Kaum Miskin

Kritik “Agama sebagai Candu Rakyat” Karl Marx dan Prinsip Keterlibatan Gereja dalam Penderitaan Manusia

“Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (Gaudium et Spes, No. 1).

Kritik Marx atas Gereja

Agama adalah opium (candu) rakyat. Pernyataan ini tertera dalam pembukaan karya Karl Marx, “Zur Kritik der Hegelschen Rechtsphilosophie” (A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right) yang ditulisnya pada tahun 1843 dan terbit pada 7 dan 10 Februari 1844 di Paris dalam jurnal Deutsch-Französische Jahrbücher (www.marxist.org). Pernyataan lengkap berbunyi demikian:Religious suffering is, at one and the same time, the expression of real suffering and a protest against real suffering. Religion is the sign of the oppressed creature, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people.

Marx membincangkan agama pada waktu itu (Abad – 19) dalam konteks masyarakat kapitalistik. Dalam masyarakat kapitalis, kaum proletar dituntut untuk menyerah dan berdamai dengan situasi penindasan yang dilakukan oleh kaum borjuis-kapitalis.

Kaum kapitalis, menurut Marx, mengadakan persekongkolan dengan Gereja. Ada semacam “hubungan kotor” antara Gereja dan pemegang kekuasaan yang terjadi di ranah agama dan politik. Dengan itu, kaum kapitalis yang berkuasa menggunakan agama untuk memobilisasi rakyat demi memenuhi kepentingan kaum kapitalis. [1]

Di tengah situasi seperti itulah, Marx menegaskan bahwa orang-orang yang tertindas membutuhkan seorang seperti manusia super (SupermanUnmensch) yang bisa menghibur mereka dalam penderitaan. Meski demikian, ketika mereka menciptakan fantasi seperti itu, sebenarnya manusia sedang menciptakan dirinya sendiri.

Dengan lain perkataan, ia setuju dengan gagasan tentang Allah (agama) Ludwig Feuerbach bahwasanya Allah (agama) adalah ungkapan keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Allah diciptakan oleh manusia, bukan manusia yang diciptakan oleh Allah.

Penciptaan Allah (agama) oleh manusia ini mengakibatkan manusia tidak berhasil merealisasikan hakikat dirinya. Oleh karena itu, penghapusan agama sebagai sebuah ilusi kebahagiaan rakyat adalah sebuah tuntutan etis demi membahagiakan manusia. Singkatnya, agama yang menciptakan ilusi kebahagiaan manusia yang adalah dirinya sendiri mesti dikritik.

Baca Juga Menenun Solidaritas, Menginterupsi Kekuasaan: Relevansi Sosial Perjamuan Kudus dari Sudut Pandang Teologi Kristen Protestan

Meski demikian, Marx sadar bahwa kritik atas agama dapat mengecewakan manusia. Sebab, menurut Marx, agama hanyalah sebuah ilusi yang berputar di sekitar manusia dan hakikat dirinya. Manusia merealisasikan dirinya dalam agama karena struktur masyarakat pada waktu itu yang tidak memberi peluang kepada masyarakat untuk merealisasikan dirinya.

Dengan ini menjadi jelas bahwa agama hanyalah tanda keterasingan manusia, bukan dasarnya. Dengan lain perkataan, agama hanyalah pelarian dari realitas penderitaan manusia.

Hal ini juga mau menegaskan bahwa Marx mengkritik konsep agama menurut Feuerbach. Feuerbach hanya melihat manusia merealisasikan hakikat dirinya secara semu dalam agama. Padahal, penderitaan manusia itu nyata dan dapat dijumpai dalam kehidupan konkret manusia. Agama hanyalah realitas sekunder dari pelarian manusia. Struktur masyarakat adalah realitas primernya. [2] Oleh karena itu, manusia mesti mengkritik struktur masyarakat yang tidak adil, bukan agama sebagai realitas sekundernya.

Apa yang mau disampaikan Marx adalah bahwa agama mesti dijelaskan dalam konteks kondisi sosial masyarakat. Agama mesti menyentuh realitas penderitaan rakyat. Agama tidak boleh menjadi semacam opium yang membuat manusia menerima penderitaan sebagai buah penindasan dari mereka yang berkuasa. Agama tidak boleh menjadi tempat pelarian orang-orang yang sedang menderita. Agama mesti terlibat dalam penderitaan manusia.

Dalam konteks ini, Gereja, yang mengajarkan nilai-nilai luhur agama, tidak hanya sampai pada tahap melihat realitas penderitaan yang dialami manusia sebagai sebuah cobaan yang akan mendapatkan pahala dan balasannya di surga. Sebaliknya, agama yang diajarkan dan diwartakan Gereja mesti agama yang menyentuh realitas sosial masyarakat.

Realitas penderitaan yang dihadapi oleh umat Allah mesti ditanggapi dengan serius oleh Gereja. Gereja mesti memihak mereka yang kehilangan hak dan pegangan hidup di hadapan kekuasaan yang kapitalistik. Gereja mesti menjadi penggerak utama kemanusiaan. Gereja mesti memperhatikan, merefleksikan, dan menjawabi situasi konkrit masyarakat.

Prinsip Keterlibatan Gereja

Menjawabi hal itu, Gereja terlibat dalam penderitaan manusia dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: penegakan martabat manusia, bonum commune, solidaritas, dan subsidiaritas.

Pertama, penegakan martabat manusia. Konstitusi pastoral Gaudium et Spes menegaskan bahwa manusia adalah pusat dan puncak segala sesuatu di dunia ini. [3] Itu berarti, segala sesuatu yang dibuat oleh manusia, mesti diarahkan dan ditujukan kepada manusia itu sendiri. Hal ini beralasan karena manusia adalah ciptaan Allah yang paling luhur. Pribadi manusia hendaknya mendapat prioritas paling penting dalam segala kegiatan manusia.

Selain itu, ensiklik Gaudium et Spes juga menyatakan bahwa cinta kasih hendaknya menjadi perintah yang pertama dan terbesar. Hal ini sangat penting untuk dijunjung tinggi dalam hidup sosial kemasyarakatan. Sebab, hidup sosial merupakan sesuatu yang hakiki, bukan sebuah tambahan atau sesuatu yang menempel dalam hidup manusia. [4]

Dalam hidup sosial itu, hendaknya setiap manusia menekankan sikap hormat atas orang lain sebagai wujud dirinya yang lain. Martabat setiap orang hendaknya dijunjung tinggi. Segala sesuatu yang melukai dan merendahkan martabat pribadi manusia mesti dijauhkan dan dipandang sebagai sebuah kekejian dan kekejaman dalam hidup bersama. [5]

Selain martabat pribadi manusia yang mesti dijunjung tinggi karena setiap manusia adalah imago Dei, juga pada dasarnya setiap orang memiliki hak asasi. Hak asasi itu bersifat universal dan tidak dapat diganggu gugat.

Paus Yohanes XXIII dalam ensiklik Pacem in Terris mengkategorikan hak-hak asasi manusia sebagai berikut: hak untuk hidup dan pemenuhan kebutuhan hidup yang layak (No. 11), hak atas nilai-nilai moral dan budaya (No. 13), hak untuk berbakti kepada Tuhan sesuai iman kepercayaannya (No. 14), hak untuk memilih status hidup (No. 15), hak-hak ekonomis (No. 20 dan 21), hak untuk berorganisasi dan berserikat (No. 23, 24), hak atas kebebasan bergerak dan tinggal di kawasan Negaranya sendiri (No. 25), hak untuk berperan aktif dalam kehidupan umum (No. 26), dan hak atas perlindungan hukum (No. 27).

Baca Juga Kontribusi Nilai Katolik Membangun Peradaban Politik-Ekonomi di Indonesia

Kedua, bonum commune. Paus Yohanes XXIII dalam ensiklik Mater et Magistra mengartikan bonum commune sebagai kondisi sosial yang memungkinkan pribadi setiap manusia bertumbuh secara utuh. Dalamnya, setiap orang diperlakukan sebagai pribadi manusia dan didorong untuk berperan aktif dalam mengatur dan mengembangkan hidupnya. [6]

Selain itu, bonum commune yang memiliki makna kebaikan atau kesejahteraan bersama ini ditegaskan oleh ensiklik Gaudium et Spes sebagai keseluruhan kondisi hidup kemasyarakatan yang memungkinkan setiap manusia untuk mencapai kesempurnaan dirinya secara lebih penuh dan lebih mudah. [7] Hal ini mau menandaskan bahwa dalam kehidupan sosial, kesejahteraan bersama mesti dijunjung tinggi. Setiap orang yang hendak mengekspresikan dirinya di hadapan publik mesti memperhatikan norma kesejahteraan umum ini.

Ini berarti, setiap orang selalu menghargai satu sama lain tanpa mendominasi atau merebut tatanan hidup sosial. Apabila dalam tatanan sosial kemasyarakatan negara sebagai pemegang kekuasaan atau orang-orang yang berkuasa mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok dan mengabaikan kesejahteraan umum, Gereja hadir untuk menyuarakan pentingnya kesejahteraan bersama dalam hidup bermasyarakat.

Ketiga, solidaritas. Prinsip ini mesti diwujudkan demi kesejahteraan bersama. Dalam ensiklik Sollicitudo Rei Socialis, Paus Yohanes Paulus II melihat pentingnya solidaritas di antara sesama manusia. Dalamnya, ada pengakuan akan martabat pribadi orang lain. Di sini, orang yang miskin dan lemah dibantu dan didukung hidupnya oleh orang yang berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. [8]

Selain itu, dalam ensiklik Gaudium et Spes, ditegaskan betapa pentingnya pengembangan solidaritas dalam hidup bersama. Solidaritas mesti terus dikembangkan hingga pada hari pemenuhannya di mana berkat rahmat Allah, manusia diselamatkan untuk bersatu dengan Allah dalam Kristus. [9]

Baca Juga Harapan Kita Pasca “Ressurectio”

Ensiklik Populorum Progressio lebih melihat solidaritas ini dalam konteks relasi antarbangsa, dalamnya ditekankan pentingnya relasi keakraban antarbangsa. Bangsa yang lebih maju hendaknya membantu bangsa-bangsa yang sedang mengalami penderitaan dan kemiskinan. Dengan itu, bangsa-bangsa yang maju dapat meringankan dan membantu penderitaan yang dialami oleh bangsa yang sedang berada dalam kemiskinan. Konkritnya, harta milik bangsa-bangsa yang lebih kaya mesti disediakan bagi bangsa-bangsa yang lebih miskin. [10]

Gereja selalu menyadari pentingnya solidaritas. Sebab, berkat solidaritas, seruan sesama yang miskin dan bersengsara dapat dijawab. Gereja dalam tatanan hidupnya mengandalkan prinsip solidaritas sebagai tanda perwujudan Kerajaan Allah.

Ketika dalam dunia ditemukan tidak adanya kepedulian sosial dan keserakahan yang menjadi-jadi dari mereka yang memiliki kekuasaan, Gereja hadir untuk menyerukan suara bagi mereka yang miskin, mereka yang tidak bersuara. Solidaritas merupakan tanda keakraban antarsesama manusia dan tanda bahwa Allah yang transenden itu selalu hadir dalam setiap permasalahan yang dialami oleh manusia, yang imanen.

Selain itu, di tengah situasi dunia yang ditandai oleh adanya jurang pemisah yang lebar antara yang kaya dan miskin, solidaritas antarmanusia mesti diwujudkan melalui penegakan hak-hak asasi manusia. Gereja mesti tampil untuk membela hak-hak mereka yang miskin dan tersingkir dalam tatanan sosial akibat tata ekonomi, social, dan politik yang tidak adil.

Keempat, subsidiaritas. Dalam ensiklik Quadragesimo Anno, subsidiaritas dipahami sebagai usaha atau prakarsa dan bantuan. Ensiklik ini menegaskan bahwa apa saja yang diusahakan atau diprakarsai oleh seseorang atau sebuah kelompok kecil, tidak boleh dirampas dan diberikan kepada kelompok yang lebih besar. Hal ini akan menimbulkan ketidakadilan dan kehancuran pada orang atau kelompok kecil itu. Seharusnya, segala usaha atau prakarsa mereka dibantu demi pengembangan usahanya itu. Oleh karena itu, orang-orang yang berkuasa mesti memperhatikan bahwa tugasnya adalah memimpin dan mengawasi tatanan sosial kemasyarakatan agar tercipta keadilan demi kesejahteraan bersama. 

Baca Juga Pandemi, Terorisme, dan Kemanusiaan Kita

Ensiklik Gaudium et Spes juga menegaskan hal senada tentang subsidiaritas. Atas dasar hak, Negara tidak boleh mengekang atau menghalangi setiap prakarsa atau usaha setiap orang sejauh tidak melanggar norma dan tatanan umum. Prakarsa atau usaha pribadi hendaknya disesuaikan dengan norma umum yang berlaku. Pemerintah pun dituntut untuk tidak bersikap totaliter atau diktator sehingga tidak melanggar dan menekan hak-hak pribadi dan kelompok sosial untuk mengembangkan potensi dan mengaktualisasikan diri mereka.

Selain itu, dalam konteks hubungan internasional, khususnya perdagangan internasional, hendaknya Negara-negara maju memperhatikan kesejahteraan Negara-negara yang lemah dan miskin. Hal ini disebabkan karena Negara-negara miskin membutuhkan penghasilan yang diperoleh dengan memasarkan hasil produksi mereka untuk menopang ekonomi dan kelangsungan hidup mereka.

Dalam pewartaan Kerajaan Allah, Gereja hadir menuntut terselenggaranya prinsip subsidiaritas ini. Tidak diindahkan adanya superioritas antara yang satu dan yang lainnya. Hal ini penting demi tegaknya kesejahteraan bersama.

Iman Gereja: Allah yang Terlibat

Tidak hanya memegang prinsip di atas, Juru Selamat, yakni Yesus Kristus yang diimani dalam Gereja Katolik, adalah Allah yang tidak memegahkan diri dengan kuasa dan status-Nya. Melalui inkarnasi, Ia rela mengambil rupa seorang manusia dan masuk dalam realitas kehidupan manusia.

Sebagai Allah yang mewujud dalam diri seorang manusia, ia memilih untuk menjadi manusia yang miskin dan lemah. Ia lahir di kandang yang hina (Luk. 2:1-20) dan tumbuh dalam keluarga miskin (Mat. 13:56; Mrk. 6:3). Yesus berani keluar dari zona nyaman diri-Nya dan melepaskan jabatan yang ada dalam diri-Nya. Dengan menjadi miskin, Yesus merasa bebas untuk masuk dan tinggal dalam dunia orang miskin.

Pengambilan sikap untuk menjadi miskin inilah yang disebut sebagai sikap pengosongan diri (kenosis). Hal ini dilakukan Yesus sebagai sebuah syarat yang mesti dipenuhi untuk menjadi dekat dengan kaum miskin. [11]

Yesus, yang adalah Allah dan rela menjadi manusia miskin ini, tidak hanya terpaku dalam lingkungan keluarganya. Dalam seluruh karya pewartaan Kerajaan Allah dan nilai-nilai Injili, Ia selalu mengedepankan mereka yang miskin dan papa. Salah satu contohnya adalah penggalan khotbah di bukit berikut ini: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3; Luk. 6:20).

Selain itu, dalam narasi Injil, Yesus menegaskan posisi-Nya yang jelas dalam karya pewartaan Kerajaan Allah, yakni keberpihakan kepada mereka yang miskin dan lemah. Yesus tidak hanya membeberkan pidato iman atau mengumbar retorika yang mengundang decak kagum para pendengar-Nya. Ia merealisasikan apa yang diwartakan lewat perbuatan-perbuatan nyata.

Bukan hanya itu, jamak ditemui, semasa hidup dan karya pewartaan-Nya di dunia, Yesus selalu mengaktualisasikan ajaran-Nya dengan cara terlibat dengan mereka yang miskin dan bersengsara, mengalami realitas penderitaan mereka, dan memberikan kesembuhan dan penghiburan bagi mereka yang menderita.

Baca Juga Teater “Ina Tana Ekan”, Tragika Dialektis Riwayat Hidup Manusia

Keterlibatan Yesus dalam hidup sosial umat beriman tidak berhenti di situ. Ia rela mengorbankan diri-Nya di kayu salib demi keselamatan manusia. Inilah bukti nyata kerendahan diri-Nya yang utuh kepada manusia.

Pengorbanan diri di salib mau menyatakan bahwa Allah senantiasa mencari manusia dengan menawarkan cinta dan kesetiaan-Nya. Dengan itu, Allah menjadi pegangan hidup dan selalu diandalkan dalam kehidupan setiap orang beriman.

Salib juga merupakan suatu gugatan Allah atas manusia. Allah menggugat manusia yang mapan hidupnya, yang sering menjalani gaya hidup lama di mana hak-hak orang lain dirampas dan direnggut dengan paksa.

Salib menjadi tanda nyata Allah yang merangkul dan memberikan hidup kepada manusia, sekaligus mau menyatakan bahwa Allah dapat diandalkan. Dengan itu, manusia dapat memulai suatu hidup yang baru: hidup yang ditandai oleh rasa persaudaraan dan solidaritas di antara sesama manusia. [12]

Orang Kristen yang Terlibat

Gereja adalah kumpulan umat Allah yang sedang berziarah. Dalam peziarahan itu, umat Allah mesti mengikuti teladan Sang Guru Agung, Yesus Kristus, dengan memegang prinsip-prinsip Gereja untuk terlibat dalam penderitaan yang dialami orang lain. Duka mereka adalah duka kita, penderitaan mereka adalah penderitaan kita. Dalam bahasa Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, “Air mata orang-orang kecil dan tidak berdaya, suka tidak suka, mau tidak mau, akan terus mengganggu kemapanan dan kenyamanan hidup…” [13]

Dengan keterlibatan kita dalam penderitaan sesama, kita mengamalkan pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 pada 16 Mei 2021 ini: “berkomunikasi dengan menjumpai orang di manapun mereka berada dan sebagaimana adanya.”


Catatan Kaki

[1] Dhianita Kusuma Pertiwi, Indoprogress.com; Awalil Rizky, “Sosialisme dan Agama: Bisakah Menjadi Sintesa Alternatif?”, dalam Muhidin M. Dahlan (edt.), Sosialisme Religius Suatu Jalan Keempat?, Cet. IV (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2002),hlm. 246.

[2] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme , hlm. 73-74.

[3] Dokumen Konsili Vatikan II, hlm. 534.

[4] Ibid., hlm. 549-551.

[5] Ibid., No. 27, hlm. 553-554.

[6] R. Hardawiryana, Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI (1994), hlm. 25.

[7] Dokumen Konsili Vatikan II, Op.cit., hlm. 552.

[8] Marcel Beding, (Cet. I, Ende: Nusa Indah, 1989) hlm. 85.

[9] Dokumen Konsili Vatikan II, Op.cit., hlm. 560.

[10] R. Hardawiryana, Ibid., hlm. 32.

[11] Paulus Budi Kleden, Aku Yang Solider, Aku Dalam Hidup Berkaul. Sebuah Refleksi Tentang Aku Yang Berkaul dari Perspektif Mistik dan Politik, Hlm. 109-110.

[12] Georg Kirchberger, Allah Menggugat, Hlm. 383.

[13] Hsu Monika, “Merambah ke Segala Arah: Kisah Perjuangan Jhon Mansford Prior, SVD di Nusa Bunga” (Maumere: Penerbit Ledalero, 2020), Hlm. 3.

“Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (Gaudium et Spes, No. 1).

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Murka Mural

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »