Pendidikan

Lawan Pembodohan! Paulo Freire tentang Pendidikan Kritis Kaum Tertindas

Dari Freire kita belajar: keadilan sosial hanya tinggal sebagai mimpi yang digantungkan setinggi langit ketika pendidikan kita masih berwatak kolonial, feodal, konservatif, dan anti-akal sehat.

Selama ini, pendidikan sering dipahami sebagai metode pengajaran, yaitu guru mengalihkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada para siswa. Dalam teori pendidikannya, Paulo Freire melakukan kritik fundamental terhadap pandangan tersebut. Menurutnya, gaya pendidikan seperti itu adalah upaya pembodohan serentak penindasan. Segala bentuk penindasan di bawah kolong langit ini adalah buah kawin silang antara arogansi kekuasaan di satu sisi dan kebodohan yang lugu di sisi lain. Freire mau menghentikan perkawinan haram dan berbahaya itu. Maka, dia menawarkan konsep pendidikan kritis sebagai upaya pembebasan dari pembodohan dan penindasan tersebut dengan sejumlah term kunci seperti konsientisasi, praksis, dialog, dan partisipasi. Tulisan ini bermaksud memperkenalkan dan membahas kembali pokok-pokok pemikiran Freire tentang pendidikan, relevansinya bagi pendidikan di Indonesia, serta kritik terhadap pemikirannya.

Biografi Singkat

Freire lahir dalam keluarga kelas menengah di Recife, ibu kota Negara bagian Pernambuco, Brazil, pada 19 September 1921. Nama lengkapnya adalah Paulo Reglus Neves Freire. Dia lahir dan bertumbuh dalam tahun-tahun pergolakan karena transisi politik dari pemerintahan otoriter konservatif ke pemerintahan populis otoriter. [1] Situasi politik ini dan depresi hebat keluarganya pada tahun 1929 membentuk kepedulian Freire di kemudian hari terhadap orang miskin dan memengaruhi perspektifnya tentang pendidikan. Freire belajar di Fakultas Hukum Universitas Recife pada tahun 1943. Di universitas ini, dia juga belajar psikologi bahasa dan filsafat. Freire menghasilkan sejumlah karya penting antara lain Education as the Practice of Freedom (1973), Education for Critical Consciousness, dan yang termashyur, Pedagogy of the Opressed (1970). Karya-karya Freire dipengaruhi berbagai sistem filsafat yang pernah dipelajarinya seperti fenomenologi Husserl, eksistensialisme Sartre, pemikiran Marcuse dan Schaff, teori psikoanalisis Fromm, serta filsafat bahasa dan sains.[2] Freire meninggal pada 2 Mei 1997. Dia dikenang sebagai seorang pemikir dan intelektual terutama di bidang pendidikan.

Asumsi Filosofis

Asumsi filosofis di balik gagasan pendidikan Freire adalah “manusia memiliki panggilan ontologis untuk menjadi manusia yang utuh”.[3] Proses menjadi manusia utuh ini disebut humanisasi. Proses ini terjadi melalui kesadaran kritis akan situasi penindasan, mengetahui penyebabnya, lalu berjuang untuk keluar dari situasi tersebut. Itulah alasan Freire sangat menekankan kesadaran. Kesadaran pada manusia berbeda dari insting pada binatang. Sebagaimana menurut Aristoteles, insting pada binatang secara fundamental bersifat ahistoris dan atemporal. Ahistoris karena binatang tidak bisa terlibat dalam sejarah dunia sehingga tidak mampu menciptakan kehidupan dan mengubah susunannya. Atemporal karena binatang tak menyadari apa artinya hidup pada masa kemarin, hari ini, dan besok.[4] Singkatnya, binatang tidak memiliki kesadaran diri sehingga tidak mampu memutuskan serangkaian tindakan sebagai hasil refleksi. Berbeda dari binatang, manusia adalah makhluk historis yang menyadari eksistensinya dalam perjalanan sejarah. Kesadaran inilah yang memampukan manusia berpikir kritis dan transformatif, sehingga tidak beradaptasi begitu saja dengan realitas.

Baca Juga Membangun Pemahaman Seksual tentang “yang Beridentitas Seks Lain” Sejak Usia Dini untuk Mencegah Diskriminasi Gender

Kebebasan sangat penting dalam mewujudkan manusia yang utuh. Namun, dalam kenyataan, tidak semua orang bebas mengejar panggilan ontologis tersebut. Lewat kontaknya dengan para petani miskin dan buta huruf di Timur Laut Brazil, Freire sampai pada kesimpulan bahwa “kebebasan dalam pengertian kemampuan manusia untuk memilih serangkaian tindakan menuju kebahagiaan, jarang menjadi pilihan kaum miskin dan tertindas.”[5] Ada jurang lebar antara teori dan kenyataan. Manusia mungkin saja bebas dalam teori atau pemikiran abstrak filosofis, tetapi dalam kenyataan tidak demikian. Di mana-mana manusia terbelenggu oleh struktur dan sistem penindasan.

Seperti Karl Marx, Freire yakin, struktur masyarakat kapitalistik bertumbuh di atas eksploitasi terhadap sekelompok masyarakat yang disebut kaum tertindas. Struktur-struktur opresif ekonomi, politik, dan kultural bukan keniscayaan sejarah, melainkan ciptaan sekelompok orang yang disebut kaum penindas.[6] Namun, berbeda dari Marx yang berpikir gerak sejarah dan keadaan sempurna manusia akan terwujud dalam komunisme, Freire berpendapat bahwa pembebasan manusia, atau apa yang disebutnya sebagai humanisasi, adalah tujuan yang tidak bisa dicapai secara penuh karena menuntut perlawanan terus menerus terhadap realitas penindasan atau dehumanisasi. Kesadaran kritis kaum tertindas terhadap dehumanisasi adalah langkah pertama humanisasi dan pemutusan siklus penindasan. Freire menyebut proses pembentukan kesadaran kritis ini sebagai “konsientisasi”.

Konsientisasi, Praksis, dan Dialog

Freire berpendapat, “konsientisasi” adalah kosakata penting yang menunjukkan bahwa “pendidikan sebagai sebuah praksis pembebasan adalah sebuah tindakan untuk menyadari realitas secara kritis.”[7] Freire menggunakan istilah ini untuk menggambarkan proses manusia menyadari secara kritis realitas opresif yang menindasnya dan kapasitasnya untuk mengubah realitas tersebut. Seperti Marx, Freire yakin, struktur-struktur eksploitatif menghasilkan kesadaran palsu. Kaum tertindas yang beradaptasi dengan struktur penindasan cenderung mengikuti saja pola dan pengaturan yang digariskan para penindas. Mereka menginternalisasi nilai-nilai para penindas sehingga tidak mampu berpikir kritis atas situasi mereka dan tidak dapat mengubah situasi tersebut. Dengan kata lain, kesadaran palsu menghasilkan “budaya diam” dan mentalitas fatalistik di mana kaum tertindas menganggap penindasan sebagai takdir dan bersikap pasrah terhadap eksploitasi yang dilakukan para penindas.[8] Karena itu, konsientisasi melalui pendidikan kaum tertindas sangat penting dalam membangunkan kesadaran kritis kaum tertindas terhadap situasi penindasan dan mendorong mereka melakukan perubahan nyata.

Namun, konsientisasi bukan sekadar proses intelektual. Persepsi tentang realitas yang tidak diikuti pelibatan kritis tidak akan melahirkan perubahan nyata. Maka, Freire berpendapat, konsientisasi harus dibentuk oleh aksi dan refleksi. Hubungan timbal-balik aksi dan refleksi (aksi didasarkan pada refleksi atau refleksi didasarkan pada aksi) memperkaya kemampuan manusia dalam menciptakan kehidupan tanpa penindasan. Freire melakukan kritik terhadap pemikiran Barat yang cenderung memisahkan refleksi dan aksi, teori dan praktik. Bagi Freire, keduanya adalah dua sisi dari satu koin. Refleksi tanpa aksi akan berubah menjadi verbalisme. Sebaliknya, aksi tanpa refleksi akan berubah menjadi aktivisme. Agar memperkaya konsientisasi, aksi dan refleksi harus berjalan bersama. Freire menyebutnya sebagai praxis.[9] Pandangan Freire tentang praksis didasarkan pada argumen ontologis bahwa praksis adalah ciri utama kehidupan manusia dan prasyarat kondisi kebebasan yang diperlukan.

Baca Juga Pendidikan di Persimpangan Jalan: Antara Pembelajaran Jarak Jauh dan Tatap Muka

Praksis mendasari konsep dialog dalam pendidikan. Dialog adalah kebutuhan eksistensial manusia. Menurut Freire, karena dialog adalah perpaduan aksi dan refleksi, maka dialog bukan tindakan memindahkan ide kepada orang lain, bukan juga sekadar pertukaran ide atau perdebatan. Dialog adalah upaya kreatif yang dilakukan dengan cinta dan kerendahan hati agar menghasilkan hubungan horizontal yang baik dan sikap saling percaya di antara para pelaku dialog. Selain cinta dan kerendahan hati, pemikiran kritis menjadi aspek penting dialog. Dengan melibatkan pemikiran kritis, dialog mampu memperlihatkan hubungan solidaritas yang tak terpisahkan antara dunia dan manusianya, serta mengakui bahwa tidak ada dikotomi antara keduanya.[10] Para pelaku dialog yang kritis memahami bahwa realitas adalah proses dan perubahan berkelanjutan, setiap pemikiran tidak terlepas dari aksi, dan setiap hubungan aksi dan pemikiran mampu menghancurkan penindasan dan membangun dunia baru.

Pendidikan Gaya Bank vs Pendidikan Hadap-Masalah

Sebagai seorang pendidik, Freire berpandangan bahwa pendidikan formal di seluruh dunia gagal menerapkan konsientisasi, praksis, dan dialog. Karena itu, pendidikan formal sering menjadi alat penindasan daripada instrumen pembebasan. Freire melakukan kritik tajam terhadap “pendekatan gaya bank” yang sering dipraktikkan dalam pendidikan formal. Pendekatan gaya bank adalah sebuah proses mekanis di mana para siswa menjadi pihak yang pasif, yang hanya berfungsi untuk menerima, menghafal, dan menampung pengetahuan yang ditransfer gurunya. Dalam hal ini, pengetahuan hanyalah kegiatan mengingat fakta belaka, bukan proses permanen yang memerlukan praksis manusia dalam dunia.[11]  

Dasar pendekatan gaya bank ialah pemahaman tentang manusia (siswa) sebagai makhluk yang dapat diatur dan diadaptasi dari luar. Dengan demikian, pendidikan gaya bank adalah antitesis perkembangan kesadaran kritis. Pendidikan gaya bank berperan sebagai pilar utama dalam merawat tatanan sosial opresif dan kolonial. Semakin siswa menampung informasi, kesadaran kritisnya tentang “diri sebagai subjek, pencipta sejarah, dan pembaharu realitas” semakin tumpul.[12] Freire menyebut pendidikan gaya bank sebagai arena domestikasi (penguasaan). Dalam praktik domestikasi, pendidikan berusaha menghindari pembentukan sikap kritis para siswa karena dapat mengancam kestabilan struktur-struktur penindasan.[13] Diterjemahkan ke dalam praktek, konsep pendidikan gaya bank sangat cocok untuk tujuan kaum penindas, yaitu membiarkan kaum tertindas nyaman dalam genggaman struktur-struktur penindasan dan memastikan tidak ada perlawanan kritis yang tumbuh dari kesadaran mereka.

Baca Juga Pembelajaran Online dan Dilema Daerah Tertinggal

Di samping kritik terhadap pendidikan gaya bank, Freire menawarkan konsep pendidikan “hadap-masalah”. Berbeda dari pendidikan gaya bank, pendidikan hadap-masalah menekankan partisipasi siswa dalam pencarian pengetahuan, sehingga pendidikan bukan proses mentransfer, menerima, dan menghafal pengetahuan, melainkan tindakan untuk mengetahui.[14] Dalam pendidikan hadap-masalah, relasi guru dan murid bukan relasi subjek dan objek, melainkan relasi subjek dan subjek. Siswa bukan pendengar yang patuh, melainkan rekan peneliti yang kritis dalam dialog dengan guru. Mereka secara aktif menemukan objek pengetahuan mereka dan ditantang berpikir mandiri. Dalam pendidikan hadap-masalah, guru hanya berfungsi sebagai animator yang memfasilitasi para siswa menjadi subjek kreatif. Berlawanan dengan metode gaya bank, pendidikan hadap-masalah bersifat revolusioner, emansipatoris, dan profetik karena menuntun siswa kepada keberanian menghadapi realitas berdasarkan kesadaran kritis bahwa dirinya adalah subjek sejarah, pengubah realitas, dan penentu masa depan.[15]   

Metode dialog diterapkan Freire dalam literasi. Menurut Freire, literasi adalah bagian dari konsientisasi. Dalam literasi, seorang pendidik masuk ke dalam realitas melalui dialog dengan partisipan. Dari realitas tersebut, pendidik menarik tema-tema yang relevan dengan kehidupan partisipan. Melalui gambar tertentu, pendidik merangsang partisipan untuk berdiskusi. Pada tahap berikutnya, seorang pendidik menunjukkan sebuah kata yang menamakan realitas dalam gambar. Kata tersebut sebaiknya kata bermakna dan dikenal dalam bahasa lokal partisipan, jelas secara gramatikal, dan kaya secara fonetis.[16] Melalui pengembangan literasi, para partisipan (kaum tertindas) secara bertahap menyadari situasi hidup mereka secara kritis dan membangun tindakan untuk mengubahnya.

Kritik

Dalam artikel Understanding Paulo Freire, James Blackburn mengajukan dua kritik terhadap pemikiran Freire. [17] Pertama, tujuan pendidikan menurut Freire adalah menyediakan bagi kaum tertindas sarana yang diperlukan untuk mewujudkan pembebasan mereka dari penindasan. Namun, dalam argumentasi ini terkandung asumsi bahwa kaum tertindas tidak memiliki kekuatan sama sekali. Benarkah kaum tertindas sama sekali tak berkekuatan? Menurut Blackburn, secara antropologis, asumsi ini patut dipertanyakan. Bahkan dalam konteks masyarakat dengan eksploitasi ekstrem seperti yang dialami para petani buta huruf di Timur Laut Brazil pada tahun 1960-an, kaum tertindas yang tampaknya fatalistik dan tidak berdaya mengekspresikan kekuatan dan perlawanan mereka dalam cara-cara halus seperti sabotase dan menolak bekerja sama. Ini menunjukkan, kaum tertindas memiliki apa yang disebut Rigoberta Menchu sebagai “kultur perlawanan” yang mungkin berbeda dengan metode Freire.

Kedua, pendekatan Freire yang dianggap murni pedagogis dan metodologis rentan dimanipulasi secara ideologis. Para aktivis dan pendidik yang mengadopsi metode pendidikan kaum tertindas Freire memiliki tendensi “memanipulasi dan memaksa kaum tertindas meyakini kerangka ideologis mereka dalam merumuskan perjuangan”. Contoh: pada tahun 1980, proyek pengembangan literasi besar-besaran bagi para petani di Nicaragua dipuji sebagai salah satu pencapaian terbesar rezim Sandinista. Pendekatan Freire dipakai secara eksplisit dan dominan dalam proyek ini. Akan tetapi, alih-alih menumbuhkan kesadaran kritis para petani, proyek literasi ini justru mempromosikan ideologi absolut rezim dalam upaya menyeragamkan semua populasi di Negara tersebut.

Kritik lain datang dari Mansour Fakih. Freire sangat menekankan dialog dalam proses pembelajaran karena dialog adalah pemenuhan panggilan ontologis manusia. Namun, menurut Fakih, Freire tidak konsisten karena dia mengajukan dialog sebagai metode, tetapi tidak demikian dalam praktiknya. Ketika Fakih mengikuti kuliah yang dibawakan Freire pada tahun 1989, Fakih berkesan bahwa meskipun materi yang dibawakan Freire sangat bernas dan provokatif, namun metode yang dipakainya justru anti-Freirean. Selama kuliah berlangsung, Freire sangat mendominasi percakapan di kelas, sehingga yang terjadi bukan dialog, melainkan monolog.[18]

Relevansi

Di samping catatan kritis, tidak dapat disangkal bahwa pemikiran Freire berkontribusi positif bagi perkembangan pedagogi kritis di Indonesia. Sekurang-kurangnya, ada tiga sumbangan dan relevansi pemikiran Freire bagi pendidikan di Indonesia.[19] Pertama, pendidikan gaya bank masih mendominasi praktik pendidikan di Indonesia. Para guru menempati posisi sebagai subjek dan murid dilihat sebagai objek yang menampung pengetahuan yang ditransfer gurunya. Kritik Freire terhadap pendidikan gaya bank, dan pendidikan hadap-masalah yang ditawarkannya, memberikan sumbangan penting. Sudah saatnya, pendidikan di Indonesia menempatkan siswa sebagai pusat dari proses pendidikan dan subjek yang mampu melakukan refleksi kritis dan menemukan pengetahuannya sendiri.

Kedua, penerapan pendidikan karakter yang salah. Pendidikan karakter menjadi perhatian utama selama rezim Jokowi. Namun, jika digali lebih jauh, pendidikan karakter dirusakkan oleh formalisme agama dan aturan yang distandardisasi. Pendidikan karakter dipandang identik dengan ajaran agama, sehingga harus ditaati para peserta didik tanpa refleksi kritis. Freire memberi sumbangan penting tentang peran pendidikan kritis dalam pengembangan karakter siswa dan kemajuan demokrasi. Pendidikan di Indonesia mesti dibangun di atas budaya kritis. Proses pendidikan harus memberikan ruang seluas mungkin bagi siswa untuk berpikir kritis sehingga mereka mampu melihat kaitan antara teori yang diperoleh di kelas dan kenyataan sehari-hari. Dengan pendidikan kritis, persoalan seperti terorisme dan korupsi, yang merupakan akibat lemahnya kesadaran kritis, dapat dicegah.

Ketiga, pendidikan di Indonesia sangat kuat berorientasi kepada pasar. Institusi pendidikan ibarat pabrik penghasil tenaga kerja, bahkan menjadi “pasar” itu sendiri, sehingga melanggengkan struktur penindasan. Menghasilkan lulusan yang tidak hanya berorientasi pasar, tetapi juga mengembangkan nilai-nilai yang memajukan peradaban bangsa adalah tantangan utama pendidikan di Indonesia saat ini. Gagasan Freire menjawab tantangan ini. Gagasan Freire bahwa tujuan pendidikan adalah humanisasi, mendorong pendidikan di Indonesia untuk membangun nilai-nilai manusiawi yang sangat penting bagi demokrasi dan kemajuan peradaban bangsa seperti solidaritas dan bela rasa dengan kaum tertindas.

Kesimpulan

Freire mengembangkan sejumlah konsep penting tentang pendidikan kaum tertindas seperti konsientisasi, dialog, dan praksis. Pendidikan kaum tertindas bertujuan untuk membentuk manusia yang utuh, yaitu manusia yang bebas dari penindasan sekaligus tidak menjadi penindas baru. Freire mengajukan kritik terhadap pendekatan gaya bank sebagai pendekatan kolonial, lalu menawarkan pendekatan hadap-masalah agar peserta didik menjadi manusia bebas dan berkesadaran kritis. Kritik-kritik terhadap konsep pendidikan Freire tidak mengurangi relevansi dan kontribusi pemikirannya bagi pendidikan, terutama di Indonesia. Dari Freire kita belajar: keadilan sosial hanya tinggal sebagai mimpi yang digantungkan setinggi langit ketika pendidikan kita masih berwatak kolonial, feodal, konservatif, dan anti-akal sehat. ***


Catatan Kaki

[1] Gadotti & Torres, “Paulo Freire: Education for Development,” in Development and Change, 40 (6), 2009,  hlm. 1255.

[2] J. Blackburn, “Understanding Paulo Freire,” in Community Development Journal, Vol. 35, No. 1, Januari 2000, hlm. 4.

[3] Paulo Freire, Pedagogy of the Opressed, New York: The Continuum International Publishing, 2005, hlm. 47.

[4] Ibid., hlm. 98.

[5] Blackburn, op.cit., hlm. 5.

[6] Paulo Freire, op.cit., hlm. 44.

[7] Paulo Freire, “A few notions about the word conscientization,” in Hard Cheese No. 1, 1971,  hlm. 23.

[8] P. Freire, Pedagogy of the Opressed, op.cit., hlm. 64. Bdk. juga Alex Lanur, “Materi Kuliah Filsafat Pendidikan STF Driyarkara”, 2020.

[9] Ibid., hlm. 79-80.

[10] Ibid., hlm.  92.

[11] Paulo Freire, “Education: Domestication or Liberation?” in Prospect, Vol. II, No. 2, Summer 1972, hlm. 177.

[12] Paulo Freire, Pedagogy of the Opressed, op.cit., hlm. 85.

[13] Paulo Freire, “Education: Domestication or Liberation?”,  op.cit., hlm. 178.

[14] Paulo Freire, “By Learning They can Teach,” in Convergence 6(1), 1973, hlm. 79.

[15] Paulo Freire, Pedagogy of the Opressed, op.cit., hlm. 84.

[16] Brown, “Literacy in Thirty Hours,” in The Urban Review, July 1974, hlm. 252.

[17] Blackburn, op.cit., hlm. 10-13.

[18] Agus Nuryatno, “Critical Remarks On Educational Philosophy of Paulo Freire,” in Cakrawala Pendidikan, No. 1, 2011.

[19] Mahur et al, “Paulo Freire:Critical, Humanist and Liberating Education,” in International Journal for Educational Studies, Vol.1:8, 2019, hlm. 876.

Daftar Pustaka

Blackburn, J. “Understanding Paulo Freire,” in Community Development Journal, Vol. 35, No. 1, Januari 2000.

Brown. “Literacy in Thirty Hours,” in The Urban Review, July 1974.

Freire, Paulo. Pedagogy of the Opressed. New York: The Continuum International Publishing, 2005.

————–. “A few notions about the word conscientization,” in Hard Cheese, No. 1, 1971..

————–. “Education: Domestication or Liberation?” in Prospect, Vol. II, No. 2, Summer 1972.

————–. “By Learning They can Teach,” in Convergence 6(1), 1973.

Gadotti & Torres. “Paulo Freire: Education for Development,” in Development and Change, 40 (6), 2009.

Mahur et al. “Paulo Freire:Critical,Humanist and Liberating Education,” International Journal for Educational Studies, Vol.1:8, December 2019.

Nuryatno, Agus. “Critical Remarks On Educational Philosophy of Paulo Freire,” in Cakrawala Pendidikan, No. 1, 2011.

Dari Freire kita belajar: keadilan sosial hanya tinggal sebagai mimpi yang digantungkan setinggi langit ketika pendidikan kita masih berwatak kolonial, feodal, konservatif, dan anti-akal sehat.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Murka Mural

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »