Makanan

Berilah Kami pada Hari Ini Makanan yang Secukupnya: Seruan Pembebasan dan Resistensi terhadap Pemimpin yang Korup

Sebagaimana dikatakan Leonardo Boff, doa “Bapa Kami” dalam Kekristenan memiliki dua dimensi, yakni perihal Bapa kami dan makanan kami. Tulisan ini menyoroti dimensi kedua dari doa tersebut dan mengaitkannya dengan laku korupsi di NTT yang kerapkali diperlihatkan oleh para pejabat publik.

Pengantar

Tertulianus (160-225) pernah mengatakan bahwa doa Bapa Kami adalah breviarum totius evangelii, ringkasan seluruh Injil. Doa ini berasal dari mulut Yesus sehingga orang Kristen menyebutnya ipsissima vox Jesus. Menurut Leonardo Boff, apa yang terpenting dan hakiki dalam doa Bapa Kami ialah Abba-Bapa dan pemerintahan Allah, dan umat manusia dan kebutuhan mereka. Bahkan, secara lebih singkat dan padat, Boff mengatakan, doa tersebut adalah tentang Bapa kami dan makanan kami dalam busur mimpi tentang pemerintahan Allah.

Kedua aspek itu tidak boleh dipisahkan, melainkan mesti dijaga kesatuannya; hanya dengan keduanya, manusia dapat dengan tulus mengatakan: Amin. Kendati demikian, kebanyakan orang Kristen lebih memusatkan perhatian pada dimensi utama pertama, yakni “Bapa kami”; mereka menyanyi, menari dan bersukacita karena memiliki Bapa di surga yang sedang mempersiapkan pemerintahan bagi kita, namun melupakan “makanan kami” dan dengannya lepas pula dari ingatan lengkingan orang lapar yang mendesing dari bumi ke surga.[1]

Baca Juga Sikap Jaringan GUSDURian Terkait Proses Seleksi Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi

Karena itu, tulisan singkat ini secara hati-hati akan memberi perhatian pada dimensi utama kedua dari doa Bapa Kami yang sering terlupakan dalam Kekristenan: “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11). Hal ini diupayakan sebagai pijakan bagi Gereja dalam memaknai diri sebagai Komunitas kritis di tengah kekuatan destruktif yang meliar di NTT, yang secara nyata melalui tindakan korupsi yang merugikan manusia dan menyebabkan jutaan orang menderita dalam kemiskinan; sembari tetap mengingat bahwa mengabaikan dimensi utama pertama adalah juga naif sebab dengan bertindak demikian kita tidak peduli dengan memuaskan rasa lapar tak terpuaskan untuk sebuah pelukan hangat tak terbatas yang tidak dapat diberikan oleh makanan tetapi hanya oleh Allah.[2] Allah tidak ingin manusia menderita. Ia adalah sumber kebaikan dan lawan kejahatan; Ia mendukung segala yang baik dan melawan segala praktik kelaliman para penguasa manusiawi yang korup.

Korupsi sebagai Wabah Sosial Terburuk

Korupsi merupakan suatu fenomena yang sungguh global. Tidak ada satu pun Negara yang sungguh bebas korupsi meskipun kadar korupsi berbeda di pelbagai Negara. Menurut Corruption Perception Index tahun 2020, untuk level Negara yang bebas korupsi, Indonesia berada pada peringkat 102 dari 180 Negara di dunia, dengan total nilai 37. Skor ini merosot tiga poin dibanding tahun 2019 lalu.[3] Padahal Indonesia adalah sebuah bangsa yang sering menunjukkan religiusitasnya dalam berbagai bidang kehidupan publik.

Provinsi NTT, yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Kristen, pun tidak kebal terhadap korupsi. Ditemukan bahwa baru dalam caturwulan I (Januari-April) tahun 2021, tercatat tiga kasus dengan jumlah tersangka 8 orang dan total kerugian sebesar Rp. 2.753.040.739.[4] Ironisnya, NTT justru menempati peringkat tiga provinsi termiskin di Indonesia dengan 1.169,31 ribu orang miskin.[5] Hal ini memperlihatkan bahwa kejahatan benar-benar ada dan merupakan daya negatif yang kuat dalam sejarah, yang berdampak pada semakin lebarnya jurang antara yang kaya dengan yang miskin.

Baca Juga Liputan Investigasi “yang Entah Mengapa Gagal” dan Ekonomi Politik Pemberantasan Korupsi di NTT

Andreas Yewangoe menyitir bahwa korupsi adalah extraordinady crime, kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan; pengaruhnya yang jahat tidak terbendung lagi memasuki berbagai relung kehidupan.[6] Ia menjadi sistem budaya, ekonomi dan politik, bahkan mungkin telah menaklukkan agama-agama dan terinternasilasi dalam kehidupan masyarakat; sehingga menuntun kita pada suatu kebenaran yang pernah diungkapan oleh Paus Fransiskus: “Korupsi adalah tindakan menjadi pengikut iblis, bapa segala dusta.”[7]

Para pelaku korupsi pun tidak lagi memiliki rasa malu; mereka menebar senyuman ketika diadili, bahkan sesudah dihukum, dan juga tak sungkan untuk melambaikan tangan terhadap wartawan dan pengunjung, seolah korupsi adalah tindakan terpuji. Beberapa lagi menunjukkan religiusitas mereka kepada publik dengan berdoa dan mengatakan bahwa hal ini hanyalah ujian dari Allah. Hilangnya rasa malu ini karena persoalan-persoalan itu dilihat sebagai sesuatu yang wajar,[8] dan tidak lagi dianggap sebagai kejahatan, tetapi dihayati sebagai sesuatu yang normal dan alami. Di titik inilah kejahatan telah mencapai klimaksnya. Reaksi yang tepat terhadap kejahatan adalah perlawanan yang konkret.

Bapa Kami dan Makanan Kami

Kita tidak boleh kehilangan perspektif terpadu dan hakiki dari amanat Yesus: menyatukan Bapa kami dengan makanan kami; karena hanya dengan demikian keselamatan utuh terpadu tercapai. Dengan demikian, kita akan berupaya sedemikian rupa agar tidak kehilangan keutuhan amanat tersebut dalam menelisik: “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11).

Pertama, Alkitab selalu memperlihatkan bahwa makan adalah cara alami yang dipakai Allah untuk memelihara (providing) manusia. Allah adalah pemberi manna yang setia hari demi hari. Dalam iman seperti inilah Yesus secara khusus mengajari dan mendoakan apa yang menjadi kebutuhan terdalam dari setiap orang yang hidup: makanan! – “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.

Permintaan agar Allah memberikan makanan merupakan suatu pengakuan bahwa ketidakadilan sedang berlangsung dalam penyaluran kebutuhan pokok manusia yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat pada zaman itu. Sementara kelompok elit hidup berkelimpahan, pada saat yang sama umat manusia yang lain hidup dalam kekurangan.[9] Dengan kata lain, doa ini mengandung seruan pembebasan bagi kaum tertindas yang tidak bisa mendapatkan makanan untuk sekadar bertahan hidup, serta resistensi terhadap pemimpin yang korup.

Kedua, menyitir Joas Adiprasetya, doa ini mengajarkan prinsip: “kebergantungan pada Sang Pemelihara akan kebutuhan dasar yang secukupnya bagi semua orang.” Adiprasetya berujar bahwa prinsip ini sama sekali tidak memberi ruang untuk keserakahan (greed). Maka, korupsi sejatinya merupakan suatu tindakan menolak providensia Allah, ia menghilangkan pentingnya dependensi pada Sang Pemelihara[10]. Senada dengan itu, Georg Kirchberger merilis bahwa korupsi menggambarkan naluri manusia yang tegar tengkuk, yang tidak meyakini bahwa Allah bisa diandalkan dan diharapkan, dan karena itu ia menjamin dirinya sendiri dengan menggunakan segala kemungkinan untuk memperkaya diri.

Baca Juga Kepala Daerah dalam Lingkaran Korupsi

Seruan untuk bergantung sepenuhnya pada Allah adalah perlawanan terhadap tendensi tersebut dan membebaskan manusia dari paksaan untuk selalu mencari dan mengumpulkan semakin banyak harta kekayaan, serta mengafirmasikan bahwa Allah bisa dipercayai dan diandalkan sebagai sumber kehidupan. Pada titik ini, manusia tetap membutuhkan usaha untuk menghasilkan apa yang ia butuhkan untuk hidup sehari-hari, tetapi ia dibebaskan dari usaha berlebihan yang memaksa untuk selalu mencari lebih banyak lagi dengan melegalkan beragam cara.[11]

Ketiga, doa Bapa Kami bukanlah doa individual, melainkan doa komunal dan malah sosial. Ini berarti bahwa mencari kepuasan individual atas rasa lapar tanpa mengindahkan rasa lapar saudara dan saudari kita yang lain sejatinya adalah pelanggaran atas kekerabatan yang dikehendaki Yesus. Yesus tidak memerintah kita untuk berdoa agar diberikan makanan saya, tetapi makanan kami.[12] Hilangnya kesadaran ini membuat manusia lebih menempatkan kepentingan individu di atas kepentingan bersama dengan melakukan penipuan dan menyebarkan kebongan untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang sebanyak-banyaknya dengan kedok melayani masyarakat.[13]

Akhirnya, Yesus yang mengajari “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” adalah Yesus yang sama yang berseru pada salib di ujung batas hidupNya: “Aku haus” (Yoh. 19:28). Seruan ini adalah seruan solidaritas yang amat dalam, seruan empati. Yesus mengambil derita jutaan umat manusia yang dahaga dan lapar karena kekurangan bahan pangan menjadi milikNya dan membawanya kepada Abba, BapaNya, sementara segelintir orang berpesta-pora tanpa peduli pada sesamanya.[14] Korupsi dengan demikian adalah dosa yang mematikan!

Penutup

Kajian di atas sekiranya dapat menjadi spirit bagi gereja dalam memaknai diri sebagai komunitas kritis di tengah kajahatan yang berlangsung hari-hari ini, secara khusus perilaku korup penguasa manusiawi yang melukai dan memperbudak, yang “menindas kebenaran dengan kelaliman” (Rm. 1:18), yang berpesta-pora di atas derita kaum tertindas, subaltern. Bersamaan dengan itu, gereja juga dapat menjadi teladan agar jangan sampai di dalam gereja sendiri terjadi korupsi besar-besaran tetapi tidak diusut, karena kasus itu dianggap kurang pantas dan “tidak gerejawi.”

Gereja mesti berusaha sekuat tenaga untuk berontak terhadap perilaku korup yang menghidupkan segelintir orang dan mematikan jutaan manusia lainnya. Dan hal ini hanya mungkin kalau gereja sendiri tidak menjadi alat legitmasi terhadap ketidakadilan dan tidak dikuasai oleh koruptor yang bertopengkan “memberi bantuan bagi pembangunan gedung gereja”, serta tidak anti “revolusioner.” Tetapi berupaya sedemikian dalam untuk mengembalikan “kasih” yang semula bersifat revolusioner dengan tidak mengartikan sebagai larangan untuk memberontak bagi kaum tertindas, sebab kasih mengangkat harkat dan martabat orang lemah![15]

Karena Allah tidak dapat dikenal kecuali dalam praktik keadilan dan cinta persaudaraan, maka kebobrokan dan kejahatan haruslah ditantang demi terwujudnya pemerintahan Allah yang diwarnai kejujuran, cinta, belas kasih, dan kebebasan.[16]


[1] Leonardo Boff, Kekristenan: Sebuah Ikhtisar (Maumere: Penerbit Ledalero, 2014), 118.

[2] Boff, Kekristenan,  118-119.

[3] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210128134510-12-599524/ranking-indeks-korupsi-indonesia-merosot-urutan-102-dari-180.

[4] Pada tahun 2018 ditemukan 11 kasus dengan jumlah tersangka 24 orang dan total kerugian tujuh miliar dua ratus lima puluh juta dua lapan-lapan lima satu lapan ribu rupiah. Tahun berikutnya, 2019, jumlah kasusnya ada 8 dengan tersangka 21 orang dan nilai kerugian meningkat menjadi 12 miliar seratus delapan belas juta, sembilan puluh satu ribu 388 rupiah. Di tahun 2020, jumlah kasus menanjak menjadi 18 kasus dengan jumlah tersangka 55 orang dan nilai kerugian mencapai satu triliun, tiga ratus 78 miliar, lima ratus tujuh puluh lima juta lima ratus lima puluh sembilan ribu lima puluh empat rupiah. Lih.  https://rri.co.id/kupang/daerah/1043136/aji-kupang-dan-icw-rilis-tren-penindakan-kasus-korupsi-di-ntt-caturwulan-i-2021-jauh-dari-harapan.

[5] Profil Kemiskinan di Provinsi NTT Maret 2021 No. 05/07/5300/Th. XXI, 15 Juli 2021. Lih.  https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/08/02/jumlah-penduduk-miskin-di-ntt-turun-422-ribu-penduduk-pada-maret-2021.

[6] Andreas Yeangoe, Tidak Ada Negera Agama (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 275.

[7] https://www.satuharapan.com/read-detail/read/paus-fransiskus-korupsi-adalah-perilaku-iblis.

[8] Binsar Pakpahan, Mengembalikan Malu Spiritual (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2020), 21-23.

[9] Bnd. Paulina Danggo, Rekonstruksi Masyarakat Baru Dalam Doa Bapa Kami, h. 23. https://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/8890/3/T1_712009058_Full%20text.pdf.

[10] Joas Adiprasetya, Tujuh Dosa yang Mematikan – Seven Deadly Sins https://gkipi.org/tujuh-dosa-yang-mematikan-seven-deadly-sins/.

[11] Georg Kirchberger, “AKAR KORUPSI” dalam Jurnal Ledalero, Vol. 15, No.1,( Juni 2016), 86-87.

[12] Boff, Kekristenan, 117.

[13] https://www.satuharapan.com/read-detail/read/paus-fransiskus-korupsi-adalah-perilaku-iblis.

[14] Adiprasetya,https://gkipi.org/tujuh-dosa-yang-mematikan-seven-deadly-sins/.

[15] Bnd. Eka Darmaputera, Etika Sederhana Untuk Semua (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2015), 42.

[16] Georg Kirchberger, Memahami Iman Dalam Dunia Sekuler (Maumere: Penerbit Ledalero, 2014), 82, 86.

Sebagaimana dikatakan Leonardo Boff, doa "Bapa Kami" dalam Kekristenan memiliki dua dimensi, yakni perihal Bapa kami dan makanan kami. Tulisan ini menyoroti dimensi kedua dari doa tersebut dan mengaitkannya dengan laku korupsi di NTT yang kerapkali diperlihatkan oleh para pejabat publik.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Murka Mural

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »