Salah satu ritual adat Lawi Ana di Piga, So'a, Ngada, Flores, NTT. Foto/Son Bay

“Lawi Ana”: Tahapan dan Makna Upacara Adat Kelahiran Seorang Anak dalam Masyarakat Adat Masu – So’a Seroga, Ngada, Flores, NTT

Dalam tulisan ini, Penulis menulis cara Lawi Ana bagi orang Masu Sangi, sedangkan bagi orang So’a pada umumnya ada perbedaan-perbedaan kecil.

Pendahuluan

Upacara Lawi Ana (upacara adat kelahiran seorang anak) pada zaman ini hampir tidak lagi seperti beberapa belasan tahun silam. Kini, saya merasa perlu menulis lagi cara Lawi Ana yang dibuat sebenarnya. Dalam tulisan ini, saya menulis cara Lawi Ana bagi orang Masu Sangi, sedangkan bagi orang So’a pada umumnya ada perbedaan-perbedaan kecil. Oleh karena itu, bila masih ada kesempatan, akan kita dekati narasumber-narasumber pada wilayah Ulu Eko (kesatuan masyarakat adat) yang ada di So’a untuk kita tulis dan bukukan.

Pepatah mengatakan: tak ada gading yang tak retak. Demikian tulisan kita masih perlu perbaikan lewat kritik dan saran dari semua yang sebudaya cara Lawi Ana untuk melengkapinya.

Tahapan “Lawi Ana”

Salah satu ritual Lawi Ana di Piga, So’a, Ngada, Flores, NTT. Foto/Son Bay.

Upacara adat kelahiran seorang anak atau Lawi Ana terbagi atas enam (6) tahap.

Tahap I Pia Gka Ngaza.

  • saat seorang ibu melahirkan (Tewe Da Ghago) anak pertama dibuat Pia Geka Ngaza. Acara ini dilakukan setelah melahirkan secara normal, yaitu salah seorang anggota keluarga memecah bulu (Pia) tanda sudah partus dengan selamat.
  • Memberi nama anak. Nama anak diberi berdasarkan nama marganya sendiri, baik dari pihak Bapak maupun dari pihak Mama. Semua janin diisi dalam bamboo (Bo’o) dan digantung di pohon sebagai tanda Teo Bhoka Puse.
  • Menyiapkan periuk khusus (Poda Sona) untuk ibu yang menyusui bayi tersebut. Tuki Tune Api Beo Wae: takut roh jahat datang.

Tahap II menjelang hari ketiga, dibuat Lawi Wunga dengan melibatkan ibu-ibu (bukan nenek) dan anak-anak. Mereka makan bersama, yaitu nasi dan sayur ubi, yang disebut KA LAWI.

Tahap III Loza. Bapak kandung dengan dibantu beberapa orang ke luar kampung untuk mencari daging buruan atau udang. Pekerjaan ini disebut LOZA.

Tahap IV Lawi Ngia Zua/Lawi Duni.

  • Lawi Ngia Zua melibatkan Ema Nara yang membawa (kado) anak babi, ubi, dan moke. Bahasa ini disebut dengan bahasa adat KEPO AZI PU’U ZETA RORO. Sebagai ucapan terima kasih kepada Ame Nara diberi ayam dan kelapa (Nio Nguza Manu Ana).
  • Sepulangnya Ema Nara, ibu-ibu dan anak-anak makan tebu. Selembar kain dibentangkan sebagai alas sepah tebu agar setelah makan sepah tebu itu dibungkus.
  • Di Loka, sang Bapak menyiapkan perisai/tombak (Nobe Hepa) dan bamboo air.
  • Setelah makan tebu, ibu-ibu melakukan antar bayi. Dalam acara ini, harus duduk enam (6) orang ibu. Disiapkan juga dengan tempat sirih (He’a). di dalam He’a itu diisi sirih, daun, buah, dan pinang muda. Si bayi digendong lalu dipindahkan pada orang-orang berikut disertai dengan He’a. perputaran dilakukan sampai enam kali. Pada kali keenam, pada ibu yang menerima giliran keenam, kepala bayi dibalik ke bawah.
  • Na’a Puse.  Serbuk tebu (Pea Tewu) yang terbungkus dengan kain dibawa ke Loka. Sampai di Loka, di kumpulan anak Moke, diletakkan serbuk (Wota Tewu). Sementara itu, potongan-potongan bamboo aor yang dibuat tadi dikumpulkan bersama. Di tempat ini, dimasukkan tali pusat.
  • Memasukkan tali pusat. Pucuk moke dicabut keluar, lalu tali pusat si bayi dimasukkan dan ditutup Kembali dengan pucuk moke tadi.
  • Pesan-pesan. Setelah selesai, si ibu berpesan atau menasihati anaknya dengan ucapan, “DHEGHA-DHEGHA Ata Da Padi, Ata Da Ghadhi, MA’E TOLO DHEPO. Ema Kau Dia BOTU-BOTU, BANI-BANI.
  • Usai Na’a Puse dan nasihat-nasihat, rombongan Kembali dengan membawa perisai (Kuli) dan tombak yang terbuat dari pelepah moke (Ana Tua). Di sepanjang jalan, mereka diserang dengan perang-perangan dan sebagai panglima mereka menangkis dengan perisai.
  • Sesampai di rumah, semua alat perang itu dilempar ke atas atap rumah dan rombongan masuk ke rumah. Pintu rumah kemudian ditutup dan salah seorang mengatakan, “USU OU PEGHA GHEKA.”
  • Makan Bersama. Sebelum makan Bersama, didahului dengan PAZO. Pazo pada ibu si bayi (dengan seekor ayam kecil yang dibakar) dilakukan dengan kata-kata: “Esa zua telu wutu lima esa bhisa-bhisa.” Lalu, anak ayam dimasukkan ke dalam mulut ibu sambil berkata: “Nganga Da Ba’i, Ngemi Da Teme” sambil minum moke.
  • Setelah Pazo, makan Bersama. Nasi daging dibagikan pada Ana Weta. Saat itu, makan juga daging buruan hasil dari LOZA.

Baca Juga “Woe Sada”: Sunat sebagai Upacara Pendewasaan menurut Adat So’a Seroga, Ngada, Flores, NTT

Tahap V Loa Rau Beo/Ma Wa’i Loa Lewa Bero. Sehari setelah Lawi, dilakukan RAU BEO di kebun yang paling dekat. Saat itu, dilibatkan Bapak si bayi dan inang pengasuh (Mori Ka’e). Mereka berjalan ke kebun dengan urutan: ibu dan bayi, pengasuh, dan Bapak kandung dengan parang terhunus. Saat kembali dari kebun,pengasuh pikul dengan seonggok kayu. Sebelum melangkah, sang ibu mengucapkan, “Ana Za’o, Rori Tula Ulu”, baru kemudian mereka melangkah Kembali ke rumah.

Tahap VI Sewu Tune. Sewu Tune dilakukan apabila tali pusat bayi telah sembuh. Saat Sewu Tune, dihadirkan penolong yang menolong saat melahirkan (Mori Gheu). Kepada Mori Gheu diberikan anak ayam atau dua buah kelapa sebagai tanda terima kasih atau syukur.

Inilah upacara Lawi Ana menurut adat kebiasaan orang Masu dari dahulu.

Menarik Makna “Lawi Ana”

Salah satu ritual adat Lawi Ana di Piga, So'a, Ngada, Flores, NTT. Foto/Son Bay
Salah satu tahapan ritual adat Lawi Ana di Piga, So’a, Ngada, Flores, NTT. Foto/Son Bay
  • Pia Wulu: tanda bahwa telah lahir dengan selamat.
  • Makan kelapa: kupas kelapa dicungkil dan dibagi-bagikan; tanda bahwa anak ini akan menjadi orang yang peramah dan punya cita-cita setinggi pohon kelapa.
  • Teo Bhoka Puse: gantungan bamboo atau diikat pada sebatang pohon karena dalam bamboo berisi ari-ari dan darah saat lahir. Tanda bahwa anak ini biar berada di tempat jauh selalu ingat akan tanah tumpah darahnya (Dhegha Bhoka Puse).
  • Ka Uwi: makan bersama pada saat Lawi yang pertama dengan makanan local, yaitu ibu. Ini menandakan bahwa makanan utama sejak zaman dahulu kala ialah ubi.
  • Mencari daging buruan. Ini adalah tanda bahwa masyarakat So’a dahulu kala hidup dari berburu. Dan sampai sekarang, bagi orang So’a, berburu adalah suatu budaya.
  • Moke: suatu minuman yang melengkapi suatu jamuan di saat pesta. Tanpa moke, pesta tak berarti bagi orang So’a.
  • Tebu: tebu yang dimakan saat upacara mengandung energi sebagai ganti gula dalam tubuh.
  • Timang anak: anak ditimang dan dipindahkan dari satu ibu sampai ke ibu yang keenam adalah tanda bahwa anak ini bukan hanya untuk orang tua saja, tetapi juga untuk sesame (misalnya sebagai PNS dan lain-lain).
  • Sirih pinang: enam putaran anak Bersama sirih pinang menandakan bahwa anak ini akan punya banyak sahabat atau kenalan dan akan sanggup menerima siapa saja sebagai tamu.
  • Na’a Puse: tali pusat diisi dalam pucuk moke. Ini adalah tanda bahwa manusia berhubungan akrab dengan alam sekitar
  • Petuah. Pada saat memasukkan tali pusat ke dalam pucuk moke dan keluarlah nasihat kepada anak di tempat itu adalah tanda bahwa nasihat-nasihat itu disaksikan alam sekitar.
  • Perisai: Kuli Nobe adalah tanda bahwa anak ini akan menjadi orang yang berani membela hidup dan berdikari.
  • Bamboo air: bamboo air adalah tanda bahwa manusia membutuhkan air sebagai sumber hidup.
  • Balik anak: kepala anak dibalik ke bawah adalah tanda bahwa anak tidak akan takut panjat pohon, tebing, jurang, dan lain-lain.
  • Masuk rumah: masuk rumah dan pintu ditutup adalah tanda bahwa anak ini akan sanggup memegang rahasia dan tidak menyebarkan gossip.
  • Suap: mama disuap dengan anak ayam bakar adalah tanda bahwa upacara Lawi ini sah. Ucapan “Nganga da teme, ngemi da ba’i” berarti segala sesuatu yang sulit atau berat mesti ditahan dalam perjuangan hidup.
  • Rau Beo: symbol kerja sebagai tanda bahwa anak akan kerja keras.
  • Syukuran: Sewu Tune berarti api dipadamkan sebagai tanda upacara Lawi telah selesai.
  • Api: api yang dihidupkan pada saat awal adalah tanda bahwa bayi ini akan menjadi anak terang karena api atau terang mengusir roh-roh jahat yang datang melayati bayi. Sementara itu, api yang dipadamkan pada saat membuat syukuran atau disebut Sewu Tune adalah tanda bahwa upacara Lawi telah selesai.

Baca Juga “Enga Ka Nika Bato”: Ritus Pertunangan dan Pernikahan menurut Adat Masu, So’a, Bajawa, Flores, NTT

Table 01 Perbandingan Upacara “Lawi Ana” Dahulu dan Sekarang

No.DahuluSekarang
 1.Melibatkan semua keluargaMelibatkan semua keluarga
 2.Lawi dibuat untuk semua anakKadang-kadang hanya anak pertama
 3.Ibu dan tanta-tanta turut makanDalam Lawi Repo, semua hadir tak terkecuali Bapak-bapak
 4.Makan tenang-tenangSaat makan, ada bunyi-bunyian
 5.Mencari daging buruanTidak lagi dibuat
 6.Ari-ari dan darah digantung pada sebatang pohonTidak lagi digantung, melainkan dibuang di WC
Sumber: Manuskrip Yoseph Ngago Keo (2014)

Masu Kedhi, 2 November 2014

Dalam tulisan ini, Penulis menulis cara Lawi Ana bagi orang Masu Sangi, sedangkan bagi orang So’a pada umumnya ada perbedaan-perbedaan kecil.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Murka Mural

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »