Home

Membentuk HOME: Refleksi Kecil untuk HUT Seminari Mataloko Ke – 92

Di hari pertama saya menginjakkan kaki di Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu-Mataloko di Flores, NTT, saya langsung merasa betah. Bagaimana tidak, sambutan romo prefek (di Jawa disebut Pamong), bahwa seminari itu bukan house, melainkan home begitu menyentuh saya

Seorang sahabat bercerita bahwa belakangan ini ia merasa enggan tinggal di rumah. Berada di rumah baginya adalah sebuah neraka. Hidup dalam suasana hati yang kacau dan dengung-dengung kemaran di antara anggota keluarga membuat seolah ingin pergi.

Pada awalnya, ia merasa senang karena Covid-19 membuatnya bisa belajar secara online dari rumah. Dengan sistem belajar seperti itu, ia tidak perlu tinggal di kos dan bisa memangkas beberapa kebutuhan yang sebagaimana harus ia pikirkan sebelumnya seperti uang kos, listrik, air, dan sebagainya. Baginya, kembali ke rumah adalah sebuah keuntungan karena bisa hemat, santai, dan sebagainya.

Segala yang indah-indah itu kemudian berubah setelah hampir satu bulan di rumah. Ia merindukan momen belajar di kampus. Lebih dari itu, yang lebih dirindukan adalah ketenangan hidup di kos. Di sana, ia hanya perlu fokus belajar saja dan memperhatikan dirinya sendiri.

Setelah berada di rumah, ia harus memikirkan banyak hal. Karena sepanjang hari di rumah, ia semakin mengenali setiap pribadi dengan lebih intens dan dalam. Segala persoalan keluarga, khususnya finansial, membuatnya ikut cemas dan tak tenang. Pengurangan gaji yang dialami oleh ayahnya ditambah kebutuhan hidup yang terus ada membuatnya ikut dalam pergulatan keluarga.

Baca Juga Cristiano Ronaldo dan Tradisi Pulang Rumah

Tidak jarang ia menjadi objek kemarahan orang tua manakala ada kesalahan kecil yang ia buat. Persoalan keuangan merembet ke mana-mana. Ketegangan rasanya terjadi setiap hari. Situasi ini membuat hatinya sedih dan gelisah. Karena pandemi ini, rumah yang sebelumnya adalah tempat berpulang dan berteduh yang baik malah menjadi neraka yang kejam.

Enak lho bilang harus tinggal rumah, biar nggak nularin Covid. Seandainya lo tau situasi gua gimana di rumah, pasti lo merasa yang sama. Tentu aku akan senang untuk patuh tinggal di rumah bila situasinya baik-baik saja. Namun, jika situasinya kayak gini, berat banget, Bro…”

Demikianlah cerita seorang sahabat pada saya beberapa waktu lalu. Tentu saja saya kaget. Saya tidak pernah menyangka ketakutan saya karena membaca berita-berita meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya di masa pandemi ini juga menimpa kerabat saya.

Ceritanya membuka mata saya bahwa di masa sulit ini, rumah memang toh tidak selalu menjadi tempat berpulang bagi orang-orang tertentu. Apabila kondisi rumah tidak kondusif dan orang-orang yang di dalamnya tidak tinggal dalam kasih yang memberi terhadap satu dengan yang lain, rumah tidak lebihnya tempat paling mengerikan. Rumah menjadi tempat yang selalu ingin dihindari. Merenungkan rumah, saya ingat lembaga pendidikan terakhir  saya dulu ketika SMA.

Home Bukan House

Di hari pertama saya menginjakkan kaki di Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu – Mataloko di Flores, NTT, saya langsung merasa betah. Bagaimana tidak, sambutan romo prefek (di Jawa Pamong), bahwa seminari itu bukan house, melainkan home begitu menyentuh saya

Dalam bahasa Inggris, house itu lebih merujuk pada bangunan fisiknya, sedangkan home lebih pada atmosfer, suasana, dan nuansa damai yang buat orang kangen. Perkataan tersebut meyakinkan saya bahwa saya tidak salah pilih. Seminari itu wadah yang baik bagi saya untuk bertumbuh.

Ternyata ungkapan seminari itu home benar. Setelah hidup dan berdinamika di sana, saya merasa betah. Nuansa fraternitas yang kental dan dibalut iklim yang suportif untuk bertumbuh dan berkembang membuat saya perlahan tetapi pasti menikmati setiap kegiatannya. Tidak saya pungkiri bahwa pengalaman tidak menyenangkan kadang terjadi.  Namun, karena adanya komunitas yang solid ditambah pendamping yang bersahabat, suasana home itu tetap terjaga dan saya memilih untuk tetap tinggal di dalamnya.

Selain bahwa sebagai home seminari itu hangat dan suportif, sebagai house, seminari ini bagi saya indah sekali. Berada di dataran tinggi dengan kabut yang kerap menyelimuti membuat suasana seminari itu sungguh hening, asri, dan tentu saja adem. Letaknya yang persis di bawah sebuah Bukit Sasa, demikian orang menyebutnya, dengan arsitektur bangunan ala Eropa yang rapih dan asri membuat seminari menjadi rumah yang elok dan tentu saja indah. 

Itulah mengapa, dengan yakin berani saya katakan siapapun yang pernah ke sana atau tinggal di sana akan rindu keindahan dan keantikan rumah itu. Sebagai bangunan, seminari itu indah. Sebagai suasana, ia hangat, ramah, dan menumbuhkan.

Home Itu Dibentuk

Mungkin demikianlah gambaran idealnya sebuah rumah yang lebih merujuk pada home, dan bukan sekadar house. Itulah tempat yang  buat orang betah dan kangen. Memikirkan kembali tentang home, saya sadar itu dibentuk. Home itu diciptakan oleh pribadi-pribadi yang tinggal dalam sebuah bangunan rumah atau house. Bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Setiap pribadi punya peran dan tugasnya, mulai dari bapak, ibu, sampai anak-anaknya.

Pandemi ini tentu memukul perekonomian hampir semua keluarga. Terkhusus yang sebelumnya hidupnya pas-pasan pandemi ini terasa sungguh mengencangkan pinggang. Apakah masih bisa makan, bayar listrik, beli kuota belajar, dan sebagainya menjadi pertanyaan-pertanyaan mendasar yang senantiasa membayangi.

Di tengah situasi yang berat ini, tanpa adanya rasa saling pengertian, peduli, dan memahami, rasanya situasi akan semakin runyam. Karenanya tiap anggota keluarga perlu belajar saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Di titik itulah arti sebuah keluarga dan kebermaknaan tiap pribadi diuji. Ego perlu dikecilkan dan kebaikan bersama perlu diutamakan. Jika tidak, ketika ada yang tersinggung sedikit saja, pertikaian dan kemarahan bisa dengan cepat tersulut. Ini berbahaya sekali.

Tentu perlu disadari bahwa proses pembentukan home yang tangguh itu tidak mudah, apalagi di tengah situasi ini. Namun, bila terus menggerutu dan dengki, apakah masalah akan selesai?

Baca Juga Seorang Bocah dan Sebuah Bola: Obituari Diego Maradona yang Meninggal pada 25 November

Keadaan yang memaksa kita semua untuk tiap hari bertemu, makan di tempat yang sama dan jenis yang sama, tidur, dan tinggal di tempat yang sama membuat kita sulit menghindar. Mungkin bisa menghindar, tetapi mau sampai kapan? Bukankah sikap seperti itu menyakitkan?

Salah satu langkah terbaik adalah hadapi saja. Kemudian, belajar memahami dan menerima satu sama lain. Tidak perlu mencari siapa yang salah. Karena toh tak ada gunanya dan malah mempertajam pisau permasalahan. Lakukanlah apa yang bisa dilakukan untuk kebaikan bersama, sekecil dan sesederhana apapun itu. Seperti pesan Mother Theresa, “lakukanlah hal kecil dengan cinta yang besar!”

Dengan itu, keadaan tentu akan berubah, meski tidak secepat kilat. Namun, kita boleh yakin bahwa pasti getaran atau dampak sesuatu yang dilakukan dengan cinta yang tulus dan murni itu dirasakan orang-orang di sekitar. Sebab, apa yang baik, energinya pasti akan menyentuh hati setiap manusia, sekeras apapun dia, karena di sana Allah hadir, menyentuh, dan tinggal.

Neraka bagi Orang Lain

Seorang Filsuf eksistensialis kenamaan Prancis bernama Sartre pernah berkata ‘orang lain adalah neraka.” Ini terjadi karena orang selalu bersembunyi, mengintip, dan menanti kelengahan kita. Yang lain selalu mencari cara dan kesempatan untuk menjatuhkan kita. Yang lain menghendaki ketiadaan kita. Berada di rumah yang terasa mengerikan kiranya demikian. Ketika kita merasa dipersalahkan, dijadikan objek kemarahan, dan terus diamat-amati, kita kemudian merasa berada bersama orang lain itu neraka. Orang lain menjadi neraka karena membuatku menderita dan tidak bahagia.

Tentu apa yang dikatakan Sartre ini benar bila situasi rumah kita bukan home. Meski demikian, mungkin baik bila kita membalik bertanya pada diri sendiri. Apakah aku juga menjadi neraka bagi orang lain? Apakah kehadiranku membuat orang tidak nyaman karena terlalu banyak mengeluh, ngomel, dan sebagainya yang membuat orang terganggu dan seterusnya?

Pertanyaan ini penting guna melihat diri sebelum mempersalahkan orang lain, karena toh home tidaknya rumah atau komunitas kita, juga tergantung dari setiap pribadi. Artinya kita juga berperan. Jangan-jangan kita juga turut menjadikan rumah atau komunitas kita sendiri juga sebagai neraka, dengan omelan, ocehan, kemalasan, egoisme pribadi, dan sebagainya yang menyakiti yang lain. Sebab, sekali lagi, home itu dibentuk dan setiap orang dalam rumah atau komunitas itu punya peran.

Pada akhirnya, apapun keadaannya, setiap pribadi bertanggung jawab atas kenyamanan setiap anggota rumah. Bila suasana rumah itu hangat, nyaman, dan menggembirakan, itulah Home.

Selamat Ulang Tahun yang ke-92 dan terima kasih Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu yang sudah mengajari kami arti home. Sebuah tempat yang membuat kami merasakan kebenaran sabda Ilahi bahwa kami adalah anak-anak yang dikasihi.

Di hari pertama saya menginjakkan kaki di Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu - Mataloko di Flores, NTT, saya langsung merasa betah. Bagaimana tidak, sambutan romo prefek (di Jawa Pamong), bahwa seminari itu bukan house, melainkan home begitu menyentuh saya.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Manusia Soliter dan Religius

Manusia yang Soliter dan yang Religius

Gambaran manusia sebagai makhluk yang soliter dan yang religius saya jadikan sebagai ide dasar untuk memahami subjektivitas dan posisi eksistensial manusia abad 21 yang dilanda pandemi covid-19. Ide dasar ini berangkat dari pembacaan saya atas puisi “Aku” dan “Doa” karya Chairil Anwar.

Baca Selengkapnya »
Kapasitas Kewargaan

Demokrasi dan Penguatan Kapasitas Kewargaan

Kita perlu memasifkan solidaritas antarwarga menjadi satu alat perlawanan yang mampu melawan dominasi elite korup dan mendorong pelibatan warga dalam arena pembangunan. Di sini, hemat Penulis, kita juga perlu membangun jaringan yang lebih kuat, membentuk pola kesadaran warga dan konsep perjuangan bersama. Tanpa penguatan kapasitas kewargaan, yang lahir justru demokrasi yang rentan dibajak oleh kepentingan kelas elite yang korup.

Baca Selengkapnya »