Manusia

Manusia: Relasinya dengan Tuhan dan Fenomena Radikalisme dan Terorisme

Hemat Penulis, pelbagai peristiwa yang mengejutkan sekaligus mencederai martabat manusia sebagai makhluk sosial-relasional ini terjadi karena adanya pemahaman keliru mengenai relasi intim atau iman yang dibangun dengan Tuhan. Kekeliruan itu terletak pada pandangan bahwa mencintai-berelasi-mengarahkan diri pada Tuhan adalah jalan tunggal penghayatan iman. Padahal, iman akan Allah mestinya mewujud dalam kasih kepada sesama.

Manusia adalah makluk sosial. Sosialitas manusia mewujud dalam interaksi dan relasinya dengan sesama. Keterpautan antara manusia sebagai ‘yang sosial’ dan ‘yang berelasi’ menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk relasional. Hal itu diafirmasi oleh Armada Riyanto yang menempatkan manusia sebagai makhluk  relasional. [1]

Ungkapan relasionalitas manusia tampil dalam intimitas relasi yang dibangunnya dengan sesama, entah dengan pasangan, orang tua, keluarga, atau siapapun. Selain membangun relasi sejajar-horizontal dengan sesama, manusia yang sama juga membangun relasi dengan sosok yang tak kasat mata, Yang Besar, Yang Mahatinggi dan Yang Berkuasa, yakni Tuhan. Relasi manusia dengan Yang Mahatinggi atau sering disebut relasi vertikal ini bukan sebuah kebetulan. Relasi yang mendalam antara manusia dan Tuhan terjadi karena manusia bergantung pada Tuhan. Ia adalah semacam percikan dari Tuhan sebagai Yang Ilahi.

Dalam Kitab Kejadian, relasi ketergantungan manusia terhadap Tuhan pertama-tama terbentuk karena manusia adalah makhluk yang diciptakan seturut ‘gambar dan rupa’ Allah. Kejadian 1:26-27 membahasakan hal ini demikian: Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa  Kita… Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,  menurut gambar Allah  diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Baca Juga Kritik “Agama sebagai Candu Rakyat” Karl Marx dan Prinsip Keterlibatan Gereja dalam Penderitaan Manusia

Lukisan Kitab Kejadian ini menegaskan bahwa manusia perlu membangun relasi yang intim dengan Tuhan. Hal itu merupakan konsekuensi dari posisi manusia sebagai ciptaan yang mengambil rupa dan citra Tuhan. Ia mengalir, terpancar, dan merupakan percikan dari kesempurnaan Ilahi. Dimensi lain yang juga terpancar dari relasi ketergantungannya dengan Tuhan ialah keyakinan bahwa manusia sangat membutuhkan Tuhan. Sebab, dari Dia-lah manusia itu hidup, bergerak, dan ada (Bdk. Pewartaan Paulus di Aeropagus, Kis. 17:28). Adapun pertanyaan yang muncul seputar relasi manusia dengan Tuhan ini ialah, apa dan bagaimana manusia mewujudnyatakan relasinya dengan Tuhan?

Pertanyaan ini tentu saja mengarahkan kita pada iman. Iman merupakan cetusan relasi antara manusia dan Penciptanya. Iman merupakan tanggapan manusia atas pewahyuan diri Allah (revelasi) yang lahir dalam berbagai bentuk tindakan, baik secara lahiriah maupun batiniah. Yang lahiriah misalnya mewujud dalam perayaan-perayaan iman dan dalam doa, sedangkan yang batiniah lebih condong berkaitan dengan iman atau relasi personal antara manusia dan Tuhan. Tentang yang kedua ini, sifatnya ‘tersembunyi’.

Ketersembunyian berarti tidak terlihat oleh pribadi lain; hanya dia dengan Tuhan yang tahu kedalaman relasinya. Yang batiniah dan lahiriah ini selalu – meski tidak berlaku secara umum – saling mengandaikan dan menentukan. Artinya, yang lahiriah lahir dari yang batiniah dan yang batiniah melahirkan yang lahiriah; yang batiniah menentukan penghayatan tindakan lahiriah dan yang lahiriah selalu merupakan gambaran akan yang batiniah.

Penjelasan singkat di atas menuntun kita pada kesimpulan bahwa ungkapan relasi antara manusia dan Tuhan tercetus dalam iman. Pertanyaan yang muncul kemudian ialah apakah relasi antara manusia dan Penciptanya tidak mewujud dalam relasinya dengan sesama? Apakah relasi dengan Tuhan itu cukup dalam keterarahan pada-Nya melalui iman dan mengabaikan relasi atarmanusia, baik dalam lingkup bangsa dan agama yang sama, maupun dengan yang berbeda? Tidak.

Baca Juga Menenun Solidaritas, Menginterupsi Kekuasaan: Relevansi Sosial Perjamuan Kudus dari Sudut Pandang Teologi Kristen Protestan

Relasi manusia dengan Tuhan melalui iman mesti menopang sekaligus menyata dalam relasi yang dibangun manusia dengan sesama dan dengan ciptaan lain. Armada Riyanto, imam Kongregasi Misi (CM) sekaligus Guru Besar Filsafat di STFT Widya Sasana Malang dalam bukunya Relasionalitas Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen menegaskan, baik secara implisit maupun eksplisit, relasi intim antara manusia dan Tuhan melalui penghayatan iman mesti terungkap dalam relasi baik dan setara dengan sesama.[2]

Hemat Penulis, relasi baik dan setara artinya tidak saling merugikan, tidak saling menindas, tidak saling meneror, tidak membunuh orang lain, tidak mengganggu ibadah agama lain, tidak melarang pendirian rumah ibadat dan tidak saling menuduh: kafir, murtad, berdosa, najis, dan berbagai tuduhan sekaligus tindakan tak bersahabat lainnya. Pernyataan ini pada intinya menegaskan bahwa relasi antara manusia dan Penciptanya, iman (faith) akan Tuhan,  mesti tercermin dalam perilaku bermoral, beradab, bermartabat, seturut kodrat Sang Khalik dan malahan kodrat kemanusiaan kita yang senantiasa terarah pada kebaikan.

Uraian di atas ini mengingatkan kita bahwa iman sebagai ungkapan relasional manusia dengan sumber ‘citra dan rupanya’ selalu mengharuskan kebaikan dalam relasinya dengan sesama. Artinya, relasi vertikal mewujud pula dalam relasi horizontal antarmanusia, aku dengan yang lain, aku dengan ciptaan lain. Hal ini kemudian memunculkan persoalan baru yang berhubungan dengan perkara nyata dalam kehidupan harian kita sebagai manusia Indonesia, yakni berkaitan dengan kemunculan radikalisme dan terorisme.

Mengenai dua hal di atas, berbagai fenomena yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia bisa menjadi referensi yang tak dapat dibantah. Dua di antara sekian banyak peristiwa yang terjadi misalnya peledakan atau bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya pada 2018 silam [3] dan di Gereja Katedral Makassar beberapa waktu lalu.

Baca Juga Kontribusi Nilai Katolik Membangun Peradaban Politik-Ekonomi di Indonesia

Berhadapan dengan pengalaman atau situasi yang terjadi, pertanyaan yang patut dilontarkan ialah mengapa orang-orang ‘beriman’ atau ‘bertuhan’ menimbulkan penderitaan atau memusnahkan sesamanya demi relasinya dengan Yang Mahatinggi atau demi loyalitasnya dengan Allahnya atau demi hidup eskatalogisnya?

Menjawab persoalan yang ada, terlebih dahulu kita mesti mendalami apa motivasi di balik tindakan-tindakan ‘serong’ yang dilakukan kaum beriman dan bertuhan ini. Di antara banyak pengakuan, kesaksian, dan pembelaan yang mereka berikan, semua tindakan tersebut terdorong oleh keinginan untuk membela Tuhan serta yang paling mendasar ialah untuk memperoleh hikmah dalam hidup yang akan datang, yaitu memperoleh kebahagiaan akhirat.

Bila mengkritisi dan merefleksikan dalil-dalil yang ada, kita akan sampai pada jawaban masuk akal yang tak terbantah bahwa semua itu tidak benar. Alasannya ialah sebagaiberikut. Pertama-tama Tuhan pada hakikatnya Mahakuasa dan Mahasegalanya. Oleh karena itu, ia tidak perlu dibela. Kedua, Tuhan itu pengasih. Ia begitu mengasihi ciptaan-Nya. Jadi, Ia tidak mungkin memberikan semacam legitimasi bahwa tiket untuk mencapai kebahagiaan dalam nama-Nya adalah dengan membunuh atau membuat orang lain menderita. Ketiga, manusia tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan karena ia adalah ciptaan yang mengalir dari ‘rupa’ Tuhan. Ia tidak sempurna. Hal ini, dari sendirinya, membatalkan kemungkinan yang direka-reka bahwa manusia mampu berbuat sesuatu untuk membela Tuhan; bukankah sebaliknya: Tuhan yang membela dan menyelamatkan manusia. Jadi, bila manusia tetap ngotot membela Tuhan dengan cara yang tidak bernilai, maka betapa naif manusia itu dan betapa ia tidak tahu diri!

Baca Juga Harapan Kita Pasca “Ressurectio”

Setelah melihat motivasi di balik tindakan brutal dan sarkastik ini beserta gagasan untuk menentang dalil-dalil tindakan mereka, kini kita fokus pada pertanyaan mengenai sebab fenomena yang ada. Hemat Penulis, pelbagai peristiwa yang mengejutkan sekaligus mencederai martabat manusia sebagai makhluk sosial-relasional ini terjadi karena adanya pemahaman keliru mengenai relasi intim atau iman yang dibangun dengan Tuhan. Kekeliruan itu terletak pada pandangan bahwa mencintai-berelasi-mengarahkan diri pada Tuhan adalah jalan tunggal penghayatan iman. Padahal, iman akan Allah mestinya mewujud dalam kasih kepada sesama.

Selain itu, semua persoalan ini juga terjadi karena adanya pembacaan, penafsiran, dan penghayatan yang keliru, dangkal, diwarnai kepentingan pribadi-politis, setengah-setengah dan tidak utuh akan teks suci. Oleh karena itu, untuk mengatasi radikalisme-terorisme yang terjadi di tengah manusia Indonesia, satu-satunya cara yang tepat adalah dengan melakukan pembacaan yang benar akan teks suci, penafsiran yang utuh dan kontekstual, dan tentu saja penghayatan yang sungguh-sungguh mengedepankan maksud Tuhan, yakni cinta kasih, keadilan, damai sejahtera, pengampunan, dan keutamaan lainnya.

Semua maksud baik dari penafsiran yang benar di atas hanya terjadi apabila ada pendampingan khusus dan intens dari pelbagai pihak seperti pemerintah, masyarakat, ahli teks suci, para ahli tafsir, ahli sejarah, dan lain sebagainya. Mereka ini mesti bersatu dan bekerja sama secara efektif demi terciptanya pemahaman lurus mengenai relasi manusia dengan Tuhan sekaligus mengenai teks suci. Muaranya adalah hancurnya penafsiran keliru yang memunculkan radikalisme-terorisme dan terwujudnya relasi damai antarmanusia, khususnya manusia Indonesia.


Catatan Kaki

[1] Armada Riyanto, Relasionalitas-Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen (Yogyakarta: Kanisius, 2013), p. i.

[2] Bisa disimak dalam Armada Riyanto, Relasionalitas-Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen.

[3] https://nasional.tempo.co/read/1088304/ledakan-bom-di-surabaya-terjadi-di-tiga-gereja/full&view=ok (TEMPO.CO,Minggu, 13 Mei 2018), diakses pada Sabtu 26 Juni 2021.

Daftar Pustaka

Riyanto, Armada. Relasionalitas-Filsafat Fondasi Interpretasi: Aku, Teks, Liyan, Fenomen (Yogyakarta: Kanisius, 2013)

https://nasional.tempo.co/read/1088304/ledakan-bom-di-surabaya-terjadi-di-tiga-gereja/full&view=ok (TEMPO.CO,Minggu, 13 Mei 2018), diakses pada Sabtu 26 Juni 2021.

Hemat Penulis, pelbagai peristiwa yang mengejutkan sekaligus mencederai martabat manusia sebagai makhluk sosial-relasional ini terjadi karena adanya pemahaman keliru mengenai relasi intim atau iman yang dibangun dengan Tuhan. Kekeliruan itu terletak pada pandangan bahwa mencintai-berelasi-mengarahkan diri pada Tuhan adalah jalan tunggal penghayatan iman. Padahal, iman akan Allah mestinya mewujud dalam kasih kepada sesama.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Murka Mural

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »