Mangun Novel

Panggilan Menjadi Manusia: Catatan atas Buku “Mangun: Sebuah Novel”

Buku ini merupakan sebuah novelisasi atas kisah hidup Romo Mangun dan perjuangannya dalam membela orang-orang kecil.

Romo Mangun merupakan seorang rohaniwan, arsitek, dan sastrawan besar. Penulisan novel ini sendiri bertolak dari wawancara terhadap narasumber juga pembacaan atas buku-buku, dokumen tulisan, dan artikel yang ditulis oleh Romo Mangun sendiri maupun orang lain.

Novel ini berisi kisah hidup Romo Mangun sejak kecil, pendidikannya, sejarah panggilannya sebagai seorang Imam, serta perjuangannya membantu warga pinggiran di Kali Code, Yogyakarta serta Kedung Ombo. Mangun lahir di Ambarawa pada  1929. Masa kecilnya ia jalani di Magelang sekitar tahun 1930-1940-an. Dituliskan, Magelang merupakan surganya Romo Mangun, sebab di sana ada begitu banyak kisah masa lalunya dengan orang tua dan adik-adiknya pada masa peralihan kolonialisme Belanda menuju pendudukan Jepang. 

Mangun menamatkan pendidikan di HIS Fransiskus Xaverius pada tahun 1943 dan melanjutkan pendidikan di STM Jetis, Yogyakarta pada tahun 1943-1947. Di kota ini, ia bergaul dengan beragam teman dari berbagai daerah serta melihat langsung kekejaman Jepang. Pada masa kemerdekaan tahun 1945, ia ikut mendaftarkan diri dan menjadi TKR Batalyon X divisi II dan bertugas di asrama militer Vredeburg, lalu di asrama militer di Kotabaru, Yogyakarta.

Saat menjadi tentara, Mangun sempat ikut dalam pertempuran di Magelang, Ambarawa, dan Mranggen. Ketika menjadi tentara ia melihat sisi buruk perlakuan tentara Indonesia kepada rakyatnya sendiri.  Pengalaman itu menjadi salah satu peristiwa kunci yang menggerakkan hatinya untuk berbela rasa dan memperjuangkan nasib orang kecil.

Baca Juga Seorang Bocah dan Sebuah Bola: Obituari Diego Maradona yang Meninggal pada 25 November

Setelah tidak menjadi tentara, Mangun kemudian melanjutkan pendidikannya ke SMU B Santo Albertus di Malang. Merasa terpanggil menjadi Imam, ia kemudian masuk ke Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius di Mertoyudan. Tamat dari seminari, Mangun memilih menjadi calon Imam Projo Keuskupan Agung Semarang. Tahun 1959, Mangun ditahbiskan menjadi Imam oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. 

Mangun kemudian mendapat tugas dari Bapak Uskup untuk belajar Teknik Arsitektur di ITB. Setelahnya, ia melanjutkan studi arsitekturnya di Aachen, Jerman. Setelah lulus pada tahun 1966, Mangun kemudian kembali dan melayani tanah air. 

Mangun sempat menjadi dosen arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Di kemudian hari, ia memutuskan mundur dan memilih tinggal dan membangun wilayah Kali Code. Saat itu merupakan situasi yang genting, mengingat pemerintah akan menggusur wilayah pemukiman di bantaran Kali Code. Meskipun demikian, Mangun dilukiskan begitu gigih memperjuangkan kehidupan warga di sana. Ia berusaha membangun wilayah itu menjadi pemukiman yang tetap sederhana sesuai kondisi warganya, tetapi tetap indah, rapi, dan teratur. Selain membangun hal-hal fisik, Mangun pun menggembleng mentalitas warga masyarakatnya untuk tidak buang sampah sembarangan, hidup sehat, dan bersih. 

Baca Juga Prajurit Kebebasan: Obituari Samuel Paty yang Terbunuh pada 16 Oktober

Kisah hidup Mangun terus berlanjut. Masalah pembangunan waduk Kedung Ombo menjadi puncak sekaligus akhir dari novel ini. Ia membela dan membantu warga Kedung Ombo yang tergusur dan tidak mendapat ganti rugi yang manusiawi. Meskipun sedang sakit dan dilarang dokter, Mangun tetap nekat membantu dan menerobos masuk wilayah Kedung Ombo. Beberapa kali ia sempat ditahan, bersitegang, dan kucing-kucingan dengan tentara. 

Bantuan-bantuan yang dihimpun dan diinisiasi Rm. Mangun meskipun dihalang-halangi pada akhirnya dapat mencapai para korban Kedung Ombo. Bahkan, ia sempat semalam suntuk di atas perahu untuk bersembunyi menghindari pengejaran. Kekalahan perjuangan Mangun di Kedung Ombo adalah akhir dari novel ini. Kisahnya di sana tidak segemilang di Kali Code. Ia memang berjuang membantu, tetapi tidak ‘menang’, sebab penggusuran terus terjadi dan pembangunan waduk dilanjutkan. 

Tanggapan Pembaca

Novel ini amat menarik untuk dibaca. Penulis berhasil menarasikan kisah hidup dan perjuangan Romo Mangun dengan begitu baik. Pembaca diajak masuk untuk merasakan pahit-getir perjuangan seorang Romo Mangun.

Meskipun demikian, ada beberapa poin yang kiranya perlu dikritisi dari novel ini. Pertama, sebagaimana novel biografi lainnya, ada pengkultusan sosok yang ditulis (Mangun). Penulis novel itu terlalu mengkultuskan Romo Mangun, seolah-olah Mangun adalah manusia sempurna tanpa cacat-cela. Sikap penulis novel ini kontradiktif dengan pernyataan Mangun sendiri, “sebelum mempelajari malaikat dan surga, mbok ya belajar dulu menjadi manusia”. 

Kedua, kritik yang kurang pas. Penulis novel ini berusaha untuk membandingkan sikap imam-iman dewasa ini dengan sikap Mangun yang menurutnya lebih pro dan dekat pada rakyat, tanpa sungguh memperhatikan konteksnya. Ia menuliskan Mangun sebagai imam yang sederhana, hemat, dan sebagainya sampai-sampai harus memakan makanan yang sebenarnya sudah basi dan busuk. Baginya, ia merupakan sebuah keutamaan, padahal sikap tersebut merupakan sesuatu yang personal. Tidak bisa dipaksakan kepada semua orang. Sebagaimana dalam novel itu juga tertulis, ada yang harus menderita sakit perut, dan sebagainya karena terpaksa memakan makanan yang disediakan Mangun. 

Baca Juga Mengapa Kami Marxis: Terjemahan Artikel Alan Woods

Meskipun demikian, perlu dicatat sikap seperti itu amatlah baik, sejauh dipraktikkan untuk diri sendiri. Dekat dengan orang miskin itu mulia. Kedekatan itu mewajibkan apa yang dinamakan sebagai ‘abnegation sui’ atau ingkar diri. Ini tentu tidak mudah, karena manusia secara natural mencari yang enak dan nyaman. 

Kita boleh yakin bahwa sikap Romo Mangun yang suka makanan yang menurut orang lain sudah basi, mungkin dilakukan dalam rangka melatih ‘ingkar diri’. Latihan ini sekarang mungkin sudah dilupakan atau tidak disadari lagi baik oleh calon imam maupun para imam karena hampir semua fasilitas hidup tercukupi bahkan mungkin melimpah.

Ketiga, sikap keras Mangun terhadap dirinya sendiri sekurang-kurangnya adalah penyebab kurangnya masa optimal Mangun untuk melayani di saat sebenarnya ia masih bisa berbuat lebih. Ia sudah mengidap penyakit pencernaan dan pernafasan sejak usia yang bisa dibilang terlalu muda. Hal itu tidak lain dari sikapnya terlalu berlebihan dalam hal makan-minum (sudah basi, dan sebagainya). Di sini, kita dapat belajar bahwa, sikap yang kurang manusiawi terhadap diri sendiri ternyata berdampak pada masa dan kualitas pelayanan. 

Baca Juga Sebuah Gantungan -Terjemahan Esai George Orwell

Terlepas dari kurang lebihnya di sana-sini, novel ini amatlah penting untuk dibaca, terkhusus oleh para Imam maupun calon imam. Novel ini menghadirkan pergulatan seorang yang terpanggil untuk mempertahankan panggilannya di tengah aneka tawaran dunia yang selalu berusaha menjauhkan seseorang dari orang-orang yang harus dilayani dan dibela martabat kemanusiaannya.

Novel ini juga adalah sebuah kritik terhadap sikap yang cenderung patriarkis; calon imam maupun imamnya cenderung dilayani, duduk diam menikmati kenyamanan tembok pastoran dan biara, serta menghindari sentuhan langsung dengan realitas hidup warga masyarakat yang kerap pilu, miskin, dan penuh penderitaan. Novel ini adalah sebuah remainder sekaligus gugatan, “sudahkan panggilan suci membawa mereka yang terpilih untuk berbau domba (istilah paus Fransiskus); mendekat pada Tuhan yang hadir pada orang-orang sederhana atau sebaliknya; cenderung mendekat pada mereka yang menawarkan kenyamanan dan kemegahan?”

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Murka Mural

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »