Belis Sistem Barter

Belis Sistem Barter dan Mengapa Selain Perempuan Laki-Laki Juga Perlu Dibelis

Belis sistem barter hemat Penulis lebih kontekstual karena terdapat keseimbangan dalam membayar belis. Belis tidak lagi menjadi tanggung jawab keluarga laki-laki, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga perempuan. Dengan demikian, kedua belah pihak akan mendapatkan barang yang telah disepakati bersama sesuai kebutuhannya masing-masing. Lebih jauh, kehidupan rumah tangga suami-istri dapat lebih harmonis, tidak lagi terjadi konflik karena belis, gagal menikah karena belis, dan mengeluh karena belis mahal.

Pengantar

Perdebatan tentang belis tidak pernah usai, dan karena itu ia perlu dilihat sebagai perkara yang mesti diselesaikan. Di tengah masyarakat sendiri telah terbentuk minimal dua kelompok: kelompok pro belis dan kelompok kontra belis. Kelompok pro belis biasanya adalah orang tua yang masih ketat menjaga budaya belis. Bagi mereka, belis adalah kekayaan budaya yang perlu dilestarikan. Sementara itu, kelompok kontra belis adalah kaum muda yang lebih berpikir rasional dengan pertimbangan kalkulasi untung rugi. Mereka berpandangan bahwa belis perlu ditinggalkan karena dapat memiskinkan masyarakat penganutnya. Pada posisi kontra, tuntutan belis yang mahal dianggap sebagai sumber utama persoalan plus kedudukan keluarga perempuan sebagai penentu jumlah belis, yang biasanya berupa uang dan hewan.  Misalnya, uang Rp30 Juta ditambah dua (2) ekor kuda atau dapat diuangkan menjadi Rp50 Juta.

Pada hakikatnya, dalam beberapa kebudayaan patrilineal, fenomena belis yang mahal merupakan bentuk penghargaan terhadap kaum perempuan agar ia mendapatkan tempat yang terhormat di dalam keluarga pria. [1] Sebab, tidak ada masyarakat tanpa budaya dan sebaliknya tidak ada budaya yang tidak mempunyai masyarakat pendukung. [2] Sebagai pencipta, pelaku, dan penentu budaya, manusia hidup dari, oleh, dan untuk budaya. [3]

Baca Juga “Enga Ka Nika Bato”: Ritus Pertunangan dan Pernikahan menurut Adat Masu, So’a, Bajawa, Flores, NTT

Namun, tak terpungkiri, tuntutan budaya akan jumlah belis yang besar juga menciptakan polemik. Tidak jarang banyak pasangan suami-istri gagal menikah, terjadi pertentangan antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan, dan terjadi kekerasan dalam kehidupan rumah tangga lantaran belis belum lunas.

Polemik tentang belis yang tidak berkesudahan dan perkembangan zaman berdasarkan rasionalitas masyarakat modern yang kian pesat dapat saja menyebabkan hilangnya belis atau minimal belis tidak lagi menjadi tuntutan utama dalam suatu tradisi perkawinan. Alih-alih belis, yang lebih diutamakan adalah cinta. Cukup dengan saling mencintai, kedua pasangan suami-istri dapat menikah. Sementara itu, belis bersifat tentatif; dapat dibayar, dapat juga tidak dibayar. Kemungkinan seperti ini bisa terwujud dan tentu saja akan terus diperdebatkan.

Menyikapi pertentangan tentang belis dan kemungkinan perubahan tradisi belis, maka Penulis menawarakan sebuah solusi, yaitu laki-laki perlu dibelis dengan belis sistem barter. Pertanyaannya, mengapa?

Laki-laki Perlu Dibelis

Pemberlakuan belis untuk laki-laki pada hakikatanya bertujuan unutk meminimalisasi terjadinya konflik antara keluarga perempuan dan keluarga laki-laki. Selain itu, tujuan lainnya adalah menjaga keseimbangan beban belis, dalam pengertian belis tidak saja ditanggung oleh pihak keluarga laki-laki, tetapi juga oleh keluarga perempuan.

Berikut adalah beberapa alasan perlunya pemberlakuan belis untuk laki-laki:

  • Penghargaan terhadap keluarga laki-laki

Kebudayaan patriakat (garis keturunan laki-laki) yang banyak dianut di berbagai daerah di Indonesia mempengaruhi suatu tradisi perkawinan. Seorang perempuan yang telah menikah harus tinggal di rumah laki-laki di mana si laki-laki itu menjadi tuan rumah dengan belis yang sudah dibayarkan kepada keluarga perempuan. Hemat Penulis, pembayaran belis itu bertujuan untuk menunjukkan penghargaan terhadap keluarga perempuan. Oleh karena itu, perlu juga memberi penghormatan kepada keluarga laki-laki dengan memberlakukan belis untuk laki-laki.

  • Mengurangi utang piutang

Biasanya, untuk bisa membayar belis kepada keluarga perempuan, keluarga laki-laki mengumpulkan uang atau barang sebanyak yang diminta oleh keluarga perempuan. Karena tak mampu membayar “belis”, maka pihak keluarga laki-laki tak jarang mengambil jalan pintas dengan meminjam uang pada pihak lain sehingga menimbulkan piutang. [4] Hal ini berdampak buruk pada kehidupan rumah tangga kedua pasangan suami-istri itu. Oleh sebab itu, pemberlakuan belis untuk laki-laki dapat mengurangi utang piutang.

  • Keluarga tidak merasa malu

Ketika keluarga laki-laki tidak mampu membawa belis sesuai tuntutan keluarga perempuan, maka hal itu kerapkali membuat keluraga besar mereka merasa malu. Pemberlakuan belis untuk laki-laki dapat membuat pihak keluarganya lebih percaya diri dan dapat menjaga harga diri saat berhadapan dengan keluarga perempuan.

Untuk mengaplikasikan belis untuk laki-laki, Penulis menganjurkan pemberlakuan belis sistem barter. Hemat Penulis, belis sistem barter dapat menjamin keadilan dalam pembagian belis, baik bagi keluarga laki-laki maupun bagi keluarga perempuan. Belis sistem barter juga dapat meminimalisasi terjadinya konflik antara keluarga perempuan dan keluarga laki-laki dan menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga pasangan suami-istri baru.

Belis Sistem Barter

Barter merupakan sebuah kegiatan dagang yang dilakukan dengan cara mempertukarkan komoditas yang satu dengan komoditas lainnya. Dalam barter, terjadi proses jual beli, tetapi pembayarannya tidak menggunakan uang, melainkan barang. [5] Di sini, barter dipahami sebagai pertukaran barang. Hal serupa perlu dilakukan dalam proses belis untuk laki-laki.

Adapun sistem barter dalam belis yang dimaksud Penulis tetap dalam bentuk barang, bukan uang. Artinya, keluarga laki-laki membawa barang-barang yang dibutuhkan oleh pihak perempuan, dan sebaliknya dari pihak perempuan membawa barang-barang yang dibutuhkan oleh keluarga laki-laki. Dalam sistem barter ini, kedua belah pihak perlu menyepakati barang yang akan dipertukarkan. Hal ini bertujuan agar kedua belah pihak dapat membawa belis dalam bentuk barang sesuai kesepakatan. Dengan ini, terdapat keadilan dalam transaksi belis. Lebih jauh, kita dapat melihat eksistensi laki-laki dan perempuan yang hidup saling melengkapi, bukan saja sebagai persona (pribadi), tetapi juga kelengkapan kebutuhan hidup rumah tangga yang diperoleh dari belis.

Hemat Penulis, belis dalam bentuk tukar menukar barang atau barter lebih kontekstual mendukung kehidupan rumah tangga sebuah keluarga yang baru menikah dari pada belis dalam bentuk uang. Sebab, barang-barang tersebut dapat digunakan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup harian mereka. Misalnya, ketika keluarga laki-laki memberi sekor kuda kepada keluarga permpuan, maka sebaliknya keluarga perempuan memberi seekor babi kepada keluarga laki-laki. Atau apabila keluarga laki-laki memberi kain adat, maka pihak keluarga perempuan memberi selimut. Belis sistem barter seperti ini akan lebih kontekstual karena disesuaikan dengan kebutuhan hidup kedua belah pihak.

Penutup

Pemberlakuan belis untuk laki- laki merupakan salah satu tawaran solusi Penulis untuk menjawabi polemik persoalan belis yang sering diperdebatkan oleh keluarga laki-laki dan keluarga perempuan. Untuk mendukung pemberlakuan belis terhadap laki-laki, Penulis menganjurkan belis sistem barter. Belis sistem barter hemat Penulis lebih kontekstual karena terdapat keseimbangan dalam membayar belis. Belis tidak lagi menjadi tanggung jawab keluarga laki-laki, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga perempuan. Dengan demikian, kedua belah pihak akan mendapatkan barang yang telah disepakati bersama sesuai kebutuhannya masing-masing. Lebih jauh, kehidupan rumah tangga suami-istri dapat lebih harmonis, tidak lagi terjadi konflik karena belis, gagal menikah karena belis, dan mengeluh karena belis mahal.


Catatan Kaki

[1] Ulfah Cahaya Ninggrum, Belis dalam Tradisi Perkawinan (Studi Tentang Pandangan Masyarakat Lamaholot Di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur) (Skripsi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahaim Malang, Malang, 2016), hlm. 4.

[2] Bernad Raho, Sosiologi (Maumere: Ledalero, 2016), hlm. 123.

[3] Paul Budi Kleden, Teologi Terlibat: Politik dan Budaya dalam Terang Teologi (Maumere: Ledalero, 2012), hlm. 9.

[4] Ulfah Cahaya Ninggrum, op. cit., hlm. 24.

[5] Umi Riyanti, Jual Beli Barter dalam Perspektif Ekonomi Syari’ah (Studi pada Masyarakat Desa Sebangau Permai Kecamatan Sebangau Kuala Kabupaten Pulang Pisau) (Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Program Studi Ekonomi Syari’ah Tahnus 1437H/2016M, 2016), hlm. 7.

Belis sistem barter hemat Penulis lebih kontekstual karena terdapat keseimbangan dalam membayar belis. Belis tidak lagi menjadi tanggung jawab keluarga laki-laki, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga perempuan. Dengan demikian, kedua belah pihak akan mendapatkan barang yang telah disepakati bersama sesuai kebutuhannya masing-masing. Lebih jauh, kehidupan rumah tangga suami-istri dapat lebih harmonis, tidak lagi terjadi konflik karena belis, gagal menikah karena belis, dan mengeluh karena belis mahal.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Murka Mural

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »