatan”, dan “perdamaian”.[8]

Hal yang sama berlaku dalam lakon teater “Ina Tana Ekan”. Dalam empat babak yang ditampilkan, terlihat jelas watak dialektis dalam tragedi riwayat hidup manusia.

Tragika dialektis, mula-mula tercipta karena manusia menerima kehidupan yang diberikan Tuhan. Manusia merasa berbahagia, tertawa, dan menari. Namun, kemudian manusia yang sama berbuat dosa karena melanggar ketetapan Tuhan.

Manusia memakan buah terlarang dan sebagai ganjaran, Tuhan memberikan malum berupa penderitaan dan kesengsaraan kepadanya. Dialektika antara Allah dan manusia pertama menuai situasi yang tragis (babak pertama).

Penderitaan berlanjut ketika manusia gagal memanfaatkan karunia alam semesta yang diberikan Allah. Manusia memboroskan air, menebang hutan, membuang sampah di sembarang tempat, dan akhirnya alam kembali menjerumuskan manusia ke dasar penderitaan (babak kedua).

Pada titik ini, tragika dialektis justru terjadi ketika Allah menjaring intervensi dengan kehidupan manusia dan bagaimana manusia justru memilih berpaling kepada egoisme diri sendiri.

Intervensi Allah adalah bentuk dialog kasih dengan manusia. Sebaliknya, manusia yang mengelak dari intervensi Allah adalah bentuk keberpalingan pada otoritas individual yang egoistis.

Baca Juga Miliki Hati yang Peka di Tengah Pandemi COVID-19

Proses dialektis terus berlanjut ketika Allah dengan kebaikan hati-Nya mengutus Yesus Sang Putera untuk menyerukan pertobatan.

Kehadiran Yesus adalah representasi nyata dari dialektika Allah dengan manusia. Pun demikian, egoisme kekuasaan dan kehendak manusiawi menghambat misi pertobatan (juga keselamatan) yang diemban Yesus.

Manusia menolak Yesus karena tak ingin diusik kedudukannya. Manusia menolak Yesus karena “tak ingin memiliki seorang raja, selain Kaisar” (bdk. Yoh 18:28-19:16) (babak ketiga).

Tragika dialektis antara manusia dan Allah tampaknya bersifat ironis dan dramatis. Tragedi itu -dalam teater “Ina Tana Ekan”- dibiarkan bertarung dalam suatu arus yang linear; suatu proses penawaran antara manusia dan Allah yang tidak sepenuhnya dimenangkan oleh Allah, pun lebih cenderung merugikan manusia.

Yang tersisa dari tragika dialektis adalah ketegangan vertikal yang terjaga secara ketat (babak keempat). Di sana, tragika dialektis membuka ruang bagi proses rekonsiliasi.

Jalan Rekonsiliasi

Oxford Learner’s Pocket Dictionary secara harfiah mengartikan rekonsiliasi (reconsiliation) sebagai sebuah jalan untuk menemukan kesepakatan dengan dua atau lebih ide dan sebagainya yang terlihat saling bertentangan satu dengan yang lain.[9]

Pengertian rekonsiliasi sebagaimana diartikan tadi memiliki dua penekanan utama, yakni pada aspek menemukan kesepakatan dan ide yang berlawanan.

Sedangkan Kitab Suci orang Kristen lebih akrab menggunakan kata rekonsiliasi dalam kaitan dengan praktik pengampunan. Rekonsiliasi mendasarkan proyek pada suatu persoalan dan perbedaan yang belum bisa didamaikan.

Oleh karena itu, dalam rekonsiliasi, setiap perbedaan diperhadapkan untuk kemudian didamaikan dan diterima secara bersama.

Lebih lanjut, rekonsiliasi tidak sama dengan suatu usaha “melupakan” dan “memaafkan” yang merupakan sinonim dari kata “amnesia”.

Ia merupakan suatu proses perjumpaan, penyembuhan, penyingkapan pilihan-pilihan baru yang sejati dan penyangkalan diri untuk masa depan. [10]

Pertanyaan kita kemudian, bagaimana menemukan suatu jalan rekonsiliasi dalam setiap tragika dialektis lakon teater “Ina Tana Ekan”? Apakah setiap babak dalam teater memiliki unsur tertentu sebagai syarat normatif untuk mendamaikan tragika dialektis?

Baca Juga Agensi “Huhu” dalam Jebakan Kegelisahan Manusia (Catatan Menonton Gelaran Urfear: Huhu and The Multitude of Peer Gynts)

Jika kita memandang rekonsiliasi dalam paradigma yang sama sebagaimana dipikirkan Fahrenholz tadi, maka kita tentu sepakat bahwa cara paling ampuh untuk melakukukan rekonsiliasi perlu dimulai dengan tiga tahapan penting.

Pertama, mengungkap dan memperhadapkan kembali persoalan-persoalan yang terdapat dalam setiap babak teater “Ina Tana Ekan”.

Cara pertama ini bermaksud untuk melihat dan menggali suatu “ruang kosong” sebagai tempat dimunculkannya persoalan.

“Ruang kosong” itu, pertama-tama perlu dipahami sebagai suatu keadaan yang hilang dari ingatan subyek sebagai causa prima terbentuknya persoalan. Ia dilupakan oleh subyek-subyek yang mengada.

Misalnya, dalam babak pertama teater, “ruang kosong” dapat berbentuk ketidaksadaran (unconsciousness) Adam dan Hawa sebagai manusia pertama.

Intimitas dan rasa cinta yang mengikat telah membuat keduanya hidup bagai pribadi yang tak sadar, berikut dengan mudah melakukan dosa.

Babak kedua, ketiga dan keempat tentu memiliki “ruang kosong” yang sama.

“Ruang kosong” ketidaksadaran itu tercipta antara manusia dengan Allah, manusia dengan alam semesta dan manusia dengan sesama di sekitar.

Baca Juga Di Bawah Tekanan Wabah: Tanggung Jawab dan Ilustrasi Kisah Orang Samaria

Selanjutnya, langkah kedua yang dapat dibuat adalah penyembuhan. Setelah subyek menemukan “ruang kosong” ketidaksadaran, maka ia perlu melakukan suatu treatment. Subyek harus menyembuhkan dirinya yang berdosa.

Cara paling ampuh dalam melakukan penyembuhan adalah dengan mengakui dosa dan kesalahan yang diperbuat. Model pengakuan dosa selalu berada dalam suatu usaha mengembalikan kesadaran pada aras sebermula.

Penting ditekankan sejak dini bahwa pengakuan dosa harus bersumber pada kemauan diri, dan bukan pada tekanan yang berasal dari luar diri. Langkah penyembuhan akan mengarahkan subyek untuk melangkah pada tahap ketiga yakni penyingkapan pilihan-pilihan yang baru.

Pada bagian ini, subyek yang telah menyembuhkan diri melalui actus pertobatan kemudian bergerak menemukan pilihan-pilihan baru untuk membangun tatanan hidupnya.

Setelah mengakui kesalahan, subyek yang cenderung berlaku destruktif terhadap alam harus berbalik pada actus menjaga alam.

Penyingkapan pilihan untuk menjaga alam harus dilandasi dengan pemahaman bahwa alam, pada hakikatnya adalah “Ina Tana Ekan”. Alam adalah “Ibu Bumi”.

Jalan rekonsiliasi dalam tiga tahapan penting tersebut di atas menjadi suatu senjata yang dapat mendukung terciptanya relasi dialektis yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan alam di sekitar.

Simpulan

Lakon teater “Ina Tana Ekan” yang dipersembahkan oleh komunitas Alethia Ledalero merupakan catatan atas tragika dialektis riwayat hidup manusia.

Disebut tragika dialektis sebab “Ina Tana Ekan” sesungguhnya telah menampilkan sejumlah paradoks yang memuat ketegangan psikis-emosional yang bersifat vertikal, yakni antara manusia dengan Tuhan, serta ketegangan horison, yakni antara manusia dengan sesama dan manusia dengan alam semesta.

Sebagai tragika dialektis, lakon teater “Ina Tana Ekan” mengandung sejumlah persoalan intrik yang membutuhkan jalan rekonsiliasi. Tujuannya adalah menyingkap kembali pilihan-pilihan baru untuk masa depan manusia yang lebih baik.

Proses rekonsiliasi pertama-tama harus dimulai dengan upaya mengungkap dan menemukan inti persoalan, berikut melakukan treatment.

Pengungkapan persoalan menjadi bagian dari penemuan kembali “ruang kosong” ketaksadaran manusia sebagai individu-individu yang berdosa.

Baca Juga Jejak Tuhan dalam Pandemi Covid-19

Selanjutnya, persoalan-persoalan yang telah ditemukan bersama harus diolah hingga mencapai penyembuhan. Proses ini membutuhkan kehendak baik dan upaya keras manusia.

Dan terakhir, setelah penemuan kembali hingga proses penyembuhan, maka subyek perlu melihat pilihan-pilihan baru guna membangun hidupnya di masa mendatang.

Meski belum banyak terjadi perubahan bentuk dalam lakon teater “Ina Tana Ekan”, semisal dominasi yang berlebihan pada gerak tubuh dan minim dalam kata-kata, namun “Ina Tana Ekan” tetap menjadi refleksi sejauh mana tragika dialektis riwayat hidup manusia berpola dalam dimensi ruang dan waktu.

Akhir kata, selamat untuk komunitas Aletheia Ledalero. Kiranya komunitas Aletheia tetap berpijak pada semangat untuk menyibak kebenaran sebagai cahaya dalam hidup.

Daftar Pustaka

Kitab Suci dan Kamus

Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.

Oxford Learner’s Pocket Dictionary – Fourth Edition. Oxford: Oxford University Press, 2008.

Buku

Kirchberger, Georg dan Florisan, Yosef M. (penerj.), dalam Geiko Műller-Fahrenholz, Rekonsiliasi. Maumere: Penerbit Ledalero, 2005.

Kleden, Paul B. “Berteologi dari Pinggir Kemapaman Menjawabi Permasalahan Eksistensial dan Sosial” dalam Paul B. Kleden, Otto Gusti Madung, Anselmus Meo (eds.,), Allah Menggugat Allah Menyembuhkan. Maumere: Penerbit Ledalero, 2012.

Nietzsche, Frederick. Zarathustra. Yogyakarta: Quills Book Publisher, 2008.

Sindhunata. Dilema Usaha Manusia Rasional-Teori Kritis Sekolah Frankfurt. Jakarta: Gramendia Pustaka Utama, 2019.


[1]Saya lebih tertarik memilih istilah naskah daripada teks. Sebab, naskah lebih merujuk pada sesuatu yang tertulis secara literer, sedangkan teks bersifat lebih kompleks. Teks bisa mencakup naskah dan naskah adalah teks. Naskah dengan demikian lebih bersifat partikular, sedangkan teks bersifat universal. Teks, misalnya, dapat merujuk pada patung, tubuh, bahasa lisan, batu, air, dan alam semesta.

[2]Bdk. Alex Jebadu, Bukan Berhala: Penghormatan Kepada Roh Orang Meninggal (Maumere: Penerbit Ledalero, 2018), p. 364.

[3]Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Deuterokanonika (Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia, 2010), p. 3-4.

[4] Paul B. Kleden, “Berteologi dari Pinggir Kemapaman Menjawabi Permasalahan Eksistensial dan Sosial” dalam Paul B. Kleden, Otto Gusti Madung, Anselmus Meo (eds.,), Allah Menggugat Allah Menyembuhkan (Maumere: Penerbit Ledalero, 2012), p. 26.

[5]Lembaga Alkitab Indonesia, op.cit.,p. 1-106.

[6]Sindhunata, Dilema Usaha Manusia Rasional-Teori Kritis Sekolah Frankfurt (Jakarta: Gramendia Pustaka Utama, 2019), p. 99.

[7]Frederick Nietzsche, Zarathustra (Yogyakarta: Quills Book Publisher, 2008), p. 186.

[8]Ibid.,p. 53.

[9]Oxford Learner’s Pocket Dictionary – Fourth Edition (Oxford: Oxford University Press, 2008), p. 368.

[10]Georg Kirchberger dan Yosef M. Florisan (penerj.), dalam Geiko Műller-Fahrenholz, Rekonsiliasi (Maumere: Penerbit Ledalero, 2005), p. Cover belakang.

Sebagai tragika dialektis, lakon teater "Ina Tana Ekan" mengandung sejumlah persoalan intrik dalam hidup manusia yang membutuhkan jalan rekonsiliasi. Tujuannya adalah menyingkap pilihan-pilihan baru untuk kehidupan yang lebih baik.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »