Max Hoelz

Biografi Max Hoelz, 1883-1933

Max Hoelz merupakan seorang “manusia aksi” ketimbang pemikir mendalam. Kerelaannya untuk terlibat dalam aksi nyata membela kelas pekerja juga keberaniannya mengkritisi rezim Stalin di Rusia patutlah dikagumi.

Max Hoelz lahir pada 14 Oktober 1889 di Moritz bei Riesa, Jerman. Sebagai anak petani upahan, dia bekerja semenjak usia belia untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya. Sejak tahun 1903 atau setelah lulus sekolah dasar, dia memang mengadu nasib dengan menjadi buruh harian pada sejumlah tuan tanah yang berbeda-beda.

Tiga tahun bekerja di tanah kelahirannya, pada 1906 atau kala menginjak usia 16 tahun, Hoelz muda merantau ke Inggris. Di London dia menjadi pekerja serabutan dan mengumpulkan uang supaya bisa ikut kelas malam dalam pelajaran geometri di salah satu sekolah teknik. Hal yang kemudian mempersiapkan dirinya terjun ke dalam konstruksi kereta api juga pekerjaan survei. Dia pun kembali ke Jerman, bekerja sebagai teknisi kereta api di Berlin dan ahli proyeksi bioskop di Dresden, dan sesudah itu meneruskan studi tekniknya.

Baca Juga Obituari Kenneth Kaunda yang Meninggal pada 17 Juni

Ketika ikut tes untuk pasukan cadangan Angkatan Darat, Hoelz didiagnosis rentan terserang tuberkolosis dan diberitahu untuk bertugas di daerah hutan. Dirinya lalu mendapat pekerjaan sebagai petugas survei tanah di Falkenstein, daerah Vogtland.

Waktu Perang Dunia I meletus, dia menjadi relawan untuk pasukan militer monarkis King’s Hussars of Saxony, dia bertempur di garda sebelah timur dan barat, dan pada waktu yang kurang lebih bersamaan menikahi Klara Bucheim, anak seorang kontraktor pengangkutan di wilayah Falkenstein. Perang membuka mata hatinya akan sifat alamiah sistem kapitalistik, setelah itu dia benar-benar teradikalisasi oleh Revolusi Oktober 1917 di Rusia, terutama ketika berkenalan dengan Georg Schumann, anggota sosialis Spartakusbund (Schumann kemudian dieksekusi oleh rezim Nazi pada tahun 1945).

Pada November 1918 setelah dirawat di sebuah rumah sakit militer, Max Hoelz kembali ke Falkenstein. Dia untuk pertama kalinya bergabung dengan USDP (United Social Democratic Party– sebuah kelompok anti-perang yang berpisah dari partai Sosial Demokrat), dan pada tahun 1919 ikut dengan Partai Komunis Kommunistische Partei Deutschlands, terutama aktif di cabang Plauen. Pada bulan Februari, dia mendirikan perkumpulan daerah dari partai tersebut di Falkenstein. Sebagai ketua Dewan Pekerja Pengangguran dia meminta makanan dan bahan bakar mesin ke pemerintah bagi kaum tuna karya, miskin papa, dan mereka yang menderita.

Walikota dan anggota dewan kemudian ditawan di balai kota karena walikota menyebut orang-orang yang menganggur itu sebagai “parasit malu kerja”. Namun, dalam beberapa kesempatan, militer kemudian berusaha menguasai Falkenstein guna memadamkan gerakan yang tengah tumbuh itu. Hoelz terpaksa melarikan diri, mengunjungi sekolah partai di Walsrode di hamparan kosong Luneberg, dan aktif sebagai agitator di Jerman Tengah dan Bavaria.

Baca Juga Tantangan Ekososialisme Rob Wallace di Indonesia

Pada bulan Maret 1920 setelah peristiwa kudeta sayap kanan Kapp Putsch, Hoelz pulang ke Vogtland dan mengorganisasi kelas pekerja Falkenstein dan Oelznits dalam payung gerakan paramiliter Pasukan Merah (Red Guard). Dia terkenal berkat aksi heroik organisasi bersenjatanya itu dalam melawan polisi, tentara, maupun paramiliter sayap kanan Freikorps. Salah seorang anggota partai pekerja komunis KPAD (KAPD merupakan dewan yang lebih radikal dan terpisah dari KPD) memberikan gambaran sebagai berikut;

Komando bermotor menghitung anggotanya, 60 sampai 200 orang. Di depannya ada sekelompok pengintai dengan senapan mesin atau senjata ringan, diikuti truk-truk bersenjata berat. Kemudian, ‘sang kepala’ duduk di mobil, ‘dengan uang tunai’ dari perusahaan milik ‘menteri keuangan’. Truk lapis baja lainnya menutupi itu. Semua dihiasi dengan bendera merah. Dari kedatangan mereka di suatu daerah, perbekalan diminta, kantor pos dan bank tabungan digeledah. Pemogokan umum juga diumumkan dan buruh dibayar oleh majikan dengan ‘pajak’ yang dipungut. Tukang daging dan pembuat roti diperintahkan untuk menjual barang dagangan mereka, 30 sampai 60 persen lebih murah. Semua perlawanan dihancurkan dengan segera dan dengan keras …”

Kelompok-kelompok dimaksud memang sangat aktif di wilayah Saxony; aktivitas mereka kerapkali menimbulkan pertentangan, antara Hoelz dan pemimpin KPD lokal bernama Brandler, yang kemudian membuat dia keluar dari seksi kota Chemnitz dari partai tersebut. Dia lalu bergabung dengan KAPD dan mulai mengirimkan hasil jarahan kepada pimpinan partai. Tanpa memegang kendali langsung politik partai, dia melihat itu sebagai cara yang ramah dalam melibatkan diri.

Baca Juga Marx tentang Alat Produksi dan Bentuk Kepemilikan

Identik dengan kebebasan pasukan bersenjata yang dipimpinnya, dia juga berkolaborasi dengan KPD ataupun kelompok lain tatkala merasa mereka cocok atau sepemikiran.

Dia menjadi sangat terkenal berkat aksinya “merampok orang kaya, memberi makan si miskin”. Para pekerja lapisan bawah sangat sering mencari dia. Dia lantas mengambil uang dari majikan sebagai bentuk balas dendam atas penderitaan pekerja-pekerja itu. Dia membebaskan narapidana, memberangus dokumen dan arsip legal kepolisian, membakar vila-vila kaum kaya dan lain sebagainya. Dia juga populer karena senantiasa menghindar dari kejaran aparat. Pada bulan April 1919, terdapat tiga puluh ribu simbol yang menandakan kepalanya. Dia tidak pernah tertangkap hingga setelah tragedi Aksi Maret.

Sesudah menumpas pemberontakan di wilayah Ruhr, militer bergerak maju ke Vogtland. Beberapa hari berperang, Pasukan Merah akhirnya dipatahkan. Mereka yang tidak ditangkap atau ditembak melarikan diri ke perbatasan Cekoslowakia. Hoelz sendiri ditahan oleh polisi Cekoslowakia dan kena hukuman empat bulan penjara. Kemudian dia kembali ke Jerman dan bekerja secara sembunyi-sembunyi.

Media The Worker Communist Daily di bawah KAPD memberikan pujian atas aksi penghancuran yang dilakukannya di Victory Column di Berlin, yang mana dia terlibat pada tanggal 21 Maret 1921. Pada 22 dan 23 Maret serangan yang sama atas gedung-gedung, kantor polisi dan kantor legal lainnya berlangsung di Falkenstein, Dresden, Freiberg, Leipzig, Plauen dan lain-lain, yang diinisiasi oleh kelompok Hoelz dan pejuang gabungan antara KPD dan KAPD. Namun, di kota-kota itu para pekerja gagal bangkit. Sementara kota-kota yang mana pekerjanya ikut aksi, yakno Ruhr, Berlin, dan Hamburg.

Baca Juga Akiko “Aki” Yagi, Anarkis-Feminis dari Jepang

Ditangkap beberapa hari pascaberakhirnya aksi massa di Berlin, Hoelz lantas dihukum seumur hidup. Pembelaannya pertama-tama datang dari gerakan kiri komunis, tetapi setelah gagal dilanjutkan oleh KPD dengan karakter kiri yang dibangun kembali (Hoelz meninggalkan KAPD dan segera bergabung kembali dengan KPD). Mereka menempatkan dia sebagai salah seorang kandidat pemimpin sebagai upaya membebaskan dia, tetapi pengajuan itu ditolak oleh Negara.

Setelah cerai dari Klara, dia menikahi Traute Loebinger, mengikuti saran KPD supaya tetap menjaga kontak dengan pihak kepartaian.

Pada 1926 anarkis Erich Muehsam mengeluarkan pamflet terkenal “Keadilan untuk Max Hoelz”. Pada 1927 Komite Netral untuk Max Hoelz, yang melingkupi Thomas Mann dan Albert Einstein, berkampanye untuk pemeriksaan ulang dan pembebasan Hoelz. Hoelz memiliki kepribadian yang benar-benar dikultuskan. Kantor pos kota -di mana dia ditahan- penuh sesak dengan surat-surat dari seluruh Jerman.

Bulan Juli 1928 istana kekaisaran memutuskan memberikan pengampuhan kepada para tahanan politik. Hoelz pada akhirnya dibebaskan. Pernikahannya dengan Traute Loebinger juga berakhir. Hoelz lalu maju menjadi pembicara publik pada sejumlah demonstrasi di pusat Jerman.

Tahun 1929 Hoelz menulis sebuah otobiografi “From the White Cross to the Red Flag”. Pada bulan Agustus dia mengunjungi Uni Soviet untuk pertama kalinya. Sekembalinya dari sana dia berpartisipasi pada berbagai kegiatan KPD sebagai pembicara. Namun, pada September dia diserang oleh pihak Nazi kala sedang berbicara di Bad Elster, Vogtland. Setelah terjadi beberapa percobaan pembunuhan, dia mendapat nasihat dari partai untuk hengkang ke Uni Soviet. KPD telah memparadekan dia sebagai seorang bintang untuk sementara waktu, lalu ketika dia menjadi terlalu jengah untuk keterusterangannya, dia hendak ditembak.

Baca Juga Caring for Indonesianness: A Brief Reflection on The Independence Day of Indonesia

Di Moskow dan Leningrad dia melawati kursus latihan di Sekolah Internasional Lenin. Pada 1931 hingga 1933 dia bekerja di pelbagai lokasi tambang, pabrik-pabrik, dan usaha pertanian. Dia menikah lagi. Dia juga kembali mengkritik kondisi buruk yang diderita kelas pekerja. Dia sempat mengurung dirinya di kamar hotel Lux, penginapan milik Komintern, pada 1932 dan terancam menembaki dirinya sendiri setelah NKVD (kelanjutan dari polisi rahasia Komunis Cheka dengan nama yang berbeda) mengundang dia untuk bertemu di markas Lubianka. NKDV sempat bubar untuk sementara.

Dia terlibat dalam rencana fiktif Wollenberg-Hoelz melawan rezim penguasa yang terpantik oleh imajinasi paranoid dari NKVD (Wollenberg telah menjadi komandan militer dari dewan pekerja Bavaria. Kritikannya terhadap Partai Komunis membuat dia harus keluar tahun 1933). Merespons itu, GPU dan NKVD ikut serta mendirikan plot yang mana Zensl, janda dari Muehsam seorang anarkis yang terbunuh, kemudian bergabung. Pada 15 September 1933 Hoelz meninggal dunia dalam “kecelakaan perahu” – dia dibunuh oleh NKDV di dekat Gorky, tepatnya di Nizhniy Novgorod.

Hoelz bukanlah seorang anarkis, sebagaimana secara keliru disampaikan oleh teoretisi Duncan Hallas dari British Trotskyist Socialist Workers Party. Dia memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda dan tidak enggan mengembangkan kultus kepahlawanan di sekitar dirinya. Baik KAPD maupun KPD telah menegaskan soal ini. Surat kabar KAPD, The Communist Worker Daily, mengumandangkan pernyataan: “Max Hoelz mestinya menjadi contoh kita! Simbol kita! Pemimpin kita!”.

Dia lebih merupakan seorang manusia aksi ketimbang pemikir mendalam. Kerelaannya untuk terlibat dalam aksi nyata membela pekerja, baik di antara tempat-tempat kerja maupun di ruang lingkup para majikan, juga keberaniannya mengkritisi rezim Stalin di Rusia patutlah dikagumi.

  • Artikel ini, yang ditulis oleh Nick Heath berjudul “Hoelz, Max, 1889-1933” dan terbit pada libcom.org, diterjemahkan oleh Elvan De Porres dan diterbitkan ulang di sini untuk kepentingan pendidikan.
Max Hoelz merupakan seorang "manusia aksi" ketimbang pemikir mendalam. Kerelaannya untuk terlibat dalam aksi nyata membela kelas pekerja juga keberaniannya mengkritisi rezim Stalin di Rusia patutlah dikagumi.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Murka Mural

Waspada Murka Mural!

Mural sebagai seni kritik sosio-politik akan kehilangan daya gigitnya apabila dibungkam secara represif dengan kebijakan-kebijakan diskriminatif. Moga-moga mural politik tidak murka. Sebab, kalau ia murka, ia juga tidak mengenal batas-batas ruang publik. Waspada murka mural!

Baca Selengkapnya »