Pluralisme Agama

Kristus yang Dialogis sebagai Inspirasi Praktik Dialog Antaragama dalam Konteks Pluralisme Agama di Indonesia

Penulis melihat bahwa pluralisme agama pada satu sisi menjadi keunikan dan kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi, pada sisi lain, ia juga membawa “malapetaka” dan pada tataran tertentu maut bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, Penulis berusaha mengajukan sarana yang memungkinkan terjadinya perdamaian dalam hidup beragama.

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar dan menyaksikan aksi kekerasan, rasisme, dan terorisme atas nama agama. Masing-masing agama mengklaim diri sebagai yang paling benar dan mengecap agama lain sebagai kafir. Konflik atas nama agama menyebar hampir di seluruh pelosok negeri dan rupanya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Indonesia sebagai suatu bangsa multikultural. Riset SETARA tentang Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB) Ke-14 Tahun 2020 menunjukkan, terdapat 180 peristiwa dan 422 tindakan pelanggaran KBB sepanjang pandemi tahun 2020. [1] Dari sini dapat dilihat bahwa kejahatan berbasis agama masih sangat marak terjadi di Indonesia.

Dari kenyataan ini, Penulis melihat bahwa pluralisme agama pada satu sisi menjadi keunikan dan kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi, pada sisi lain, ia juga membawa “malapetaka” dan pada tataran tertentu maut bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, Penulis berusaha mengajukan sarana yang memungkinkan terjadinya perdamaian dalam hidup beragama.

Inkarnasi Kristus: Dialog antara Allah dan Manusia

Peristiwa inkarnasi Kristus dapat didefinisikan sebagai dialog langsung antara Allah dan manusia. Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk memiskinkan makna dari inkarnasi itu sendiri, tetapi sebuah upaya untuk menggali makna dialogal dari peristiwa inkarnasi. Inkarnasi merupakan peristiwa rahmat, suatu peristiwa yang menggembirakan bagi umat Kristiani. Bagaimana tidak, Allah yang Mahaagung, Mahakuasa, dan Maha segala-galanya mau menjelma menjadi manusia seperti kita ciptaan-Nya, kecuali dalam hal dosa. Inkarnasi merupakan sebuah peristiwa dialog di mana Allah mau datang dan tinggal dengan manusia, Ia hadir dan membangun relasi dengan manusia. Ia mau berdialog dengan manusia. Bila dalam Perjanjian Lama, Allah hadir melalui para utusan-Nya seperti para nabi, maka dalam Perjanjian Baru, Allah mengutus Putra-Nya sendiri untuk menjadi manusia agar menyelamatkan manusia dan melakukan dialog dengan manusia.

Sepanjang sejarah hidup-Nya, Kristus selalu melakukan dialog dengan banyak orang, entah itu murid-Nya atau yang mengikuti-Nya maupun suku-suku atau bangsa lain. Yesus Kristus lahir dan bertumbuh bukan dalam kebudayaan yang tunggal, tetapi dalam kebudayaan yang beragam. Artinya, Ia selalu berjumpa dan berdialog dengan kebudayaan dan kepercayaan lain. Ia hidup dan berkarya mula-mula dalam kalangan masyarakat dan agama Yahudi, kemudian menyebarkan Kabar Gembira untuk semua bangsa. Jadi, ketika Ia muncul, pluralitas menjadi bagian hidup-Nya yang tak terpisahkan. Oleh karena itu, secara tidak langsung, ajaran Yesus Kristus menyangkut pluralisme dipengaruhi oleh perjumpaan dengan agama-agama lain, terutama agama Yahudi dan kebudayaan Helenisme (kebudayaan bangsa Yunani).

Baca Juga Berilah Kami pada Hari Ini Makanan yang Secukupnya: Seruan Pembebasan dan Resistensi terhadap Pemimpin yang Korup

Tampak bahwa partikularisme atau eksklusivisme yang melihat Yesus Kristus dan ajaran-Nya sebagai kebenaran mutlak dan satu-satunya mendominasi ajaran Perjanjian Baru. Yesus dilihat sebagai satu-satunya jalan menuju keselamatan. Pandangan ini bukan tanpa dasar, tetapi lahir dari ajaran dan pengalaman pribadi seseorang akan Kristus. Misalnya, Injil Yohanes memperlihatkan keistimewaan Yesus dengan mengatakan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Kata-kata Yesus yang mengatakan, “Akulah Jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yohanes 14:6)” menunjukkan adanya pandangan yang ekslusif dan partikular. Umat Kristiani mengakui dan mengimani Yesus Kristus sebagai satu-satunya juru selamat.

Walaupun demikian, Yesus sama sekali tidak menolak kehadiran bangsa/agama lain. Malahan Ia membangun relasi yang baik dan berdialog dengan mereka. Bahkan, Yesus mengambil contoh yang baik dari bangsa lain, misalnya dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25-37). Selain itu, Yesus juga terbuka dan mau berdialog dengan orang atau bangsa yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi. Misalnya, Ia mau menemui orang Samaria yang mau bertemu dan bercakap-cakap dengan-Nya. Sikap dan pandangan Yesus yang terbuka terhadap bangsa/agama lain menunjukan pengakuan dan penerimaan-Nya terhadap eksistensi mereka, bahkan mereka adalah bangsa yang harus dihargai, bangsa yang harus diperlakukan secara baik. Singkatnya, Yesus datang ke dunia bukan hanya untuk menyelamatkan orang Kristiani tetapi datang menyelamatkan semua bangsa/agama.

Dialog Antarumat Beragama Bercermin pada Kristus yang Dialogis

Dalam perjalanan sejarahnya, Gereja tidak luput dengan agama dan/atau kepercayaan lain, baik karena adanya perbedaan pandangan mengenai kepercayaan yang dianut maupun karena motif lain seperti politik dan kekuasaan yang ingin menguasai agama lain dan menganggap diri sebagai yang paling benar. Misalnya, dalam sejarah kekristenan Eropa, terjadi perselisihan dan peperangan antarumat beragama pada abad ke-17 dan sesudahnya. [2] Pertikaian dan peperangan ini timbul karena melihat agama orang lain sebagai kafir dan harus disingkirkan. Tidak ada toleransi dan dialog di sana. Tentu perilaku ini sama sekali tidak mencerminkan teladan Yesus Kristus yang sangat menghargai dan mau berdialog dengan kebudayaan dan/atau agama lain.

Belajar dari peristiwa ini, Gereja melalui konsili menggagas dan mendorong umat Kristiani untuk menghormati agama lain sambil tidak hentinya mewartakan Kristus yang bangkit dan hidup sebagai jalan, kebenaran, dan hidup. Konsili juga menegaskan, dalam mewartakan Kristus yang bangkit dan hidup, Gereja harus mengedepankan sikap menghormati dan mau berdialog seperti yang diulas dalam Nostra Aetate.

Gereja Katolik tidak menolak apa pun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus, Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun, Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh 14:6) ; dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. [3]

Baca Juga Kritik “Agama sebagai Candu Rakyat” Karl Marx dan Prinsip Keterlibatan Gereja dalam Penderitaan Manusia

Poin ini menjadi penting bagi Gereja saat ini yang hidup dalam pluralisme agama, terut ma Gereja di Indonesia. Sangatlah tidak mungkin Gereja di Indonesia yang merupakan agama minoritas mewartakan Kristus yang bangkit dan hidup tanpa mengedepankan sikap dialog. Gereja di Indonesia hendaknya belajar dari Rasul Paulus yang mewartakan Kristus yang bangkit dan hidup kepada orang Atena. Rasul Paulus pergi ke Atena untuk melakukan dialog dengan bangsa Yunani yang pada waktu itu menyembah banyak dewa. Menarik bahwa untuk memperkenalkan Yesus Kristus, Paulus mengangkat cita rasa religiositas para pendengarnya dengan kata-kata penghargaan: “Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab, ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: “Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis 17: 22-23). [4] Kisah Atena ini merupakan sebuah proses dialog antara Injil Kristus yang dibawa oleh Rasul Paulus dan kebudayaan dan/atau keagamaan orang Atena.

Konsili Vatikan II juga secara khusus memberikan penekanan yang penting terkait dialog antarumat beragama, khususnya dengan agama Islam yang seringkali berkonflik dengan Gereja. Dalam sejarahnya, dua agama besar ini dilanda konflik terus-menerus meskipun dialog persaudaraan sudah diusahakan. Oleh karena itu, Gereja terus berusaha membangun dialog dengan umat Islam untuk menciptakan perdamaian seperti ditegaskan Nostra Aetate.

Baca Juga Menenun Solidaritas, Menginterupsi Kekuasaan: Relevansi Sosial Perjamuan Kudus dari Sudut Pandang Teologi Kristen Protestan

Memang benar, di sepanjang zaman cukup sering telah timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua supaya melupakan yang sudah-sudah, dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan. [5]

Deklarasi sikap Gereja terhadap agama-agama bukan Kristen merupakan pertanggungjawaban secara historis dan teologis sikap dialogal Gereja terhadap agama-agama bukan Kristen.[6] Pertanggungjawaban secara historis merupakan evaluasi sikap Gereja di masa lampau yang kurang menampilkan sikap positif dan dialogal, sedangkan pertanggungjawaban teologis memaksudkan pandangan positif Gereja megenai kehendak Allah untuk menyelamatkan semua orang tanpa kecuali. [7]

Dialog Antaragama dalam Konteks Indonesia     

Membangun dialog dalam konteks kehidupan Gereja Katolik di Indonesia merupakan usaha yang terus diperjuangkan. Diperjuangkan karena sudah banyak upaya dialog yang dilakukan oleh Gereja Katolik Indonesia baik dalam kalangan akademis maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan terkait. Namun, cita-cita luhur di balik fondasi dialog itu belum tercapai. Masih banyak persoalan yang dihadapi Gereja Katolik di Indonesia khususnya dalam hubungannya dengan agama mayoritas, yaitu Islam.

Menciptakan perdamaian di tengah bangsa yang plural memang tidak mudah. Hal itu dipengaruhi oleh berbagai kepentingan. Beberapa tahun belakangan, kita menyaksikan bagaimana bangsa ini terpecah belah karena perbedaan ideologi atau pilihan politik. Tidak jarang sasaran dari ketegangan politik yang kurang sehat ini adalah agama mayoritas. Meski demikian, Gereja Katolik tetap konsisten dengan apa yang menjadi cita-cita luhurnya, yakni menciptakan masyarakat yang damai dan harmonis tanpa ada teror dan berbagai ancaman lainnya yang membuat hati setiap orang tidak nyaman berada di rumah yang kita sebut Indonesia.

Berangkat dari kenyataan ini, hal praktis yang mesti dilakukan secara terus-menerus adalah dialog antaragama. Harus diakui bahwa tema dialog antaragama telah didengungkan dan dilakukan sejak lama. Akan tetapi, dalam kenyataannya, dialog itu sampai saat ini tidak membuahkan hasil. Ketidakberhasilan ini dilihat dari masih maraknya sikap rasis dan tindakan kekerasan terhadap agama lain seperti tindakan melarang membangun rumah ibadah bagi agama minoritas. Itu sebabnya perlu diciptakan kehidupan yang dialogal di antara para pemeluk agama yang berbeda. [8]

Baca Juga Kontribusi Nilai Katolik Membangun Peradaban Politik-Ekonomi di Indonesia

Dalam kerangka ini, pemerintah tidak menggunakan istilah dialog, melainkan kerukunan hidup beragama. “Kerukunan hidup beragama” disepakati dalam suatu perumusan tujuan sebagai berikut: Kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila yang kita cita-citakan dengan usaha-usaha pembangunan manusia seutuhnya tidak lain adalah kehidupan berbangsa dan bernegara yang beragama. Karenanya, kehidupan orang-orang, bermasyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara yang ingin kita bangun adalah kehidupan agama yang Pancasilais sekaligus kehidupan Pancasila yang beragama di mana agama dan kehidupan beragama semakin berkembang, bergairah, dan bersemarak. [9]

Untuk mewujudkan hal ini, agama-agama diminta untuk berfungsi secara sah dalam bidang berikut. Pertama, sebagai faktor motivatif, agama berfungsi memberikan dorongan moral yang melandasi cita-cita perbuatan manusia. Kedua, sebagai faktor kreatif dan inovatif, agama diminta menjadi pendorong utama untuk bekerja kreatif dan produktif serta bersifat membaharui. Ketiga, sebagai faktor integratif, yang mencakup faktor interagratif individual dan integratif social, agama mengintegrasikan dan menserasikan segenap aktivitas sosial dan individual. Keempat, sebagai faktor sublimatif, agama berfungsi menguduskan perbuatan manusia sedemikian rupa sehingga perbuatan itu keluar dari hati yang tulus untuk mengabdi Tuhan dan sesama. [10]


Catatan Kaki

[1] Ulasan ini diambil dari hasil riset yang dilakukan oleh SETARA: Institute for Democracy and Peace dalam https://setara-institute.org/kota-kota-bergerak-memajukan-toleransi/, diakses pada 9 September 2021.

[2] Donatus Sermada, Pengantar Ilmu Perbandingan Agama (Malang: Pusat Publikasi Filsafat Teologi WIDYA SASANA, 2011), 98.

[3] Nostra Aetate, No. 2.

[4] Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Pluralisme, Penterj. Piet Go. Jakarta: DOKPEN KWI, 2008, No. 17.

[5] Ibid. No. 3.

[6] Armada Riyanto, Dialog Intereligius: Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah, Yogyakarta: Kanisius, 2010, 109.

 [7] Ibid., p. 119.

[8] Ibid., p. 375.

[9] Ibid.

[10] Ibid, p. 376.

Daftar Pustaka

Coward. Pluralisme dan Tantangan Agama-agama. Yogyakarta: Kanisius: 1989.

Dokumen Konsili Vatikan II. Penterj. R. Hardawiryana. Jakarta: Obor, 2002.

Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. Pluralisme. Penterj. Piet Go. Jakarta: DOKPEN KWI, 2008.

Hatings, J. “Pluralism” dalam Encyclopedia of religion and ethics, vol. x. New York: Charles’s Sons, 1951.

Riyanto, Armada. Dialog Intereligius: Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah. Yogyakarta: Kanisius, 2010.

Sermada, Donatus.Pengantar Ilmu Perbandingan Agama. Malang: Pusat Publikasi Filsafat Teologi WIDYA SASANA, 2011.

Tracy, David. Plurality and Ambiguity, Hermeneutic, Religion, Hope. Chicago: University of Chicago Press, 1987.

https://setara-institute.org/kota-kota-bergerak-memajukan-toleransi/, diakses pada 29 April 2021.

Penulis melihat bahwa pluralisme agama pada satu sisi menjadi keunikan dan kekayaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi, pada sisi lain, ia juga membawa “malapetaka” dan pada tataran tertentu maut bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, Penulis berusaha mengajukan sarana yang memungkinkan terjadinya perdamaian dalam hidup beragama.

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on print
Share on email

Artikel Serupa

Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja

Pandemi, Fleksibilitas Pasar Tenaga Kerja, dan Ajaran Sosial Gereja

Dalam penerapannya, konsep fleksibilitas pasar tenaga kerja sering menimbulkan ketidakadilan bagi kaum buruh. Dengan konsep ini, buruh selalu bekerja dalam kondisi yang sangat rentan karena seringkali mereka bekerja tanpa kontrak yang jelas (tergantung pengusaha), jangka waktu kerja mereka menjadi lebih pendek, upah lebih rendah untuk jenis pekerjaan yang setara, mengalami pemerasan dari agen tenaga kerja, tidak ada tunjangan kerja, dan tidak diperbolehkan membentuk serikat tenaga kerja. Kondisi ini menyebabkan kaum buruh tidak memiliki posisi tawar terhadap perusahaan dan tidak ada pihak yang dapat membela kepentingan mereka.

Baca Selengkapnya »
Manggarai Timur

Tanjung Bendera, Kuasa Eksklusi, dan Perburuan Cuan: Membaca Kenyataan Pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur

Membaca kenyataan pembangunan di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini tidaklah begitu menggembirakan. Hampir setiap hari kita mendapati keluh kesah warga Matim di berbagai platform media social (Medsos). Misalnya, keluhan soal kondisi infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, irigasi, air minum bersih, akses listrik, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang sebagian besar belum terurus dengan baik. Ditambah angka pendapatan per/kapita yang relatif masih lemah, tidaklah mengherankan jika predikat kemiskinan ekstrem itu diterima Kabupaten Matim dengan jumlah penduduk miskin ekstrem sebanyak 44.630 jiwa.

Baca Selengkapnya »

Aborsi: Suara Seorang Ibu Rumah Tangga

Dari sekian banyaknya diskusi tentang humanitas, ada bagian yang sering disalahtafsirkan, yaitu persoalan tentang aborsi. Menurut Departement of Reproductive Health and Research WHO, 22 kasus aborsi terjadi pada 1.000 perempuan dengan usia rentan 15 – 49 tahun. Oleh sebab itu, di dalam tulisan ini, Penulis tertarik untuk mengungkapkan beberapa buah pikiran perihal aborsi. Latar belakang tulisan ini adalah keresahan Penulis terhadap kurangnya pemahaman masyarakat tentang aborsi.

Baca Selengkapnya »

Teori Produksi Ruang: Pengantar Singkat Filsafat Ruang Henri Lefebvre

Kehadiran teori produksi ruang didorong oleh pembacaan, pengkajian, dan penganalisisan yang panjang dan rumit di dalam teori Marxian. Salah satu persoalan serius yang begitu mendesak dalam perkembangan objek kajian teori Marxian ialah kebutuhan akan referensi keadilan ruang sosial. Kebutuhan tersebut didasarkan pada prinsip epistemologis dari filsafat, yakni pengetahuan kritis dan progresif yang khas pada konteks sosial manusia.

Baca Selengkapnya »