Mori Ndewa. Foto/Kekitaan.com

“Mori Ndewa”: Wujud Tertinggi dalam Suku Rongga, Manggarai, Flores, NTT

Masyarakat Suku Rongga mempunyai keyakinan akan Wujud Tertinggi, yang disebut Mori Ndewa. Mori Ndewa itu selalu berrelasi dengan manusia dan manusia pun sangat bergantung pada-Nya sehingga dalam setiap tahap kehidupannya, ia berusaha menjaga relasi yang baik dengan-Nya agar selalu terberkati. Kepercayaan akan Wujud Tertinggi itu kemudian diteruskan kepada generasi selanjutnya melalui upacara-upacara adat, lagu-lagu, mitos, petuah, dan cerita rakyat.

Sebagaimana daerah lainnya di Indonesia, Manggarai memiliki banyak suku. Salah satunya adalah Suku Rongga yang berada di sebelah selatan Kabupaten Manggarai Timur. Wilayah kesatuan masyarakat adat, yang meliputi Kisol, Waelengga, dan sebagian Kecamatan Kota Komba dan Kecamatan Borong, ini berbatasan dengan Wae Mokel di sebelah timur, Wae Musur (Sita) di bagian barat, dan berbatasan dengan suku Mendang Riwu, suku Manus, dan Suku Gunung di sebelah utara. Sekalipun memiliki banyak kesamaan dalam beberapa aspek lainnya, suku ini memiliki bahasa yang berbeda dengan bahasa Manggarai pada umumnya.

Mori Ndewa”: Wujud Tertinggi dalam Suku Rongga

Mori Ndewa berasal dari dua kata Bahasa Manggarai Mori, yang berarti berarti Tuhan, pemilik, penguasa, dan Ndewa yang berarti Raja. Dengan demikian, Mori Ndewa berarti Tuhan segala Raja.

Menurut masyarakat Suku Rongga, Mori Ndewa adalah pencipta segala sesuatu, mahakuasa, dan ada di mana-mana. Selain itu, Dia dipandang sebagai pelindung dan pemelihara manusia serta penjamin kehidupan kekal.

Hal ini tampak dalam syair pemujaan atas kebesaran Tuhan: Nunu po poso, po poso nunu mezhe (beringin besar di hutan, di hutan yang sangat lebat) dan embu la’a lezha, jodo zele mawo mezhe (anak cucu berjalan di terik matahari, berteduhlah di naungan besar). Syair ini hendak menegaskan bahwa Mori Ndewa adalah Tuhan tempat manusia bersandar jika kita mengalami kesulitan dalam hidup.

Dalam masyarakat Suku Rongga, ada kata Imbi, yang berarti percaya. Kata Imbi secara eksplisit menjelaskan relasi seseorang dengan yang lain yang dibentuk karena rasa percaya. Dalam konteks masyarakat Suku Rongge, Imbi berarti kepercayaan terhadap Wujud Tertinggi yang disebut Mori Ndewa.

Baca Juga “Lawi Ana”: Tahapan dan Makna Upacara Adat Kelahiran Seorang Anak dalam Masyarakat Adat Masu – So’a Seroga, Ngada, Flores, NTT

Secara religius, masyarakat suku Rongga mempunyai keterarahan kepada Yang Lain, yang berada di luar dirinya yang tidak terpahami. Sekalipun sadar bahwa mereka tidak bertemu muka dengan Mori Ndewa secara langsung, tetapi mereka meyakini mengalami kehadiran Mori Ndewa dalam pristiwa hidup harian mereka.

Misalnya, dalam kebudayaan suku Rongga, ada yang dinamakan upacara Mbasa Wini, yaitu ritual membasahi/memerciki bibit dengan darah ayam. Ayam tidak disembelih begitu saja, tetapi didahului dengan upacara adat. Daging hati dan paha ayam diambil dan dicampur dengan nasi untuk dijadikan sesajian, yang biasanya ditempatkan pada tempat khusus di rumah adat keluarga dalam satu suku (kerabat).

Pemberian sesajian diiringi dengan mengucapkan mantra yang isinya mengajak atau mengundang arwah leluhur untuk makan pada saat ritual berlangsung. Mantra biasanya dibawakan oleh seorang laki-laki dewasa dalam keluarga besar yang mendiami suatu suku tertentu (Mbo Mezhe). Penggunaan mantra dalam upacara adat bertujuan untuk memohon kepada Mori Ndewa dan leluhur agar padi dan jagung yang akan ditanam dapat bertumbuh subur sehingga mendatangkan hasil yang berlimpah.

Ritual, yang dihadiri oleh seluruh anggota keluarga dalam satu suku tersebut, bertujuan memohon kepada Mori Ndewa agar bisa mendatangkan rahmat dan memberi curah hujan yang bagus sehingga tanaman yang mereka tanam membawa hasil yang berlimpah dan terjauhkan dari serangan hama penyakit atau binatang liar.

Mitos dan Simbol dalam Suku Rongga

Agama asli Suku Rongga ditandai dengan simbol-simbol yang mengarah pada pemujaan terhadap Mori Ndewa sebagai Wujud Tertinggi. Selain pemujaan terhadap Mori Ndewa, masyarakat Suku Rongga juga mengenal bentuk-bentuk penghormatan terhadap roh-roh leluhur (Embu Nusi) dan roh-roh alam (Mori Tana) yang mendiami tempat-tempat tertentu.

Penghormatan terhadap Mori Ndewa, Embu Nusi, dan Mori Tana dilakukan pada hampir setiap tahap kehidupan manusia. Religi asli atau penghormatan terhadap Wujud Tertinggi dan roh-roh lain ini diungkapkan dengan simbol-simbol, baik simbol material maupun symbol non-material. Misalnya, Watu Palu yaitu sebuah kayu berbentuk segi empat yang diyakini oleh masyarakat Suku Rongga sebagai tempat kediaman para leluhur atau Wujud Tertinggi.

Simbol juga tampak dalam berbagai ritual upacara adat masyarakat Suku Rongge. Misalnya, ritual penyembahan dalam upacara Dhasa Jawa, yaitu sebuah ritual adat untuk membasahi atau memerciki bibit dengan darah ayam kampung sebagai tanda penghormatan kepada arwah nenek moyang. Ritual itu menggambarkan pemahaman masyarakat Suku Rongga tentang keberadaan kekuatan lain di luar dirinya yang sangat menentukan kehidupan mereka. Pemahaman dan konsep tersebut tercermin dalam sarana dan bahasa yang digunakan dalam upacara Dhasa Jawa sebagai salah satu bentuk atau wujud tindakan religiositas mereka. Adapun esensi yang terkandung dalam ritual Dhasa Jawa adalah pemujaan terhadap Tuhan (Mori Ndewa), roh para leluhur (Embu Nusi), dan roh-roh alam (Mori Tana).

Selain simbol, masyarakat Suku Rongga juga memiliki mitos. Misalnya, mitos penciptaan dan gempa bumi. Dalam mitos asal muasal gempa bumi, misalnya, diceritakan bahwa Mori Ndewa memegang bumi ini dengan seutus tali karena diyakini bahwa langit dan bumi sangat dekat sehingga hanya dihubungkan dengan tali. Gempa bumi terjadi ketika Ia menarik tali itu akibat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan manusia.

Bahasa dan Kekuasaan dalam Ritual Mbasa Wini

Kekuasaan dalam bahasa pada ritual Mbasa Wini secara makro terwujud dalam pemilihan ranah Mbasa Wini itu sendiri. Artinya, ranah ini dianggap ranah tinggi, yang mempunyai kekuatan magis sebagai ranah yang mampu membawa pesan ke Yang Mahakuasa, yang tidak bisa dilakukan oleh ranah biasa. Ranah tinggi ini menjadi kapital (sosio) linguistik bagi penuturnya karena mengangkat status sosialnya dan karena ia dianggap mempunyai sumber daya sebagai alatpengabsahan kekuasaan.

Sementara itu, secara mikro-linguistis, ada karakteristik tertentu yang mencerminkan kekuatan dan kekuasaan di belakang bahasa, yang ikut andil dalam kekuatan yang ditimbulkan atau dikaitkan dengan bahasa ritual. Ini umumnya berada dalam domain etno-semantis-kultural religius-ideologis yang lebih luas. Artinya, makna-makna kultural yang berkaitan dengan kekuasaan dimengerti dan diterima dalam konsep relasional antarsesamamanusia (masyarakat Suku Rongga) dan antara manusia dan Mori Ndewa.

Bentuk nyata relasi kekuatan/kekuasaan dalam bahasa dan di belakang bahasa secara dominan dapat dilihat pada doa-doa dalam upacara Mbasa Wini. Doa musim tanam ini selalu berkaitan dengan harapan agar tetap terjalin hubungan yang harmonis antara manusiadan manusia serta antara manusia dan kekuatan adikodrati transendental. Harapan dan keinginan itu diungkap secara verbaldengan menggunakan kalimat indikatif, desideratif, imperatif, dan interogatif.

Baca Juga “Woe Sada”: Sunat sebagai Upacara Pendewasaan menurut Adat So’a Seroga, Ngada, Flores, NTT

Beberapa contoh kalimat indikatif sebagai cermin bahasa ranah tinggi:

  1. Ndala ndau ndeta, ndeta ndala ndoa: bintang itu atas, atas bintang kembar.
  2. Seke ndia lima, ndia lima seke ndake: gelang ini tangan, ini tangan gelang kembar.

Pesan dua ungkapan di atas adalah agar hidup bersatu dan kompak.

Eksistensi kekuatan bahasa yang gayut dengan kepercayaan merujuk pada kekuasaan Tuhan, roh leluhur, dan roh alam. Bentuk leksikal terkait kekuasaan Tuhan merujuk pada kata Ndewa. Ndewa adalah sebutan untuk Tuhan yang tampak dalam klausa Ua ndele poso, lando sorhi Ndewa (rotan di gunung pucuknya ke atas tangkap dewa). Selanjutnya, kekuasaan dan kekuatan roh leluhur merujuk pada kelompok kata Embu Nusi sebagaimana tampak pada klausa zhenge meu embu nusi ndia kami dhete manu (dengar para leluhur ini kami pegang ayam). Akhirnya, kekuatan dan kekuasaan roh alam merujuk pada kata Mori Watu, yaitu penguasa tanah seperti tampak dalam klausa ndau meu nitu tana mori watu (itu kamu makhluk halus yang memiliki tanah dan batu).

Penggunaan bahasa ritual seperti itu diyakini memiliki kekuatan karena mengandung unsur magis yang secara non-verbal diungkapkan oleh Ata adha pau manu (pemimpin upacara) dalam sikap dan perilaku.

Penutup

Masyarakat Suku Rongga mempunyai keyakinan akan Wujud Tertinggi, yang disebut Mori Ndewa. Mori Ndewa itu selalu berrelasi dengan manusia dan manusia pun sangat bergantung pada-Nya sehingga dalam setiap tahap kehidupannya, ia berusaha menjaga relasi yang baik dengan-Nya agar selalu terberkati. Kepercayaan akan Wujud Tertinggi itu kemudian diteruskan kepada generasi selanjutnya melalui upacara-upacara adat, lagu-lagu, mitos, petuah, dan cerita rakyat.

Akan tetapi, keyakinan akan Wujud Tertinggi dalam masyarakat Suku Rongga tidak bisa disebut monoteisme karena masih ada kepercayaan lainnya seperti ata palesina. Keyakinan itu tidak juga disebut monolateria ata palesiana. Oleh karena itu, mungkin lebih tepat jika dikatakan, keyakinan masyarakat Suku Rongga adalah politeisme, walaupun mereka masih mengakui hanya satu wujud transendental yang lebih tinggi, yaitu Mori Ndewa.

Masyarakat Suku Rongga mempunyai keyakinan akan Wujud Tertinggi, yang disebut Mori Ndewa. Mori Ndewa itu selalu berrelasi dengan manusia dan manusia pun sangat bergantung pada-Nya sehingga dalam setiap tahap kehidupannya, manusia berusaha menjaga relasi yang baik dengan-Nya agar selalu terberkati. Kepercayaan akan Wujud Tertinggi itu kemudian diteruskan kepada generasi selanjutnya melalui upacara-upacara adat, lagu-lagu, mitos, petuah, dan cerita rakyat.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Murka Mural

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »