Facebook

Eksistensi Pengguna Facebook di Tengah Arus Kapitalisasi Media Sosial

Pengguna Facebook dapat dikategorikan sebagai surplus labour, karena mereka memproduksi surplus value bagi korporat media dengan menggunakan waktu senggang, di luar jam kerja.

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada bulan Mei 2021, saya bersama seorang teman membincangkan beberapa perkara seputar aplikasi media sosial (medsos) Facebook.

Di halte kos, sambil seruput kopi dan menikmati udara senja, teman saya mengaku bangga menggunakan Facebook ini. Baginya, Facebook sangat membantu dia dalam berinteraksi dengan banyak teman sekolahnya, baik teman SD, SMP, maupun SMA, yang sekarang tersebar di beberapa tempat yang berbeda.

Selain itu, melalui Facebook, dia bisa mengetahui sebagian aktivitas dari orang yang dikenalnya, melalui foto atau video live-streaming yang ditayangkan.

Dia juga mengaku, terkadang dia meng-uploude foto dan status di Facebook, tetapi tidak dilakukan setiap hari. Dia juga berselancar di medsos tersebut pada waktu senggang, seperti sehabis kuliah, saat nongkrong di kafe, atau sebelum istirahat malam.

Dia tidak merasa sedang bekerja saat bermain Facebook. Me-like postingan orang ataupun mengunggah foto dan status tidak dia lihat dan rasakan sebagai kerja, sebab tidak menghabiskan tenaga.

Baca Juga Media Sosial, Remaja, dan Orang Tua

Berselancar di media sosial tersebut, menurutnya, lebih dinikmati sebagai aktivitas rekreatif.

“Saya tidak merasa rugi, atau lelah, atau membuang tenaga [saat main Facebook],” terangnya.

Bertolak dari fakta tersebut di atas, tulisan ini mencoba membongkar kesadaran user medsos perihal eksitensi mereka. Seperti apa sebenarnya eksistensi user media sosial dalam menggunakan salah satu platform digital?

Tulisan ini bertolak dari pemahaman kapitalisasi medsos. Bahwa, medsos digunakan oleh korporat media untuk mengakumulasi kapital ekonomi.

Tulisan ini dimulai dengan gagasan kapitalisme medsos, yang sebagian besar berangkat dari gagasan Christian Fuchs (2014). Selanjutnya, dideskripsikan perihal eksistensi pengguna media Facebook dalam perspektif kapitalisasi medsos.

Kapitalisasi Media Sosial

Christian Fuchs (2014) menggunakan pendekatan ekonomi politik untuk mengkritisi eksistensi medsos. Pendekatan kritis ini penting, karena sebagian besar masyarakat dunia, terkhusus Indonesia menggandrungi berbagai medsos dan seakan terjebak terlalu jauh dalam beragam platform digital tersebut.

Dalam catatan Hootsuite dan We Are Social pada Januari 2020, dari total 175,4 juta pengguna internet, pengguna medsos aktif di Indoensia mencapai 160,0 juta orang.

Jika dibandingkan setahun sebelumnya, Januari 2019, pengguna internet meningkat 25 juta (17 %), sementara pengguna medsos aktif meningkat 12 juta (8,1%).

Berbagai macam aktivitas diekspresikan di ruang maya tersebut, mulai dari berdagang, hingga menyebarkan beragam konten, baik yang destruktif, seperti hoaks dan isu SARA, maupun yang konstruktif.

Pada titik ini, medsos tidak disadari sebagai instrumen kapitalis untuk mengeksploitasi konsumen atau user media.

Dalam pendekatan techno-deterministic, kemunculan teknologi dinilai dapat membentuk masyarakat demokratis.

Pemahaman kaum techno-deterministic, seperti Jenkins (2008), Shirky (2008), dan Tapscott & Wiliams (2007) ini semakin mapan menurut Fuchs, ketika web 2,0 hadir sebagai situs yang mengedepankan partisipasi konsumen (2014: 98).

Ringkasnya, ekspresi partisipatif dalam medsos dilihat sebagai a positive cause dari kemajuan teknologi.

Baca Juga Terorisme melalui Media Digital dan Urgensi Literasi Media

Pemahaman kaum techno-deterministic tersebut kemudian diafirmasi oleh culture studies, yang anti sentralistik dan status quo.

Pendekatan culture studies mengafirmasi dampak positif dari perkembangan teknologi, terkhusus medsos.

Ekspresi partisipatif pengguna medsos, seperti memproduksi konten, membangun jaringan relasi dan komunitas maya, serentak dinilai sebagai bagian dari kultur demokratis yang mengedepankan kebebasan dan anti-sentralistik.

Dalam culture studies, aktivitas dan kreativitas user dalam medsos dilihat sebagai bagian dari karakter aktif resepien (active character of recepiens) (Fuchs, 2014: 108).

Di sini, resipien tidak hanya berperan sebagai konsumen aktif, tetapi juga sebagai produser. Pengguna tidak hanya mengonsumsi konten, tetapi juga memproduksi atau mengkreasikan konten.

Alvin Toffler (1980) menyebut eksistensi resipien yang demikian sebagai prosumer, yang mana terjadi ketidakjelasan garis batas antara konsumen dan produser dalam era teknologi.

Kampanye partisipatif korporat media bagi Fuchs hanyalah sebuah cara untuk mengelabui konsumen.

Duez (2008) sebagaimana dikutip Fuchs, dalam penelitiannya menegaskan, bahwa “korporasi memanfaatkan kultur partisipatoris” (2014: 98).

Menurut Fuchs korporat media tidak pernah mengungkapkan aktivitas kapitalisme di balik medsos.

Mereka tidak mengemukankan perihal orientasi profit, tetapi lebih hanya menekankan nilai gunanya yang partisipatoris.

Facebook, misalnya, mengatakan bahwa “ia membantumu untuk terkoneksi dan berbagi dengan orang-orang lain dalam hidupmu”. Atau Twitter berargumen bahwa “ia memungkinkanmu untuk berkoneksi dengan teman-teman dan orang-orang menarik lainnya” (Fuchs, 2016: 1).

Di sana, tidak ada pembicaraan perihal profit atau kapital.

Baca Juga “Bullshit Needs” dan Kegelisahan Ruang Sosial Kita

Bagi Fuchs, media sosial merupakan medan eksploitatif. Konsep partisipasi dalam medsos menurutnya hanyalah sebuah ideology kerja kapitalis.

Karena itu, dia tegaskan, “… web 2.0 bukan sebagai sistem partisipatif, tetapi dengan menggunakan istilah yang lebih negatif dan kritis seperti eksploitasi kelas dan nilai lebih” (Fuchs, 2014: 102).

Dalam ekonomi politik medsos, user sebenarnya dieksploitasi.

Namun itu tidak disadari. Ini terjadi, sebagaimana diakui teman saya sebelumnya, karena bermedia sosial adalah bagian dari aktivitas rekreatif, bermain.

Nilai kerjanya sama sekali tidak dirasakan, karena tidak melelahkan, juga tidak menguras tenaga.

Hal ini juga diafirmasi oleh Fuchs (2014), bahwa kerja dalam bermedia sosial adalah kerja bermain (playbour).

Para playbour ini menurutnya, tidak bisa membedakan antara waktu kerja dan waktu luang. Waktu luang yang seharusnya digunakan untuk kegiatan produktif lainnya misalnya, digunakan oleh playbour untuk berselancar dalam medsos, yang mana itu bagian dari kerja eksploitatif yang tidak disadari.

Pengguna media sosial seakan tidak menyadari, bahwa bermain medsos adalah bagian dari kerja yang eksploitatif.  Kerja untuk korporat medsos.

Hal yang mesti disadari dari gerak kapitalisasi medsos bahwasanya dalam pergerakan akumulasi modal, korporasi media hanya menginvestasikan uangnya untuk membeli kapital, yakni teknologi (infrastruktur teknologis) dan tenaga kerja (operator) yang berkeahlian dalam bidang IT.

Hasil produksi dari kapital tersebut, berupa platform digital. Platform digital tersebut merupakan komoditas yang tidak dijual, tetapi disediakan secara gratis bagi masyarakat konsumen.

Di sini, para manajemen perusahaan (pekerja yang dibayar) berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari layanan tidak berbayar tersebut (Fuchs, 2014).

Baca Juga Pemimpin (Daerah) Harus Melek Media Sosial

User kemudian menggunakan medsos/platform digital, dengan memproduksi konten, meng-uploude foto, menulis dan mengomentari postingan sendiri atau teman, melakukan share dan like.

Segala aktivitas pengguna tersebut, termasuk data yang “diisi” saat pendaftaran terekam dalam sistem algoritma dan diawasi oleh pekerja yang dibayar (operator).

Kemudian aktivitas online dan data pengguna medsos dikomodifikasi dan dijual kepada pihak periklanan.

Di sini pengguna yang disebut sebagai prosumer dieksploitasi secara tak terbatas (infinitely exploited) (Fuchs, 2014).

Menurut Fuchs, “pengawasan ekonomi pada korporasi social media adalah pengawasan pada audiens, yang secara dinamik dan permanen menciptakan dan membagikan user-generated content (konten buatan pengguna), menelusuri profil dan data, interaksi dengan orang, mengikuti, membuat, dan membangun komunitas dan co-create information. Operator platform media sosial dan klien periklanan pihak ketiga, kemudian memonitor dan merekan secara kontinu aktivitas online personal pengguna” (2014: 108).

Di sini, media yang mendasarkan pendapatannya pada iklan serentak menjadikan prosumer sebagai komoditas untuk klien periklanan.

Sebagai komoditas, prosumer secara ekplisit dijual oleh perusahaan media.

Pada titik ini, nilai tukar komoditas prosumer medsos adalah nilai uang yang diperoleh operator dari kliennya.

Nilai kegunaannya adalah banyaknya data pribadi dan perilaku penggunaan (Fuchs, 2014).

Karena itu, secara logis dapat dibaca bahwa semakin banyak pengguna aktif dalam medsos, berarti komoditas korporasi semakin banyak, berikut nilai tukar semakin meningkat.

Secara ringkas dapat dijelaskan, bahwa pendekatan ekonomi politik media Fuchs adalah sebuh pendekatan untuk mengkritisi kerja kapitalisme dalam media sosial.

Sebagaimana dijelaskannya, refleksi kritis ekonomi politik adalah karakter aktif dan kreatif pengguna merupakan sumber eksploitasi kapitalis (Fuchs, 2014).

Pendekatan ekonomi politik ini secara eksplisit membangunkan kesadaran pengguna dari ketertindasan yang tidak disadari.

Eksistensi Pengguna Media Sosial Facebook

Bertolak dari pendekatan kritis ekonomi politik media sosial tersebut di atas, dapat secara gambalang dilihat, bahwa pengguna medsos pada dasarnya adalah pekerja sekaligus komoditas.

Douglas Rushkoff (2013) dalam Fuchs, menerangkan bahwa “they are Facebook’s paying customers. We are product and we are its workers” (Fuchs, 2014: 170).

Dalam kerja kapitalisasi medsos, konsumen adalah produk yang dikomodifikasi, sekaligus serentak sebagai pekerja-produsen yang mengahasilkan produk yang dikomodifikasi.

Pengguna Media Facebook sebagai Pekerja Digital

Dalam pemahaman Marx, sebagaimana dikutip Fuchs (2014) dalam buku Digital Labour and Karl Marx, kerja merupakan aktivitas manusia dalam menciptakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan.

Lebih lanjutnya, seperti dikutipnya dari Marx dan Engels (1845/1846), menyebutkan bahwa kerja adalah aktivitas produktif yang disadari yang mengubah dan mengatur alam, sehingga manusia “memproduksi alat penghidupannya” untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang merupakan produksi dari kehidupan material itu sendiri (Fuchs, 2014: 25).

Dengan demikian, kerja merupakan aktivitas produktif yang menghasilkan sesuatu, untuk suatu kebutuhan dalam hidup.

Adapun pemahaman kerja dalam masyarakat kelas menurut Marx yang juga dikutip Fuchs (2014), adalah bahwa tenaga kerja diatur sedemikian rupa sehingga produk kerja dan surplus labour diambil alih dan dimiliki oleh kelas dominan yang mengeksploitasi surplus labour.

Surplus labour yang dimaksud adalah kerja yang melampaui waktu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.

Dalam konteks ini, kerja extra time yang menghasilkan nilai lebih (surplus value) dari surplus labour dimanfaatkan oleh pemilik kapital (alat produksi).

Dari pemahaman tersebut di atas, pengguna Facebook dapat dikategorikan sebagai surplus labour, karena mereka memproduksi surplus value bagi korporat media dengan menggunakan waktu senggang, di luar jam kerja.

Berselancar dalam Facebook merupakan aktivitas kerja tanpa batas waktu yang ditentukan.

User memproduksi konten seperti meng-uploude foto, memposting status, melakukan share dan like, dan juga mengisi data saat pendaftaran.

Inilah aktivitas sekaligus produk yang mengandung nilai tukar yang dihasilkan user.

Pada titik ini, jelas terlihat bahwa user menggunakan waktunya yang tak terbatas untuk memproduksikan produk pada perusahaan Facebook.

Baca Juga Strategi Membongkar Hoax pada Media Online dalam Tinjauan Teori Falsifikasi Karl R. Popper

Namun, perusahaan Facebook tidak mengupah pekerja (surplus labour), yang adalah pengguna tersebut.

Jika dinyatakan, bahwa upah user adalah akses layanan gratis ke media sosial dan kemudahan konstruksi jaringan, namun bagi Fuchs (2014) akses layanan terhadap media sosial, tidak dapat dikonversikan ke dalam “gaji”, sebab itu tidak dapat membeli makan.

Para pengguna yang bekerja dalam memproduksi data dan konten, serta berbagai aktivitas online di Facebook tidak mendapatkan upah.

Hasil produksi mereka dikonversi ke dalam nilai tukar oleh korporasi Facebook.

Surplus value yang diproduksi user dimanfaatkan oleh korporat media. Nilai tukar yang diproduksi user mengalir ke saku korporat.

Pengguna Facebook sebagai Komoditas

Bertolak dari deskripsi cara kerja kapitalisme media sosial, yang menjual data diri serta aktivitas online pengguna, penulis mengkonklusikan, bahwa korporat media, tidak hanya mengeksploitasi, tetapi juga memproduksi komoditi, dalam hal ini user.

Bahwasanya, melalui modal alat teknologi dan tenaga kerja berbayar (operator yang bekompeten dalam hal IT), korporat membuat platform digital, seperti Facebook misalnya.

Produk ini kemudian dipublikasikan atau ditawarkan kepada masyarakat secara gratis.

Namun, pihak korporat media tetap memikirkan cara untuk mengakumulasi modal dari aplikasi yang ditawarkan secara gratis tersebut.

Masyarakat kemudian beramai-ramai menggunakan Facebook, salah satu produk digital, sebagai sarana untuk membangun relasi sosial, sekaligus mengonsumsi dan memproduksi konten.

Korporat media mendulang kapital melalui kreativitas partisipatoris masyarakat prosumer. Jadi secara tidak langsung, koroprat media memproduksi komoditas, yakni “manusia-user” demi akumulasi kapital.

Aktivitas pengguna media sosial, mulai dari uploude foto, memposting satatus, share dan klik, serta data individual yang diisi saat pendaftaran akun dijual korporat Facebook kepada klien iklan (Fuchs, 2014).

Jadi, secara eksplisit para pengguna yang menyerahkan data privasi dan meningkatkan aktivitas online dikomodifikasi dan dijual.

Fuchs katakan, “Facebook privacy is privacy for the company, not user privacy” (Fuchs, 2014: 171).

Peningkatan kuantitas konsumen aktif, berjalan linear dengan peningkatan pendapatan korporasi Facebook.

Sebab, sebagai salah satu media yang bergantung pada periklanan, kuantitias pengguna atau konsumen aktif sangat dibutuhkan.

Semakin banyak user, data untuk komodifikasi semakin membengkak, dan kemudian niscaya pendapatan semakin “gendut”.

Baca Juga Media di Fajar Revolusi Digital 

Dalam laporannya pada tahun 2020, misalnya, di tengah kegelisahan sebagian besar perusahaan akibat COVID-19, Facebook mengumumkan perusahaannya membukukan pendapatan USD 28 miliar atau setara Rp 395,5 triliun.

Dari jumlah tersebut, keuntungan atau laba yang diperoleh Facebook sebesar USD 11,2 miliar atau setara Rp 158 triliun. Laba Facebook naik 53 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari total pendapatan tersebut, bisnis iklan berkontribusi paling tinggi, yakni USD 27 miliar, setara Rp 381,4 triliun (liputan6.com, 29/01/2021).

Desakan situasi di tengah krisis kesehatan pandemik COVID-19, memungkinkan orang berjejal ke dalam medsos.

Aktivitas online selama pandemik tentu menguntungkan perusahaan media sosial yang berbasis periklanan. Karena itu, tidak mengherankan, sebagai media yang bergantung pada pengiklan, perusahaan Facebook tidak mengalami degradasi selama krisis kesehatan tahun 2020.

Namun, di tengah panenan pendapatan yang melimpah, pengguna media Facebook terus dieksploitasi, diperas, dan dimanfaatkan.  

Penutup

Kemunculan beragam platform digital serentak membawa kita pada information age.

Informasi menjejal hampir pada setiap setiap ruang maya.

Setiap hari, para pengguna medsos terus mengonsumsi beragam informasi dan konten.

Eksistensi medsos yang mudah diakses dan digunakan tanpa biaya, memungkinkan pengguna untuk kemudian tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen.

User atau konsumen berkebebasan dan mempunyai ruang untuk memproduksi informasi atau konten. Ketiadaan batas yang jelas antara konsumen dan proudser dalam media sosial disebut prosumer.

Ekpsresi prosumsi (produksi dan konsumsi) ini seakan menggiring user pada keadaan unconsciousness.

Baca Juga Norma dalam Normal; Laju Kapital dalam Sirkuit Digital

User tidak menyadari, bahwa mereka sedang dimanfaatkan dan diekploitasi oleh korporat media. User juga tidak merasa bahwa mereka sedang dipekerjakan dan dikomodifikasi oleh korporat media.

Kebebasan dalam praktek prosumsi serentak menggiring kesadaran para pengguna pada sisi partisipatif dan rekreatif dari penggunaan media sosial.

Para pengguna tidak menyadari, bahwa data diri serta aktivitas online mereka terus terekam untuk kemudian dijual pada klien periklanan perusahaan media sosial.

Para pengguna mesti menyadari, bahwa mereka sedang dieksploitasi. Kerja mereka dalam memproduksi konten tidak dibayar. Waktu luang mereka dicaplok oleh korporat media secara tidak langsung.

Eksistensi mereka sebagai konsumen dikomodifikasi. Kesadaran akan kerja kapitalisasi media ini urgen, agar user tidak menyianyiakan waktu luang atau terjebak terlalu jauh dalam bermedsos.

Dengan demikian, user bisa memanfaatkan media sosial sebagai instrumen untuk kebutuhan urgen; semisal memanfaatkannya untuk mengakumulasi kapital.

Kapital yang dimaksud, sebagaimana ditegaskan Bourdieu (1986), bukan hanya berkaitan dengan kapital ekonomi, tetapi juga kapital sosial (reasi sosial), dan kapital kultural (pendidikan-ilmu pengetahuan).

Daftar Pustaka

Bourdieu, Pierre. 1986. “The Forms of Capital.” Hlm. 241-258. Dalam Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education. New York: Greenwood Press.

Fuchs, Christian. 2014. Digital Labour and Karl Marx. New York and London: Routledge.

———-. 2014. Social Media, a Critical Introduction. London: Sage Publications.

———-. 2016. Reading Marx in the Information Age, a Media and Communication Studies Perspective on Capital Volume 1. New York and London: Routledge.

Hootsuite & We Are Social. 2020. “Indonesian Digital Report 2020”. Hootsuite & We Are Social, Januari 2020. Diakses 1 Juni 2021 (https://datareportal.com/reports/digital-2020-indonesia).

Toffler, Alvin. 1980. The Third Wave. New York: Bantam.

Wardany, Setyo A. 2021. “Laba Facebook Capai Rp 158 Triliun Karena Lonjakan Pengguna Saat Pandemi”. 29 Januari. Diakses 1 Juni 2021 (https://www.liputan6.com/).

Pengguna Facebook dapat dikategorikan sebagai surplus labour, karena mereka memproduksi surplus value bagi korporat media dengan menggunakan waktu senggang, di luar jam kerja.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »